Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Cuek


__ADS_3

Aya merapikan penampilannya. Make up nya sih sudah oke, hanya tinggal kerudungnya. Tak seperti sebelumnya, menurutnya memakai hijab plisket lebih sulit dan ribet, tapi Randu yang memintanya, terpaksa ia menuruti kemauannya.


Jari lentiknya terus memegang tepi hijab yang terus mengkerut ke belakang. Ah, rasanya Aya tak sabar dan ingin ganti, tapi tatapan Randu menusuk jantung menekankan Aya untuk tetap memakainya. 


"Gimana kalau pakai yang biasa, Mas. Kalau seperti ini ribet," keluh Aya. 


Pagi itu mereka akan datang ke rumah sakit, karena semalam bayi Sabrina sudah lahir, jadi Mahesa menyuruhnya datang pagi saja, sekalian menjemput anak anak yang masih ada di rumah.


"Aku maunya yang ini." Randu memegang ujung hijab Aya yang berwarna jingga.


"Kalau begitu tatap mataku!" Aya menangkup kedua pipi Randu, menghimpitnya dengan kuat dan mengarahkan ke arah matanya, keduanya saling bertukar pandangan, Aya mendekatkan bibirnya dan menyatukannya dengan lembut. Randu terbuai dengan sentuhan itu, ia menarik pinggang Aya hingga menempel menikmati jamuan pagi istrinya. 


"Sudah, sekarang kita berangkat." Dengan seenak jidatnya Aya melepaskan ciumannya tanpa aba aba, meraih tas dan ponselnya yang ada di nakas. 


Enak saja mau lepas tangan. 


Randu kembali menarik tubuh Aya hingga jatuh ke dalam dekapannya. 


"Kenapa sih, Mas? Kita harus jemput Devan dan Syakila, takut kesiangan."


Aya melihat jam yang melingkar di tangannya alih alih bodoh,  padahal ia tahu dari sorot matanya Randu memendam sesuatu. 


"Siapa tadi yang usil mancing duluan?" bisik Randu.


Aya bergidik ngeri saat nafas Randu menerpa telinganya. Baru saja digoda sedikit, Randu sudah kelimpungan, apalagi kalau Aya sudah mengeluarkan jurusnya, pasti Randu kayak orang kebakaran jenggot. 


"Baiklah aku janji, setelah pulang dari rumah sakit, nanti kita itu lagi."


Mata Randu terbelalak, jika biasanya ia yang terus meminta, kini dengan terang-terangan Aya menawarkan diri,  benar-benar istri yang baik dan tahu keadaan suaminya. 


"Kamu tunggu di luar bersama anak-anak, aku mau ke kamar mandi dulu." Sebuah kecupan mendarat di pipi Aya sebelum beranjak. 


Seperti yang dikatakan tadi, Randu segera ke kamar mandi. Saat membuka tong sampah ingin membuang tisu,  tiba tiba Randu melihat sesuatu yang tak asing di matanya.


Randu mengambil tisu dan memungut benda itu, menatapnya dengan lekat. "Ini kan bungkus pil kb," gumamnya kecil, "apa Aya memakainya? Lalu apa maksudnya?"

__ADS_1


Dada Randu terasa nyeri, wajahnya yang tadi lembut berubah pias, ia meremas bungkus itu dan melemparnya asal. 


Randu mencuci tangannya lalu keluar dari kamarnya. Melihat Aya sudah menggendong David,  ia berusaha meredam emosinya, mungkin saat ini bukan waktunya untuk bertanya pada Aya. 


Randu menutupi rasa kesalnya dengan balutan senyum paksa, mendekati Aya dan Raisya yang sudah berada di teras depan. 


"Mas,  nanti kita mampir ke restoran jepang ya, aku pingin makan sukiyaki."


"Hmmm…" jawab Randu singkat, tak seperti biasanya yang membantu Aya membukakan pintu mobil, Randu langsung menuju pintu kemudi setelah membuka pintu untuk Raisya. 


Mas Randu kenapa sih? Aya mulai curiga. 


Aya yang sangat cerdas dan tahu watak Randu itu menangkap sesuatu yang tidak beres, tapi ia memilih diam daripada harus bicara tapi diabaikan. 


