Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Parasit


__ADS_3

Mahesa pulang jam sembilan malam,  suasana rumah sangat sepi, hanya tinggal penjaga dan beberapa pembantu yang masih berjaga. Devan dan Syakilla sudah tak nampak, begitu juga dengan Sabrina. 


Mahesa melepas sepatunya di samping pintu ditemani bi Asih yang datang dari belakang. "Apa Aden langsung mau makan?" tanya Bi Asih pelan. 


"Nanti saja, Bi. Aku mandi dulu." Mahesa membuka pintu kamarnya dengan pelan. Takut mengusik Sabrina. 


Baru saja ingin pergi, Mahesa kembali memanggil Bi Asih. 


"Apa Aden butuh sesuatu?"


"Apa Sabrina sudah makan?" tanya Mahesa lirih. 


"Sudah Den, katanya nggak betah nungguin Aden."


"Baiklah, Bibi harus ingatkan dia jangan sampai telat makan."


"Siap."


Mahesa menutup pintunya kembali  menghampiri Sabrina yang sudah meringkuk sambil memeluk guling,  bukan tanpa alasan Sabrina mendahului Mahesa, itu pun demi kesehatan dirinya dan juga bayi yang dikandungnya. 


Mahesa merapikan rambut Sabrina yang menutupi keningnya lalu mencium pipinya, 


Mahesa menatap wajah Sabrina yang sangat teduh. Semua bagaikan mimpi, namun itu adalah kenyataan. Sabrina lah wanita yang akhirnya melahirkan anak-anaknya. Bukan Camelia, cinta pertamanya. 


Usai mandi dan Sholat Isya',  Mahesa langsung memakai baju tidur. 


Sebelum ia memenuhi panggilan kasur empuknya, Mahesa keluar  dari kamarnya.


Kali ini bukan meja makan tujuannya melainkan kamar Syakilla dan Devan yang tidur terpisah.


Mahesa terkejut, saat membuka pintu, ia menatap seorang perempuan yang ada di samping Syakilla. Itu bukan mbak Inul sang pengasuh, melainkan Aida. 


Kenapa dia bisa tidur disini, kamarnya kan ada di lantai atas,  batin Mahesa. 


Perlahan ia menutup kembali pintunya dan menghampiri  Bi Asih.


"Bi, mbak Inul kemana?" tanya Mahesa. 


"Tidur di belakang, Den. Tadi katanya Non Aida yang mau menemani Non Syakilla, jadi dia pindah," jelas Bi Asih. 


Mahesa menarik kursi ke belakang lalu duduk, dalam otaknya terus melintas sesuatu negatif, karena ia benar-benar tak suka dengan wanita itu. 

__ADS_1


"Panggil dia!" titah Mahesa.


Menunggu beberapa menit,  akhirnya Mbak Inul datang. 


"Mbak,  aku nggak mau kejadian seperti ini terulang lagi,  bagaimanapun juga Mbak yang harus tidur dengan Syakilla, bukan orang lain."


Mbak Inul menunduk, entah itu sebuah kemarahan atau hanya mengingatkan, wanita itu tampak ketakutan, wajahnya pucat dan tangannya gemetar. 


"Ba----baik Den,"  jawab Mbak Inul gugup. 


Baru saja memasukkan berapa suap nasi ke dalam mulutnya, Mahesa mendengar ada salah satu pintu yang terbuka. Ia menoleh ke arah sumber suara, ternyata Aida yang baru saja keluar dari kamar Syakilla. 


Dengan langkah lebarnya Aida menghampiri Mahesa yang sedang menikmati makanannya. 


Aida hanya mematung dan tersenyum kecil saat Mahesa memakan cumi asam manis buatannya. 


"Mas Mahesa suka makanannya?" tanya Aida basa-basi. 


Mahesa memelankan kunyahannya lalu menatap makanan yang ada di piringnya, itu yang hampir setiap hari ia makan.


Hmmm... jawab Mahesa singkat, sedikit pun ia tak melirik ke arah Aida yang kini ikut duduk di sampingnya. 


"Tapi Sabrina sangat membenci makanan itu."


Mahesa diam,  ia tak perlu menimpali ucapan Aida yang menurutnya tak penting. 


"Aku juga belum makan,"  ucap lagi Aida. 


"Kalau begitu makan saja, toh masih banyak," ujar Mahesa dengan nada datar. 


"Aku juga suka cumi seperti ini,  tadi aku yang masak Lho."


Makanan yang hampir masuk ke kerongkongan itu Mahesa keluarkan kembali. Mahesa beranjak dari duduknya menuju dapur demi membuang makanan yang sudah lunak itu di tong sampah. 


