Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Perseteruan


__ADS_3

Pertama kali Mahesa memboyong Sabrina ke rumah orang tuanya.  Sebagai istri pertama Sabrina merasa sangat dihargai, apalagi Bu Risma dan pak Yudi sangat menyayanginya. Meskipun banyak yang menghujatnya hamil di luar nikah, pak Yudi tetap menjadi salah satu garda terdepan membela Sabrina kala itu. Tatapan matanya nampak begitu indah menyejukkan hati,  bagaikan rembulan yang masih tertutup gumpalan awan hitam, itulah bagi Mahesa sebelum mengetahui karakter Sabrina lebih dalam.


"Selamat datang di rumah nenek, semoga Devan betah."


Bu Risma merentangkan tangannya menyambut kedatangan menantunya dan juga putra serta cucunya. Tamu yang menurutnya istimewa. 


Sabrina mencium punggung tangan Bu Risma dan membalas pelukannya dengan erat.


Suasana rumah sedikit ramai, para pembantu berlalu lalang dengan tugas masing masing. 


"Ada acara apa, Ma?" tanya Mahesa. 


Bu Risma menatap pak Yudi dari  jauh lalu tersenyum simpul. Sepasang pengantin yang usang namun masih romantis di usianya yang sudah senja. 


"Hari ini ulang tahun pernikahan papa dan mama yang ke tiga puluh,  dan nama mau merayakan kecil kecilan dengan kalian," jelasnya. 


Sabrina kembali memeluk Bu Risma memberi selamat, namun sayang, Ia dan Mahesa tak membawa hadiah apapun selain doa. 


"Mama dan papa bisa membeli apa saja, dan doa terbaik dari kalian lebih dari barang yang termahal di dunia."


Sabrina  dan Mahesa masuk ke dalam, Sabrina mengikuti langkah Bu Risma, Sedangkan Mahesa langsung nyelonong menghampiri Pak Yudi yang ada di ruang keluarga. 


"Pa,  aku mau bicara," bisik Mahesa. 


Sebelum meninggalkan ruang tengah,  Mahesa menghampiri Sabrina. 


"Sayang,  kamu disini sama mama, aku mau bicara sama papa sebentar." 


Sabrina hanya mengangguk, mungkin urusan pekerjaan, itu pikirnya.


Bu Risma membawa Sabrina di salah satu kamar yang yang ada di lantai bawah. 


"Wah ini cantik sekali, Bu." Sabrina mengedarkan pandangannya menyusuri setiap sudut kamar yang dipenuhi dengan mainan anak.


"Ini kamar untuk Devan kalau menginap di sini," tuturnya.


"Camelia juga mama undang untuk makan di sini," imbuhnya. 


Wajah Sabrina berubah seketika, namun hatinya berusaha untuk melapangkan dada menerima kenyataan jika dirinya bukanlah satu-satunya yang ada di hati Mahesa. Membagi suami itu artinya membagi cinta,  namun surga akan berpihak pada istri yang rela dimadu. Keyakinan Sabrina tak pernah lepas dari tubuhnya meskipun ia sempat menolak pernikahan Mahesa dan Camelia. 


"Kapan dia datang, Bu?" tanya Sabrina.


"Sebentar lagi, dia masih ada acara."


Bu Risma mendekati Sabrina yang sedikit termenung. 


"Maafkan Mahesa, mama tahu kalau pernikahannya dengan Camelia menyakiti hatimu."

__ADS_1


Sabrina merengkuh tubuh Bu Risma,  mengusap satu buliran bening yang sempat lolos dari pelupuk matanya. 


"Mas Mahesa adalah suami yang baik, dan aku sudah ikhlas dengan pernikahan itu."


Seberat apapun beban yang dipikul, Sabrina mencoba untuk menjadi wanita tangguh di antara mereka yang pernah menjadi panutannya. 


Diruangan lain, pak Yudi terus mendesak Mahesa yang belum juga membuka suara, pria itu masih di ambang kebingungan.


"Apa yang mau kamu bicarakan? Kenapa dari tadi hanya diam?"


Pak Yudi menepuk bahu lebar Mahesa.


Mahesa menghela napas  panjang. 


"Pa, Devan adalah putraku."


Pak Yudi masih terlihat santai sembari terkekeh.


"Memang dia putramu, memangnya kenapa?" tangan pak Yudi.


"Maksudku dia itu putra kandungku, Pa,"  jelas Mahesa. 


Pak Yudi melepas kaca matanya dan menatap manik mata Mahesa dengan lekat. Mencari kejujuran di sana. 


"Katakan sekali lagi!" pinta pak Yudi  yang sedikit tak percaya dengan pendengarannya. Mukanya merah padam memendam amarah.


