
Mulai dari mengeringkan rambut, menyisirnya dan mengikatnya, memasang hijabnya yang perdana, semua tak luput dari tangan Randu. Sebagai seorang suami, ia tak mau membedakan Aya dan Almarhumah Arum yang sudah tenang di alam lain.
Belajar dari beberapa tutorial, dan akhirnya Aya memakai hijabnya dengan sempurna.
Pancaran rona bahagia masih menghiasi wajah Randu. Bak pengantin pada umumnya, kebahagiaan tak bisa diungkapkan dengan kata kata, masih di kamar hotel.
Aya duduk di depan meja rias, Randu berdiri di belakangnya, kedua tangannya bertumpu di pundak Aya, dagunya mendarat di kepala istrinya.
"Mas, jangan lihatin terus dong, aku malu."
Aya tersipu dan memalingkan wajahnya menghindari tatapan Randu yang tak dapat diartikan.
Randu memutar lagi wajah Aya ke depan se arah, saling tukar pandangan lewat pantulan cermin.
"Kenapa harus malu, tadi malam saja kamu kelihatannya menikmati." Randu menggoda, menciptakan candaan untuk terus mencairkan suasana.
Aya geram dan memutar tubuhnya, membenamkan wajahnya di perut suaminya, tangannya terus mencubit paha Randu.
"Awas ya kalau kamu nanti bilang ke Mahesa, aku nggak mau lagi, dan aku pastikan kalau tadi malam itu yang pertama dan yang terakhir."
Sampai kapanpun Aya tak akan lupa bagaimana Randu saat memperlakukannya di atas ranjang, dengan lembut hingga Aya terbuai dan lupa diri.
Randu bergelak tawa, berlutut di depan Aya, kedua tangannya menggenggam tangan Aya, tatapannya penuh dengan cinta, dan itu yang Aya mau dari suaminya.
Sepuluh tahun lebih ia mengenal sosok wanita di depannya, namun Randu baru menyadari jika Aya tak seburuk pandangan orang. Bahkan Aya lebih dari kriteria yang selalu diinginkan. Selain cantik dan bisa menjaga kehormatannya dari dunia bebas, Aya juga mampu mencuri hati putri kecilnya.
"Kamu dan Robi sudah menikah lama. Kenapa kamu dan dia tidak pernah berhubungan?"
Aya tersenyum kikuk, kini tak ada lagi yang perlu ditutupi.
"Malam itu Robi sempat ingin menyentuhku, tapi aku nggak mau."
"Kenapa? Bukankah itu kewajiban seorang istri?"
"Sebelumnya aku sudah pernah lihat dia selingkuh, dan aku takut jika lama lama aku hanya dipermainkan juga. Benar kan? Ternyata dia nggak berubah."
"Apakah kamu mau menemaniku sampai akhir hayat ini? "
Suara lirih Randu membuat Aya terharu. Pria itu diciptakan untuk terus menggoyahkan hatinya, padahal berbagai cara Aya berusaha melupakan Randu, namun takdir terus mempertemukan keduanya di tempat berbeda.
__ADS_1
"Aku mau, karena aku terlanjur menyerahkan semuanya untukmu, Mas."
"Apa kamu mau kita lanjut lagi sekarang?" Randu menaik turunkan alisnya dengan cepat.
Plaaaakkk
Kebiasaan memukul Aya kambuh. Randu terkejut dan mengelus tanganmya yang nyeri akibat pukulan istrinya.
"Sakit, Beb." Randu membalas, menggigit kecil tangan Aya, menyandarkan kepalanya di pangkuan wanita itu. Sudah menjadi suami istri pun tak menyurutkan keduanya untuk terus berdebat.
Suara ketukan pintu menggema, Randu membuka pintunya, ternyata pelayan hotel mengantarkan makanan. Agenda hari ini Randu ingin langsung ke makam, setelah itu langsung pulang dan ia pikir makan di hotel tak menyita waktunya.
Dua steak wagyu dan dua jus jeruk seperti keinginan Aya sudah siap di meja sofa. Ini bukan lagi waktunya sarapan, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi menjelang siang, rencananya sudah mundur beberapa jam. Setelah menghubungi Raisya lewat video call, Randu kembali tidur setelah Subuh.
Lapar tak jadi masalah, Randu sudah merasa kenyang dengan sajian Aya yang menggiyurkan, baginya itu sudah cukup mengisi perutnya.
Ponsel Randu berdering, terpaksa ia meletakkan pisau dan garpunya, beralih meraih benda pipihnya yang ada di samping piring.
