
Masih di ruang VVIP.
Dengan kelembutannya Sabrina merawat Mahesa. Sejak umur sepuluh tahun ia sudah diajarkan berbagai pengalaman hidup yang sangat memilukan, termasuk beradaptasi dengan teman yang jahil. Tiada ibu dan ayah di sampingnya menjaga raga sendiri di antara kerasnya dunia. Saat itu adalah menjadi titik di mana Sabrina harus bersabar untuk meneruskan hidupnya. Hingga saat dewasa ia harus memikul tanggung jawab di panti yang dia tinggali.
Sabrina mendekati Mahesa, mengusap tubuhnya yang berkeringat, mungkin efek dari obat yang baru saja di konsumsi. Meskipun dengan paksa, Sabrina mampu menaklukkan kekerasan hati Mahesa, dan sedikitpun tak mengizinkan bu Risma untuk campur tangan.
"Lain kali mas nggak boleh kayak anak kecil," tutur Sabrina.
Bagaikan seseorang yang ada dibawah pengaruh hipnotis, Mahesa hanya mengangguk tanpa suara lalu meraih tangan Sabrina dan meletakkan di pipinya.
"Kamu mau kan memaafkan aku," Mencoba mengingat masalah yang membelit keduanya.
Sabrina menunduk menatap cincin kawin yang masih tersemat di jari manisnya.
Mahesa menepuk tempat kosong yang ada di sampingnya.
Sabrina menoleh, ternyata di ruangan itu hanya ada mereka berdua, dan akhirnya Sabrina memilih naik ke atas brankar. Membaringkan tubuhnya tepat di samping Mahesa.
"Dari awal kita menikah, aku sudah pernah berjanji di hadapan Allah, bahwa apapun yang menimpa rumah tangga kita, aku akan mati-matian mempertahankan." Sabrina menjeda ucapannya, mendongakkan kepalanya menatap rahang kokoh Mahesa.
"Dulu aku pernah punya impian, kalau aku sudah berumah tangga, aku akan membangun istana cinta di hati suamiku, yang didalamnya hanya ada keluarga kita, aku, dia dan anak-anak kami," imbuhnya.
Mahesa memejamkan matanya namun memasang kupingnya dengan tajam.
"Tapi ternyata itu semua hanya mimpi dan tidak akan terwujud."
"Maksud kamu?"
Mahesa sudah paham kemana arah pembicaraan ini, namun ia masih ingin mendengar dengan jelas ucapan Sabrina secara detail.
"Ada hati yang harus kamu jaga selain aku, apalagi dia adalah orang yang kamu cintai," ucap Sabrina dengan lembut.
Itu juga mimpiku, tapi bukan bersama kamu, melainkan Camelia. Tapi sekarang roda itu berputar, bahkan kamu adalah satu satunya perempuan yang memenuhi ruang hatiku.
Mahesa hanya mengatakannya dalam hati.
"Apa yang kamu harapkan sekarang?" tanya Mahesa.
"Mulai hari ini, aku hanya bisa berharap separuh hati kamu untuk aku dan Devan."
Meskipun hatinya terasa ngilu, Sabrina tetap mengutarakan, ingin Mahesa tahu sepenuhnya tentang dirinya.
Tanpa disadari Mahesa menitihkan air mata seraya memeluk erat Sabrina. Tak peduli dengan jarum infusnya yang melenceng hingga tetesan darah mulai mengalir deras. Mahesa terus menarik paksa tangannya hingga bisa merengkuh tubuh Sabrina dengan erat.
Kamu adalah satu satunya, maafkan kesalahanku yang sudah menduakan kamu, andai waktu bisa diputar aku ingin sekali mengulang semuanya. Maafkan aku.
Hening, Mahesa membisu meredakan gemuruh hatinya yang sudah meluap sampai ke ubun-ubun, ingin rasanya menghukum dirinya sendiri. Merasakan apa yang dirasakan Sabrina waktu awal menikah, namun itu semua hanya khayalan yang tak mungkin nyata.
"Sayang, ada sesuatu yang ingin aku katakan."
__ADS_1
"Apa?" Sabrina masih tampak tenang.
"Aku akan menceraikan Camelia."
Sabrina merapikan hijabnya lalu terbangun menatap manik mata Mahesa.
"Apa alasannya?" tanya Sabrina serius.
Mahesa menyembunyikan tangannya yang sudah di penuhi darah. Jarum yang menancap beberapa jam yang lalu itu terputus total hingga semua cairan dari botol tumpah ke lantai.
