Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Teguran


__ADS_3

Seperti yang diperintahkan Mahesa semalam, Bi Asih dan sekutunya sudah duduk memutari sofa ruangan tengah. Tak hanya pembantu wanita, supir dan satpam pun ikut berkerumun di sana. Sabrina  keluar dari kamar membawa baju kotor milik Mahesa. Ia mengerutkan alisnya lalu menghampiri mereka yang bersimpuh di bawah. 


"Ini ada apa, kok pada ngumpul di sini?" tanya Sabrina menyelidik,  ia menatap satu persatu wajah semua asisten rumah tangga tersebut.


"Maaf Non,  Den Mahesa yang menyuruh kita disini," jawab Bi Mimi.


"Mas Mahesa," ulang Sabrina. 


Semua mengangguk bersamaan. 


Ada apa ya,  bukankah selama ini mereka bekerja dengan baik. Apa Mas Mahesa mau bagi bagi hadiah?


Sabrina menyerahkan baju Mahesa pada Bi Mimi lalu kembali ke kamar. Disaat semua menunggunya dengan hati yang waswas, sang empu malah memejamkan mata setelah tadi membaca Al-Qur'an.


Sabrina menyibak selimut yang menutupi seluruh tubuh Mahesa lalu menjewer telinganya. 


Mahesa membuka mata dan menyengir kala telinganya terasa sakit. 


"Sayang kenapa aku dijewer?" keluh Mahesa, menggosok-gosok telinganya yang sedikit memerah karena ulah jari lentik Sabrina. 


"Siapa yang mengumpulkan para bibi di depan, malah enak-enakan tidur?"


Mahesa membulatkan mata dan menepuk jidatnya, demi apapun ia lupa sudah membuat janji pagi itu. Dan yang ia ingat hanya semalam bisa mencetak gol dua kali,  yaitu saat jam sepuluh malam dan jam dua pagi. 


Mahesa hanya tersenyum sembari mengangkat jari telunjuknya. Menarik tubuh Sabrina hingga jatuh ke dalam pelukannya. 


"Kasih sun dulu dong,  nanti aku temui mereka," Dengan nakalnya Mahesa menunjuk kedua pipinya bergantian. 


Akhirnya Sabrina menuruti permintaan Mahesa daripada harus berdebat.


Mahesa segera turun dari ranjangnya dan buru buru keluar diikuti Sabrina dari belakang. 


Ehem


Mahesa berdehem.


Semua menunduk, menyapa Mahesa yang semakin mendekat. 


Mahesa menghitung pembantu wanita yang berjumlah empat, beserta dua supir  dan dua satpam.


Sabrina ikut duduk di samping suaminya,  ia penasaran dengan apa yang akan dilakukannya yang sudah menghebohkan paginya. 


"Kalian boleh duduk di atas, kalau nggak muat  Pak Udin dan pak Satpam bisa pangku yang lain. 

__ADS_1


Semua hanya tertawa kecil seraya satu persatu memenuhi sofa empuk, sedangkan pak Udin dan pak satpam tetap berdiri di tempat. 


Mahesa menatap semuanya yang hadir di sana,  suasana terasa mencengkam. Mahesa belum juga berbicara. 


Sabrina ikut khawatir,  takut dengan wajah suaminya yang masih menyimpan teka teki. 


"Mas,  ayo dong bicara!"  pinta Sabrina,  menggoyang goyangkan lengan Mahesa.


"Sabar, Ning. nanti juga aku bicara."


Mahesa menghela nafas. "Kalian tahu kan dengan tugas masing-masing?" tanya Mahesa mengawali sidang. 


Sabrina menggaruk kepalanya yang tertutup hijab, menurutnya Mahesa semakin aneh saja. 


"Aku tidak mau kejadian seperti semalam terulang lagi. Apa kalian mengerti?" 


Semua mengangguk lagi, meskipun tak menjelaskan secara gamblang, Bi Asih sudah tahu apa yang dimaksud Mahesa. 


"Untuk mbak Inul, jangan pernah meninggalkan Syakila sedetikpun, kecuali saat  beribadah, dan kebutuhan penting lainnya, tolong titipkan pada Bunda nya, jangan orang lain." Mahesa menjeda ucapannya dan beralih menatap Bi Asih. 


"Untuk Bi Asih, jangan biarkan makanan  yang aku makan disentuh orang lain kecuali teman sendiri dan istriku." 


Bi Asih hanya menjawabnya dengan anggukan. 


