Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Pulang


__ADS_3

Bulan demi bulan Randu lewati tanpa istri tercinta, kini ia harus kembali merambah dunia demi kedua anaknya. Hari ini Randu memboyong Raisya dan David untuk tinggal lagi di rumahnya,  rumah yang penuh dengan kenangan bersama sang istri,  dan rumah yang menjadi pelabuhannya setelah menikahi Arum. Rumah, dimana ia mengenal sosok Arum lebih dalam dan rumah di mana ia harus merasakan patah hati yang mendalam. 


Kedatangannya disambut oleh Bi Nori dan Bang Didin,  pembantu dan supir yang menjaga rumah itu. Bukan tanpa alasan Randu tinggal di rumah Mahesa,  karena semenjak divonis memiliki penyakit yang mematikan, Arum hijrah di rumah sahabatnya dan menitipkan kedua anaknya pada sang sahabat. Randu juga tak ingin larut dengan masalah yang menimpanya. 


"Bagaimana kabar, Aden?" Bi Nori menghampiri Randu yang masih mematung di samping mobil. 


"Baik, Bi.'' Randu menatap rumah mewahnya, hadiah untuk istrinya di hari pernikahannya. Meskipun tinggal di rumah Mahesa, sesekali Randu masih menyambangi Bi Nori, hanya saja waktu itu ia belum siap untuk tinggal di sana.


Randu menenangkan dadanya yang mulai gemuruh, tak dapat dipungkiri jika di dalam hatinya ia masih belum percaya jika istrinya sudah tiada, namun itulah kenyataan hidupnya. 


Dengan langkah gontainya Randu membuka pintu utama seraya mengucapkan salam, ruangan yang dituju pertama kali adalah kamar. Sama seperti waktu ia meninggalkan rumah itu, sedikitpun tak ada yang berubah, poto pernikahan dan kebersamaannya masih berjejer rapi menghiasi tempat, dan beberapa ada yang menghiasi tembok. 


Randu meraih photo yang ada di nakas dan menatapnya lekat. Tiba-tiba saja air matanya jatuh tepat di pipi gambar Arum yang sedang tersenyum. 


"Meskipun kamu sudah pergi, tapi aku menganggapmu masih ada di di sini." Randu duduk ditepi ranjang, mencium poto itu lalu meletakkan di dadanya. 


"Ndu," suara Mahesa di depan pintu. 


Randu mengusap air matanya dan mengembalikan foto itu dan menghampiri Mahesa. 


''Iya, Mas. Ada apa?" 


Mahesa mendekatkan bibirnya di telinga Randu dan berbisik. 


Aya dan Sabrina hanya menatap keduanya dari ruang makan, entah apa yang dibicarakan mereka, hanya Allah yang tahu.


"Baiklah, aku akan lakukan sebaik mungkin."


Mahesa menepuk pundak Randu tiga kali. "Jangan sedih lagi, Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Kamu harus ikhlas dengan dengan semua ini. Apapun jalannya pasti Allah sudah merencanakan yang lebih indah."


Itulah yang Randu harapkan dari orang terdekat, penyemangat, dan Itu didapatkan dari keluarga Mahesa, berulang kali pak Yudi juga memberi wejangan pada nya untuk menjadi sosok yang lebih kuat lagi,  karena  sejatinya sebuah musibah adalah ujian bagi hamba-Nya yang taat. 


Randu dan Mahesa menghampiri Aya yang sibuk menata makanan di meja makan,  tak seperti dulu yang selalu barbar,  kali ini Aya merasa sedikit canggung dengan kedua pria itu. 


"Ay," panggil Mahesa. 


Aya menatap Randu dan Mahesa Bergantian.

__ADS_1


"Mulai hari ini kamu bisa kan membantu Randu merawat Raisya dan David?" tanya Mahesa dengan serius. 


Di satu sisi, Aya senang bisa dipercaya menjadi pengasuh kedua bocah itu, namun di sisi lain, Aya merasa jika dirinya belum siap mengemban amanah yang Mahesa berikan.  Hening sejenak, Aya tak juga menerima permintaan Mahesa. 


"Kamu jangan khawatir soal uang, aku akan membayarmu dua kali lipat dari pekerjaan kamu sekarang," ungkap Randu. 


