Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Bukti


__ADS_3

Kehadiran Devan bukanlah bukti  yang cukup kuat untuk mengembalikan ingatan Sabrina. Wanita itu masih nampak bingung dengan bayi yang ada di pangkuannya, meskipun hatinya tersentuh untuk menggendongnya, faktanya ia masih menatap asing pada sosok pria yang ada di sampingnya. Pria yang mengaku sebagai suaminya, dan pria yang mengatakan jika bayi itu adalah putra mereka.


"Aku belum menikah, bagaimana bisa aku punya anak?"


Sabrina menatap seisi ruangan secara bergantian, ia butuh penjelasan yang detail dan butuh sebuah bukti lagi akan statusnya saat itu.


Yang ia tahu hanya ada Imran di hatinya. Laki laki yang beberapa waktu lalu memintanya dengan resmi pada Ibu Yumna dan akan menikahinya.


Mahesa mengangkat tangannya lalu menunjuk cincin kawin yang tersemat di jari manisnya.


"Lihatlah! Ada nama kamu di sini,  dan ada namaku di cincin kamu." 


Sabrina menatap jemarinya, benar, di sana ada cincin yang melingkar di jari manisnya. 


Sedikit pun Sabrina tak mampu untuk mengenang memorinya semenjak kejadian malam itu. 


Sabrina meraih tangan Bu Yumna, sedangkan tangan yang satu lagi menopang kepala bayinya.


"Aku ingin pulang ke panti,"  ucap Sabrina manja.


Pak Yudi dan Bu Risma hanya melongo, tak mungkin mereka mencegahnya dengan kondisi Sabrina yang masih belum pulih.


"Sebentar ya."


Bu Yumna mendekati Mahesa dan mengajaknya keluar.


"Devan lucu," Arum mencairkan suasana membiarkan kebingungan Sabrina yang masih melanda. 


"Apa benar dia anakku?" tanya Sabrina. 


Arum menatap ke arah Randu  yang mematung di ujung ranjang. 


Pria itu mengedipkan mata dan mengangguk kecil. 


"Iya,  dia anak kamu dan mas Mahesa," jawab Arum jujur. 


Mahesa, apa itu nama pria tadi? Menatap pintu yang tertutup bersamaan Bu Yumna yang menghilang. 


Mahesa mengikuti Bu Yumna hingga keduanya berada di sebuah lorong yang sangat sepi. Bu Yumna duduk, begitu juga dengan Mahesa, pria itu memilih bersimpuh di bawah, tepatnya di depan sang mertua. 


"Ibu mau bicara apa?"  Hati Mahesa  sedikit was was, rasa takutnya merambat dari ujung kaki hingga ke pucuk kepala bahkan nyali Mahesa sedikit menciut  menatap wajah Ibu Yumna.


"Apa kata dokter?" tanya Bu Yumna. 


Mahesa mendongak hingga keduanya saling tatap. Mahesa menceritakan apa yang diucapkan dokter Harun. Dengan perincinya pria itu tak meninggalkan sepatah katapun. 


"Apa Ibu punya solusi dari perkara ini?" tanya Mahesa,  berharap ada jalan keluar  dari  masalah yang membelitnya. 


"Sabrina adalah perempuan yang sholehah. Dia akan patuh pada sebuah fakta."


"Maksud Ibu?" selak Mahesa antusias. 

__ADS_1


Bu Yumna menghela nafas panjang lalu menepuk pundak Mahesa beberapa kali. 


"Kamu bawa bukti yang kuat, bukti yang membuatnya percaya kalau kamu adalah suaminya."


Otak cerdas Mahesa langsung bereaksi, dimana pria itu sudah menemukan solusi dengan apa yang dikatakan Bu Yumna. 


Dengan sigap Mahesa merogoh ponselnya menghubungi Randu. 


"Apa Mas butuh bantuan?"


Mahesa mengangguk dan berbisik di telinga Randu. 


"Baik Mas, aku akan segera kembali membawa apa yang Mas minta."


Mahesa sedikit bernapas lega, dan berharap itulah titik terang untuk hubungannya, meskipun ia tak diingat istrinya setidaknya Mahesa masih bisa dekat dengan Sabrina. 


Baru saja beberapa langkah Mahesa dikejutkan dengan panggilan seseorang dari belakang. 


"Camelia," serunya, menatap istri mudanya itu berada di kursi roda. 


"Selesaikan urusanmu, ibu tidak mau Sabrina kembali terguncang dengan semua ini,  jika kamu benar benar mencintai Sabrina, pasti kamu akan membuatnya nyaman sebagai istri kamu."


Mahesa diam mencerna apa yang dikatakan mertuanya.


