
Bahagia, mungkin hanya itu yang kini terselip untuk Arum dan Randu. Keduanya sangat menikmati kebersamaannya. Malam malam penuh dengan kehangatan di lalui bersama dalam suka dan duka. Perjalanan rumah tangganya sudah menginjak satu bulan, tak ada pertengkaran meskipun kecil, mereka saling mengerti satu sama lain, seakan Arum adalah pelengkap hidup Randu yang sudah ia temukan dalam kelana nya.
Ada yang berbeda di pagi itu, Arum tak bisa melayani sang suami dengan persiapan kerjanya. Ia merasa pusing dan sedikit mual.
"Aku ke kamar mandi dulu ya, Mas." Arum berlari ke kamar mandi meninggalkan Randu yang sedang sarapan.
Randu hanya mengangguk seraya menatap Punggung Arum hingga menghilang di balik pintu kamar.
"Dia kenapa ya?"
Randu menelan makanannya lalu minum air putih, beranjak dari duduknya lalu menyusul Arum.
"Beb, kamu nggak apa apa kan?"
Randu masuk ke kamar mandi, nampak sang istri sedang bersandar di tembok dengan memegang kepalanya dengan satu tangannya.
Arum terlihat pucat dan lemas hingga menjawab pertanyaan Randu saja hanya dengan gelengkan kepalanya.
"Aku mual, Mas. Kepalaku juga pusing. Mungkin masuk angin."
Randu merengkuh Arum, menopang tubuhnya dan membawanya keluar.
"Kamu rebahan dulu, biar aku ambilkan minyak angin."
Randu mengambil minyak yang biasa ia pakai saat masuk angin.
"Buka bajunya!" pinta Randu.
Arum menggeleng, meskipun hampir setiap malam mereka bergulat di atas ranjang, namun Arum masih malu-malu saat membuka auratnya di depan Randu.
Berbeda dengan Sabrina, sekarang baginya malu itu sudah lenyap, apalagi jika Mahesa sudah menuntut dengan baju khusus, pastilah ia tak bisa berkutik.
"Mau sampai kapan kamu terbuka, aku ini suami kamu, jadi kamu harus terbiasa."
Terpaksa Randu menyibak baju Arum dengan paksa.
Randu mengoleskan minyak tepat di perut rata Arum, setelah itu beralih di pelipis lalu memijat betisnya.
"Aku panggilkan dokter ya?" tawar Randu.
"Nggak usah, udah mendingan kok."
Arum kembali duduk dan memeluk Randu dari samping.
"Mas, nanti kalau pulang bawain martabak ya!"
Randu tersenyum, teringat beberapa hari yang lalu saat ia berada di restoran. Arum nampak jijik saat melihat makanan itu, namun saat ini Arum memintanya.
"Untuk apa? Pajangan," celetuk Randu.
__ADS_1
Arum mendengus lalu berdecak.
"Nggak tahu, dari semalam aku pengen makan itu."
"Iya, nanti aku belikan, jaga diri kamu baik baik, aku berangkat dulu. Nanti kalau butuh sesuatu panggil bi Nori"
Sebuah kecupan mendarat di kening Arum sebelum Randu meninggalkannya.
Setelah Randu keluar dari kamar, Arum meraih ponselnya yang ada di nakas. Ia melihat catatan yang selalu disimpan di sana.
"Sudah pertengahan bulan, tapi aku belum datang bulan."
Arum mengabsen lantainya sembari menggigit ponselnya, jantungnya terasa jedag jedug saat ada sesuatu yang melintas di otaknya.
"Apa jangan jangan aku hamil?"
Arum kembali duduk di tepi ranjang menatap ke arah jendela yang terbuka.
"Jika benar, itu artinya aku akan menjadi seorang ibu."
Hatinya semakin berdebar debar. Meskipun belum ada kepastian, Arum sangat yakin jika dirinya saat ini sedang mengandung.
Arum menyambar tasnya lalu keluar dari kamarnya dan menghampiri Bi Nori.
"Bi, aku keluar sebentar ya," pamit Arum.
"Pak tunggu sebentar ya!"
