
Ekspresi Sabrina sangat datar saat ia membaca pesan dari Camelia. Semenjak menjadi istri Mahesa, itu kali pertama Sabrina berinteraksi lewat pesan. Hatinya mulai gelisah apa lagi setelah sampai rumah Mahesa langsung ke kantor, selain ada pertemuan dengan Klien, dokumen pun sudah menumpuk merindukan tangannya yang berhari hari di abaikannya.
Tak tahu apa yang harus dilakukan, akhirnya Sabrina keluar dari kamarnya mencari Mbak Inul. Pikirannya kalut dan tak bisa berpikir jernih.
"Cari siapa, Non?" Bahkan ucapan Bi Mimi dari belakang pun tak digubris dan terus melangkah menuju kamar sebelah.
Kebanyakan makan dodol, itulah tanggapan pembantu Mahesa yang bertugas mengurus keperluan Sabrina.
Sabrina membuka pintu dengan lebar, ternyata Devan sedang tidur, sedangkan Mbak Inul merapikan baju si kecil. wanita itu hanya mengulas senyum dan menunduk ramah.
Akhirnya ia memilih untuk kembali.
Lagi lagi ponsel yang ada di tangannya berdering, dan untuk yang ketiga kali itu nama Camelia.
Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan?
Pesan itu semakin menggebu, Camelia mengajaknya untuk bertemu, tempat dan waktu sudah dituliskan, namun tujuannya bicara belum pasti, dan hanya ada tulisan "penting".
Sabrina menghubungi Mahesa, namun sayang, suara operator cantik yang menjawab.
Tak ingin mengabaikan Camelia, akhirnya Sabrina menyetujuinya setelah izin pada Mahesa lewat pesan juga. Berharap suaminya mengerti.
Semoga Camelia tidak bicara macam macam yang bisa menghancurkan hubunganku dengan mas Mahesa.
Terpaksa Sabrina meninggalkan Devan, meskipun hatinya sedikit gundah, apa salahnya memenuhi panggilan madunya.
Pak Diman memelankan laju mobilnya, matanya terus menatap Sabrina dari pantulan spion.
"Ini kita kemana, Non?"
Lamunan Sabrina terbuyar saat pak Diman membuka suara.
"Ini Pak, alamatnya," Sabrina menunjukkan sebuah alamat yang ditulis Camelia.
Tak jauh dari kantor Mahesa, ternyata itu adalah sebuah restoran yang sangat mewah, antara bingung dan ragu kenapa Camelia harus mengajaknya bertemu di sana.
Bismillah, menuntun langkah Sabrina.
Sabrina meyakinkan hatinya jika Camelia tidak akan bicara di luar nalar.
Detakan jantungnya mulai terasa berdebar kala Sabrina menatap Camelia yang sudah duduk manis di meja nomor 05. Dengan lenggangnya wanita itu membelah beberapa kursi menghampiri madunya yang nampak tersenyum renyah. Menyiapkan hatinya untuk menerima apapun yang akan mereka perbincangkan.
"Ternyata kamu tepat waktu juga."
__ADS_1
Wajahnya tampak menantang dengan penuh kelicikan.
"Aku tidak punya banyak waktu, sekarang katakan! Kenapa kamu memanggilku kesini?"
Sabrina tak bisa jika harus basa-basi. Apalagi ia keluar dari rumah tanpa izin Mahesa secara langsung dan itu menurutnya melanggar kodrat sebagai seorang istri.
"Tinggalkan mas Mahesa!" ucap Camelia dengan entengnya.
Sabrina tersenyum ramah, kali ini sebagai seorang istri pertama ia ingin sekali menunjukkan keberaniannya di depan Camelia, prioritasnya tak boleh berada di bawah seorang madu.
"Sekarang mas Mahesa sudah menerimaku," Masih dengan nada yang lembut namun tegas, "Dulu saat dia membenciku, aku pun tak ingin meninggalkannya," jelasnya, mengingat perjuangannya yang harus menoreh luka tanpa darah. Yang pastinya ikatan sakral harus di utamakan.
Mata Sabrina berkaca, dengan sulitnya ia meraih hati Mahesa namun dengan mudahnya wanita di depannya mengatakan hal itu.
"Cobalah untuk mengerti posisi masing-masing. Andaikan aku mau, aku pun bisa membuatmu berpisah dari mas Mahesa, tapi itu bukan sifatku dan aku harap kamu bisa bijak."
Masih mencoba menyadarkan Camelia.
