Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Menolak


__ADS_3

"Kenapa kau bisa yakin kalau Mbak Sabrina memilih mas Mahesa?" tanya Randu. Dalam perjalanan menuju rumah Pak Yudi itu sempat hening beberapa menit, dan kini Randu kembali mencairkan suasana. 


Aya tersenyum, karena ia pun hanya menebak saja. Banyak pengalaman yang ia petik dari beberapa pelajaran dalam berumah tangga,  setiap pasangan mempunyai prinsip yang berbeda, begitu juga dengan Sabrina dan Mahesa.


"Itu karena aku melihat ada cinta yang tulus di mata Sabrina untuk Mahesa, sebenarnya dia itu tidak mudah terpengaruh dengan orang lain, termasuk Aida. Tapi hatinya terlalu lembut untuk berburuk sangka pada seseorang, dan itulah kelemahannya."


Randu menoleh sekilas, lalu kembali fokus dengan setirnya. Ia mengingat akan kata hatinya yang akan memberikan hadiah untuk Aya. 


"Ay," 


Aya menoleh, memasukkan ponselnya ke dalam tas. 


"Aku tadi sempat bilang, jika ucapanmu itu benar, aku akan memberi sesuatu untuk kamu, tapi aku tidak tahu apa yang kamu inginkan," ucap Randu sedikit ragu. 


Aya merasa tersanjung, ternyata tak hanya Mahesa yang akan memberikannya hadiah jika rencananya berhasil, namun Randu juga. 


"Kamu bilang saja! Apa yang kau Inginkan, anggap saja ini sebagai rasa terima kasih karena kamu sudah membantu Mbak Sabrina dan Mas Mahesa."


"Apa kau akan memberikan apapun yang aku minta?" tanya Aya antusias. 


Randu mengangguk tanpa suara.


"Baiklah, aku akan memintanya jika butuh, dan aku berharap kamu tidak akan lupa dengan apa yang sudah kamu katakan."


Tanpa terasa mobil yang ditumpangi Aya dan Randu sudah tiba di depan rumah Bu Risma,  Aya turun terlebih dulu, sedangkan Randu masih berada di dalam mobil seraya menatap punggung Aya yang berlalu menuju pintu utama. 


"Mama Aya…"  teriak Raisya saat melihat Aya yang ada di ambang pintu, bocah itu mengabaikan mainannya demi menyambut Aya yang baru saja tiba.


Aya berjongkok, merentangkan kedua tangannya kala Raisya berlari menghampirinya, tak hanya Raisya, Syakila pun ikut berhamburan memeluk Aya. 


Dari  ruang makan, Bu Risma terus mengulas senyum melihat keakraban Aya dengan anak-anak. Sebagai orang tua Bu Risma yang sudah mendengar kepribadian Aya itu pun kagum. Berulang kali Mahesa menceritakan wanita itu yang kini hadir dalam kehidupan Randu setelah meninggalnya Arum.


"Pagi Tante," sapa Aya memeluk Bu Risma.


"Pagi Ay, kamu kesini sama siapa?" Bu Risma menatap mobil Randu, namun sang pemilik tak ada di sana. 

__ADS_1


"Randu di mana?"


Bu Risma mengedarkan pandangannya, ternyata Randu ada di dekat taman sedang berbicara lewat telepon.


"Kalau Sabrina dan Mahesa?"


"Jangan ditanya Tan, lagi olahraga, mungkin nanti satu jam lagi baru nyusul." 


Bu Risma hanya geleng geleng kepala, tak habis pikir dengan putra semata wayangnya, yang akhir akhir ini suka di rumah,  bahkan Mahesa pun jarang datang jika tak disuruh.


"Biarin saja, Ma. Kasihan Sabrina, anaknya kembar, mungkin malas," sahut Pak Yudi dari ruang tengah.


"Masalahnya kalau Mahesa di rumah lebih kasihan Sabrina, Pa. Kamu kayak nggak tahu Mahesa saja," ucap Bu Risma dengan nada ketus. 


Aya menelan ludahnya dengan susah payah, ternyata tak hanya dirinya yang berpikir seperti itu, Bu Risma pun se jalan dengannya. 


"Tapi selama ini aku lihat Sabrina itu bahagia,  lagipula Mahesa pasti tahu batasannya, dan nggak mungkin ia menyakiti istrinya."


