Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Asal-usul Devan


__ADS_3

Disebuah klub malam, lantunan musik  masih menggema, begitu juga dengan lampu remang-remang yang masih menyorot setiap pengunjung yang datang.


Mahesa terus menampilkan senyumnya seraya menikmati minuman yang membuatnya lupa diri.


Hampir satu jam, ia menikmati suasana yang segelayar memberinya kepuasan. Camelia,  sang kekasih pun tak kalah heboh dan terus bergelayut manja di lengannya.


"Aku akan antar kamu pulang," ucap Mahesa, lalu meneguk minumannya hingga kandas,  kepalanya mulai sedikit pusing dengan keringat yang mulai bercucuran. 


Mahesa membuka kancing baju bagian atas, entah kenapa ia merasa sedikit kepanasan dan matanya meredup. 


"Kamu kebanyakan minum, Hes, sudah aku bilang jangan banyak banyak masih aja nggak percaya," tegur Pongki.


Tak seperti biasanya, saat itu Randu tak ada disampingnya karena masih bergelut dengan tugas yang mendesak. 


"Aku masih bisa nyetir kok." Mahesa berusaha membuka matanya yang terasa berat, berkali-kali menepis tangan Camelia yang mulai menelusup ke dalam bajunya. 


Dari kejauhan nampak seorang gadis yang tersenyum sembari mengangkat kedua jempolnya ke arah Camelia. 


"Pongki, tolong temani Mahesa, aku ke belakang sebentar."


Pongki menahan tubuh Mahesa yang hampir saja ambruk. 


Tubuh Mahesa semakin kepanasan dan ada sedikit yang bergejolak di bawah sana. 


"Hes,  kamu kenapa?" tanya Pongki mulai panik saat Mahesa terus mengibas-ngibaskan tangannya. 


"Sepertinya ada yang memasukkan sesuatu ke dalam minumanku." Meskipun sudah mulai ngelantur, Mahesa masih bisa menyelaraskan pikirannya. 


"Aku mau pulang."


Mahesa terhenyak dari duduknya, namun ia tersungkur saat kakinya merasa lentur dan tak kuat menopang tubuhnya. 


Pongki membangunkan Mahesa dan memapahnya membawa keluar dari tempat itu. 


Mata Mahesa semakin berkunang-kunang dengan tubuhnya yang begitu aneh. 


"Panggilkan Randu!" titahnya, menyandarkan tubuhnya di mobil yang berjejer rapi. 


Pongki meraih ponselnya menjalankan perintah Mahesa, namun nihil,  tak ada jawaban dari seberang sana. 


"Pongki, aku nggak kuat."


Mahesa menahan hasrat yang sudah memuncak. 


"Sial," umpat Pongki mengembalikan ponselnya ke dalam saku celana. 


Disaat itu pula ada sebuah taksi yang melintas di belakangnya. 


Pongki membantu Mahesa masuk ke dalam mobil dan memberikan sebuah alamat pada sang supir. 


"Ini uangnya pak, bawa dia ke tempat tujuan."


Bukan tak peduli dengan Mahesa yang tak baik-baik saja, namun Pongki bertanggung jawab penuh atas klub itu dan tak bisa meninggalkannya. 

__ADS_1


"Baik, Mas," jawab sang supir menerima uang dan alamat yang diberikan Pongki. 


Ada tawa renyah yang menghiasi bibir Camelia, di mana ia sudah berhasil dengan misinya. 


"Lalu bagaimana rencana kamu selanjutnya?" 


Camelia melipat kedua tangannya. "Malam ini mas Mahesa akan menjadi milikku seutuhnya, dan tidak akan ada yang bisa memisahkan kita."


Camelia merapikan rambutnya, saat ia akan keluar, wanita itu tersentak kaget melihat Pongki dengan napasnya yang sedikit ngos-ngosan. 


"Kok kamu ke sini? Mana Mahesa?" Camelia menyingkirkan tubuh Pongki dan menatap ke arah luar. 


"Dia sudah pulang naik taksi."


"Apa?!" 


Camelia terkejut dan menghentak hentakkan kakinya lalu berlari keluar. 


"Kenapa dia?"  tanya Pongki ke arah Aya. 


Gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya. 


Camelia hanya bisa berdecak kesal saat menatap mobil yang ditumpangi Mahesa sudah menghilang. 


Gadis itu merogoh ponselnya lalu menghubungi Pongki yang ada di dalam. "Mahesa pulang ke mana?" tanya Camelia singkat.


"Rumah." jawab Pongki asal.


Camelia menutup teleponnya lalu masuk ke dalam mobilnya. 


