
Sabrina dan Mahesa terus mengulas senyum saat sang dokter menunjukkan gambar putrinya dari layar monitor. Tak henti-hentinya Mahesa mencium pipi Sabrina di depan dokter Meta yang bertugas. Empat bulan lagi penantian mereka untuk bisa menggendong sang buah hati, dan rasanya Mahesa sudah tak sabar untuk menanti masa itu.
"Bayi kalian sehat. Mbak harus sering gerak seperti waktu hamil pertama," tutur Dokter Meta seraya menutup baju Sabrina di bagian perut.
"Dengan begitu Mbak bisa gampang saat melahirkan, tapi Mas Mahesa harus membantu juga, karena saat hamil besar seorang suami juga berperan penting untuk bayi dan ibunya," imbuhnya.
"Baik, Dok," jawab Sabrina dan Mahesa serempak. Entah apa yang dimaksud Dokter Meta, Mahesa pun asal jawab saja, karena saat hamil Devan, sedetikpun ia tak mendampingi Sabrina.
Mahesa membantu Sabrina untuk bangun dan turun dari panjang, akhir-akhir ini Mahesa sangat waspada pada sang istri, apalagi Sabrina semakin sensitif dalam segala hal, dan itu menjadi PR bagi Mahesa.
Sabrina dan Mahesa kembali ke ruangan dokter Meta, keduanya duduk di depan sang dokter yang berseberangan dengan meja.
"Dok, apa lahirannya nggak bisa operasi?" tanya Mahesa.
Sabrina membulatkan matanya lalu menoleh menatap wajah Mahesa dari samping, dengan entengnya suaminya itu mengucap tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Apa maksud, Mas? Aku yang melahirkan masih sanggup normal. Kenapa Mas menyuruh operasi?" tanya Sabrina dengan lantang. Ia tak terima dengan ucapan suaminya yang baru saja meluncur.
"Bu…bukan maksud aku menyinggung kamu, Ning. Aku hanya memberi pendapat saja, sepertinya operasi lebih aman."
Sabrina beranjak dari duduknya lalu keluar meninggalkan Mahesa.
Dokter Meta tersenyum, "Begitulah ibu hamil, Mas harus sabar menghadapinya. Dan anggap saja semua yang dikatakannya itu benar."
Tanpa menjawab, Mahesa ikut terhenyak dan keluar. Di depan pintu ruangan dokter Meta, Mahesa berkacak pinggang menatap punggung Sabrina yang berjalan menuju ke depan.
"Sabar itu disayang Allah, dan aku harus belajar itu mulai dari sekarang," gumamnya.
Mahesa berlari mengikuti Sabrina. Setibanya di parkiran, Sabrina menghentikan langkahnya saat melihat Arum yang baru turun dari mobil. Sabrina menghampiri Arum dan berhamburan memeluknya.
"Rum, Mas Mahesa jahat, dia menyuruhku operasi," kata Sabrina di sela-sela tangisnya.
__ADS_1
Arum menepuk punggung Sabrina, matanya terus menatap Mahesa yang melambaikan tangannya dan menggeleng.
Begitu juga Randu, dan ia yang lebih peka dengan kode dari sahabat sekaligus bosnya.
"Bukan begitu, Mbak. Mungkin mas Mahesa memilih jalan yang terbaik untuk, Mbak. Dia hanya salah kata saja, jika mau melahirkan normal, nggak apa apa, pasti Mas Mahesa juga nggak akan memaksa."
Sabrina menyeka air matanya lalu melepas pelukannya, menatap lekat Randu yang berdiri di samping Arum.
"Kamu kan anak buahnya, pastilah membela Mas mahesa," sergah Sabrina, ia masih tak terima dengan pembelaan Randu untuk suaminya.
"Randu benar, Sayang," sahut Mahesa memeluk Sabrina dari belakang.
"Terserah kamu saja, aku kan hanya kasih saran, kalau kamu nggak setuju nggak apa, kita pulang ya," ajak Mahesa dengan lembut.
"Bi, kamu dengar kan kata Mas Mahesa? Pilihan ada di kamu, jadi jangan khawatir, kita pasti bisa menjadi seorang Ibu yang kuat untuk anak kita, apapun jalannya itu pasti yang terbaik." Arum meyakinkan Sabrina untuk tidak marah lagi.