Aya menggaruk kepalanya, semakin lama percakapan itu membuatnya pusing tujuh keliling. 


Semua menjawab dengan serempak. Pemandangan yang sangat apik, di mana Aya sedang menggendong Raisya dan Syakilla, sedangkan Devan bermain bersama mbak Inul dan David  ada di samping Pak Yudi bersama Bi Mimi.


"Ndu, tante mau bicara!" 


Bu Risma  menggiring Randu menuju salah satu ruangan yang tertutup. Meninggalkan Aya yang dipenuhi tanda tanya. Hanya ada Randu, Bu Risma dan pak Yudi di sana. 


"Duduk!" titah pak Yudi. 


Randu duduk di depan kedua orang tua Mahesa.  Dari wajah Pak Yudi dan Bu Risma, Randu menangkap kalau ada bau bau yang menyangkut statusnya. 


"Tante mau bicara apa?" tanya Randu pelan. 


"Apa kamu belum ingin menikah?" Lagi lagi pertanyaan itu yang ia dengar,  dari lubuk hati yang paling dalam, Randu memang belum memikirkan itu semua dan menikmati masa dudanya. 


"Belum, Tante," jawab Randu. 

__ADS_1


Bu Risma beranjak dan beralih duduk di samping Randu. 


"Tante tahu kalau kamu itu sangat mencintai Arum,  tapi kamu harus juga memikirkan nasib kedua anakmu. Kelihatannya Raisya sangat suka dengan Aya , dan Aya juga tulus merawat Raisya dan David."


Bagaikan orang tua kandung, Bu Risma terus membujuk Randu untuk segera menjalin hubungan dengan Aya yang lebih serius, apalagi minggu depan Aya sudah resmi janda. 


Jangan bilang kalau tante Risma juga akan menjodohkanku dengan Aya.


Tak hanya Bu Risma, berulang kali Mahesa pun mendesaknya melabuhkan hatinya untuk Aya, namun Randu masih enggan dan sedikitpun tak ada niat untuk itu. 


"Tapi aku nggak bisa, Tante. Aku nggak mencintai Aya, aku hanya menganggapnya sebagai sahabat seperti mas Mahesa, nggak lebih, dan untuk menikah lagi akan aku pikirkan nanti."


Randu merasa ia terus terjebak dalam situasi yang yang terpojok, mata Pak Yudi terus menatapnya tak suka, mungkin penolakannya itu terlalu sadis, namun itulah hatinya yang tak ingin dipaksa. 


Randu menunduk menatap tangannya yang saling terpaut, menunggu Bu Risma yang mungkin akan mengucapkan sesuatu selanjutnya. 


"Aya itu kurang apa sih, banyak yang bilang kalau pernikahan itu harus dilandasi dengan cinta, tapi apa buktinya? Mahesa dan Camelia akhirnya bercerai, padahal mereka saling cinta."


Randu diam,  ia mencerna setiap ucapan yang meluncur dari sudut bibir Bu Risma. 


"Kalau tante rasa semua itu tergantung jodoh, Ndu. Dan tante berharap siapapun yang menjadi ibu sambung Raisya dan David, dia akan menyayangi mereka seperti Aya," imbuhnya. 


"Terserah kamu saja, tante hanya menyarankan, dan siapapun pilihanmu,  tante hanya bisa berdoa." Bu Risma menepuk pundak Randu dan meninggalkannya.


"Jangan sampai menyesal, karena kesempatan itu terkadang tak datang dua kali," timpal pak Yudi.


Randu keluar dari ruangan itu menghampiri Aya dan Raisya.


Tak seperti tadi saat di mobil yang terus tertawa renyah, Aya nampak menyimpan sesuatu, matanya sedikit memerah dan senyumnya tertahan.


"Kamu kenapa, Ay?" tanya Randu menyelidik, ia melihat banyak perubahan di wajah cantik Aya.


"Nggak kenapa-napa, Mas. Aku hanya capek, kayaknya butuh istirahat." Aya mengelus ceruk lehernya dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


Mulai hari ini aku harus jaga jarak dengan Mas Randu, aku nggak mau berharap lagi, meskipun aku belum bisa membuang cintaku untuknya, setidaknya sekarang aku sudah tahu, kalau aku memang tidak pantas menjadi pendamping hidupnya.

__ADS_1


__ADS_2