Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Nggak peka


__ADS_3

Dua bulan berlalu…


Aya mendenguskan hidungnya saat Randu memakai parfum yang menurutnya wanginya sangat menguar dan membuatnya mual.


Hoeeek


Aya turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Entah kenapa, beberapa hari ini Aya merasa kalau asam lambungnya kumat.


Randu yang ada di depan cermin pun segera berlari mengikuti Aya dari belakang,  mengabaikan kemejanya yang belum dikancing satupun.


"Kamu kenapa, Sayang?" Ada guratan khawatir di wajah Randu. Apalagi dari kemarin Aya memang jarang sekali makan. Tak ada jawaban, Aya sibuk mengeluarkan isi perutnya, sedangkan Randu terus memijat tengkuk lehernya.


"Aku nggak tahu, Mas. Setiap nyium bau parfum kamu rasanya mau muntah."


Randu mencium baju yang dipakainya,  berulang kali ia meresapi wanginya yang menurutnya biasa saja. Dan itu dipakainya setiap hari. 


"Ini kamu sendiri yang pilih lho."


Aya mengingat-ingat, dan ternyata benar, apapun yang dipakai Randu, semua pilihannya termasuk dasi dan sebagainya. 


"Kenapa bisa nggak suka?"


Aya menggeleng kecil, ia sudah tak sanggup untuk berbicara saat rasa mual itu mulai merambah ke kepala yang terasa pusing. 


"Mas aku mau tiduran." Dengan tubuhnya yang sangat lemah, Aya keluar dari kamar mandi menuju ranjangnya. Terpaksa Randu melempar bajunya ke keranjang tempat baju kotor dan menggantinya dengan yang lain. 


Randu duduk di bibir ranjang, membenamkan wajahnya di ceruk leher Aya.


"Aku nggak akan memakainya lagi," ucap Randu dengan suara lirih. 


Hampir saja bibir Randu mendarat di pipi Aya,  pintu terbuka dengan lebar. 


Makhluk kecil yang baru bisa berjalan itu masuk dengan membawa botol susu di tangannya. 


Randu beranjak menghampiri David yang terus memanggil mama, diikuti Raisya dari belakang. 


"Hei...anak-anak ayah sudah pintar mengganggu nih, ceritanya."


Aya merengut, seolah-olah Randu tak menganggapnya sebagai mamanya anak-anak. 


"Apa mereka bukan anak anakku?" cetus Aya. 


Randu tersenyum dan melayangkan ciuman di kening Aya dengan lembut. 


Raisya menutup matanya dengan cepat,  itulah yang diajarkan Sabrina saat melihat sesuatu yang tak pantas. 


"Iya, mereka adalah anak anakmu juga. Maaf, tadi aku lupa."


Aya beralih duduk, setiap kali David datang, pasti yang dicari dirinya, bukan ayahnya. 


"Anak mama mau minum susu. Kakak juga sudah  minum susu?"

__ADS_1


Raisya mengangguk dan duduk di samping Aya. 


Randu meletakkan David di pangkuan Aya. Hatinya merasa terenyuh saat melihat keakraban kedua bocah itu dengan Aya. Padahal dulu Randu sempat berpikir tidak ingin menikah lagi dan ingin merawat anak-anaknya sendiri karena takut akan Ibu tiri yang sering terdengar di luar sana, akan tetapi semua itu salah. Bahkan Aya menyayangi putra-putrinya lebih dari anak kandungnya sendiri. 


Randu mengelus pucuk kepala Aya yang terbalut dengan hijab warna putih yang akhir akhir ini menjadi warna favoritnya. 


"Apa rasanya masih mual?" tanya Randu antusias. 


"Dikit sih, Mas. Apa asam lambungku kumat ya?" 


"Baiklah, nanti kita periksa ke rumah sakit."


"Mama sakit?" tanya Raisya dengan polosnya sembari mencium pipi Aya.  


"Nggak, Sayang. Mungkin mama hanya salah makan saja." 


"Nanti kalau sudah besar, Isya ingin jadi dokter, biar bisa membantu orang sakit."


Randu bergelak,  itulah yang setiap hari diucapkan Raisya padanya. 


"Cita-cita yang mulia, semoga cita-cita Raisya terkabul."


Randu meraih ponselnya yang berdering, ternyata Mahesa yang menelponnya.


"Ada apa, Mas?" tanya Randu. 


