Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Daffa dan Daffi


__ADS_3

Mahesa mengusir kepanikannya. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit terus menyeka air mata yang membasahi pipi Sabrina. Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk. Beberapa dokter dan suster sudah menyambut dengan brankar. 


Mahesa membaringkan tubuh Sabrina di atas brankar dengan pelan, sedikit pun ia tak mau menyakiti istri dan bayinya.


"Mas temani aku." Sabrina terus menggenggam erat tangan Mahesa yang ada di sampingnya. Sebelumnya ia pernah berencana ingin di temani Aya saat melahirkan, tapi entah kenapa, tiba-tiba saja ia berubah pikiran dan ingin Mahesa lah yang menemaninya saat melahirkan bayi kembarnya. 


"Aku akan temani kamu, semua akan baik baik saja." Mahesa mengecup kening istrinya dengan lembut. Sedetik pun tak mau jauh dari Sabrina yang terus meringis menahan sakit di perutnya. 


Brankar yang tadi di dorong dengan buru-buru kini sudah terletak di ruang bersalin. Dokter Meta langsung memeriksa Sabrina dengan cekatan. Ia tak mau mengulur waktu lagi saat melihat kondisi Mahesa yang tak karuan,  wajahnya kusut dan baju yang dipakainya juga amburadul. Baginya kondisi Mahesa memang lebih memprihatinkan daripada Sabrina yang mau melahirkan.


"Sudah pembukaan delapan, Mbak Sabrina terus ikuti instruksi dari saya, jangan sampai mengejan jika belum waktunya."


Dokter Meta kembali menekuk kaki Sabrina yang hampir selonjoran,  merenggangkannya ke bagian kiri dan kanan, semua suster menempati posisi masing-masing, alat medis sudah dipersiapkan demi kelancaran kelahiran sang jabang bayi. Lagi lagi Mahesa menyaksikan istrinya di pasang jarum infus di tangannya.


Sorot lampu sudah mulai menyala dari bawah sana, seperti saat lahirnya Syakila, Mahesa sudah sesenggukan saat Sabrina mengalami kontraksi yang beruntun. 


Sungguh ini adalah kelemahan Mahesa, tapi ia harus tetap kuat demi menemani istri tercinta. 


Dokter Meta menahan tawa melihat Mahesa yang sudah dipenuhi dengan air mata,  padahal itu belum seberapa dibandingkan saat melahirkan  menggunakan obat perangsang yang pastinya lebih sakit. 


"Suster, sudah pembukaan sepuluh."


Dokter Meta mengganti sarung tangannya,  lalu mendekati kaki Sabrina, dari sekian pasien yang ia tangani, Sabrina lah satu satunya wanita tangguh dan paling cepat saat melahirkan. 


"Sakit, Dok." Sabrina mengeluh, Seperti membayangkan saat bergulat,  Mahesa mencium bibirnya. Seluruh tim medis yang ada di ruangan itu hanya geleng-geleng melihat adegan luar biasa. Jarang-jarang ada suami yang seperti itu, terkadang malah lebih memilih pergi daripada menemani. Mahesa persis pelawak yang masuk ke lokasi yang salah, dan itu sukses membuat para suster baper. 


"Tarik nafas, hembuskan!" Tak hanya Sabrina, Mahesa dan yang lain pun mengikuti ucapan Dokter Meta.


"Silakan mengejan, Mbak!" Satu tangan Sabrina menggenggam erat tangan Mahesa, sedangkan yang satunya mencengkram bahu suster yang ada di sampingnya.


Sabrina menjerit saat bayi yang ada di perutnya terasa ingin keluar. 


Suster yang lain datang mengusap peluh Sabrina yang menghiasi wajahnya. 

__ADS_1


"Sekali lagi, Mbak!" Dokter Meta menekankan Sabrina untuk lebih kuat lagi. 


Mendapat instruksi itu, seketika Sabrina mengejan dengan sekuat tenaga, dan akhirnya suara tangis itu menggema mengiringi rasa perut Sabrina yang sedikit lega. Kaki Sabrina gemetar hebat,  seluruh tubuhnya lemah tak berdaya. 


"Mas, aku haus."


"Iya, nanti kamu bisa minum sepuasnya."


Mahesa kembali mencium wajah Sabrina dengan lembut dan lama. 


Suster yang bertugas membawa bayi yang berlumuran darah keluar dari ruangan itu. Sedangkan dokter Meta kembali mendekati Sabrina. 


"Tinggal satu lagi ya, Mbak. Saya yakin mbak pasti bisa."


