
Tak hanya di rumah, Mahesa dan Sabrina merayakan hari ulang tahunnya di panti. Hari berikutnya Sabrina dan Mahesa sengaja datang ke panti untuk menemui anak-anak disana, selain rindu ia ingin berbagi kebahagiaan yang menyelimutinya.
Sudah tak asing lagi, kedatangannya selalu disambut dengan meriah oleh anak anak, apa lagi Devan yang sangat menggemaskan kini menjadi pusat perhatian dan rebutan bagi yang lain. Setelah turun dari mobil, Devan yang tadi ada di tangan Mbak Inul pun sudah berpindah tangan.
"Kak Mahesa, nanti Devan nikahnya sama aku ya," ucap Lala. Salah satu anak panti yang berumur sepuluh tahun, dengan susah payah Lala menggendong Devan yang semakin berat.
Mahesa dan Sabrina hanya tertawa lepas mendengar kelucuan bocah tersebut.
"Kamu berdoa saja supaya kamu dan Devan berjodoh," jawab Mahesa pelan.
Setelah mengucapkan selam, Mahesa memilih ke ruang keluarga, sedangkan Sabrina ke belakang bersama pak Udin dan Mbak Inul.
"Ning Sabrina, Ya Allah Ning, bibi kira siapa tadi," teriak Bi Dami sembari mengelap tangannya yang basah.
Saling menyapa dan menanyakan kabar, itu memang sudah menjadi ciri khas keluarga panti.
"Ibu di mana, Bi?"
Sabrina memberikan beberapa oleh oleh untuk keluarga panti.
"Ada dikamar, Ning. Sedang mengurus Alyssa.
Sabrina mengerutkan alisnya, merasa asing dengan nama yang baru saja di lontarkan bi Dami.
"Alyssa, anak baru?"
Bi Dami mengangguk.
"Persisnya masih bayi, Ning. Kira-kira umurnya dua bulan."
Sabrina mengangguk mengerti lalu berjalan menuju kamar Bu Yumna.
"Bu, apa aku boleh masuk?" ucap Sabrina sembari mengetuk pintu.
"Masuk saja, Ning," sahut Bu Yumna dari dalam.
Sabrina membuka pintu dan menghampiri Bu Yumna yang sedang sibuk mengganti popok bayi yang ada di atas ranjang.
"Maaf ya Ning, ibu nggak bisa menyambut kamu dan Mahesa," kata Bu Yumna.
Sabrina memegang pipi merah bayi itu, matanya terpana melihat kecantikan wajah makhluk mungil yang ada di depannya.
"Nggak apa apa Bu, lagian seperti tamu agung saja," jawab Sabrina.
Sabrina duduk di tepi ranjang.
__ADS_1
"Ini bayi siapa, Bu?" tanya Sabrina.
Setelah rapi Sabrina mengangakat tubuh mungil bayi itu dan meletakkan di pangkuannya.
"Ibu tidak tahu siapa nama orang tuanya, dia hanya bilang tidak bisa merawatnya. Dan dia menitipkannya ke ibu untuk merawatnya."
Ya Allah, kasihan sekali dia, kenapa di jaman seperti ini masih saja ada orang yang menelantarkan anaknya. Semoga suatu saat nanti kamu menjadi perempuan yang Sholehah yang bisa menjaga martabat orang tuamu.
Sabrina menggendong bayi itu dan membawanya keluar diikuti bu Yumna dari belakang.
Mahesa menghampiri istrinya dan menyalami Bu Yumna.
"Mana Devan?" tanya Bu Yumna.
"Dibawa ke kamar anak anak Bu, mereka berebut, pengen menjadi istrinya Devan."
Bu Yumna tertawa terpingkal pingkal setelah mendengarkan ucapan Mahesa.
"Wajarlah Hes, Devan tampannya level sepuluh, kalau ibu masih muda juga pasti jatuh cinta sama dia."
Suasana gaduh terdengar kembali dari balik kamar. Mahesa segera berlari ke arah kamar, takut terjadi sesuatu dengan Devan.
"Ada apa?" tanya Mahesa antusias.
"Ini kak, Romi katanya mau menjadikan Devan adiknya, padahal kan aku yang mau menjadi abangnya."
"Sekarang dengar kakak!" seru Mahesa.
"Devan adalah adik kalian semua, nggak ada yang boleh rebutan lagi, sekarang kalian berjejer yang rapi, kakak poto kalian."
