
Seminggu berlalu semenjak kepergian Mahesa, Sabrina semakin gusar. Raut wajahnya terus datar tanpa ekspresi, ibu satu anak itu cenderung diam dan menyendiri, tak ingin berbagi kisah kesedihannya pada orang lain. Mahesa, nyatanya pria itulah menjadi penyebab hati Sabrina yang terus gelisah tak menentu, sedikitpun pria itu tak memberi kabar bak ditelan bumi. Sesekali Sabrina menatap layar ponselnya berharap Mahesa menghubunginya, namun nihil, tak ada apapun selain chat dari sahabatnya.
Saking penasaran dengan keadaan Mahesa, Akhirnya Sabrina mencari kontak Mahesa, namun ia hanya melihatnya tanpa ingin menghubunginya.
"Apa kamu benar benar ingin melepaskan aku mas, dan apa kamu memilih Camelia untuk menjadi pendampingmu, lalu apa maksudmu selama ini?" gumamnya. Lolos sudah air mata Sabrina. Kini ia merasa diabaikan.
Menanggulangi kegundahannya, Sabrina keluar dari kamarnya, menghampiri anak panti yang sedang bermain di taman belakang.
"Kak Sabrina," teriak salah satu anak panti yang bernama Tomi, bocah yang sengaja di titipkan di panti karena kedua orang tuanya yang bercerai dan saling memenangkan ego masing-masing.
"Kamu sudah besar ya, bagaimana sekolahnya?"
"Sekarang aku pandai, aku kan ingin seperti Kak Mahesa, pakai dasi, sepatu, jas, dan naik mobil, aku ingin menjadi laki laki yang sukses," ucapnya polos dan itu sukses membuat Sabrina tertawa.
Tomi nampak sangat berseri-seri, apalagi semenjak Mahesa tinggal di panti, bocah itu selalu menanyakan apapun yang berhubungan dengan Mahesa.
"Kalau begitu Tomi harus belajar lebih giat lagi supaya sukses."
Bukan tertawa dan semangat, namun bocah yang sudah berumur delapan tahun itu malah memanyunkan bibirnya.
"Kak, kenapa Kak Mahesa nggak kesini lagi, apa dia kesal dengan kita karena saling ribut."
Tomi menunjuk anak-anak lain yang sibuk dengan permainannya.
Sabrina tercengang, ternyata tak hanya dirinya yang cemas, anak anak pun merindukan kehadiran suaminya.
"Kak Mahesa kan sibuk, jadi belum bisa main ke sini, nanti kakak akan coba menghubungi kak Mahesa ya."
Tomi berlonjak kegirangan, seolah mendapatkan sebuah hadiah utama bahkan ia langsung bilang ke seluruh anak yang lain.
Mas, mereka juga merindukanmu, apa kamu tidak merindukan mereka juga.
Sabrina kembali berdiri dan masuk, nyatanya di manapun tempatnya ia tak lepas dari Mahesa.
Suara tawa terdengar di balik kamar Devan, sorakan demi sorakan menggema hingga membuat Sabrina tergiur dan masuk ke sana.
"Ada apa sih?" tanya Sabrina, mendekati Devan yang sedang berbaring manis di ranjangnya.
"Ini Non, Devan makin lucu aja. Bibi yakin ayahnya pasti sangat merindukannya."
Sabrina terdiam, teringat sebelum Mahesa pergi.
"Mbak, waktu mas Mahesa mau pergi, dia kan masuk ke sini, dia bilang apa sama, Mbak."
Emm, tiba tiba saja wajah Mbak Inul nampak gugup, keringatnya bercucuran membasahi jidatnya, kedua tangannya meremas pucuk baju dan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Mbak inul nggak lagi menyembunyikan sesuatu dariku kan?" tanya Sabrina menyelidik.
Mbak Inul menggeleng tanpa suara, namun dari perubahan wajahnya sudah jelas wanita itu menyimpan sesuatu.
"Den Mahesa hanya menitipkan Aden kecil, dia hanya menyuruhku untuk menjaganya dan Non, jangan sampai non kelelahan dan jangan sampai Non sakit."
"Hanya itu?" tanya Sabrina menyelidik.
Mbak Inul mengangguk cepat.
Jika mas Mahesa menghawatirkanku, kenapa dia tidak memberi kabar, sebenarnya ada apa?"