Adegan pelukan kembali terjadi antara Arum dan Sabrina, keduanya sangat bahagia menanti jabang bayinya lahir.
Randu dan Arum menatap mobil Mahesa yang keluar dari gerbang sampai menghilang di ujung jalan.
"Ada-ada saja mbak Sabrina, dia itu lucu seperti kamu." Randu menjawil hidung Arum.
Keduanya masuk kedalam rumah sakit dengan tangan saling terpaut, seperti Mahesa, Randu pun sangat bahagia bisa berada di sisi Arum. Perjalanan cintanya yang sudah menginjak lima bulan, Arum sangat yakin jika Randu adalah pelengkap hidupnya.
"Kira-kira anak kita apa ya? Laki-laki atau perempuan? tanya Arum. Keduanya berjalan bersejajar seperti baru pacaran saja, mereka menjadi pusat perhatian orang orang yang melintas.
"Laki-laki atau perempuan sama saja, yang penting kamu dan bayi kita sehat."
Disepanjang jalan Arum terus tersenyum, tak menyangka hidupnya akan sebahagia itu setelah menikah.
Berbanding balik dengan hati seorang gadis yang sedang bersembunyi di balik ruangan saat melihat Arum dan Randu lewat. Gadis itu merasa ditusuk dengan seribu pisau di tubuhnya. Dia adalah Ayana, gadis yang pernah jatuh cinta pada Randu dan sampai sekarang pun cinta itu belum hilang dari benaknya.
__ADS_1
"Kamu kenapa,Ya?" tanya Cici. Heran saat melihat Ayana yang tidak jadi keluar dari ruangan neneknya.
"Aku nggak apa apa, Ci." Tapi tiba tiba saja tubuh Aya terhuyung. Cici terkejut dan membawa Aya duduk di kursi yang ada di samping brankar neneknya.
"Ya, aku tahu kamu, nggak mungkin jika nggak ada apa-apa kamu nangis kayak gini, nenek, baik baik saja." Cici menunjuk ke arah wanita tua yang berbaring di atas brankar itu dengan mata terpejam.
Mungkin cerita sama Cici bisa mengurangi bebanku, dan mungkin Cici bisa membantuku move on dari Randu, batin Aya.
Ayana menyeka air matanya lalu menatap Cici.
"Ci, aku pernah jatuh cinta pada seorang laki-laki," ucap Ayana.
"Lalu?"
"Waktu itu, dia ingin aku berubah dengan penampilanku, Ci. Tapi aku terang terangan menolaknya, karena aku pikir seorang pasangan itu tidak berhak mengatur hidup kita sebelum menikah." Ayana menundukkan kepalanya menatap cincin yang pernah diberikan Randu, dan itu masih dipakainya hingga saat ini.
"Akhirnya dia memutus hubungan kita," lanjutnya. Ayana semakin sesenggukan kala mengingat malam itu, malam saat Randu meninggalkannya dengan sebuah penyesalan.
Cici merengkuh tubuh Ayana dan membawa ke dalam dekapannya, entah kenapa ia ikut merasakan sakit setelah mendengar cerita sang sahabat.
"Lalu kenapa kamu mengingatnya?" tanya Cici lagi.
"Tadi aku lihat dia bersama istrinya yang sedang hamil, bantu aku untuk bisa melupakannya, aku nggak mau seperti ini terus, Ci."
Cici menggenggam erat tangan Aya.
"Aku akan bantu kamu, sekarang kamu harus bisa melupakan laki-laki itu. Mungkin Allah sudah memilih jodoh yang lebih baik dari dia. Dan aku yakin dengan berjalannya waktu, kamu akan menemukan seseorang yang bisa mencintai kamu dengan tulus dan apa adanya."
Aya menganggukkan kepalanya dan memeluk Cici kembali. Aya merasa bebannya sedikit berkurang setelah bercerita dengan kisah cintanya.
Aya gadis yang sangat kuat, tapi dia bisa menangis karena seorang laki-laki, itu artinya Aya memang sangat mencintainya. Dan aku yakin, jika diamnya Aya selama ini karena laki-laki yang benama Randu.
__ADS_1