"Mantap, kenapa kamu nggak bilang dari tadi? Tahu gitu kan aku langsung setuju." Aya menyenggol lengan Randu yang berdiri di sampingnya. 


Setelah Randu pergi, Aya  pergi ke kamar mandi. Ia menatap bayangan wajahnya dari pantulan cermin. 


"Aya, sampai kapanpun kamu itu hanya seorang sahabat, jangan berharap lebih, karena kamu tidak akan bisa menggantikan posisi Arum. Kamu bukan wanita solehah seperti keinginan Randu," bermonolog. 


Aya mencuci mukanya, menghilangkan guratan kesedihan di wajahnya yang sedikit suram untuk kembali berinteraksi seperti biasa. 


Aya kembali ke ruang tengah bersama Sabrina dan Raisya. 


"Mbak Aya, Raisya mau di temani, Mbak."


"Oke… "


Aya duduk dan mulai membuka buku Raisya yang bertumpuk di atas meja. 


Perlahan mata Raisya terpejam di pangkuan Aya, Sabrina hanya bisa tersenyum merapikan anak rambutnya menutupi kening Raisya. 


Sedangkan di ruang kerja, Randu dan Mahesa tak membicarakan masalah kantor, namun masalah pribadi.


Baru semalam Aida menjadi saudara kembar Sabrina,  Mahesa merasa tak nyaman dengan kehadiran wanita itu dan menurut Mahesa Randu bisa mengatasinya.


"Lalu apa yang harus aku lakukan, Mas?" 


Mahesa memijat pangkal hidungnya,  ia pun tak mengerti harus bersikap bagaimana pada perempuan lain. Apalagi saudara istrinya yang pasti dapat pembelaan penuh. 


"Tanya Aya saja, pasti dia tahu. Dia juga cerdas dan sering menghadapi perempuan seperti itu."


Randu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan itu. Ditatapnya dari jauh Aya baru saja keluar dari kamar putrinya. 


"Aya," panggil Randu sedikit berteriak. 

__ADS_1


Aya menoleh ke arah sumber suara lalu menunjuk dadanya. 


Randu melambaikan tangannya memberi kode Aya untuk mendekat. 


"Ada apa? Raisya sudah tidur, aku mau pulang."


Randu menarik tangan Aya dan mengajaknya  ke ruang kerja. 


Setibanya di dalam, Aya menatap curiga kedua pria yang duduk bersejajar, sepertinya Aya menangkap bau-bau persengkongkolan antara keduanya. 


"Kenapa kalian memanggilku ke sini? Ada apa?" tanya Aya antusias. 


"Ay,  kemarin kan kamu di rumah bersama mbak Sabrina. Apa kamu melihat sesuatu yang aneh pada Aida?" tanya Randu menyelidik. 


Aya menggeleng, meskipun ada di sana, tapi Aya fokus dengan anak-anak dan sedikitpun ia tak peduli dengan Aida. 


"Memangnya kenapa?" tanya Aya lagi. 


Mahesa menggeleng pelan. Sedangkan Randu menunduk. 


"Ya sudah, kalau kalian nggak mau bilang, aku keluar."


Mendengar ucapan Aya, Mahesa beranjak dan mematung di belakang pintu tepat di depan Ayana Mira.


"Bantu aku untuk mengawasi Aida, karena aku lihat ada yang tidak beres dengan dia."


"Kecil,"  jawab Aya seraya menarik baju Mahesa hingga terhuyung. 


Aya membuka pintu ruangannya, sebelum pergi Aya menoleh menatap Mahesa. 


"Yang penting bayarannya, karena di tahun yang akan datang tidak ada yang gratis."


"Mata duitan," cecar Mahesa.


Aya hanya tersenyum, meskipun ia tak serius dengan apa yang diucapkan, Aya suka menggoda Mahesa yang selalu terbawa emosi. 


"Apa aku bilang, Aya pasti bisa membantu, Mas."

__ADS_1


Aya, aku tidak pernah menyesal mengenalmu, kamu wanita yang baik, pasti setelah kamu berpisah dengan suamimu, akan ada laki laki yang jauh lebih baik meminangmu. Percayalah! jika jodoh itu tidak akan kemana, hanya saja mereka tertunda dengan waktu yang di tentukan Allah.


__ADS_2