Sabrina kembali keluar dari kamarnya menghampiri Bu Yumna yang sedang menjahit sarung bantal.
"Ada apa, Ning?"
Sabrina kesal dan duduk di samping Bu Yumna.
"Bu, Mas Mahesa kok nggak kesini, jika dia tidak mau lagi sama aku, setidaknya dia jenguk Devan," ucapnya sewot.
Bu Yumna tersenyum tipis lalu mencubit pipi Sabrina.
"Mungkin dia sibuk. Perjalanan dari kota ke sini lumayan lama, kasihan Mahesa. Kalau Ibu mah malas, harus berlama lama di mobil, panas," Bu Yumna melirik ke arah Sabrina yang nampak jengkel. Sedikit menyindir dengan nada yang sangat halus.
"Bu, apa aku salah sudah menyuruh mas Mahesa pergi, aku hanya ingin kita saling intropeksi diri."
"Tidak ada yang salah, hanya waktu saja yang belum menentukan, berdoa sama Allah, ikhtiyar, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah sudah berkehendak."
Sabrina beranjak dari duduknya meninggalkan Bu Yumna.
Kali ini Sabrina kembali ke kamarnya dan mengambil ponselnya yang berada di atas nakas, tanpa berpikir panjang Sabrina menghubungi Arum.
Selang beberapa detik, Arum langsung menerima panggilannya, terdengar suara yang sedikit bising di seberang sana. Sabrina menatap jam yang melingkar di tangannya, ternyata jam sepuluh pagi menjelang siang, itu artinya Arum masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Ada apa, Sab?" terpaksa Arum ke belakang sebentar.
"Rum, apa kamu pernah lihat Mas Randu?"
Arum mengedarkan pandangannya. Dan baru saja ia melihat sekelebat pria yang ditanyakan sahabatnya.
"Lihat, malah sekarang dia ada disini," Nampak punggung lebar Randu berada di ruang tamu.
"Rum, apa aku boleh minta bantuan?"
Arum tertawa lepas, "Bantuan apa? Biasanya juga nggak pakai nanya dulu."
__ADS_1
Sabrina hanya cekikikan mendengar jawaban sahabatnya.
"Rum, sudah seminggu ini mas Mahesa nggak kasih kabar, dia juga nggak ke panti, aku hanya ingin memastikan, sebenarnya apa yang dia lakukan di rumah, jika dia mau kembali sama Camelia, aku akan mundur."
Arum memilih tempat yang lebih sepi.
"Baiklah, aku akan bantu kamu. Aku akan cari tahu, apa yang terjadi sebenarnya?"
Bersamaan Arum memutus sambungannya, tamu itu pergi.
Arum menghampiri Randu yang masih duduk seraya melihat lihat beberapa dokumen di depannya.
"Permisi, Pak," sapa Arum dengan kedua tangan saling terpaut ke belakang.
"Ada apa?" Randu hanya melirik sekilas.
"Nggak ada apa apa," ucap Arum diiringi tawa kecil.
"Kalau nggak ada apa apa kerja sana!" Mengusir.
"Pak, hari ini aku izin ya, ada pertemuan yang sangat penting," kilah Arum meyakinkan.
Randu menutup map yang ada di hadapannya dan menoleh, menatap penampilan Arum yang sangat sederhana.
"Sama siapa? Pacar?" celetuk Randu.
Cih
Arum hanya berdecih dengan tuduhan Randu yang asal.
Tapi Arum memilih untuk tak menjawab takut ngelantur dan keceplosan.
"Aku izinkan, tapi hari ini saja, besok jangan diulangi." Randu beranjak dan keluar dari ruangan itu.
Dengan sigap Arum melepas seragamnya dan keluar, untung Randu masih berada di parkiran.
Arum memakai masker lalu helmnya mengikuti mobil Randu melaju.
Mata Arum terpana dan terus menatap tulisan yang terpampang di depan sebuah gedung yang sangat besar.
"Pak Randu ke rumah sakit, memangnya siapa yang sakit?" bermonolog.
Tak mau kehilangan jejak, Arum pun langsung masuk, masih membuntuti Randu dari belakang.
"Ruangan VVIP." Lagi lagi Arum dibuat terkejut saat Randu masuk ke dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
Dengan jalan yang mengendap, Arum mendekati pintu dan mengintip di balik kaca transparan.
Matanya langsung terbelalak saat melihat seseorang yang terbaring lemah di atas brankar.