Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Terka Randu


__ADS_3

Dua hari Aya tak menepati janjinya pada Raisya,  mulut manisnya seakan sudah basi,  Raisya menangis menunggu waktu itu tiba, namun ternyata hanya sia-sia. sampai langit senja lagi, wajah yang di rindukannya tak muncul juga. Randu mendekati putrinya yang duduk di teras lalu memeluknya dari samping.


 


"Raisya lihat  apa?" tanya Randu. Matanya mengikuti kemana mata Raisya memandang. 


"Bunda," jawab Raisya melas. Menunjuk ke arah langit yang sudah mulai gelap.


Hati Randu ikut tersayat, disaat seperti itu putri kecilnya mengingatkan sosok yang sudah menemani hidupnya selama dua tahun. 


"Mama Aya membohongi Isya,  katanya mau ke sini, tapi mana, Ayah?" Raisya memberontak dari pelukan Randu, ia menuntut sebuah ucapan yang pernah meluncur dari bibir Aya. 


"Mungkin mama Aya sibuk,  sabar saja!" mengelus rambut Raisa.


Mendengar nama Aya, tiba-tiba Randu merasa cemas, ini bukan sifat Aya yang sudah melupakan dan mengabaikan janji, selama bersahabat Randu sudah tahu watak wanita itu yang selalu memegang komitmen dalam melakukan sesuatu.


Sesibuk apapun Aya tidak mungkin melupakan janjinya, apalagi sama Raisya. Dia juga nggak menghubungi Raisya. 


Randu merogoh ponsel nya dan menghubungi Aya. Sebenarnya Randu merasa sungkan, tapi bagaimana lagi, Raisya sudah menuntutnya. 


Terhubung, namun tak diangkat. Randu mengulanginya sekali lagi. Setelah menunggu beberapa menit, ternyata masih sama, Aya tak merespon telepon darinya,  hati Randu semakin gelisah, apa lagi Aya sekalipun tak pernah menghubungi Raisya selain pagi itu. 


"Apa mungkin Aya keluar rumah, atau dalam perjalanan," terka Randu dalam hati. 


Hari sudah semakin gelap, matahari yang bersinar seharian penuh mulai bersembunyi di balik awan. Randu menggendong Raisya dan membawanya masuk menghampiri Sabrina yang sudah bersiap Sholat maghrib. 


"Mbak, nanti setelah sholat aku mau ke rumah Aya."


"Baguslah,  kemarin aku juga mikir gitu,  tapi karena Aida datang, nggak jadi."


"Aku ikut," rengek Raisya. "Aku mau marahin mama Aya," imbuhnya. 


Sabrina dan Randu hanya bergelak tawa saat melihat Raisya yang sedikit emosi. 


Seperti yang dikatakan, setelah Maghrib Randu mengganti sarungnya dengan celana jeans hitam, dan  baju kokonya diganti dengan baju casual pendek berwarna putih kombinasi hitam. Duren siap menunjukkan pesonanya.


Banyak yang diinginkan Raisya saat nanti bertemu Aya, hingga dalam perjalanan bocah itu meramaikan mobil yang hanya ditumpanginya bersama sang ayah. 


"Sudah sampai," Randu mematikan mesinnya, sebelum turun ia menatap rumah Aya yang sangat sepi. Melihat lampu teras yang menyala, Randu yakin kalau Aya ada di rumah.


"Raisya ingat ya, jangan rewel! Jangan ganggu mama Aya."


Raisya mengangguk tanpa suara. 

__ADS_1


Randu keluar lalu membukakan pintu untuk Raisya dan menggendongnya, mengambil sandal Raisya yang tadinya terlepas. 


Randu mengucapkan salam seraya mengetuk pintu. Sesekali mengedarkan pandangannya ke arah orang yang lewat di depan rumah Aya. 


"Assalamualaikum…" sapa Randu untuk yang kedua kali,  masih sama, tak ada jawaban sedikit pun. Akhirnya Randu memegang knop pintu dan memutarnya, ternyata pintu itu tidak dikunci, dengan mudahnya Randu membukanya. 


"Pintunya nggak dikunci, tapi dia nggak jawab salamku. Apa dia ada di kamar mandi?" gumamnya.


Randu menurunkan Raisya dan menyembulkan kepalanya ke dalam. Suasana ruang tamu sangat hening, pintu kamar Aya sedikit terbuka. Randu kembali menutupnya dan mematung di depan pintu, takut akan ada seorang  yang mengiranya maling. 