"Hari ini ada meeting mendadak, tolong kamu bantu aku untuk menyiapkan semuanya," ujar Mahesa dari seberang sana. 


"Maaf Mas, tapi aku nggak bisa, Aya sakit, dari kemarin muntah terus, nanti biar aku minta bantuan yang lain."


"Gitu ya, apa sudah diperiksakan ke dokter?"


"Mas seperti nggak atau Aya saja, dia itu seperti anak kecil, Mas."


"Apa jangan-jangan mbak Aya hamil?" Sabrina yang ada di samping Mahesa ikut menimpali.


Randu tertawa lepas, menurutnya ucapan Sabrina itu hanya sebatas angan-angan belaka. 


"Nggak mungkin, Mbak. Aya kan minum pil kb."


Aya mengerutkan dahinya. Suaminya itu benar benar orang yang paling tidak peka sedunia, bahkan patut di kasih lencana superstar di dahinya. 


"Ya sudah, kalau gitu nanti biar aku saja yang minta bantuan."


Randu meletakkan ponselnya kembali di atas nakas setelah Mahesa memutuskan sambungannya. 


Apa jangan-jangan aku memang hamil, terka nya dalam hati. 


"Mas, tolong dong ambilin kalender kecil yang ada di laci sebelah lemari!"


Dengan sigap Randu memenuhi permintaan Aya. 

__ADS_1


Randu membolak balikkan kalender yang dipenuhi dengan lingkaran itu. Bingung dengan apa yang tuliskan Aya pada kalender tersebut. 


"Ini jadwal apa sih, Sayang?" tanya Randu sambil menyodorkan kalendernya. 


"Kalau aku kasih tahu, kamu juga nggak bakalan ngerti. Kamu kan orang yang paling nggak peka sedunia."


Randu hanya terkekeh. Ia meyakini kalau sifat itu adalah bawaan dari lahir dan sulit untuk dihilangkan. 


"Maaf." Hanya kata itu yang diucapkan. 


Setelah melihat tanggal yang tak ada lingkarannya satupun, Aya menitikkan air mata yang jatuh tepat di baju David. 


"Kenapa kamu menangis? Apa itu perhitungan uang belanja? Apa uangnya nggak cukup untuk satu bulan?" Pertanyaan bertubi-tubi Randu lontarkan.


Tangan Aya terasa gatal. Seandainya saja David dan Raisya tak ada disana,  mungkin rambut Randu sudah rontok karena jambakannya yang mematikan. 


"Maaf ya, Sayang. Aku akan tambahin lagi. Kenapa kamu nggak bilang sih?" Randu nampak kebingungan lalu meraih ponselnya dan mengetik sesuatu di sana, tak berselang lama ponsel Aya berdering. 


Randu mengecek ponsel Aya. Dan ternyata benar, uang  yang baru saja ditransfer itu sudah masuk ke rekening istrinya. 


Apa aku harus bikin mas Randu gagar otak dulu biar bisa peka, batin Aya jengkel. 


Setelah susu David habis, bocah itu kembali melorot turun dari ranjang lalu keluar, sedangkan Raisya menyusul dari belakang, kini di ruangan itu tinggal Randu dan Aya yang masih nampak cemberut.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Perutku sakit, kayaknya butuh periksa," ucap Aya ketus. 


Seketika Randu menghubungi Dokter Ridwan untuk datang ke rumah.


Tiga puluh menit menunggu, Akhirnya Randu bisa tersenyum lebar saat melihat Dokter Ridwan membuka pintu utama.


"Di mana istri, Mas?" tanya Dokter Ridwan. 


Randu mengantarkan  dokter Ridwan ke kamarnya, tempat Aya istirahat. 


Seperti pada umumnya, setelah memeriksa tensi darah, Dokter Ridwan memeriksa Aya dengan stetoskop. 


"Apa keluhannya, Mbak? 


"Mual dan pusing, Dok," jawab Aya singkat. 


Dokter Ridwan mengulas senyum seraya memasukkan alat-alatnya kembali lalu menghampiri Randu. 


"Ini bukan tugas saya, Mas. Tapi tugas Agung. Selamat, sepertinya sebentar lagi akan ada kehadiran dede bayi."


Meskipun Randu masih bingung,  tapi Randu tetap menerima uluran tangan dokter Ridwan yang mengarah padanya. 


Silakan mampir ini punya Author Mama Reni, pasti seru, buruan!


__ADS_1


 


__ADS_2