Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Malam pertama


__ADS_3

Di kamar hotel yang penuh dengan kelopak mawar itu.


Setelah selesai menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, Arum melepas mukena yang dipakai nya. Begitu juga dengan Randu yang langsung melempar pecinya ke arah meja. Randu  duduk memutar tubuhnya dengan posisi bersila sembari menatap wajah Arum dengan lekat. 


Keduanya saling tukar pandangan saling menelusuri setiap jengkal wajah lawan. 


Randu menangkup kedua pipi Arum lalu mencium keningnya dengan lembut sambil kumat-kamiit. 


Deg deg deg 


Arum mencoba menahan dadanya yang berdegup dengan kencang. Kedua tangannya menggenggam erat baju yang dipakainya. 


Setelah puas mencium kening Arum, Randu beralih mencium hidung istrinya.


Randu tersenyum lalu mencium kedua pipi Arum bergantian. 


"Kalau kamu belum siap, nggak apa apa aku nggak akan maksa," ucap Randu  berbisik. 


"Aku siap," jawab Arum gugup. 


Randu berdiri lalu mengangkat tubuh Arum dan membawanya ke atas ranjang. Randu membaringkan tubuh Arum dengan pelan.


Arum menutup wajahnya saat Randu membuka kancing bajunya bagian atas. 


"Mas mau ngapain? Kenapa harus buka baju?" protes Arum.


Randu mengernyitkan dahinya, menghentikan aktivitasnya dan ikut naik ke atas ranjang mengungkung tubuh Arum yang ada di bawahnya.


"Ya mau itu, kenapa nanya?"


Arum merenggangkan jarinya hingga bisa melihat wajah Randu. 


"Lampunya masih nyala, aku malu," ucap Arum. 


Randu turun dari ranjang dan memencet saklar lampu menggantinya dengan lampu remang remang.


"Seperti ini?"  tanya Randu. 


Arum tak menjawab,  yang ada di dalam otaknya saat ini adalah bagaimana ia melewati malam pertamanya dengan Randu. 


Randu kembali naik ke atas ranjang, yang dilakukan pertama kali adalah membuka baju Arum.


Kini Arum bagaikan patung, ia memilih diam menahan dadanya yang terasa ingin meledak saat Randu memulai aksinya.


Kedua tangan Arum mencengkeram sprei, tiba tiba saja tubuhnya merinding saat bersentuhan langsung dengan tubuh Randu. 


"Apa ini, kenapa rasanya keras sekali,' batin Arum, kedua matanya membulat sempurna saat merasakan sesuatu yang aneh di bawah sana. 

__ADS_1


Dengan polosnya Arum menggerayangi benda yang mencengkal mengenai pahanya. 


Randu tersentak kaget, lalu merenggangkan tubuhnya saat pusaka saktinya merasa tersentuh tangan sang istri. 


"Mas kenapa kamu nggak pakai celana?"


Arum semakin gemetaran, kalau ini bayangan mesum yang melintasi otaknya.


"Celana?" ulang Randu.


Arum mengangguk dengan cepat. 


"Itu mu tegang," menunjuk ke arah bawah. Randu meraih jari Arum lalu  mengecupnya. 


"Gara gara ini dia bangun dan kamu harus bertanggung jawab," 


Alasan.


Padahal Randu  sudah menahan hasratnya dari tadi, tapi ia menyalahkan Arum karena sudah berani memegang senjatanya yang berada di balik sarung. 


Arum menelan ludahnya dengan susah payah, ia tahu seberapa besar dan panjangnya benda yang ia pegang tadi,  ketakutan Arum semakin menjadi mengingat dulu saat Sabrina tak bisa berjalan setelah kejadian malam kelam itu. Keringatnya bercucuran membasahi keningnya, Arum memejamkan matanya, kedua tangannya mencengkram sprei saat Randu terus menyusuri tubuhnya. 


Randu semakin tersenyum licik saat melihat ketakutan Arum. 


"Jangan takut! Aku akan pelan pelan, dan jangan tegang, cukup punyaku saja," ucap Randu dengan suara lirih, berusaha semaksimal mungkin untuk membuat Arum nyaman.


