Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Panik


__ADS_3

Sebagai seorang suami yang mempunyai dua istri, akhirnya Mahesa bisa sedikit bijak dalam membagi waktu untuk Sabrina dan Camelia. Tak hanya itu, Mahesa juga membagi uang keduanya dengan jumlah yang sama, begitupun dengan Devan yang mendapatkan uang jatah sendiri darinya. Malam berganti malam, begitupun siang, setelah tiga hari menginap di rumah Camelia, Mahesa sudah bersiap untuk pulang ke rumah istri tuanya. Namun langkahnya harus terhalang Camelia yang sudah mencegatnya di ambang pintu. 


"Mau kemana, Mas?" tanya Camelia menyelidik,  dalam beberapa hari terakhir Camelia memang menangkap gelagat yang mencurigakan tentang Mahesa yang cenderung menjauh darinya, bahkan Mahesa nampak pendiam jika keduanya bersama. 


"Malam ini aku mau ke rumah Sabrina."  Mahesa mulai jujur,  bagaimanapun juga wanita di seberang sana juga butuh dirinya. 


Camelia meraih tangan Mahesa dan menyandarkan kepalanya di lengan pria itu.


"Mas, sebentar lagi aku melahirkan, aku ingin kamu selalu bersamaku,  jangan tinggalkan aku!" pinta Camelia merengek. 


Mengingat ucapan Sabrina yang selalu memberi wejangan, Mahesa tampak lebih sabar dari biasanya. 


"Baiklah,  sekarang kamu makan dulu, aku akan menemanimu."


Ada seulas senyuman yang terukir dari sudut bibir Camelia. Wanita itu tampak berseri saat Mahesa menggandengnya ke ruang makan. 


Sesekali Mahesa melihat jam yang melingkar di tangannya, rasanya sudah tak sabar untuk segera pergi, apa lagi  ada sesuatu yang malam itu Mahesa harapkan dari seorang Sabrina.


"Mel,  aku harus pergi, malam ini giliran aku tidur dirumah Sabrina," ucap Mahesa mengingatkan. 


Camelia meletakkan sendoknya dan menatap Mahesa dengan lekat. 


"Bisa nggak sih Mas, kamu tidak membahas Sabrina saat di dekatku. Aku muak setiap kali kamu menyebut namanya."


Braaak


Tiba-tiba suara gebrakan meja mengejutkan Camelia, wanita itu tersentak kaget lalu memegang perutnya yang ikut berdenyut. 


"Selama ini aku sudah berusaha untuk sabar.  Tapi kamu malah memanfaatkan itu semua," Mahesa beranjak dari duduknya. Baru beberapa langkah meninggalkan Camelia, suara gelas jatuh menghentikan langkahnya, Mahesa menoleh menatap Camelia yang sudah memegang pecahan beling di tangannya.


Drama lagi,  mau sampai kapan menghadapimu seperti ini. 


"Jika kamu keluar dari rumah ini,  itu artinya kamu siap kehilangan aku untuk selama lamanya," ancam Camelia dengan serius. 


Camelia menempelkan beling itu tepat di area pergelangan tangannya. 


Terpaksa Mahesa mengurungkan niatnya daripada Camelia nekad dengan aksi konyolnya.


"Apa yang kamu lakukan?" sentak Mahesa menghampiri,  "Jangan seperti anak kecil." 


Mahesa merebut benda itu dan membuangnya ke segala arah. Memanggil Bi Asih untuk membersihkan pecahannya. 


Mahesa menarik tangan Camelia menuju kamarnya. 


"Aku akan menemani kamu,  sekarang tidurlah, sudah malam." 


Mahesa membaringkan tubuh Camelia dengan pelan lalu menyelimutinya,  begitu juga dengan dirinya yang ikut merebahkan tubuhnya di samping istri keduanya. Pandangannya terus ke arah langit-langit kamarnya tanpa ingin menoleh. 

__ADS_1


"Maafkan aku,  Sayang. Aku tahu kamu lebih tahu keadaanku saat ini daripada diriku sendiri. 


Saking lelahnya seharian di kantor tak terasa Mahesa penguap dan memejamkan matanya. 


Di sisi lain


Sabrina terus mondar-mandir, berulang kali menghubungi Mahesa namun tak ada hasil,  akan tetapi tangisan Devan yang makin histeris membuat Sabrina dan Arum serta Sesil semakin panik. 


"Bagaimana ini, Rum, Sil?" tanya Sabrina dengan cemas,  hatinya bercampur aduk menatap wajah pucat putranya.


"Apa mas Mahesa masih belum menjawabnya?"


Sabrina menggeleng.


Sesil terus menempelkan punggung tangannya di kening Devan, demamnya yang melanda belum juga turun. Dan itu pertama kalinya Sabrina melihat putranya  sakit. 