Wajahnya kembali berseri, nama yang berkelip itu ia rindukan, berbagai pameran sudah disiapkan untuk membuat kepala bosnya itu meledak.
Randu sengaja menggeser lencana hijau dan menyalakan loudspeaker.
"Sudah gol berapa kali semalam?"
Randu melirik Aya yang membulatkan matanya, kepalanya terus menggeleng, kedua tangannya menangkup tepat di depan dadanya, meskipun tanpa suara Randu tahu permintaan istrinya.
"Kepo," sentak Randu singkat.
Aya merasa lega, akhirnya suaminya itu bungkam dan tidak membeberkan malam pertamanya pada Mahesa.
Randu pindah duduk disamping Aya. Menerima suapan dari tangan istrinya.
"Coba mas tebak? kira-kira semalam aku melakukan itu berapa Ronde?" Wajah Aya bersemu, ia pikir Randu benar-benar ingin menutupi kejadian semalam, tapi nyatanya tadi hanya basa-basi belaka.
"Empat atau lima," seru Mahesa dari seberang sana.
Randu tertawa lepas, jawaban Mahesa meleset jauh, dan menyimpang dari kenyataan. Meskipun sebenarnya itu adalah target Randu juga, tapi karena keadaan berbeda, jadi Ia hanya bisa semampu Aya.
Jika dulu Aya selalu ada di tengah-tengah percakapan mereka, kini ia memilih diam, beda status. Mahesa masih sahabat, tapi orang yang ada di sampingnya adalah suami, dan Ia tetap menjaga perilaku sebagai seorang istri yang tidak asal bercanda dengan pria manapun.
__ADS_1
"Salah, Mas."
Aya tersipu, kedua pipinya merah merona saat tangan Randu membelainya.
Percakapan yang unfaedah membuat telinga Aya semakin panas.
"Maaf mas, sudah siang aku mau jalan dulu."
"Kampreeeet…. " gerutu Mahesa, karena Randu mematikan sambungannya.
Di Area tanah luas yang dipenuhi dengan gundukan makam. Dibawah terik matahari yang membakar kulit, tanpa pelindung apapun selain hijab dan peci bagi Randu. Keduanya berjalan bergandengan membelah setiap makam yang berjejer rapi.
Tiba di sebuah makam yang sangat familiar di mata Randu, ia menghentikan langkahnya lalu bejongkok di sampingnya.
"Ini makam Arum." Randu mengelus batu nisan yang masih tampak jelas tulisannya.
"Dan itu makam Ibu." Menunjuk makam yang ada di sampingnya.
"Sebelahnya lagi makam ayah." Kembali menunjuk makam yang paling tepi.
Aya duduk di samping Randu dengan alas koran yang mereka bawa.
Dada Randu bergemuruh, kenangan hidup bersama Arum kembali melintas. Janji pada sang Ibu sudah ditunaikan, setidaknya hanya Allah yang memisahkan nya dari Arum, dan kini ia membawa Aya, wanita yang berstatus istrinya.
"Ikuti aku ya!"
Aya mengangguk, selama ini ia tak pernah mengenal untuk berziarah, bahkan kapan ia berkunjung ke makam orang tuanya pun lupa, yang ia tahu hanya hidup dapat uang makan dan bisa bersenang senang. Kehadiran Randu mengubah hidupnya menjadi pribadi yang lebih baik.
Hampir tiga puluh menit, Randu mengakhiri doanya untuk ketiga orang yang sangat ia sayangi.
"Rum, meskipun aku menikah dengan Mas Randu, kamu tetap yang pertama dan yang terbaik, izinkan aku untuk membesarkan anak-anak. Semoga kelak Raisya menjadi sosok seperti kamu, sholehah."
Aya mengelus nisan Arum seperti yang dilakukan Randu, dalam hatinya terus meminta maaf karena pernah menampar istri pertama suaminya, jika waktu bisa diputar, Aya pun ingin minta maaf, namun dengan membesarkan kedua anaknya, Aya berharap itu adalah salah satu bentuk menebus kesalahannya di masa lampau.
"Setiap aku berkunjung ke makam orang tuaku, dulu aku juga berkunjung ke makam orang tua Arum, nanti sore setelah kita ke makam orang tua Arum, kita ke makam orang tua kamu juga ya."
Itu yang ingin Aya minta tadi, tapi Randu lebih peka padanya.
Aya menanggapinya dengan senyuman kecil.
__ADS_1