Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Ragu


__ADS_3

Sehari semalam di rawat di rumah sakit,  Devan sudah dipastikan sembuh dan bisa dibawa pulang. Kejutan demi kejutan terus Sabrina rasakan kala itu, di mana setelah keduanya di rumah, Mahesa sudah memanggil salah satu orang pemuka agama untuk meng sahkan kembali pernikahannya. Bukan karena pernikahan yang dahulu tidak sah, hanya saja Mahesa memilih pendapat madzhab seorang imam yang lebih kuat supaya Sabrina tidak terus mamang akan status pernikahannya. 


"Dari mana mas tahu kalau aku pun sebenarnya menginginkan pernikahan ini?" tanya Sabrina menyelidik. Wanita itu terus merapikan peci yang ada di kepala suaminya. Tampan dan berwibawa, meskipun Mahesa bukan pria yang sempat tersemat di hatinya, setidaknya Sabrina merasa jika Mahesa adalah imam yang baik untuk dirinya kelak. 


"Beberapa hari kita bersama, aku tahu lebih banyak tentangmu, termasuk keinginan kamu," jawabnya. 


Mahesa terus menelusuri setiap jengkal wajah Sabina, tak ada satupun kecacatan di sana, yang ada hanya kesempurnaan. 


Sabrina mengikis jarak antara keduanya dan meraih tangan Mahesa lalu meletakkannya di atas kepala. 


"Berjanjilah! Mas tidak akan menyakitiku lagi, jika sewaktu-waktu cinta mas memudar, pulangkan aku pada Ibu secara baik-baik."


Seketika Mahesa menarik tangannya dan memeluk Sabrina dengan erat. Hatinya merasa terenyuh mendengar permintaan istrinya.


"Jangan bicara seperti itu,  sampai kapanpun kita tidak akan berpisah, kamu akan menjadi istriku selamanya. Kamu tidak akan kemana-mana selain di sisiku." 


Sabrina tersenyum, butuh waktu yang sangat lama untuk mendengarkan kata itu.  Dan kini semua terjawab sudah dari sudut bibir Mahesa.


"Mulai besok, aku dan Sesil tidak perlu tinggal disini lagi,"  sahut Arum yang dari tadi mendengarkan percakapan Sabrina dan Mahesa. 


"Kenapa?" tanya Sabrina. 


"Mereka akan melanjutkan petualangannya, seperti kita," sahut Mahesa.


"Tanpa aba aba Mahesa mengangkat tubuh Sabrina dan membawanya ke kamar. 


Ah, rasanya Sabrina ingin menjerit saat kedua sahabatnya itu tertawa melihat tingkah Mahesa,  namun ia bisa apa selain diam. Menerima perlakuan suaminya yang tak tahu aturan.


Setelah keduanya berada di kamar, Mahesa membaringkan tubuh Sabrina di atas ranjang lalu perlahan melepas hijab yang membalut kepalanya. 


"Apa kamu sudah siap menjadi istriku?" bisiknya.


Sabrina mengangguk pelan, kedua tangannya mencengkeram  spray dengan erat, mengingat  rasa sakit yang waktu itu melanda setelah disetubuhi. Dan kini Sabrina merasa itu akan terulang lagi. 


Mahesa yang hampir saja mencium ubun ubun Sabrina mengurungkan aksinya saat wanita itu memejamkan matanya dengan menggigit bibir bawahnya. Seperti seseorang yang menahan sakit. 


"Kamu kenapa?" tanya Mahesa. 


Sabrina membuka mata pelan menatap Mahesa yang masih mengukungnya. 

__ADS_1


"Apakah rasanya akan sakit?" tanya Sabrina dengan polosnya. 


Mahesa tersenyum jahil dan melepas bajunya hingga bertelanjang dada. Pria itu menunjukkan tubuh atletisnya di depan Sabrina yang masih tampak malu-malu.


"Tidak akan,  tenang saja. Aku akan melakukannya dengan pelan."


Mahesa melanjutkan aksinya, pria itu mencium ubun-ubun Sabrina dan melantunkan doa,  menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya sebelum terjun ke dalam dunia yang menggoyahkan Iman. 


Disaat Mahesa menyatukan tubuhnya, pria itu nampak tercengang saat merasakan sesuatu yang tidak asing baginya, pria itu terus menautkan bibirnya mengurangi rasa sakit yang mungkin melanda, itu bukannya malam pertama bagi Sabrina, namun itu pertama kalinya sabrina merasakan nafkah batin dari suaminya, keduanya bermandikan peluh, tubuh Sabrina merespon dengan apa yang dilakukan Mahesa hingga keduanya berada di puncak gunung semeru, dan akhirnya Mahesa menyemburkan lahar panasnya. 