Saat Arum membuka pintu mobil, ia dikejutkan dengan sosok wanita yang pernah menamparnya, namun gadis itu dengan penampilan yang berbeda.
"Aya, itu kan Aya," terka Arum. Namun ia tak berani memanggilnya. Arum hanya melihat dari jauh memastikan jika apa yang ia lihat itu benar.
"Apa aku samperin ya? Tapi bagaimana jika dia marah seperti waktu itu, apalagi sekarang aku istrinya mas Randu."
Baru beberapa langkah, Arum berhenti saat ponsel di dalam tasnya berdering.
Arum merogoh benda pipi nya lalu membukanya, ternyata Randu yang menelpon.
"Halo, Beb. Kata Bi Nori kamu keluar? Memangnya mau ke mana?" tanya Randu dari seberang telepon.
Arum tertawa, baru beberapa menit berpisah, Randu sudah menanyakannya.
"Aku ke apotik, Mas. Ada sesuatu yang ingin aku beli," jawab Arum.
"Kenapa tadi nggak bilang? Kan aku bisa belikan."
"Nggak papa, ini aku sudah sampai, bentar lagi pulang."
"Jangan lama-lama, setelah dapat langsung pulang."
__ADS_1
"Siap, Bos. Nanti aku telpon kalau sampai rumah."
Setelah memutuskan sambungannya, Arum mengedarkan pandangannya. Namun nihil Aya sudah tak ada di sana.
Entah kenapa dada Arum sedikit sesak saat melihat Aya. Ketakutan melanda mengingat masa lalu suaminya yang pernah mempunyai hubungan khusus dengan wanita itu, namun Arum membuang jauh jauh pikiran negatifnya itu.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya penjaga apotik dengan ramah.
"Saya mau beli testpack, Mbak."
"Yang merk apa ya?"
Arum tersenyum, bingung dengan pertanyaan penjaganya.
"Yang paling mahal, Mbak," jawab Arum. Daripada harus susah mikir, ia pikir itu pilihan yang paling pas.
Setelah membayar test pack, Arum langsung keluar, seperti janjinya pada sang suami, ia langsung pulang tanpa mampir.
Dalam perjalanan pulang, Arum membaca di internet tanda-tanda orang hamil dan sebagainya, dan itu persis seperti yang dialaminya, setelah itu ia membaca cara memakai test pack yang benar dan tak ingin salah menggunakannya.
"Semoga saja positif, mas Randu akan senang jika mendengar ini."
Rasa tak sabar semakin menyeruak, dan ingin segera melihat hasilnya.
Pak Rudi hanya bisa geleng-geleng saat melihat Arum yang nampak buru buru, bahkan tak seperti biasanya majikannya itu sampai tak mengucapkan terima kasih seperti biasanya.
Bismillahirrohmanirrohim
Setelah memakai sesuai prosedur yang tertera di bungkusnya, Arum menunggu sembari mondar mandir di kamar mandi.
Ya Allah, Semoga saja positif.
Doa itulah yang di lantunkan dalam mulut dan hatinya.
Sepuluh menit lewat sepuluh detik, Arum mendekati benda itu, dengan tangan gemetar Arum mengambilnya.
Sebelum melihat hasilnya Arum memegang dadanya berharap jantungnya masih normal.
Perlahan Arum membuka matanya, dan betapa terkejutnya saat ia melihat dua garis merah yang nampak jelas. Arum menutup mulutnya yang menganga. Air matanya lolos membasahi pipinya. Kebahagiaannya hanya bisa di ungkapkan lewat tangisan.
"Aku hamil."
Itu seperti sebuah mimpi bagi Arum, ia tak menyangka sebentar lagi akan menjadi seorang ibu.
Akhirnya Arum bisa merasakan apa yang dirasakan Sabrina, meski saat hamil Devan Sabrina sempat terpuruk, kini sahabatnya itu sudah memetik dari kepahitan hidup yang pernah dialaminya.
Arum memasukkan test pack nya ke dalam sebuah kotak dan menyimpannya.
Sebentar lagi aku menjadi seorang ibu, dan semoga kehamilan ini semakin mempererat hubunganku dan mas Randu.
__ADS_1