Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Hari pertama bekerja


__ADS_3

Atas permintaan Randu,  Aya harus tinggal di rumahnya, gaji yang besar ternyata tak semudah yang Aya pikirkan, ia harus  sepenuhnya menjaga Raisya dan David di setiap waktunya, termasuk tengah malam. 


Pagi ini, hari pertama Ayana bekerja


Aya meraih ponselnya yang ada di nakas, membaca sebuah pesan yang dikirim dari pengacara yang disewa Randu. Ternyata hari ini adalah sidang yang kedua perceraiannya dengan Robi,  laki laki yang menikahinya  atas perjodohan dari neneknya. Tali pernikahannya akhirnya menguar dan sebentar lagi akan terputus. Ini bukan yang Aya inginkan, di awal perjodohan ia pun tak ingin ikatan sakralnya itu kandas, namun malam sebelum pernikahan dilangsungkan itu Aya sudah ragu dengan Robi, apa daya ia tak bisa mundur demi menjaga nama baik neneknya. Mempertahankan, itu yang Aya lakukan selama berbulan-bulan berharap suaminya bisa mencintainya,  akan tetapi penantiannya itu tak kunjung tiba, dan kelakuan Robi semakin di luar nalar hingga akhirnya Aya memilih berpisah. 


Aya menatap Raisya yang masih tenggelam dalam mimpi lalu mendekati David yang  ternyata sama. Aya membelai pipi gembul David.


"Semoga aku bisa menjaga kalian sampai mendapatkan ibu baru yang menyayangi kalian dengan tulus," cicit Aya. 


Aya keluar dari kamarnya menghampiri Bi Nori yang ada di dapur. 


"Bibi masak apa?" tanya Aya seraya menghirup aroma makanan yang baru saja tersaji diatas piring. 


"Omelet keju, Non. Kesukaan Den Randu. Apa Non bisa membuatnya?" 


Aya menggeleng, masak nasi goreng saja, Aya harus cari resep di berbagai media, apa lagi yang aneh-aneh, dan selama ini ia hanya mengandalkan uang untuk bisa makan tanpa harus repot.


"Maaf, Bi. Kalau soal masak, aku tidak bisa, lebih baik aku bersih-bersih daripada harus memegang bumbu dapur."


Bi Nori tertawa lepas, meletakkan pisaunya dan membalikkan tubuhnya menghadap Aya yang ada di belakangnya. 


"Belajar, Non,  dulu Non Arum juga nggak bisa, tapi lama-lama dia jago," Bi Nori mengangkat kedua jempolnya, "hampir setiap hari bibi nggak pernah masak, karena Non Arum sudah menguasai apapun yang Den Randu sukai." 


Aya hanya tersenyum getir,  jika dimasukkan dalam list wanita atau istri solehah, ia tidak akan bisa masuk dalam daftar, apa lagi saingannya Almarhumah Arum, Sesil dan Sabrina, Aya merasa jika ia hanyalah butiran debu yang bercampur dengan intan berlian. 


Aya membantu menata makanan dimeja makan,  setidaknya disaat anak asuhnya belum terbangun ia tidak memakan gaji buta. 


Ceklek 


Suara pintu kamar terbuka, nampak Randu yang masih memakai baju koko dan sarung itu berjalan menuju ruang keluarga. 

__ADS_1


Aya menghampiri Randu yang sedang membaca sebuah buku besar, selain menyuruhnya untuk sarapan, Aya juga akan meminta izin untuk datang ke persidangannya nanti. 


"Mas,"  panggil Aya sedikit ragu, sebutan itu sebelumnya jarang ia sematkan, namun karena sudah resmi menjadi pengasuh kedua anaknya, Aya berusaha untuk memanggilnya dengan sopan. 


Randu menoleh tanpa menutup bukunya,  ia menatap wajah Aya yang berdiri di samping sofa tempat ia duduk. 


"Ada apa, Ay?" tanya Randu. 


"Kalau lagi bicara duduk saja," Randu menggeser tubuhnya, memberi tempat Aya untuk duduk di sampingnya,  namun Aya memilih duduk di sofa yang ada di depannya.


"Hari ini aku mau datang ke pengadilan. Bagaimana kalau nanti Raisya dan David aku titipkan di rumah mbak Sabrina dulu."