"Apa kita telepon pak Randu saja?" 


Ketiganya saling pandang dan akhirnya mengangguk pelan.


Tak ada jalan lain, akhirnya Sabrina menyetujui pendapat Arum. 


Selang beberapa menit akhirnya Randu mengangkat telepon darinya.


"Mas, tolong aku! Devan panas, dan ponsel mas Mahesa tidak bisa di hubungi." 


Dengan tergesa gesa Randu mengemudikan mobilnya, jalanan yang sudah sedikit sepi memudahkan Randu untuk lekas sampai,  namun tujuan pria itu bukan ke rumah Sabrina, melainkan ke rumah Mahesa. 


"Bi, apa mas Mahesa ada di rumah?" 


"Ada, Den,  silakan masuk!" 


Bi Asih segera ke atas menuju kamar Mahesa.


"Den…" teriak bi Asih saraya mengetuk pintu. Sayup sayup Mahesa mendengarnya, karena hatinya pun tak tenang, akhirnya pria itu membuka mata. Ditatapnya Camelia yang sedang terlelap sebelum beranjak dari kasurnya. 


Dengan perlahan Mahesa meraih ponselnya lalu keluar. "Ada apa, Bi?"


"Ada den Randu di bawah."


Randu, ngapain malam-malam dia kesini? 


Mahesa langsung turun menghampiri asistennya yang duduk di ruang tamu. 


"Ada apa?" tanya Mahesa dari belakang. 


"Devan demam, tadi,__

__ADS_1


Tak menunggu ucapan Randu usai, Mahesa langsung berlari keluar rumah, pria itu tampak tegang namun tetap menyelaraskan hatinya untuk bisa menembus jalanan dengan lancar. 


"Bismillah, Ayah akan segera datang," ucapan Mahesa sebelum menancap gasnya, tak peduli dengan Randu yang ditinggal dan tak peduli dengan Pak Udin yang terus berteriak, Mahesa mengemudikan mobilnya hingga menghilang di ujung jalan. 


"Terima nasib, Mas,"  pak Udin menepuk bahu Randu yang terlihat jengkel. 


Mudah mudahan tidak ada halangan, batin Randu sebelum menyusul Mahesa. 


Ya Allah,  jika sampai terjadi sesuatu dengan Devan, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. 


Berulang kali Mahesa banting setir, baginya keselamatannya tak penting dibandingkan bayi mungil yang sudah memenuhi hatinya selama beberapa hari.


Sesampainya, Mahesa segera masuk ke dalam rumah. Betapa pilunya saat menatap Sabrina menangis sesenggukan sembari memeluk bayi yang ada di gendongannya.


"Sayang, Devan kenapa?" seru Mahesa, bibirnya bergetar mendengar suara nyaring putranya.


Sabrina hanya bisa menggeleng dengan pipi yang dipenuhi air mata. Tubuhnya lemah dan tak bisa berbuat apa apa. 


"Kita bawa ke rumah sakit sekarang,"


Mahesa merengkuh tubuh Sabrina.  Sedangkan Arum dan Sesil mengikuti dari belakang. 


"Mas, aku takut," ucap Sabrina, mengelus pipi Devan yang mulai sedikit anteng. 


"Kamu tenanglah! Devan akan baik-baik saja."


Meskipun hatinya se takut Sabrina, setidaknya Mahesa menenangkan istrinya yang terlihat kacau, bahkan hijab yang di pakainya tak karuan dan sudah basah.


 Hampir tiga puluh menit Mahesa memarkirkan mobilnya disalah satu rumah sakit ternama.


"Dokter, tolong putra saya!" 


Salah satu dokter anak itu mengangguk dan membawa Devan di sebuah ruang perawatan VIP. 


Mahesa merasa menyesal, apalagi saat ini Sabrina belum juga bisa membendung air matanya, dan itu rasanya langsung menancap ke ulu hati. Dengan langkah pelan Mahesa duduk di samping Sabrina, menarik tubuhnya dan membawa ke dalam dekapannya.


Selang beberapa menit menunggu,  akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan dengan wajah yang sedikit cerah. 


Sabrina dan Mahesa serta yang lainnya menghampiri dokter itu. 


"Bagaimana keadaan putra kami, Dok?" tanya Mahesa antusias. 


"Alhamdulillah, pasien baik baik saja, hanya demam biasa, nanti juga akan sembuh."


Seketika Sabrina memeluk Mahesa yang ada di sampingnya, wanita itu merasa bahagia dengan kabar  dari dokter tersebut.


"Kamu dengar sendiri kan? Devan baik baik saja, jadi jangan takut." 

__ADS_1


Mengecup pucuk kepala Sabrina yang dibalut hijab. 


__ADS_2