Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Hadiah


__ADS_3

Meskipun  ulang tahun Mahesa tak dirayakan secara besar besaran. Namun suasana rumah Mahesa sangat ramai. Hanya ada beberapa sahabatnya yang datang, itu pun  bukan karena undangan darinya. 


"Dari mana kamu tahu kalau ini hari ulang tahunku?" tanya Mahesa. 


Mahesa dan Sabrina menyambut kedatangan Pongki yang baru saja tiba. Pongki mengajak kekasihnya yang bernama April. 


"Kapan aku lupa ulang tahunmu?" cetus Pongki,  karena selama ini Pongki selalu mengucapkan selamat meskipun tak memberi kado. 


Mahesa hanya bisa tertawa sembari menggiring Pongki menghampiri yang lain. Sedangkan Sabrina menggandeng April  mengikuti Mahesa dari belakang.


Pongki menghentikan langkahnya saat ia melihat Randu dan Arum sedang bercanda, wajahnya berubah pias dan satu tangannya mengepal. 


"Kamu kenapa?" tanya April dengan lembut, membuka kepalan dan menautkan jemarinya di tangan Pongki. 


Pongki hanya tersenyum kecil dan melanjutkan langkahnya. 


"Randu, lihat! Siapa yang datang?" seru Mahesa dari belakang. 


Randu menoleh menatap seseorang yang tak asing baginya. Ia terhenyak dari duduknya menghampiri sahabatnya yang masih mematung.


"Malam Ki," sapa Randu seraya mengulurkan tangannya. 


Pongki menahan amarahnya yang sudah meletup letup,  menampik tangan Randu dan memilih melewati tubuh tegapnya. 


Mahesa menarik tangan Pongki hingga pria itu kembali mundur ke belakang.


Suasana sedikit mencengkam, Arum sedikit takut saat wajah Pongki berubah pias. 


"Sebenarnya kalian ada masalah apa?" tanya mahesa, menatap Pongki dan Randu bergantian,  ia menjadi wasit di antara keduanya.


"Tanya sama Randu? Dia yang sudah mencampakkan Aya, dan sebentar lagi dia akan menikah diatas penderitaan Aya." 


Randu maju satu langkah mengikis jarak antara keduanya. 


"Apa maksud kamu?" tanya Randu untuk memastikan. 


Arum semakin panik,  gadis itu memeluk Sesil dan Sabrina. Sedangkan Agung ikut menghampiri dan berdiri di samping Randu. 


"Dasar anak muda jaman sekarang, mereka selalu saja menyelesaikan masalah dengan emosi," gerutu pak Yudi. Sebagai orang yang paling sepuh, pak Yudi pun enggan untuk ikut campur dan memilih menjadi penonton.


Bu Risma mendaratkan jarinya di bibir memberi  kode untuk Pak Yudi supaya diam. 


Mahesa masih fokus dengan keduanya, ia tak mau suasana yang harusnya bahagia itu menjadi berantakan. 


Pongki memicingkan bibirnya seperti mengejek. "Aya pergi,  dan semua itu karena kamu,"  Pongki menunjuk wajah Randu,  meluapkan amarahnya yang membuncah di ubun ubun. 


Randu hanya diam meredam emosinya, Ia tidak mau menghancurkan hari bahagia Mahesa. 


"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk meminta maaf padanya? Sudah berhari hari, bahkan berminggu-minggu hingga satu bulan aku berusaha mencarinya untuk minta maaf, tapi aku tidak bisa menemukannya." Randu menjeda ucapannya, menahan sepenuhnya hatinya yang sudah gemuruh hebat. 

__ADS_1


"Jika memang kamu tahu keberadaannya, katakan! Aku akan menemuinya." 


Mahesa mendorong Pongki ke belakang,  lalu mematung di tengah tengah keduanya. Ia kasihan pada Randu yang terpojok dengan tuduhan Pongki. 


"Jangan menyalahkan Randu, setiap orang punya kesalahan, dan seharusnya Aya tidak menghilang. Pongki," Mahesa menatap manik mata sahabatnya dengan lekat. " Apa kamu tahu? Randu sangat menyesal dengan perbuatannya, jadi masalah ini jangan berlarut, kalian bersahabat sudah lama. Masa kita harus ribut seperti ini hanya gara gara masalah sepele." Mahesa meyakinkan Pongki untuk tidak membesarkan masalah yang sudah lewat. 


Dari jauh Sabrina salut dengan sikap tegas suaminya. Ia terus tersenyum dan mengelus punggung Arum yang masih memeluknya.


"Sekarang kalian bersalaman!"


Mahesa menarik tangan Randu dan Pongki. Mempertemukan tangan keduanya di depan tamu yang datang. 


"Mulai sekarang kalian nggak boleh ribut,  dimanapun Aya berada, mungkin itulah yang terbaik untuk dia, jika dia memang menginginkan Randu,  seharusnya dia tidak pergi. Bukankah cinta harus diperjuangkan, bukan untuk ditinggalkan." 


Mahesa menatap Sabrina dari jauh, istrinya yang sangat pemalu itu memilih untuk menunduk. 


Pongki memejamkan mata sejenak,  tangannya masih menggenggam tangan Randu lalu memeluk tubuh kekar Randu. 


"Maafkan aku," ucap Pongki singkat. 


