Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Siap mengandung


__ADS_3

Acara penyambutan Daffa dan Daffi itu sangat meriah. Seperti biasa, Mahesa mengundang keluarga dan sahabat, beberapa crew di kantor serta karyawan toko dan anak-anak panti. Hanya ada tawa  bahagia yang meliputi Mahesa saat ini. Menjadi seorang ayah dari lima anak adalah kebanggan tersendiri baginya, dalam sejarah turun-temurun keluarga dari papa dan mamanya, Mahesa lah pemecah rekor mempunyai anak terbanyak,  namun yang pantas diacungi jempol bukanlah Mahesa, melainkan Sabrina yang mampu melahirkan anak-anak yang sangat lucu dan menggemaskan. 


Di antara para tamu yang terus berdatangan, Sabrina hanya bisa menyambut mereka dengan posisi duduk, keadaannya yang melahirkan secara normal belum bisa untuk bergerak sesukanya, apalagi Mahesa sangat posesif dengan apapun yang dilakukannya dan tidak membiarkan Sabrina untuk melakukan apapun sendiri.


"Apa setelah ini kamu masih sanggup untuk mengandung lagi, Bi?" tanya Sesil yang saat ini juga hamil anak kedua. 


Sabrina tertawa, melirik ke arah Mahesa yang hanya menundukkan kepalanya, menatap wajah Daffa yang ada di pangkuannya, sedangkan Daffi ada di gendongan Bu Risma. 


"Anak adalah makhluk titipan Allah, dia adalah rezeki yang tidak bisa ditolak dan tidak bisa diminta, seperti janjiku, aku masih sanggup untuk  melahirkan satu anak lagi,  itupun kalau Allah mengizinkan."


Aya menoleh ke arah Randu, meskipun suaminya itu menerima apa adanya, tapi Aya sendiri merasa tak enak hati, disaat orang lain mampu memenuhi keinginan suaminya, ia malah dengan sengaja menunda kehamilan. 


Mahesa Menitihkan air mata. Ia tak mengerti jalan pikiran Sabrina, kenapa bisa selalu menuruti permintaannya tanpa mengeluh sedikitpun, bahkan Sabrina tak pernah protes dengan dirinya yang masih sering berbuat salah. 


Randu tersenyum, ia tahu saat ini Aya merasa tak nyaman dengan ucapan Sabrina yang mungkin menyentil hatinya. 


"Kita kesana yuk!" ajak Randu membuyarkan lamunan Aya, ia tersentak saat Randu merengkuh pinggangnya dari belakang. 


Randu menyapa anak-anak yang sibuk dengan mainannya. 


"Mas kamu nggak lagi menghiburku, kan?" 


Randu mengulas senyum. Sebenarnya ia bingung mau jawab apa, karena Aya pasti tak gampang percaya dengan apa yang diucapkannya.


"Memangnya kamu kenapa harus dihibur segala? Bukankah ini masih hari pengantin kita? Dan kamu nggak boleh sedih." 


Randu mengatakannya dari hati yang paling dalam, sedikit pun ia tak mau menyakiti hati Aya, apalagi membuatnya terluka. 


"Aku tahu kamu menginginkan anak dariku," ucap Aya ketus seraya melipat kedua tangannya. 


Cup 


Sebuah kecupan mendarat di pipi Aya yang membuat sang empu membulatkan matanya. Kedua pipinya merah merona menahan malu dengan apa yang dilakukan suaminya, Aya tak menyangka kalau Randu akan melakukan itu di tempat umum. 


"Mas, nanti kalau ada yang lihat gimana? Kan malu." Aya celingukan kesana kemari, dan akhirnya ia bernafas dengan lega setelah tak mendapati satu orang pun yang melihatnya, padahal para karyawan berpura-pura melengos saat melihat kelakuan Randu. 

__ADS_1


"Siapa suruh kamu cantik seperti itu?" 


Dengan menggunakan hijab pashmina berwarna hijau botol, Aya nampak anggun. Apalagi saat ini ada yang berbeda, yaitu Aya memakai lipstik yang berwarna sedikit cerah semakin menggoda iman Randu yang sangat tipis. 


"Jangan berpikir yang aneh aneh, aku mencintai kamu apa adanya. Jadi jangan pikirkan orang lain." Berulang kali Randu meyakinkan, tetap saja hati Aya merasa tersindir mendengar pembicaraan Sabrina tadi. 


"Aya, Randu, ngapain kalian disini?"


Bu Risma menghampiri Aya dan Randu yang memilih menyibukkan diri bersama anak-anak, sedangkan yang lain menikmati berbagai hidangan yang ada di ruang tengah. 


