Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Pendapat


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Sabrina terpaksa membuka matanya saat dering ponsel itu menggema di telinganya. 


Sabrina menoleh ke arah Mahesa, semenjak pulang dari panti, Mahesa tampak kelelahan. Apalagi seluruh anak panti tak henti-hentinya mengajaknya untuk bermain. 


Sabrina merapikan rambutnya lalu mengucek matanya dan meraih ponsel yang ada di nakas. 


"Arum, ngapain malam malam begini nelpon?"


Sabrina turun dari ranjang menuju ke arah balkon kamarnya. Takut Mahesa terusik dengan obrolannya. 


"Assalamualaikum…." sapa Sabrina dengan suara serak, sembari menatap bintang yang berkelip indah di ujung langit gelap. 


"Waalaikumsalam," jawab dari seberang sana dengan suara pelan.


Mata Sabrina jadi terbuka lebar mendengar ada keganjilan dengan nada bicara Arum. 


"Tumben kamu malam-malam begini telepon? Ada apa?" Masih nada basa-basi.


Terdengar suara helaan napas panjang dari balik telepon.  


"Aku nggak bisa tidur, Sab. Aku butuh kamu,  dan aku nggak bisa menahan sampai besok."


Sebenarnya Arum juga sungkan dengan Sabrina,  namun bagaimana lagi, Sesil saja masih kurang untuk diminta pendapat. 


"Nggak apa-apa Rum, dua puluh empat jam aku siap untuk kamu dan Sesil." 


"Untuk aku juga,"  tiba tiba sebuah bisikan terdengar jelas dari telinga sebelah. 


Tak kaget lagi, itu adalah Mahesa yang baru datang menyalakan lampu hingga terang. Sabrina menarik lengan suaminya lalu mendudukkannya.


Dengan jahilnya sabrina duduk di pangkuan Mahesa, mengelus rahang kokohnya setelah itu mendaratkan jarinya di bibir Mahesa memberikan kode untuk diam. 


"Kamu mau cerita apa?" tanya Sabrina, kali ini menyalakan mode loudspeaker. 


"Sab,  tadi siang Pak Randu melamarku." 


Sabrina menganga, kaget bukan kepalang mendengar ucapan Arum, hatinya ikut  kegirangan bahagia. Tapi juga sedih saat mengingat nama Aya, wanita yang pernah hadir di sisi Randu. 


Sedangkan Mahesa terus merapikan anak rambut istrinya dan tersenyum. Tapi  sebenarnya Mahesa juga terkejut dengan langkah cepat Randu, namun bagaimana lagi, itu juga saran darinya, dan Mahesa lah yang menjadi pendukung pertama untuk Randu. 


"Kamu yakin?" tanya Sabrina antusias. 


"Iya Sab,  tapi aku belum kasih jawaban."


Suara Arum semakin lemah. 

__ADS_1


Sebagai sahabat yang sudah lama,  Sabrina tahu, pasti Arum juga berpikir sepertinya. 


"Sab,  menurut kamu gimana?" tanya Arum serius. Bahkan Arum menganggap jawaban Sabrina adalah penentuan untuk kedepannya. 


Sabrina menatap Mahesa,  sepertinya ia saat ini juga butuh pendapat Mahesa demi kebahagiaan sahabatnya. 


"Rum, kamu tenang saja, sekarang tutup dulu nanti aku akan telepon kamu lagi." 


Setelah sambungannya terputus, Sabrina melingkarkan tangannya di leher Mahesa hingga keduanya saling tatap.


"Mas sudah dengar sendiri kan, apa kata Arum?"


Hem… jawab Mahesa enteng. 


"Memangnya kenapa?" Masih dengan nada cuek. 


"Mas,  bisa nggak sih sekali-sekali kamu serius. Aku nggak lagi bercanda,"


Sabrina mulai jengkel.


Mahesa tersenyum lalu mencubit pipi Sabrina. 


"Terima saja, toh Randu nggak pernah main main dengan ucapannya, dia baik, mapan, hanya saja sedikit kaku."


"Kurang romantis."


"Bukannya kamu juga, ngapain harus mas Randu," sindir Sabrina. 


Dasar maling teriak maling. 


Seketika Mahesa menangkup kedua pipi Sabrina lalu mencium bibirnya dengan lama dan lembut. 


Entah yang keberapa kali Sabrina kecolongan dan tak bisa menghindar.


"Ajari aku! Bagaimana supaya aku bisa romantis," bisik Mahesa. Tangannya masih  memegang kedua pipi Sabrina tanpa ingin melepaskannya. 