Tak ada jawaban,  Randu meletakkan bukunya dan menyadarkan punggungnya. 


"Nanti setelah pulang, aku jemput mereka, jangan potong gajiku," imbuhnya melas. 


Randu tersenyum melihat ketakutan Aya. Padahal sedikitpun Randu tak pernah berpikir ke sana. 


Seketika Aya nenonjok lengan Randu, lagi-lagi ia lupa jika status pria yang ada di depannya itu adalah majikannya. 


"Sakit, Ay,'' keluh Randu seraya mengelus lengannya yang terasa ngilu akibat hantaman tangan Aya. 


"Maaf, aku lupa," cicit Aya, menangkup kedua tangannya. 


"Nggak apa apa,  asalkan jangan sampai lupa kalau kamu itu perempuan yang harus lembut," celetuk Randu. 


Aya membulatkan matanya, geram. Pagi-pagi sudah mendapat ucapan Randu yang tak masuk akal. 


"Makanan sudah siap," ucap Aya ketus lalu beranjak.


"Kita makan bareng," sahut Randu saat Aya beberapa langkah meninggalkannya. 

__ADS_1


"Aku harus urus anak-anak, kamu makan duluan," jawab Aya tanpa menoleh, ia merasa tak enak jika harus satu meja dengan Randu. 


"Jangan banyak alasan. Kalau kamu tidak mau, aku akan potong gajimu," ancam Randu. 


Terpaksa Aya menyetujuinya, sepanjang jalan menuju ke ruang makan,  Aya hanya bisa menggerutu dalam hati. 


Suasana ruang makan itu sangat hening,  hanya suara dentuman sendok dan piring yang terdengar. Sesekali Randu menatap layar ponselnya yang terus berdering hingga mengabaikan makannya yang baru habis seperempat. 


Berduaan dengan Randu bukan lagi hal yang tabu,  beberapa tahun silam keduanya pun sering jalan berdua, namun saat ini Aya merasa canggung dengan posisinya. 


"Makanannya jangan lupa dihabiskan,  aku ke kamar dulu, mau urus anak-anak. Nanti kalau sudah siap aku panggil," Aya beranjak dari duduknya meninggalkan Randu.


"Ternyata diam-diam dia perhatian padaku," gumam Randu sembari menatap punggung Aya berlalu sampai menghilang bersamaan pintu yang tertutup rapat. 


Aya membuka tirai jendela kamar Raisya, kali ini ia harus membangunkan bocah itu.  Sinar mentari menyeruak mulai menampar wajah bocah mungil yang masih betah di balik selimut,  Raisya mengucek matanya lalu membukanya melihat Aya yang sedang menggendong David. 


"Kakak Raisya, ayo mandi, Nak. Setelah ini kita ke rumah kak Devan," ujar Aya mendekati Raisya yang duduk mengumpulkan nyawa nya yang masih tercecer. 


Tak seperti biasanya yang harus minta di rayu sampai muter-muter dari sabang sampai merauke, Raisya sedikitpun tak protes dengan perintah Aya. 


Dengan berjalannya waktu Aya mulai lihai mengurus dua bocah itu,  buktinya saat ia keluar kamar dengan Raisya dan David yang sudah rapi, Randu belum ada di depan, terpaksa Aya harus mengetuk pintu kamarnya. 


Baru satu kali ketukan, pintu sudah terbuka, Aya menjerit saat melihat Randu yang telanjang dada dan hanya menutup bagian bawah dengan handuk yang melilit di perutnya. 


David melongo melihat wajah Aya, sedangkan Raisya malah cekikikan,  bocah itu menirukan Aya yang menutup wajahnya dengan telapak tangan, namun masih bisa melihat tubuh atletis Randu dari sela sela jarinya. 


"Kamu kenapa sih, Ay. Semua perempuan  suka dengan tubuhku, tapi kenapa kamu malah tutup mata?" goda Randu. 


Aya berdecak kesal. Seandainya tidak ada anak-anak, mungkin Aya akan menendang jimat yang ada di balik handuk Randu. Namun sayang, dua bocah itu harus menghalangi aksi brutalnya. Aya meraih tangan Raisya dan membawanya pergi. 


"Cepetan! Aku nggak mau terlambat," seru Aya saat berada di ambang pintu. 

__ADS_1


__ADS_2