Setelah Bu Yumna menghilang di ujung lorong,  Mahesa menghampiri Camelia, bagaimanapun juga wanita itu masih menjadi istrinya yang sah. 


"Ada apa?" tanya Mahesa cuek,  bahkan sekilas pun tak ingin menatap wajah cantiknya. 


Suster yang ada di samping Camelia memilih untuk pergi,  memberi ruang keduanya  bicara. 


Masih saling memunggungi. "Apa kamu yakin kalau bayi yang kamu melahirkan itu adalah anakku?"


"Harus berapa kali aku bilang,  dia adalah anak kamu,  darah daging kamu."


Seketika Mahesa membalikkan tubuhnya menatap Camelia yang  terlalu percaya diri. 


"Kita buktikan saja, jika dia adalah anakku, aku akan bertanggung jawab, tapi jika sebaliknya, kamu akan menerima akibatnya."


"Apa maksud kamu?"


Camelia masih tak mengerti kemana arah pembicaran Mahesa. 


"Kamu akan membalas atas apa yang sudah kamu perbuat,  jika malam itu Sabrina masih ada disisiku,  nggak mungkin aku membencinya. Tidak mungkin aku membuat hidupnya menderita dan berjuang sendirian, dan tidak mungkin aku menelantarkan putraku sendiri."


Dari lubuk hati yang paling dalam penyesalan Mahesa tak sebanding dengan apa yang pernah ia lakukan  berbulan bulan pada istri tuanya. 


"Aku melakukan itu karena aku mencintaimu Mas."


Mahesa tertawa mengejek. 


"Itu bukan cinta, tapi ambisi."

__ADS_1


Camelia meraih tangan Mahesa dan menggenggamnya erat. 


"Mas aku minta maaf, waktu itu aku hanya takut kehilangan kamu saja."


Camelia terisak,  tak sanggup, disaat dirinya melahirkan, justru kenyataan pahit yang datang menghampirinya. 


Mahesa menarik tangannya, ia bukan Sabrina yang punya pintu maaf seluas samudra, namun ia adalah Mahesa yang kekeh dengan keangkuhannya. 


"Kita lihat nanti! Apa hubungan kita masih bisa dipertahankan atau tidak." 


Mahesa meninggalkan Camelia, pria itu sudah mantap untuk memilih salah satu diantara istrinya. 


Tiga puluh menit berlalu, Mahesa yang masih berada di depan ruangan Sabrina itu tersenyum renyah saat menangkap siluet seseorang yang baru tiba.


"Ini yang Mas minta,"  Randu menyodorkan dua buah buku dengan gambar yang sama namun warna yang berbeda. 


Aku harap ini bisa menjadi bukti yang bisa membuat Sabrina percaya kalau aku adalah Suaminya. 


Ruangan masih nampak ramai. Sesekali Sabrina mengulas senyum saat bayi yang ada di pangkuannya itu memamerkan gusinya. 


"Apa aku boleh masuk?"  tanya Mahesa yang hanya menyembulkan kepalanya.


Tak ada yang menjawab, semua menatap ke arah Sabrina yang masih setia di atas ranjang. 


"Boleh, Mas," ucap Sabrina pelan.


Arum dan Sesil memilih untuk mundur,  sedangkan Bu Yumna dan Pak Yudi serta Bu Risma duduk di sofa. 


"Sayang."


Bulu halus Sabrina berdiri,  wanita itu merasa panggilan Mahesa sangatlah aneh di telinganya. Wajahnya bersemu menahan malu di depan yang lainnya. 


"Ini adalah buku nikah kita, dan aku harap kamu percaya kalau aku suami kamu."


Sabrina melirik ke arah buku yang terbuka, nampak dengan jelas yang ada di dalam adalah fotonya dan foto Mahesa. Namun sabrina masih merasa kikuk, baginya Mahesa adalah pria asing yang tidak di kenalinya. 


"Tatap aku!" pinta Mahesa dengan serius. 


"Aku nggak bisa," jawab Sabrina, wajahnya masih menunduk menatap Devan yang hampir saja terlelap. 


"Sebentar saja, aku mohon!" imbuhnya. 


Terpaksa Sabrina mengangkat kepalanya dan menoleh menatap manik mata Mahesa. 


"Aku tidak menuntutmu untuk mencintaiku, tapi izinkan aku  mencintaimu, karena dengan begitu aku akan merasakan mencintai tanpa dicintai."


Entah, hati Sabrina merasa tersentuh dengan ucapan Mahesa. Dan tak sanggup untuk menolaknya. 


Aku tidak mengenalnya, tapi aku lihat dia sangat serius dengan ucapanya, Ya Allah  semoga Engkau meridhoi pilihanku.


Akhirnya Sabrina mengangguk tanpa suara.

__ADS_1


 


__ADS_2