Sabrina kembali merasakan sesuatu dari dalam perutnya itu ingin keluar lagi, tak seperti yang tadi, kali ini rasa sakitnya lebih ringan. Sabrina mengikuti perintah dokter Meta dengan baik. Dengan mengejan tiga kali, Akhirnya bayi Sabrina yang kedua menyusul saudaranya.


Alhamdulillah,  segala puji bagi bagi Allah, Mahesa tak henti hentinya bersyukur atas nikmat yang diterimanya hari ini. 


Kedua putranya hadir ke dunia dalam jarak tiga puluh menit.


Beberapa jahitan di jalan lahir sudah rapi,  Dokter Meta meluruskan kaki Sabrina dan membersihkan ceceran darah di bawah sana.


Dua suster datang dengan membawa dua bayi mungil di gendongan masing-masing. Mereka kembar identik. Lucu, menggemaskan. Hanya saja mereka  masih terlelap.


Mahesa ke kamar mandi mengambil wudhu sebelum memegang kedua putranya yang masih suci. 


"Silakan diadzani, Mas!" titah Dokter Meta mengambil alih bayi yang satunya, sedangkan Mahesa menggendong bayi yang satunya lagi.


Suara lantunan Adzan lirih nan merdu terdengar, Sabrina terharu dan meneteskan air mata. Otaknya berandai-andai sesuatu yang tak mungkin terjadi. Yaitu membayangkan jika Mahesa mengadzani Devan saat lahir.


Devan memang bayi yang tak diinginkan kehadirannya oleh siapapun termasuk Sabrina, dengan berjalannya waktu bocah yang berusia lima tahun itu sudah pintar, bahkan sudah hafal beberapa doa termasuk doa untuk kedua orang tua. 


"Kamu kenapa, Sayang?" Mahesa mengusap air mata Sabrina, padahal semua sudah beres, kedua bayi mungil itu sudah berada di dadanya. 

__ADS_1


"Aku ingat Devan, Mas. Hanya dia yang tak diperlakukan seperti ini, rasanya seperti nggak adil saja. Dia anak pertama, tapi tersisih."


Ucapan Sabrina lembut, tapi menusuk ke jantung Mahesa, seakan mengolok dirinya yang tak mau bertanggung jawab, meskipun waktu itu yang dia tahu hanya sebagai ayah sambung. 


"Jangan diingat lagi dong, kalau aku bisa memutar waktu, aku juga ingin mengadzani dia waktu lahir, tapi semua sudah terlanjur, cukup kita memenuhi apapun yang dia inginkan. Maafkan aku."


Dokter Meta ikut meneteskan air mata mengingat kejadian di masa silam,  dimana Sabrina harus berjuang seorang diri demi putranya yang pertama. Tapi tetap menjadi wanita yang tangguh meski tak didampingi seorang suami. 


"Siapa nama bayi kita, Mas?" tanya Sabrina antusias, ia sudah tak sabar ingin mengetahui nama yang selama ini dirahasiakan Mahesa. 


"Daffa dan Daffi, mereka tetap menyandang keluarga Rahardjo."


Nama yang begitu indah, semua sesuai ekspektasinya, kalau Mahesa akan memberi nama anaknya itu simple tidak berbelit namun  memiliki arti yang baik.


"Sekarang jelaskan! Kenapa Mas memilih nama itu?"


"Arti nama Daffa itu adalah sosok yang terus mendorong sesama untuk melakukan kebaikan. Sedangkan Daffi, menghangatkan dan menghadirkan dinamisasi kehidupan."


"Kalau Syakila?" 


"Syakila artinya cantik, dan aku harap dia seperti kamu, cantik luar dalam." 


"Kalau Devan?"


"Devan memiliki banyak arti dari berbagai bahasa, tergantung kita anut yang mana, tapi tetap dia memiliki jiwa sosial yang tinggi."


"Kalau arti namaku?" Sabrina sekarang jadi kepo, diam diam suaminya itu pinter juga. 


"Sabrina itu yang aku dengar nama dalam legenda Celtic.  Kalau Salsabila:  diberi kebesaran, teguh pendirian, bijaksana dalam mengambil keputusan, dapat memimpin. Mata air di surga."


"Kalau arti nama kamu sendiri apa?" tanya Sabrina menyelidik. 


"Namaku itu dari bahasa sansekerta yang memiliki arti pemimpin yang hebat." Mahesa bangga dengan namanya, toh itu menjadi kenyataan walaupun dalam urusan wanita sempat meleset. 

__ADS_1


Silakan mampir juga, rekomendasi novel yang sangat bagus untukmu



__ADS_2