"Baik, Den. Semua menjawab dengan serempak.  Setelah semua cukup paham, Mahesa menyuruh mereka untuk pergi dan kembali dengan tugas masing-masing. Bersamaan dengan seluruh asisten yang berhamburan ke belakang, Randu membuka pintu utama, seperti biasa ia datang bersama  Aya dan kedua anaknya. 


"Untuk pak Satpam, selalu periksa siapapun yang datang, kecuali Mama dan Papa serta Randu dan Aya dan keluarga panti."


"Siap, Den."


"Pak Supir, jika ada yang keluar rumah, tolong bapak teliti dengan baik tempat tujuannya."


Kedua supir itu mengangguk lalu meninggalkan Mahesa.


Masih fokus dengan permasalahan yang tadi,  Sabrina terus mencubit perut sispek Mahesa yang belum juga mengatakan padanya tentang apa yang terjadi. Padahal rasa penasaran Sabrina sudah tingkat tinggi, tapi Mahesa masih menggantungnya. 


"Ada apa sih, kalian kayak ABG pacaran saja?" cetus Aya. 


"Ini lho Mbak, Mas Mahesa nggak mau cerita sesuatu yang aku nggak tahu." 


Mahesa mengedipkan satu matanya ke arah Aya. 


"Biar nanti aku yang cerita," cetus Aya.

__ADS_1


Randu melepas Raisya lalu melipat kedua tangannya. 


Aku yang istrinya saja tidak tahu, kenapa Mbak Aya sudah tahu, apa apaan ini? Mas Mahesa sudah mulai rahasia rahasiaan sama aku.


Mahesa meninggalkan Sabrina dan Aya serta Randu. Bertepatan dengan Mahesa yang tiba di depan pintu kamarnya, Aida keluar dari kamar Syakila, meskipun putrinya itu ada di gendongan Aida, Sedikitpun Mahesa tak meliriknya. 


Aida menghampiri Sabrina dan Aya yang sedang bercakap.


"Oh iya, Bi, aku lupa bilang, kok figura yang ada di tengah itu nggak ada fotonya, apa kamu sengaja mengambilnya atau ada tikus yang mencurinya?"


Aya melirik ke arah Aida sekilas, tiba tiba saja wajahnya pucat pasi dan pura pura sibuk merapikan rambut Syakila yang masih ada di pangkuannya. 


"Yang mana sih, Mbak? Aku nggak pernah ambil." 


Aya beranjak dan mengambil figura yang masih terpanjang di tempat, menyerahkannya kepada Sabrina, sedangkan Randu memilih pergi dari tempat itu membawa David, sepertinya akan ada perdebatan sengit jika sampai Aya tidak bisa menahan emosi.


"Bi,  coba kamu ingat lagi, mana foto kamu yang hilang?" tanya Aya mendesak.


Sabrina menatap Aida sejenak lalu menggeleng. 


Sabrina memutar otaknya, mengingat-ingat gambar yang dipajang Mahesa di sana. 


"Kalau nggak salah ini tempat fotoku yang mas Mahesa ambil waktu di taman," ucap Sabrina resah. 


"Kok bisa nggak ada ya?" Sabrina balik bertanya. 


Aya mengembalikan figura itu di tempatnya lalu memegang kedua lengan Sabrina yang duduk di sampingnya.


"Mungkin ada orang lain yang iri dengan kebahagiaanmu, tapi kamu jangan khawatir! Dia hanya bisa mengambil foto kamu, tapi tidak suami dan keluarga kamu," ujar Aya dengan tegas.


Deg


Jantung Aida berdetak dengan kencang, otaknya mulai berpikir jernih dengan kata-kata yang meluncur dari sudut bibir Aya. 


Sepertinya Aya bukan orang yang sembarangan, apa dia tahu kalau aku yang ambil foto Sabrina, tapi kan kemarin sudah aku buang, dari mana dia tahu?


Aida tersenyum kikuk lalu menepuk tangan Sabrina. 


"Tenang saja, Kak. Ada aku yang siap membantu kakak juga."


Setelah memeluk Aya dengan mengucapkan terima kasih,  Sabrina beralih memeluk Aida.


Bidadari berhati iblis, memakai hijab hanya sebagai kedok, setidaknya aku sudah tahu siapa yang mau menghancurkan hidup Sabrina, siap-siap saja kamu diusir dari rumah ini. 

__ADS_1


__ADS_2