
Kehamilan Aya mengubah segalanya, menormalkan otak Randu yang sedikit terpeleset. Sekarang pria itu berusaha menjadi suami yang siaga, meskipun awalnya hanya menggantungkan tugasnya pada jam alarm, kini Randu mulai terbiasa dengan apa yang diinginkan istrinya.
Suasana di rumah lebih ramai, mengurus dua anak cukup melelahkan bagi Randu. Ia terpaksa menggantikan tugas istrinya saat menjalani perawatan. Di kehamilan Aya yang pertama harus dipasang infus karena keadaanya yang sangat lemah.
Randu kembali ke kamarnya saat kedua anaknya sedang bermain bersama Bi Nori dan pengasuh baru yang masih berkenalan dengan David.
Bayangan masa lalu selalu hadir, Tak dinyana, takdir begitu unik dan misteri, ia pikir akan hidup bersama Arum sampai tua dan melupakan Aya, wanita yang mampir sejenak dalam hidupnya, nyatanya sekarang Aya lah yang menemani sisa akhir hidupnya.
Randu duduk di tepi ranjang, matanya terus memandangi wajah Aya yang kian membaik setelah menerima pengobatan selama dua hari.
Engh….
Suara lenguhan Aya membuyarkan lamunannya, secepatnya Randu menyeka air mata yang berhasil lolos dari sudut matanya.
Aya mengerjap ngerjapkan matanya perlahan, rasa ngilu akibat tusukan jarum suntik di tangannya sangat mengganggunya dan membuatnya terus mendesis.
"Mas, boleh nggak sih dilepas sekarang?" Aya nampak keberatan dengan peralatan yang bertengger di samping ranjang.
"Sebentar lagi, nanti kalau obatnya sudah habis aku akan hubungi dokter Agung."
Randu menatap botol yang menggantung, sisa airnya tak terlalu banyak, hanya saja ia memastikan jika kondisi Aya benar-benar pulih.
"Tapi aku bosan di kamar, aku ingin keluar."
Dengan sigap Randu membantu Aya bangun dan turun, Randu meraih selang infus, dan satu tangannya menggandeng tangan Aya keluar dari kamarnya.
Meskipun masih terasa lemas, Aya jauh lebih baik dari pertama saat dinyatakan hamil.
"Aku kangen anak-anak," ucapnya dengan bibir gemetar menahan tangis, matanya terus menatap punggung David.
Randu menghentikan langkah Aya yang ingin menghampiri David, membungkam mulutnya untuk tidak bersuara kencang. Bukan apa apa, kejadian saat David menarik jarum yang membuat tangan Aya berdarah takut terulang lagi.
"Nanti kalau infusnya sudah dilepas, kamu boleh sepuasnya main sama mereka, untuk sekarang jangan."
Aya menghembuskan napas dengan sedikit kasar.
__ADS_1
Mama sayang kalian, tetaplah menjadi kebanggaan Bunda dan Ayah serta mama.
Dengan jalan mengendap-endap akhirnya Randu dan Aya berhasil ke taman tanpa sepengetahuan David yang sibuk dengan mainannya.
Randu membawa Aya duduk di tengah tengah taman yang dikelilingi berbagai macam bunga yang merekah.
"Ini semua Arum yang menanamnya?" Matanya terus mengabsen setiap bunga yang berjejer rapi. Diantara banyaknya macam bunga, hanya ada satu yang Aya suka, yaitu melati putih dengan wangi yang semerbak masuk ke rongga hidungnya.
"Iya, dia suka berkebun." Randu mengatakannya dengan diiringi senyum kecil.
"Tapi aku tidak suka." Aya menundukkan kepalanya, ia tak mau berbelit dengan sifatnya yang memang jauh berbeda dengan istri pertama Randu.
"Nggak harus semua orang itu sama, kan? Aku sudah pernah bilang, jadilah diri sendiri, karena aku suka kamu sebagai Ayana Mira. Gadis bar bar yang tak pernah takut siapapun, termasuk aku."
Aya mendaratkan sebuah cubitan di pinggang Randu, wajahnya merona menahan malu mengingat tingkahnya waktu itu.
"Sakit, Beb. Nanti kalau berdarah gimana?" Saking penasarannya Randu menyingkap kemejanya. Dan benar, bekas kuku Aya yang menancap itu membuat kulitnya sedikit merah, tapi rasa itu tak seberapa dibanding kebahagiannya yang melanda saat ini.
