
Sabrina terus memanyunkan bibirnya, mulutnya di gembok rapat. Jangankan untuk bicara, mengucap satu huruf saja tak mau. Jika seperti ini Mahesa harus dilapangkan kesabarannya untuk membujuk sang istri.
Hari ini adalah sidang kedua perceraian Mahesa dan Camelia. Mahesa ingin memenuhi panggilan supaya semua urusannya tak terhambat. Ingin segera lepas dari wanita yang sudah menipunya.
Mahesa menghampiri Sabrina yang sedang duduk di tepi ranjang. Mengelus perutnya lalu mencium pipinya. Sabrina tak protes hanya melirik sekilas ke arah Mahesa yang terus menampakkan senyumnya sembari melipat kemeja nya hingga ke siku. Memakai dasi yang ia berikan semalam.
Ah, Sabrina semakin kesal, merasa permintaannya diabaikan Mahesa. Sabrina ngotot ingin ikut ke pengadilan Mahesa. Namun Mahesa melarangnya, dengan keangkuhannya Mahesa malah memarahi Sabrina seenak jidatnya.
"Ada kecoa," seru Mahesa menunjuk ke arah lantai.
Seketika Sabrina menjerit dan meloncat, menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang tanpa melepas sandalnya lalu memeluk Mahesa, membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Usir mas! Aku takut."
Satu tangan Mahesa memeluk tubuh Sabrina, sedangkan yang satunya lagi mengelus kepalanya.
Husss….huss…
Mahesa berpura pura mengibas ngibaskan tangannya.
"Sudah pergi apa belum?" rengkek Sabrina, jantungnya berpacu dengan cepat kala mendengar nama serangga yang ia benci.
"Sudah, kecoanya tadi cuma lewat, mungkin nyium bau kamu," jawab Mahesa asal.
Beberapa tepukan mendarat di lengan Mahesa, tak hanya itu, Sabrina juga mencubit pipi Mahesa yang bicara asal.
"Aku bukan cokelat," keluh Sabrina.
"Tapi manis," timpal Mahesa.
Sabrina mencondongkan kepalanya. Matanya terus menyusuri setiap karpet dan lantai, setelah tak menemukan apapun, Sabrina menepuk dadanya dan bernapas lega.
"Kamu takut kecoa?" tanya Mahesa, kali ini sangat serius.
Sabrina mengangguk. Dengan perlahan Sabrina menurunkan kakinya lagi.
"Mas, aku boleh ikut ya, plisss!"
Sabrina menangkupkan kedua tangannya, wajahnya memelas berharap Mahesa memenuhi permintaanya.
Mahesa Melihat jam yang melingkar di tangannya lalu menoleh menatap lekat wajah yang sudah cantik jelita.
"Baiklah, kamu boleh ikut."
Hati Sabrina bagaikan diguyur salju, dingin dan menyejukkan.
Sabrina beranjak dari duduknya dan kembali merapikan hijabnya, mempoles wajahnya dengan make up, lalu menebalkan lipstiknya.
"Jangan cantik-cantik, nanti kalau ada yang naksir, aku pastikan besok kamu gak akan bisa keluar dari sini."
Mahesa terus mengawasi tingkah Sabrina, entah karena kehamilan atau apa, akhir akhir ini Sabrina suka berdandan.
Sabrina mendesah, meraih tas dan ponselnya lalu menghampiri Mahesa. Kini apapun yang dilakukannya pasti menuai komentar dari suaminya.
__ADS_1
"Buang jauh jauh rasa kasihan," pesan Mahesa sebelum keluar dari kamarnya.
Tak ada jawaban, Sabrina hanya menerima uluran tangan Mahesa.
Setelah membuka pintu, Mahesa dan Sabrina menghampiri mbak Inul dan Devan.
"Mbak, aku pergi sebentar ya, jaga Devan dengan baik. Nanti kalau ada apa apa telpon aku saja, jangan Mas Mahesa."
Sabrina mengambil alih Devan lalu menciumi wajahnya.
Mahesa hanya tersenyum geli melihat Sabrina yang terus sinis padanya.
"Mbak Inul, hari ini aku cantik nggak?"
Sabrina tersenyum lalu memutar tubuhnya di depan Mahesa.
"Wah, Non cantik banget, aku yakin siapapun yang melihat pasti akan jatuh cinta."
Pujian mbak Inul menyulut emosi Mahesa.
Pria itu nampak gusar dan marah.
"Cepetan kita berangkat!" ucap Mahesa meninggikan suaranya.
Sabrina memberikan Devan kembali.
"Ada yang cemburu, Mbak," sindir Sabrina.
"Kamu itu suka banget bikin aku jengkel, kamu mau aku darah tinggi, setiap hari marah dan cepat tua?"
Mahesa mengendurkan dasinya, belum juga persidangan, amarahnya sudah memuncak di pucuk kepala.