"Tadi aku suruh supir ke rumah apa apartemen ya," bermonolog.


"Ke hutan," sahut Aya dengan nada yang tak kalah jengkelnya.


Perjalanan


"Pak  Cepat sedikit!"


 


Mahesa melepas kemejanya sepenuhnya hingga memamerkan tubuh atletisnya di depan pak Supir yang sibuk dengan setirnya. 


Matanya tak sanggup lagi untuk dibuka, hawa panas semakin menyeruak ke seluruh tubuh. Mahesa hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan menyandarkan punggungnya. 


Pak supir memelankan laju kendaraannya saat menyorot seseorang yang ada di depannya. 


"Ya Allah, itu mau diapain?" ucapnya.


Nampak seseorang sibuk menyibak rok  gadis yang sedang tergeletak. 


Akhirnya sopir taksi itu membunyikan bel sirine untuk menggagalkan aksi pria di depannya. Dan, berhasil pria itu ketakutan dan berlari menaiki motornya. 


Mahesa mendesah dan sesekali mengerang. 

__ADS_1


Kedua tangan Mahesa mencengkeram kemejanya dengan sangat erat. 


Merasa kasihan akhirnya sopir itu menghampiri gadis yang tak sadarkan diri,  dan itu adalah Sabrina yang jadi korban perampokan. 


"Astagfirullah," Pak supir mengangkat tubuh Sabrina dan membawanya ke mobil meletakkan tubuhnya di samping Mahesa. 


Kepala Sabrina langsung saja ambruk di pangkuan Mahesa.


Mahesa mendesis saat sesuatu kembali  mengganggunya, perlahan pria itu mengelus pucuk kepala Sabrina yang berbalut  hijab. 


"Sudah sampai, Mas."


"Bawa dia masuk!" 


Sang supir mengerutkan alisnya. 


Bawa masuk, apa mungkin mas ini mengenalnya?


Sang sopir tak menemukan identitas Sabrina, dan akhirnya membawanya turun.


Dengan jalan sempoyongan Mahesa memasuki sebuah apartemen miliknya. 


Begitu juga dengan pak supir,  pria itu mengikuti langkah Mahesa dari belakang.


"Bawa ke kamar!" ucap Mahesa parau. 


Mahesa menghempaskan tubuhnya di sofa, sedangkan pak supir langsung hengkang setelah membaringkan tubuh Sabrina di atas kasur. 


Saking tidak betahnya Mahesa terhenyak dan masuk ke dalam kamarnya berniat ingin ke kamar mandi. Mungkin mengguyur tubuhnya dengan air shower bisa meredakan gairah yang menyerangnya. Namun saat tiba di belakang pintu kakinya tersandung karpet dan terjatuh di atas ranjang menumpu tubuh Sabrina. 


Entah apa yang dirasakan kala itu Mahesa merasa mendapatkan solusi untuk dirinya yang sudah dilanda peperangan melawan napsu. 


Tanpa sadar pria itu mulai menggerakkan tangannya membuka satu persatu kancing baju gadis yang ada di bawahnya,  merasa tak ada perlawanan akhirnya Mahesa menyalurkan hasrat yang sudah menggebu. 


Malam yang penuh sejarah itu akhirnya terjadi, sekelebat Mahesa merasakan kelembutan helaian rambut yang menerpa wajahnya. 


"Aku akan bertanggung jawab," ucapnya sebelum Mahesa benar-benar memejamkan matanya di samping gadis itu. 


Selang beberapa menit, Camelia datang dengan wajah kesalnya,  ia terus memukul pintu kala menatap pemandangan yang luar bisa di depannya. 


Camelia menghampiri dua insan yang saling memejamkan mata dengan tangan Mahesa yang memeluk gadis di sampingnya. 


"Ini tidak boleh dibiarkan, aku nggak mau Mahesa  bertanggung jawab sama gadis kampung ini."


Dengan jengkel Camelia memakaikan baju Sabrina dan memapahnya keluar.


"Berat juga ni anak," keluhnya, memasukkan tubuh Sabrina ke dalam mobil miliknya. 


Tak jauh dari apartemen Mahesa,  Camelia menghentikan mobilnya di depan sebuah gudang kosong, dan membawa Sabrina ke sana. 


"Kamu tidak boleh menggagalkan rencanaku, Mahesa untukku bukan untuk orang lain. Aku sangat mencintainya."


Dengan teganya Camelia meninggalkan Sabrina yang terluka.

__ADS_1


Saat kembali ke apartemen Camelia menggerutu dengan informasi yang salah dari Pongki, bahkan Camelia menyumpahi sahabatnya itu tidak laku. 


__ADS_2