"Dia sudah menghianatiku, anak yang dikandungnya bukan anakku, dan kejadian malam itu, aku tidak tahu apa apa, saat aku bangun dia yang ada disisiku, bukan kamu."
Sabrina membelalakkan matanya, masih tak percaya dengan penuturan Mahesa. Dadanya terasa sesak dan tak sanggup untuk membayangkannya.
"Itu artinya Camelia yang membawaku ke gudang?"
Mahesa mengangguk pelan.
Sabrina hanya beristighfar dalam hati, setidaknya ia sudah tahu semuanya, terutama alasan Mahesa tidak bertanggung jawab padanya.
"Tapi Mas, anak Camelia masih sangat kecil, kasihan."
Mahesa berdecak memunggungi Sabrina lalu mengelap tangannya menggunakan tissu.
"Itu urusanku, jadi kamu nggak usah ikut campur," ucap Mahesa dengan nada ketus.
Suara ketukan pintu manggema, Mahesa membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah pintu.
Ternyata Randu yang datang membawa berkas di tangannya.
Sedangkan Sabrina turun dari ranjang saat Randu mendekati brankarnya.
"Ada apa?" tanya Mahesa, matanya langsung tertuju pada apa yang ada di tangan sang asisten.
"Surat perceraian yang Mas minta sudah siap."
Mahesa meraih kertas itu dan membacanya dengan teliti, begitu juga Sabrina yang ikut mengintip dari arah belakang, saat Mahesa membalikkan kertasnya, tangannya tak sengaja nampak.
"Ya Allah mas, ini kenapa?" Sabrina meraih tangan Mahesa yang sedikit membengkak.
Randu hampir saja memencet tombol darurat, namun aksinya harus berhenti saat Mahesa melarangnya.
Tak seperti Sabrina dan Randu yang panik, Mahesa justru tertawa lepas seraya menarik pinggang Sabrina hingga keduanya gak ada jarak.
"Nggak apa apa, aku sudah sembuh dan besok pasti sudah boleh pulang."
"Nggak bisa," ucap Sabrina masih ngotot.
"Bisa, karena obatnya sudah ada jadi aku nggak perlu dirawat," Mulai menggombal.
__ADS_1
Mahesa mengedipkan matanya ke arah Randu.
Seketika Randu keluar dari ruangan. Mengerti akan sebuah kode dari bosnya.
Mahesa menarik ceruk leher Sabrina dan menciumnya dengan lembut. Mencurahkan kerinduan yang terpendam selama seminggu.
Kena kau!
"Asalkan kamu ada disisiku, aku akan cepat pulih," bisiknya setelah melepas pagutannya.
"Terserah," Tangannya masih sibuk membersihkan tangan Mahesa.
Dasar bandel, kalau kau anak panti sudah aku marahi.
"Randu," teriak Mahesa.
Pria tampan itu kembali masuk, kali ini tak sendirian namun bersama Arum dan Devan yang ada di gendongan Sesil.
"Terima kasih ya, Rum." Tiba tiba saja Sabrina memeluk Arum yang ada di belakang pintu.
Mahesa Mengernyitkan dahinya, merasa aneh dengan tingkah istrinya.
"Sama sama," jawab Arum santai.
Mahesa melambaikan tangannya ke arah Randu.
Pria itu langsung mendekati Mahesa tanpa menunggu waktu lagi.
"Kamu cari tahu, kenapa Sabrina mengucapkan terima kasih pada Arum?" ucapnya pelan.
Randu mengangguk dan mendekati Sabrina yang sedang berbincang.
"Rum, aku mau bicara sebentar."
Randu menggiring Arum keluar, sedangkan Sabrina menghampiri Sesil dan Devan yang ada di sofa.
"Sayang, bawa Devan ke sini!" titah Mahesa dari atas ranjang.
Seketika Sabrina mengambil alih Devan setelah mengucapkan terima kasih pada Sesil.
Sesampainya di dekat Mahesa, sebuah kecupan mendarat di pipi Sabrina dengan lembut.
Wanita itu hanya terpaku dengan tingkah Mahesa yang mulai tak sadar dengan situasi.
Selang beberapa menit, Randu dan Arum masuk ke ruangan.
Randu mendekati Mahesa dan berbisik, sedangkan Arum menghampiri Sesil.
Ternyata sekarang dia Punya mata mata, lucu juga. bagaimana cara Arum mengikuti Randu?
__ADS_1
"Besok kamu bawa berkas ini ke rumah Camelia, aku ingin secepatnya di proses."