"Kalau Mas cepat tua kan aku bisa cari lagi, pasti masih banyak yang mau sama aku."
Sabrina sengaja memancing emosi suaminya. Kejahilannya kali ini adalah hiburan baginya semenjak hamil. Mahesa membalikkan tubuhnya menangkup kedua pipi Sabrina lalu menempelkan keningnya di kening Sabrina.
"Jangan seperti ini, aku nggak kuat."
Meskipun Mahesa tahu itu hanya bercanda, namun faktanya Mahesa tak bisa menahan dadanya yang terasa sesak.
"Aku siap menjadi sandaran untuk mas, jangan khawatir."
Ia yang menciptakan dia pula yang menjatuhkan, Sabrina Salsabila.
Mahesa hanya bisa geleng geleng, tak mengerti dengan sikap Sabrina yang terus berubah.
Tiga puluh menit Mahesa hanya sport jantung, apalagi Randu berada di pihak Sabrina. sepanjang perjalanan keduanya terus menyudutkan Mahesa hingga tak bisa berkutik, jangankan untuk membela diri, bicara sepatah kata pun tak bisa.
"Randu, jaga dia! Jangan sampai dia masuk," titah Mahesa. Menyungutkan kepalanya ke arah Sabrina.
Sabrina memeluk Mahesa memberikan sebuah ciuman lembut sebagai penyemangat suaminya saat di dalam.
"Semoga sukses," kata itu mengiringi saat Mahesa membuka pintu mobil.
__ADS_1
Tepat di samping Mahesa berdiri, sebuah mobil berhenti di sana, seorang wanita cantik keluar dari mobil itu.
"Camelia," cicit Sabrina dari dalam mobil.
"Mbak jangan keluar! Jangan membuat mas Mahesa marah," tutur Randu.
Nampak dengan jelas Mahesa dan Camelia saling berhadapan. Dekat, namun terasa sangat jauh, bahkan untuk bicara saja Sabrina tak bisa, itulah misi Mahesa, menjauhkan Sabrina dari Camelia.
Mahesa berjalan lebih dulu menghampiri pengacaranya yang sudah berada di sana, kemudian di susul Camelia dari belakang.
Didalam Mobil itu sangat hening, Sabrina hanya diam menerka nerka dengan keadaan di dalam.
Randu menatap Sabrina dari pantulan cermin lalu meletakkan ponsel yang sempat di pegangnya.
"Mbak, apa aku boleh bertanya?" Randu mengawali pembicaraan mencairkan suasana.
"Silahkan!"
Masih dengan posisinya Randu memunggungi Sabrina.
"Aku ingin tahu lebih jauh tentang Arum, sebelum menikah aku ingin paham semuanya tentang dia, bukan maksud apa apa, aku hanya ingin lebih peka saja dengan apapun yang diinginkannya."
Sabrina menghela nafas panjang sebelum menceritakan semuanya.
Kebersamaan selama bertahun tahun membuat Sabrina hafal dengan watak sahabatnya, tak hanya dari hobi, sampai warna kesukaan pun Sabrina tahu, dan kali ini memang saatnya ia untuk menceritakan semuanya pada Randu.
Randu hanya diam memahat semua apa yang diutarakan sabrina itu dalam hati.
"Aku hanya bisa mengucapkan selamat, semoga kalian dilimpahkan kebahagiaan."
Randu tersenyum, dan lagi-lagi menatap Sabrina dari kaca spion.
"Kenapa mbak masih bertahan dengan mas Mahesa, padahal dulu mas Mahesa sempat tidak menginginkan, Mbak. Bahkan ada perjanjian yang pernah ia buat."
Kali ini Randu mengalihkan pembicaraan.
Mata Sabrina berkaca, "Dulu yang aku pikirkan hanya Devan, bahkan untuk kebahagiaanku sendiri saja aku lupa. Yang terpenting Devan bisa memiliki seorang ayah."
Sabrina mengusap air matanya yang lolos membasahi pipinya.
"Sampai pada suatu hari, pertahananku runtuh. Dan disaat itu pula aku sudah siap menjadi janda. Tapi takdir berkata lain, mas Mahesa datang ke rumah dan dia bilang ingin mempertahankan rumah tangga kami." Sabrina tersenyum mengingat awal keduanya bersatu.
Randu mengangkat dua jempolnya ke arah Sabrina.
"Mbak adalah perempuan terbaik yang bisa mengubah mas Mahesa. Dia pernah bilang jika dia adalah laki laki yang paling beruntung di dunia ini karena bisa memiliki, Mbak."
"Jangan percaya! Dia hanya menggombal," tukas Sabrina.
Sabrina merasa Randu sudah berlebihan dengan ucapannya.
boleh mampir juga ke sini, punya sahabatku
__ADS_1