Sebuah rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, Mahesa benar benar memiliki Sabrina sepenuhnya, pria itu melaksanakan kewajibannya sebagai seorang suami, juga memberi sebuah kenyamanan untuk istrinya. 


Ini pertama kali aku menyentuhnya, tapi kenapa seakan aku sudah pernah merasakan tubuhnya, ucap Mahesa dalam hati. 


Pria itu terus mencium kening Sabrina yang tergolek lemas. Aksi yang luar biasa mampu menguras tenaga Sabrina dalam sekejap. Seluruh tubuhnya lemah tak berdaya setelah Mahesa ambruk di sampingnya.


"Apa tadi aku menyakitimu?" 


Sabrina diam menatap langit-langit kamarnya, wajahnya bersemu,  bagaimana bisa Mahesa mempertanyakannya disaat dirinya masih terbawa suasana yang begitu menggiurkan.


"Sakit sih mas, kok kayaknya ada yang robek?"


"Biar aku lihat!"


Hampir saja Mahesa menyibak selimut yang dipakai istrinya, Sabrina segera menepis tangan suaminya. 


"Apa yang dilihat?" tanya Sabrina jengkel. 


"Yang robek," kelakarnya. 


Ckckck


Sabrina berdecak kesal lalu memunggungi Mahesa.


Masa mau lihat,  apa mas Mahesa pikir itu permainan.


Mahesa mengangkat  kepala Sabrina dan meletakkan di atas lengannya.


"Aku minta maaf,  tadi aku terlalu bersemangat," ucap Mahesa berbisik. 

__ADS_1


Mahesa kembali menutupi seluruh tubuh Sabrina lalu meraih sebuah kotak yang ada di nakas dan meletakkannya di tangan Sabrina.


"Apa ini, Mas?" tanya Sabrina dengan nada lemah.  Membolak balikkan kotak itu. 


Mahesa membukanya lalu menjumput sesuatu yang pernah dia janjikan. 


"Ini yang waktu itu pernah aku janjikan padamu," Menggantung gelang yang baru diantarkan Randu setelah Maghrib. 


Sabrina membulatkan matanya saat menatap benda itu,  segera wanita itu menyambarnya dan menatapnya dengan lekat.


Ini seperti gelangku yang hilang, tapi bahan dan motifnya beda.


"Kenapa, Sayang? Apa kamu tidak menyukainya?"


Sabrina menggeleng tanpa suara. Otaknya masih berkelana mengingat dimana gelang itu bisa hilang. 


"Ini cantik sekali, Mas. Aku sangat menyukainya," cicit Sabrina. 


Sabrina memiringkan tubuhnya menatap Mahesa lalu mencium pipinya.


Mahesa memakaikan gelang itu di tangan Sabrina.


Sabrina masih saja menatap gelang itu,  pikirannya terus menerus menerka dan tak bisa move on dari gelang pemberian ibunya sebelum meninggal. 


"Kamu kenapa sih?" tanya Mahesa menggenggam jemari Sabrina. 


"Mas, dulu aku punya gelang emas,  dan bentuknya itu persis seperti ini, hanya saja itu gelang murahan."


Deg


Jantung Mahesa berdegup kencang mendengar penuturan Sabrina. 


"Lalu kemana gelang itu?" tanya Mahesa antusias,  rasanya mulai bercampur aduk dengan gelang yang pernah ia temukan di bajunya. Pasalnya gelang yang dibuat itu sama persis dengan gelang misterius yang sekarang ada di toko. 


"Aku nggak tahu kapan dan dimana hilangnya, seingat aku sebelum kejadian itu aku masih memakainya, tapi setelah kita menikah gelang itu sudah hilang."


Mahesa menelan ludahnya dengan susah payah, otaknya mulai traveling dengan sesuatu yang sedikit mustahil. 


Nggak mungkin,  Sabrina gadis baik-baik, nggak mungkin dia masuk ke klub malam, tapi gelang itu juga bukan milik Camelia,  sedangkan dia yang bilang sudah tidur denganku,  satu-satunya kunci ini semua adalah dia. Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan Camelia,  benarkah aku pernah tidur dengannya? Atau dia hanya memanipulasi saja? 

__ADS_1


Mahesa mulai ragu akan masalah yang membelitnya 


__ADS_2