Sepanjang perjalanan dari rumah menuju rumah Mahesa dan melanjutkannya lagi ke rumah sakit, tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Randu,  begitu juga dengan Aya yang memilih bercakap dengan Raisya dan sesekali berinteraksi dengan David.


Seperti tadi, bahkan saat turun dari mobil pun Randu tak peduli, padahal Aya kesusahan untuk keluar karena David sedang terlelap. Tapi dengan teganya Randu keninggalkannya sendirian. 


"Mas Randu kenapa sih? Apa ini karena tadi aku sudah menolaknya?"


Aya cemas, di awal pernikahan ia harus membuat Randu marah,  padahal ia sudah berjanji akan menjadi istri yang baik, tapi baru beberapa hari ia menciptakan ketidak nyamanan untuk Randu, pikirnya. 


"Aku harus minta maaf." Aya berlari menyusul Randu sudah berada di depan lift. 


"Mas tunggu!" teriak Aya saat pintu lift terbuka, namun sepertinya Randu sengaja tak peduli dengan suaranya dan menutup pintu lift itu bersama Raisya dan Devan serta Syakila. 


Aya berdecak, kakinya menendang pintu lift yang sudah tertutup rapat.  Ia masih heran dengan Randu yang bersikap dingin padanya dalam hitungan detik. 


Aya memencet tombol lantai tiga seperti ucapan Randu tadi pagi, dadanya meletup letup melihat Randu yang cuek padanya. Padahal ada David bersamanya, tapi masih mengabaikannya begitu saja seperti seorang baby sitter. 


Aya menoleh ke kanan seperti petunjuk dari Mahesa lewat ponsel. Tepat didepan sebuah ruang rawat ada Pak Udin yang berjaga. 


Dengan langkah lunglainya Aya menghampiri supir Mahesa yang sedang duduk di kursi tunggu. 


"Pak, apa ini ruangan Sabrina?" 

__ADS_1


"Iya betul, Non."


"Makasih, Pak." Aya membuka pintu seraya mengucapkan salam dengan suara lirih, matanya menangkap Sabrina yang terlelap di atas pembaringan, di sampingnya ada Mahesa yang duduk di kursi dan bercakap dengan Randu yang ada di sisinya, di sofa ada Bu Yumna dan Bu Risma yang menggendong kedua anak Sabrina, dan juga anak-anak yang juga berkerumun di sana. Sedangkan Pak Yudi memilih berada di pojok dengan Devan yang baru datang. 


"Itu David tidur, Ay?" tanya Bu Risma. 


"Iya tante," jawab Aya, matanya melirik ke arah Randu yang nampak diam membisu. 


"Gimana keadaan Sabrina?"


"Dia baik, kamu lihat saja sekarang tidurnya kayak kebo."


Sebuah cubitan tiba-tiba mendarat di tangan Mahesa, ternyata yang ia ghibah hanya pura-pura dan bisa mendengar ucapannya. 


"Itu artinya kamu mencintai kebo dong," kata Sabrina protes. 


Mahesa tertawa lepas lalu membungkukkan tubuhnya. 


"Bercanda sayang, kamu cantik kok, baik pula, pengertian dan penurut,  setelah ini kita bikin anak perempuan, ya. Biar lengkap."


Sabrina geram dan menggigit tangan Mahesa, tega teganya suaminya mempermalukan dia di depan keluarganya,  sampai sampai bu Yumna ikut tertawa mendengar ucapan absurd Mahesa. 


Aya ikut melebarkan senyumnya meskipun suasana hatinya masih dongkol dengan sikap Randu. 


"Setelah ini gantian Mbak Aya yang hamil,  masa aku terus sih."


Sabrina meraba perut rata Aya yang mematung di sampingnya.


"Iya, Ay. Nungguin apa lagi, mumpung masih muda, proses yang banyak," timpal Bu Risma dari sofa.


Sang empu tersenyum kecut, ia tak tahu harus jawab apa, yang pastinya untuk saat ini belum memikirkan kehamilan. 


Randu mengalihkan pandangannya ke arah lain,  sedikit pun ia tak mau membantu Aya yang sudah terpojok dengan ucapan Sabrina dan Bu Risma. 


Halo.... Author punya rekomendasi Novel Berbagi cinta yang sangat menarik juga punya Author M Anha silakan mampir

__ADS_1



__ADS_2