"Kenapa, Den? Apa makanannya nggak enak?" tanya Bi Asih, membantu memijat tengkuk leher Mahesa. 


"Nggak apa-apa Bi, cuma tersedak saja. Besok pagi semua asisten harus kumpul di ruang tengah," ucap Mahesa dengan serius. 


"Jantung Bi Asih berdegup dengan kencang, selama bertahun tahun, Mahesa tak pernah bicara sekeras itu padanya, apalagi Bi Asih tak tahu apa kesalahan yang dibuatnya. 


"Baik Den," jawab Bi Asih dan mbak Inul serempak. 

__ADS_1


Mbak Inul menggenggam tangan Bi Asih, takut jika  masalah tadi adalah alasan Mahesa mengumpulkan semua pembantunya. 


Mahesa kembali ke meja makan. Makanan yang masih separo itu diabaikan dan minum air putih. 


Ruang makan yang seharusnya mencair karena kedatangan Aida itu malah semakin membeku,. Hati Mahesa terasa dongkol, apalagi Aida sok akrab dengannya. 


"Silahkan habiskan! Aku mau ke kamar dulu," Mahesa menghabiskan airnya lalu meninggalkan  meja makan.


Aida melepaskan sendok dari tangannya lalu menusuk potongan cumi itu dan menatapnya lekat, menganggapnya itu adalah sesuatu untuk pelampiasan amarahnya yang sedang memuncak akibat keadaan yang meliputinya.


Aku tidak tahu siapa yang salah dengan nasibku, yang aku tahu hanya ada Sabrina yang harus menanggung semua penderitaanku selama ini, dia dibesarkan orang tua kandung, sedangkan aku, bahkan sampai dewasa pun aku harus menderita hidup dalam kemiskinan, ucap Aida dalam hati. 


Seperti saat keluar, saat masuk Mahesa pun membukanya dengan pelan, perlahan ia mengganti lampu yang terang itu dengan lampu remang. Namun disaat itu Sabrina menggeliat dan membuka mata. 


"Mas, kamu audah pulang? Kenapa nggak bangunin aku?" 


Mahesa tersenyum licik seraya mendekati Sabrina yang kini duduk di tepi ranjang. 


"Jangan pancing serigala yang sedang tertidur, ini sudah jam sepuluh malam kalau kayak gini kan,___


Mahesa menghentikan ucapannya saat Sabrina memunggunginya. 


Sungguh tak masuk akal, ibarat Sabrina menceritakan Upin dan Ipin, sahutannya ke Shaun the seep. Ia tahu apa yang dimaksud Mahesa, hingga ia memilih tidur kembali. 


"Aku nggak  mancing, cuma nanya doang," nada ketus. Tapi itu adalah godaan bagi Mahesa, dalam benaknya tak akan membiarkan momen yang menurutnya sangat penting itu hangus begitu saja. 


"Sekali juga nggak apa apa lho, Sayang." mengelus pundak Sabrina yang tertutup piyama. Hampir seminggu Sabrina tak memakai baju dinasnya yang tak muat. 


Tak hanya tangannya yang jahil,  bibir Mahesa pun sudah mulai nakal menyusuri setiap jengkal wajah Sabrina. 


Sabrina memiringkan tubuhnya menatap Mahesa, hampir saja Sabrina mendaratkan ciuman, pintu diketuk dari luar, terpaksa Sabrina mengurungkan niatnya. 


"Siapa ya, Mas? Kok jam segini mengetuk kamar kita?"


Mahesa berdecak kesal,  ia tahu siapa orang yang ada di balik pintu itu. Yang pasti bukan pembantunya, karena sepenting apapun mereka sudah biasa memberitahu Mahesa lewat ponsel, karena itu peraturan darinya. 


Terpaksa ia merapikan rambutnya,  mengancingkan bajunya yang sempat terlepas lalu turun dari ranjang. 


Mahesa membuka pintu selebar kepalanya yang menyembul keluar. 


"Aku belum kasih tahu kamu ya, di dalam rumah ini ada beberapa aturan yang wajib dipatuhi bagi setiap penghuni, termasuk kamu. Jam sepuluh ke atas tidak ada yang boleh mengetuk pintu kamarku,  jika terlalu penting hubungi lewat ponsel," ucap Mahesa dengan jelas lalu menutup pintu dan menguncinya.

__ADS_1


"Siapa, Mas?" tanya Sabrina.


"Parasit," jawab Mahesa singkat seraya melanjutkan aksinya.


__ADS_2