"Apa aku panggil saja ya. 


Perlahan Randu membuka pintunya kembali se lebar tubuhnya. 


"Aya!" panggil Randu.


"Aku di sini," suara lemah menyahut dari balik kamar.


"Apa aku boleh masuk?" tanya Randu sebelum membukanya lebar. 


"Silahkan!" jawabnya dengan suara yang semakin pelan. 


Randu menggiring Raisya menuju kamar Aya.


"Ay,  Raisya ingin bertemu sama, Kamu."


Ya Allah, aku nggak boleh seperti ini. Aku harus kuat, kasihan Raisya, lirih hati Aya. 


"Sebentar…"  jawab Aya.


Aya turun dari ranjang. Merapikan rambutnya yang selama dua hari tak disisirnya. 


Baru saja beberapa langkah, kaki Aya lentur dan tak bisa menopang tubuhnya, alhasil Aya terjatuh di lantai, tangannya menyenggol gelas yang ada di nakas hingga jatuh dan pecah. 


Randu yang beberapa menit duduk di ruang tamu terkejut mendengar benda jatuh dari arah kamar Aya, ia berlari kecil menghampiri kamar Aya tanpa permisi dan membuka pintunya. 


"Aya!" pekik Randu mendekati tubuh Aya yang tergeletak di lantai. 


Mata Aya masih terbuka, mulutnya terkunci, bahkan untuk bergerak saja sangat sulit. 


"Mama Aya," Raisya ikut berjongkok, memeluk tubuh Aya yang sudah duduk dengan bantuan Randu. 


"Kamu sakit, Ay?" tanya Randu antusias. 

__ADS_1


Aya menggeleng,  "Hanya pusing saja."


"Kamu sudah periksa ke dokter?"


Aya bagaikan seorang perampok yang tertangkap basah dan sedang diimintidasi.


"Sudah," Aya menampik tangan Randu yang memegang tangannya. Ia berdiri lalu duduk di tepi ranjang. Wajahnya masih sangat pucat, bibirnya kering, tubuhnya sedikit kurus.


"Mau sampai kapan kamu keras kepala seperti ini, Ya. Aku tahu kamu bohong, sekarang jawab dengan jujur! Apa kamu sudah periksa ke dokter?" 


Aya menatap Raisya yang dari tadi merengkuhnya. 


"Aku mau nungguin Cici. Besok dia pulang dan aku akan ke rumah sakit."


"Nggak usah," tukas randu datar. 


Sakitnya Arum membuat Randu trauma, dan ia sangat benci dengan orang yang suka meremehkan kesehatan seperti Aya. Dan ia tak mau itu terulang lagi pada orang terdekatnya termasuk Aya. 


"Aku sudah hubungi dokter Harun, sebentar lagi dia sampai."


Baru saja Randu menutup mulutnya, Aya kembali merasa mual.


Dengan jalan tertatih tatih Aya keluar dari kamarnya melewati tubuh Randu yang ada di depannya. 


Randu menatap punggung Aya berlalu.


Saking penasarannya, Randu melangkah mengikuti Aya ke kamar mandi. Terdengar dengan jelas suara muntah Aya dari dalam, dan itu menimbulkan banyak tanda tanya di diri Randu saat ini. 


Ceklek


Pintu terbuka, Aya keluar dengan wajah yang masih sama,  hanya saja wanita itu bisa tersenyum lepas melihat kekhawatiran Randu. 


"Apa yang kamu rasakan?" tanya Randu menyelidik. 


Aya menunduk, "Kepalaku sakit, dan aku juga sering mual,  gak selera makan, pokoknya lemes banget  dan nggak bisa ngapa ngapain."


Kenapa ciri ciri Aya seperti Arum dan Mbak Sabrina saat hamil ya,  apa jangan jangan Aya hamil anak suaminya? 


Randu hanya bicara lewat bahasa kalbu,  takut Aya tersinggung. 


"Apa kau juga ingin memakan sesuatu yang aneh gitu? tanya Randu menyelidik.


Aya menyandarkan punggungnya di tembok dan menjentikkan jarinya.

__ADS_1


"Betul sekali, dari kemarin aku ingin makan sate kelinci, tapi nggak bisa beli."


Nggak salah lagi, pasti Aya hamil. Itu artinya Aya nggak jadi cerai sama suaminya. Apa Robi sudah tahu tentang semua ini?


__ADS_2