Akhirnya keangkuhan Pongki pecah dengan sikap Mahesa. 


"Nggak apa apa, aku juga minta maaf, karena aku juga kita berpisah dengan Aya."


Arum meninggalkan tempat itu menuju ruang makan untuk menghindari yang lain. Ia memilih menyibukkan diri dengan piring yang ada di meja. 


"Tidak, Ning." Suara familiar menyahut dari belakang.


"Mas Randu," seru Arum setelah menoleh, ia benar benar tak sadar jika ada Randu yang sudah mendengarkan keluhannya. 


Randu menghampiri Arum. 


"Aya adalah masa laluku, dan kamu adalah masa depanku. Jangan pernah salahkan diri kamu sendiri atas perginya Ayah. Sebentar lagi kita akan menikah, jadi jangan pikirkan sesuatu yang lain selain kita berdua," tegas Randu. 


Arum mengangguk tanpa suara, mencoba menghilangkan rasa gelisah dengan kejadian yang lalu. 


"Sekarang kita balik, aku nggak mau mbak Sabrina ikut sedih karena kamu."


Dibalik datangnya Randu memang ada Sabrina yang terus mendorongnya untuk menemui Arum, Sabrina tahu jika Arum sedang galau pasti memilih untuk menyendiri.


Arum mengikuti Randu menuju ruang tengah yang sebentar lagi ada acara potong kue Mahesa. 


Setelah tiba, Randu mematung di samping Dokter Agung dan Pongki, sedangkan Arum berada di samping Sesil dan April. Bu Risma dan Pak Yudi berada tepat di depan Mahesa.


Suasana semakin renyah saat Mahesa ikut menyanyikan lagu ulang tahun dengan menggendong Devan, tak lupa satu tangannya merangkul pundak istri tercinta yang ada di sampingnya. 


"Sebelum potong kue,  Mas harus panjatkan doa," pinta Sabrina.


Mahesa menengadahkan tangannya lalu memejamkan matanya. Memanjatkan doa untuk seluruh keluarganya dan orang orang terdekatnya.

__ADS_1


Usai berdoa, Mahesa memberikan Devan pada Sesil sebelum prosesi potong kue. 


"Kira-kira kue pertama ini untuk siapa ya?" 


"Ibu,"  jawab Sabrina, Sesil, dan Arum serempak, sedangkan yang lain menjawab nama Sabrina. 


Bu Risma dan yang lain termangu melihat ketiga perempuan itu.


"Yang bener yang mana nih?" tanya Mahesa. Ia jadi bingung dengan jawaban yang berbeda. 


"Yang benar adalah Ibu. Berikan kue  pertama untuk ibu, karena tanpa Beliau mas tidak akan menjadi seperti ini," jawab Sabrina lagi. 


Mahesa menghampiri Bu Risma dan menyuapinya dengan kue yang dibawanya. 


Panjang lebar Mahesa mengucapkan terima kasih pada Bu Risma, wanita yang sudah mengandung, melahirkan dan membesarkannya.  Tak lupa beralih pada pak Yudi, karena tanpa pria tua itu Mahesa juga tidak akan menguasai bisnisnya sekarang ini. 


Mahesa kembali memotong kue untuk yang kedua,  dan kali ini dipersembahkan untuk istri tercintanya. 


Setelah menerima kue dari Mahesa,  Sabrina meninggalkan tempat itu menuju kamarnya. Selang beberapa waktu Sabrina kembali dengan sebuah kotak di tangannya.


"Ini hadiah dariku untuk, Mas." 


Mahesa meletakkan pisau di samping kue dan menerima kotak dari Sabrina. 


"Apa isinya?" Mahesa membolak balikkan kotak yang  menurutnya sangat kecil. 


"Jika mas melihat dari harganya, mungkin barang yang ada di dalam sini tidak ada nilainya."


Sabrina kembali memegang kotaknya. 


"Tapi jika mas menilai  dari hati,  dan melihat seseorang yang dengan susah payahnya memberi,  pasti mas akan tahu betapa berharganya barang yang diberikan  orang itu."


Memori setahun yang lalu melintasi otaknya, mengingat saat Sabrina memberinya sebuah jam tangan dengan harga yang sangat murah. Dan dengan sengaja Mahesa membuangnya  di depan Sabrina. 


"Aku memang bisa membeli apapun di dunia ini, tapi aku tidak bisa membeli sebuah cinta yang tulus dari kamu,  terima kasih atas hadiahnya."


Mahesa memeluk Sabrina  dengan erat, tak menyangka jika pintu hatinya terbuka dengan hadirnya sosok Sabrina di sisinya. 


"Sekarang buka! Yang lain sudah antri mau kasih hadiah juga." 


Perlahan Mahesa membuka kotak tersebut. 


"Kenapa kamu memberiku sebuah dasi?" tanya Mahesa, penasaran dengan pemberian sang istri.


Sabrina membalikkan dasi itu, ternyata ada namanya di sana.


"Nggak papa,  aku hanya ingin seperti dasi saja, meskipun setiap hari dia mencekik leher,  tapi dia selalu ada di setiap langkah, Mas. Begitu juga denganku,  dalam keadaan apapun, aku ingin mas selalu mengingatku dan Devan."


Mahesa kembali merengkuh tubuh mungil Istrinya.

__ADS_1


__ADS_2