Mahesa mengeluarkan ponsel mahalnya dari kantong celana.
Seperti yang diperintahkan Mahesa, semua menempatkan pada posisi masing masing dan menghadap ke arah ponsel Mahesa.
"Siap?"
"Siap," jawab anak anak serempak. Semua bergaya dengan keinginan masing-masing.
Setelah beberapa kali jepretan, kini Mahesa kembali keluar setelah semuanya tampak tenang.
Mahesa menghampiri Sabrina dan Bu Yumna yang ada di ruang keluarga.
"Mas," Sabrina duduk di samping Mahesa yang ada di seberang meja. Masih dengan Alyssa, bayi mungil yang hampir terlelap di gendongannya.
Mahesa menatap lekat wajah bayi yang ada di sampingnya.
__ADS_1
"Mas, apa aku boleh merawatnya?" tanya Sabrina dengan penuh harap.
Mahesa mengerutkan alisnya.
"Apa maksud kamu?"
Masih tak mengerti dengan maksud Sabrina yang sebenarnya.
"Kita adopsi Alyssa, aku ingin dia menjadi anak perempuan kita," jelas Sabrina.
Wajah Mahesa berubah datar, tak bisa menyembunyikan kemarahannya, bahkan di depan Bu Yumna sekalipun.
"Aku nggak setuju," jawab Mahesa. Ia tak bisa begitu saja mengabulkan permintaan Sabrina yang menurutnya konyol.
"Kenapa?"
Mahesa menghela napas panjang lalu menggenggam tangan Sabrina dengan erat. Dalam hati ia menyiapkan larikan kalimat yang akan diluncurkan dan berusaha sebaik mungkin supaya Sabrina tak kecewa.
"Sayang, kamu dengar aku! Kita sudah punya Devan. Itu artinya kita tidak mandul, dan sebelum kecelakaan itu terjadi kamu hamil kan, dan itu tandanya kita masih bisa punya anak lagi." Mahesa menjeda ucapannya, menatap Bu Yumna yang masih ada di sana. Sedangkan Sabrina tetap pada posisinya menjadi pendengar setia.
"Dan aku siap untuk membiayai semua anak-anak di panti ini sampai mereka sukses, aku siap menjadi ayah mereka selagi aku bisa, jadi mereka nggak akan kekurangan apapun. Tapi untuk adopsi, aku minta maaf, aku nggak bisa," imbuhnya.
Mahesa mencoba meyakinkan Sabrina supaya paham dengan apa yang ia maksud.
Se rapi apapun kalimat yang diucapkan Mahesa, rasa kecewa itu tetap ada. Mata Sabrina berkaca kala melihat suaminya dengan angkuh menolak permintaanya.
"Iya, Ning. Suami kamu benar, takutnya nanti timbul sebuah masalah yang tak terduga, Ibu setuju dengan Mahesa."
"Tapi, Bu,__
Ucapan Sabrina berhenti saat Mahesa mencium pipinya.
"Nggak ada tapi tapian, aku tetap nggak setuju, dan kamu tenang saja, meskipun disini, semua anak-anak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, seperti Devan."
Akhirnya Sabrina memilih diam daripada harus berdebat. percuma juga, toh Bu Yumna malah dengan jelas membela Mahesa, bukan dirinya yang jelas-jelas putri asuhnya.
Hening sejenak. Mahesa tahu apa yang harus dilakukan saat istrinya merajuk.
Mahesa melambaikan tangannya ke arah bi Dami.
"Bi, ajak Alyssa sebentar ya, emaknya lapar, bisa-bisa nanti pipi gembul bayi nya digigit," goda Mahesa.
Bu Yumna hanya tersenyum tipis saat tepukan mendarat di lengan Mahesa.
Setelah Bi Dami mengambil Alyssa, Bu Yumna ikut pergi ke belakang, memberi ruang Mahesa untuk membujuk Sabrina.
__ADS_1
"Sayang, aku minta maaf ya, bukan maksudku untuk menyakiti hati kamu. Aku hanya takut suatu saat nanti kamu akan kecewa jika ibu kandung Alyssa tiba tiba datang dan mengambilnya, kita nggak tahu, apa yang terjadi kedepan dan aku hanya jaga jaga saja sebelum semua terjadi. Meskipun kita adopsi bukan berarti juga kita memiliki dia selamanya."
Sabrina mencerna setiap ucapan Mahesa lalu memeluk suaminya.