Pembahasan tentang Arum dan Randu terjeda sejenak kala Mahesa serius dengan permintaannya. 


Sabrina terus tersenyum. Sebenarnya ia sendiri tak tahu, tapi ia sendiri yang memancing Mahesa.


Gawat, gimana ini  aku kan juga nggak tahu. 


Setelah beberapa detik berkelana dengan otaknya, akhirnya Sabrina membuka suara. 


"Romantis itu,  harus bersikap lembut terhadap pasangan, selalu mengutarakan kata kata yang manis, memberi hadiah hadiah yang disukai,  dan mengajaknya ke tempat yang sangat indah. Itu saja sih yang aku tahu."

__ADS_1


Sabrina mengangkat kedua bahunya,  ntah, itu benar atau tidak yang pastinya sedikit ia bisa menjelaskan pada Mahesa. 


"Kalau ini termasuk romantis nggak?" Kali ini Mahesa lebih serius dengan ciumannya, bahkan ia tak memberi jeda sedikitpun untuk Sabrina bernapas. 


Ya Allah mimpi apa aku tadi, kenapa bisa jadi begini sih. 


Sabrina hanya bisa menjerit dalam hati saat Mahesa tak melepaskan ciumannya.


Akhirnya Sabrina menepuk lengan mahesa saat napasnya terasa hampir habis. 


"Mas mau membunuhku?" bentak Sabrina. Wanita itu mengatur napasnya yang sempat tersendat gara gara kerakusan Mahesa. 


Mahesa tersenyum mengusap bibir Sabrina dengan jempolnya. Satu tangannya menarik pinggang Sabrina hingga mengikis jarak. 


"Nggak sayang, aku hanya ingin membuktikan kalau aku juga bisa romantis."


Kembali ke pokok masalah Arum dan Randu. Sabrina benar benar serius untuk menanyakan pada Mahesa akan langkah selanjutnya. 


"Lalu bagaimana dengan Aya?"


Mahesa Mengingat cerita Randu tempo hari. Dan ia pun tak melupakan perjuangan Randu yang sudah mencari Aya keluar kota, bahkan sampai berapa kota ia jelajahi hanya untuk mencari Aya. 


"Aya nggak ada kabar,  aku dan Randu hanya bisa berdoa semoga dia baik baik saja. Sebelum ibunya meninggal, Randu pernah berjanji akan memberikan menantu yang solehah untuk ibunya." Mahesa menjeda ucapannya sejenak mengingat masalah yang pernah membelitnya hingga harus melibatkan Randu jadian sama Aya. 


"Dan kata Randu itu ada pada diri Arum," imbuhnya. 


"Itu artinya mas Randu menikahi Arum karena memenuhi keinginan ibunya, bukan cinta."


Lagi lagi Mahesa tak bisa menjawab pertanyaan Sabrina. 


"Lalu bagaimana jika Aya nanti datang disaat mas Randu dan Arum jadian? Bagaimana kalau Mas Randu masih menyimpan rasa untuk Aya?  Aku nggak mau sahabatku merasakan apa yang aku rasakan, itu sakit, Mas. Bahkan lebih sakit daripada harus tergores pedang secara nyata." 


Sabrina memegang dadanya. Masih teringat jelas  bagaimana rasanya mencintai tanpa dicintai. Sabrina meluapkan apa yang mendesak di dalam dada, karena ia tak ingin itu terulang pada sahabatnya. 


Mahesa diam mencerna setiap inci kata yang diucapkan Sabrina. Ia sendiri ikut merasakan ngilu jika mengingat kisah Sabrina setahun silam. 


"Aku minta maaf untuk semuanya. Dan untuk Arum aku janji dia tidak akan tersakiti seperti kamu, aku akan memastikan kalau Arum akan bahagia hidup bersama Randu. 


Sabrina tersenyum lalu menyandarkan kepalanya di dada Mahesa. 


"Tapi aku tidak menyesal menikah denganmu,  karena pada akhirnya aku bisa merasakan kebahagiaan seperti istri di luaran sana,  dan aku tidak akan berhenti bersyukur karena Allah yang sudah menghadirkanmu di hidupku." Sabrina mencium pipi Mahesa. "Jangan pergi dariku dan Devan, tanpa Mas, aku tidak sanggup melanjutkan hidupku lagi."


Mahesa mengeratkan pelukannya. Lidahnya terasa kelu dan tak sanggup untuk berbicara. 


Nikmat mana lagi yang aku dustakan. Ya Allah, semoga Engkau memberikan jalan yang lurus untuk Randu.

__ADS_1


__ADS_2