"Nggak papa tante, istriku lagi diet, dia lagi nggak mau makan,"  jawab Randu asal. 


Bu Risma menatap Aya curiga. Dari tampilan sudah oke, diet apaan, dan menurutnya Rindu hanya bicara ngawur.


"Ya ampun, Ay. Kamu itu sudah langsing dan cantik, masih saja diet," celetuk bu Risma seraya menepuk lengan Aya. 


Aya hanya tersenyum simpul,  ia merasa berada di sudut yang serba salah saat ini,  pembelaan Randu nyatanya tak bisa membalut rasa gelisah yang terus menyelimuti hatinya. 


Acara yang berlangsung selama hampir lima jam itu akhirnya usai. Aya kembali berkumpul bersama Sabrina dan si kembar setelah beberapa tamu undangan pulang, kini tinggal keluarga dekat dan anak panti yang masih ada di sana. 


Aya mencoba menggendong Daffa saat David memilih ikut Mbak Inul dan yang lain. 


"Mbak sendiri gimana?"


Aya beranjak dari duduknya dan beralih di samping Sabrina, sebagai sesama wanita  ia ingin sebuah pendapat dari orang lain. 


"Sebenarnya aku minum Pil Kb,  aku masih ingin fokus dengan David dan Raisya,  aku takut jika punya anak, nanti aku kerepotan mengurus mereka."


Disaat Aya ingin seperti Sabrina, justru sebaliknya, Sabrina yang ingin seperti Aya, bisa menyayangi anak dari suaminya tanpa embel-embel. 


"Mas Randu beruntung mempunyai istri seperti mbak, bisa menyayangi Raisya dan David dengan tulus meskipun mereka bukan anak kandung mbak sendiri. Untuk urusan anak, aku yakin mas Randu nggak akan menuntut, dia pasti juga tahu keadaan, Mbak." 


Aya menghela nafas panjang. "Iya sih, Mas Randu selalu ngertiin aku  dan dia mengizinkan, tapi aku yang merasa nggak enak,  apa aku berdosa?"


"Ridho seorang istri itu ada pada suaminya, dan Ridho seorang suami itu pada ibunya, jika mas Randu sudah mengizinkan, artinya dia sudah Ridho, jadi nggak papa, Mbak. Kalau aku sih bukan cuma mas Mahesa yang ingin memiliki banyak anak,  aku juga. Mungkin karena aku hidup di panti dan banyak saudara, jadi aku ingin rumah ramai."

__ADS_1


"Kalian itu memang jodoh, aku nggak nyangka Mahesa takluk dengan wanita berhijab seperti kamu,  padahal dulu dia sangat membenci perempuan yang memakai baju tertutup."


Sabrina terkekeh. Ia pun juga tak menyangka berjodoh dengan orang yang sama sekali bukan kriterianya. 


"Lagi ngomongin apa?" sahut Mahesa dari arah belakang. 


Aya menutup mulutnya dengan telapak tangannya. 


"Nggak papa mas, ini urusan perempuan."


Seperti biasa, setiap di dekat Sabrina, Mahesa selalu memijat kakinya yang sedikit membengkak. 


"Ngomongin kamu, kenapa anaknya harus enam? Kenapa nggak sekalian sepuluh atau sebelas." 


"Enam saja sudah cukup, Ay.  selebihnya aku serahkan ke kamu sama Randu, nanti kita bisa main sepak bola bareng."


Aya dan Sabrina hanya bergelak tawa mendengar ucapan Mahesa.


"Itu artinya kita harus mencetak enam anak juga?" sergah Randu yang baru datang.


Husss


Aya membungkam mulut Randu yang bicara asal. 


"Kan sudah ada dua, jadi kalian hanya tinggal bikin empat."


"Oke deh, kalau gitu malam ini  kita mulai nyetak ya, Sayang." 


Aya menelan ludahnya dengan susah payah, yang tadi pagi saja rasanya masih sedikit ngilu, dan Randu sudah merencanakan acara untuk nanti malam. Seakan tak ada bosannya, jika ada peluang Randu langsung melahap Aya dan tak memberinya ampun. 


"Baiklah, Sayang. Semoga kita juga bisa memecahkan rekor keluargaku dan keluargamu."


Baiklah, Mas. Aku siap untuk mengandung anakmu, seekor kerbau tidak mungkin keberatan memikul tanduknya, begitu juga dengan ibu, berapapun anaknya, pasti bisa mengurusnya dengan baik.


Yang suka dengan Mafia silahkan mampir ini Punya Author Kumi kimut.

__ADS_1




__ADS_2