Camelia berdecih, tatapannya semakin tajam dan siap menggores luka di hati Sabrina. Kesabarannya habis dan ingin meluapkan semua yang dipendamnya.
"Apa kamu ingin tahu siapa laki laki yang menghamilimu?" ucap Camelia dengan lantang.
Sebagian pengunjung menoleh menatap Camelia dan Sabrina yang nampak tegang.
Dada Sabrina mulai sesak dan sulit untuk bernafas, jantungnya berdegup dengan kencang dan tangannya mulai gemetar mengingat sosok yang masih misterius tersebut.
"Aku tidak akan mengatakannya, karena ada orang yang lebih berhak untuk memberitahumu, dia tahu semuanya."
"Siapa?" tanya Sabrina antusias.
Camelia tersenyum penuh kemenangan lalu mendekatkan bibirnya di telinga Sabrina.
"Mas Mahesa."
Mata Sabrina membulat sempurna saat mendengar nama suaminya disebut. Tak percaya, di dalam lubuk hatinya mengatakan ucapan Camelia adalah omong kosong.
Sabrina masih memaksakan untuk tersenyum meskipun hatinya mulai tersayat.
"Jangan bicara sembarangan, kejadian itu tidak ada hubungannya dengan mas Mahesa, dari mana dia tahu?" ungkapnya dengan lidah yang sedikit keluh.
Camelia mengangkat kedua bahunya.
"Kalau kamu nggak percaya, tanyakan sama dia, aku yakin kamu akan mendapatkan jawabannya."
__ADS_1
Satu buliran luruh, kepercayaannya mulai goyah dan surut, meskipun berulang kali ingin yakin jika malam itu tak ada sangkut pautnya dengan suaminya, nyatanya ucapan Camelia lebih menang dan memberontak ke dalam tulang rusuknya.
Jika benar mas Mahesa tahu, kenapa dia harus menutupinya dariku.
Suasana hatinya semakin keruh, rasanya Sabrina ingin berteriak sekencang mungkin, marah, emosi dan butuh penjelasan yang sebenarnya.
"Pikirkan sekali lagi, kamu bertahan dengan laki laki yang sudah membohongimu, yang sudah menutupi semuanya, atau berpisah, dan kamu bisa mendapatkan seseorang yang lebih baik dari mas Mahesa."
Secara gamblang Camelia menegaskan Sabrina untuk mundur dari posisinya.
Dengan hati yang lega Camelia meninggalkan Sabrina yang masih dengan tatapan kosongnya.
Mas mahesa tahu tentang malam itu, tapi kenapa dia tidak memberitahuku, sebenarnya siapa ayah Devan?
Rasa benci kembali hadir kala mengingat dirinya menjadi pusat olokan orang.
Sabrina mengusap air matanya, menyelaraskan hati dan pikirannya untuk tetap tenang menghadapi kenyataan.
Aku tidak boleh diam saja, aku harus tahu siapa ayah Devan yang sebenarnya.
Sabrina beranjak dari duduknya, berharap ada titik terang dari suaminya.
"Non tadi bertemu dengan Non Camelia?" tanya pak Diman seraya menatap mobil Camelia keluar dari halaman.
Sabrina mengangguk tanpa suara.
Pertemuan yang sangat singkat namun meninggalkan seribu pertanyaan, Sabrina nampak kecewa dengan suaminya yang sudah bungkam dengan malam yang penuh sejarah hidup tersebut.
Sabrina merogoh ponsel yang ada di tasnya dan meletakkannya di telinganya untuk menghubungi Mahesa.
"Halo sayang, ada apa? Apa kamu ingin sesuatu, nanti kalau pulang aku bisa belikan?" sapaan bertubi tubi dari seberang sana.
Sabrina menunduk, mulutnya membisu, hatinya tak tega, namun ia juga butuh penjelasan dari Mahesa.
"Halo," sapa lagi Mahesa saat tak ada jawaban dari Sabrina.
"Tidak ada apa-apa mas, aku tunggu di rumah, makan yang teratur, jangan terlalu lelah."
Sabrina mematikan sambungannya dan menumpahkan air matanya, hatinya terasa nyeri saat mendengarkan suara berat Mahesa, di satu sisi ia ingin percaya dan tak ingin mengungkit masa itu, namun di sisi lain Devan juga berhak tahu siapa ayah biologis yang sebenarnya.
Siapapun ayah Devan, semoga aku bisa tegar menerimanya.
__ADS_1