Aya menyandarkan kepalanya di pundak Randu. Keduanya menatap mentari yang mulai menampakkan sinarnya. Rasa lelah itu terobati, Aya merasa sangat berharga, kini ia berada di titik yang tak bisa dijangkau oleh otaknya sendiri.
Randu terus mengelus perut Aya yang masih rata, seluruh doa terus ia panjatkan untuk calon sang jabang bayi.
"Bagus dong, itu artinya dia nggak bisa ganggu rumah tangga Mas mahesa dan Mbak Sabrina lagi."
Dengan jahilnya tangannya yang ada di perut itu terus merayap ke atas hingga menyentuh sesuatu yang ia rindukan.
Hening sejenak, keduanya bergelut dengan pikirannya masing-masing, hingga suara deheman membuyarkan keduanya.
Randu menarik tangannya kembali, untung saja bibirnya masih bisa dikondisikan, kalau tidak, mungkin Mahesa akan melihat adegan yang sangat luar biasa.
"Mas Mahesa, Mbak sabrina!" Randu menoleh tanpa beranjak, takut Aya terkejut dengan pergerakannya.
"Makanya kalau mau itu lihat tempat," bisik Aya.
Randu hanya mendaratkan jarinya tepat di bibir Aya untuk tidak membahas tingkah konyolnya tadi.
__ADS_1
"Maaf, aku mengejutkan kalian." Sabrina menghampiri Aya dan duduk di sampingnya, pelukan hangat di terima Aya dari istri sahabatnya.
"Gimana kabarnya, Mbak? Kemarin saat mas Mahesa bilang mbak sakit aku khawatir, tapi aku baru bisa ke sini sekarang, karena Daffa dan Daffi sedikit demam setelah diimunisasi," ucap Sabrina penuh dengan penyesalan.
"Nggak papa, mas Randu yang yang terlalu khawatir sampai aku harus diinfus segala."
"Mungkin anak kamu ngerti, Ay." Semua mata tertuju ke arah Mahesa yang masih mematung di samping Sabrina, ada gelagat aneh yang bersembunyi di balik bibir yang dipenuhi dengan senyuman nakal tersebut.
"Maksud Mas Mahesa apa?" tanya Sabrina bingung.
"Biar bapaknya itu lebih peka dan tidak mengabaikan istrinya."
Aya menahan tawa, apa yang dikatakan Mahesa ada benarnya, terbukti, selama ia sakit Randu memang selalu mengerti dirinya serta menjalankan tugasnya dengan baik.
Randu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kini ia lebih mengerti dengan keadaan dan tak mementingkan egonya saja.
"Selamat untuk kalian, mulai hari ini jalankan bisnismu sendiri, aku sudah memecatmu sebagai asistenku."
Sebenarnya Randu masih tak rela dengan keputusan Mahesa, namun ia juga tak bisa menolak permintaan pria yang sudah membantunya selama ini.
"Toko perhiasan yang aku berikan itu adalah hak Raisya dan David, untuk anak kamu dan Aya, aku punya perusahaan yang ada luar kota. Kamu bisa mengembangkannya sendiri. Anggap saja itu hadiah dariku karena kesetiaanmu selama ini."
"Kok nggak sama sih, Mas?" Sabrina bingung dengan kata toko dan perusahaan.
"Sama, Sayang. hanya namanya saja yang berbeda, toko itu omsetnya sangat besar sama seperti perusahaan kain yang pernah kita kunjungi waktu itu."
Setelah mendengar penjelasan Mahesa, Sabrina hanya manggut manggut, otaknya yang sangat minim tak bisa menjangkau urusan bisnis suaminya, yang ia tahu hanya mengurus anak-anak dan suaminya saja.
Randu hanya bisa mengucapkan terima kasih atas pemberian untuk anak-anaknya.
"Dan setelah ini aku akan melanjutkan bisnis kakek, jadi untuk perusahaan dan toko biar orang lain yang mengurusnya," timpal Randu.
Akhirnya pintu hati Randu terbuka untuk bisa memenuhi permintaan kakeknya dan tidak ingin mengecewakan untuk yang kesekian kali.
"Semoga Allah selalu memberkahi kita semua.
__ADS_1
Aamiin…..
TAMAT