Sebuah tamparan mendarat di pipi kokoh Mahesa,  Pak Yudi sudah tak bisa menahan amarahnya yang seketika meletup-letup di dadanya setelah mendengarkan pengakuan Mahesa. 


Mahesa mengelus pipinya yang sedikit terasa perih dan bersimpuh di hadapan Pak Yudi. 


"Pa, aku nggak tahu,  bagaimana itu bisa terjadi, waktu itu aku mabuk dan tiba tiba saja aku lupa diri."


Mahesa menunduk penuh penyesalan. Rasanya kenyataan itu membuatnya runtuh tak berdaya. 


"Apa Sabrina sudah tahu semua ini?" 


Mahesa menggeleng, sedikitpun ia tak mempunyai keberanian untuk bicara. 


"Mau sampai kapan kamu membunyikan ini semua? Serapat apapun yang namanya bangkai akan tercium juga, dan apapun yang akan terjadi kamu harus siap."


Masih teringat jelas di benak pak Yudi bagaimana menderitanya Sabrina saat ia dinyatakan hamil, wanita itu hampir saja putus asa dan mengakhiri hidupnya saat menjadi cemoohan orang.


"Aku akan katakan semuanya, Pa. Tapi tidak sekarang,  aku belum siap untuk menerima kemarahan Sabrina."


Wajar,  Pak Yudi menarik tangan Mahesa sehingga pria itu kembali duduk di sampingnya. Sedikitpun tak pernah terbesit dalam otanya kalau rumah tangga Mahesa dan Sabrina diterjang masalah yang berhubungan dengan masa lalu. 


"Papa yakin kamu bisa melewati ini semua."

__ADS_1


Pak Yudi beranjak dari duduknya meninggalkan Mahesa sendiri. Memberi waktu pria untuk berpikir jernih. 


Ya Allah, semoga dia mau memaafkan diriku yang penuh dosa Ini. 


Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang,  Sabrina dan Mahesa sudah berada di ruang keluarga. Sebuah ketukan pintu  menggerakkan kaki Sabina untuk membukanya, membiarkan yang lain dan para pembantu menikmati acara kecil kecilan Bu Risma. 


"Camelia," seru Sabrina. Seperti biasa, wanita itu tampak lembut saat menyapa siapapun yang ada di hadapannya. 


Sabrina mengulurkan tangannya. Sedangkan Camelia hanya menatapnya tanpa ingin menerima.


"Semua sudah terlanjur, kita berdua adalah istri mas Mahesa,  dan aku harap kita bisa akur. Mas Mahesa juga butuh kebahagiaan, aku tidak mau membuatnya tertekan dengan statusnya," ucap Sabrina dengan tegas. 


Camelia mencondongkan kepalanya tepat di telinga Sabrina. 


"Apa kamu masih bisa menerima mas Mahesa setelah tahu siapa dia yang sebenarnya?" bisiknya. 


Sabrina hanya mengerutkan alisnya. Dalam hatinya bertanya-tanya dengan apa yang dimaksud madunya. 


Camelia melewati tubuh Sabrina dan menghampiri yang lain, sebelum tiba di ruangan itu Camelia menghentikan langkahnya saat melihat Mahesa sedang asyik bermain dengan Devan yang ada di gendongannya. 


Kenapa mas Mahesa sangat menyayangi bayi itu, apa dia sudah tahu kalau bayi itu adalah anaknya, tapi dari mana, bukankah aku haya cerita pada Aya, gumamnya.


"Mama," seru Camelia.


Semua yang ada di sana menoleh menatap Camelia dan Sabrina yang ada di belakangnya.


Bu Risma beranjak mendekati Camelia. Bagaimanapun juga wanita itu menantunya seperti Sabrina. 


"Akhirnya kamu datang juga." 


"Ini hadiah untuk mama,"  menyodorkan sebuah paper bag di depan Bu Risma. 


Tak seperti biasa, tatapan Mahesa penuh dengan kebencian saat Camelia memilih duduk di sampingnya. Sedangkan Sabrina harus bergeser di samping Mbak Inul.


Meskipun terpisah jarak, pandangan Mahesa tak luput dari senyum Sabrina kala kedua orang tuanya potong kue.


Camelia meraih tangan Mahesa dan menempelkan di perutnya.


"Mas, anak kita perempuan, dan aku ingin kamu yang memberi nama."


Terpaksa Sabrina menoleh,  matanya berkaca saat melihat perut Camelia yang membuncit.


Seandainya aku yang ada di posisi itu,  aku akan sangat bahagia, batinnya. 


Sabrina mengelus perut ratanya. 


Semoga  Allah memberiku kepercayaan lagi untuk bisa mengandung anak mas Mahesa seperti Camelia, imbuhnya. 

__ADS_1


__ADS_2