Dengan kelihaiannya Randu berhasil meruntuhkan  pertahanan Arum. Malam yang penuh dengan teka-teki itu terpecahkan, Meskipun pengalaman pertama bagi keduanya, Randu berhasil menjebol gawang  milik istrinya dengan satu kali hentakan. Randu sudah merenggut sebuah mahkota yang dijaga Arum selama ini. 


Randu mengatur nafasnya lalu menggeser tubuhnya dan berbaring di samping Arum, ia menarik selimut hingga menutupi tubuh keduanya. 


Randu memiringkan tubuhnya  lalu satu tangannya memeluk tubuh Arum yang tertutup rapat. 


Sebuah kecupan mendarat di pipi Arum.


"Terima kasih." 


Arum memalingkan wajahnya. Ia masih merasa malu dengan apa yang baru saja terjadi. Apalagi Arum masih merasakan nyeri hebat di bagian pangkal pahanya.


Pantas saja waktu itu Sabrina  kesakitan, ternyata rasanya seperti ini, ucap Arum dalam hati. 


Arum tak bisa melupakan rasa sakit saat senjata Randu menerobos gawang dan itu adalah titik dimana Arum harus ikhlas melepas barang berharganya. 


"Mas, aku haus," ucap Arum seraya memegang  lehernya. Kerongkongannya terasa kering  setelah ritualnya. 


Randu menyambar sarungnya dan kembali memakainya,  pria itu mengambil segelas air putih dari meja sofa.


"Lapar juga gak?"

__ADS_1


Arum menggeleng lalu duduk di tepi ranjang, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Meskipun Randu sudah melihat lekuk tubuhnya dengan keseluruhan, Arum masih merasa malu untuk berpenampilan terbuka saat di depan Randu. 


Arum meneguk segelas air putih itu hingga kandas lalu kembali membaringkan tubuhnya. 


Pyar 


Gelas yang ada di tangan Randu jatuh, pria itu berjongkok saat melihat noda merah mengenai spreinya. Randu menyibak selimut yang di pakai Arum, dan ternyata benar apa yang ia lihat itu adalah noda darah. 


Arum ikut kaget dan membelalakkan matanya. 


"Ini apa, Ning? Kamu terluka?" tanya Randu dengan antusias. 


Tak seperti Randu yang panik,  Arum malah tertawa melihat tingkah lucu suaminya. 


"Kenapa kamu tertawa? Aku serius, sini biar aku lihat."


Arum  menggeleng dan memegang selimutnya dengan erat.


Kalau dikerjain lucu kali ya. 


"Iya mas, pinggangku nyeri," Arum mengelus pinggulnya yang masih tertutup. 


"Kenapa nggak bilang dari tadi, kalau kamu sakit kan kita bisa batalkan malam pertamanya." Randu semakin marah melihat Arum  merengek. 


Randu memeluk tubuh Arum, mendekapnya dengan erat. Mengelus pucuk kepalanya dan mencium keningnya berulang ulang.


'Apa mas Randu benar benar nggak tahu tentang darah itu, darah keperawananku yang ia ambil, ternyata bukan hanya aku yang polos, Mas Randu juga masih belum mengerti sepenuhnya." 


Arum mendongakkan kepalanya menatap wajah Randu, dengan jahilnya Arum membelai rahang kokoh suaminya. 


"Aku panggilkan dokter ya. Aku takut terjadi apa apa sama kamu,'' ucap Randu. 


"Nggak usah, Mas. Aku nggak apa-apa kok, itu hanya luka kecil saja,"


Randu memejamkan matanya. tiba-tiba saja dalam otaknya mengingat cerita Mahesa waktu itu. 


'Malam itu aku benar-benar nggak tahu apa apa, Ndu. Aku nggak sadar, saat aku bangun tiba-tiba Camelia menangis di sampingku, dan dia menunjukkan noda darah yang ada di sprei, dan katanya itu adalah darah keperawanannya.'


Randu menatap wajah Arum yang masih ada di pelukannya. "Hei,  katakan sekali lagi! Ini darah apa?" tanya Randu untuk yang kedua kali. 


"Jangan berbohong!" tegasnya. 


Arum hanya bisa menunduk. Ia tak pandai berbohong, apalagi membual di depan suaminya. 


"Maaf, itu sebenarnya,__


Ucapan Arum  terpotong saat Randu kembali membungkam  bibir Arum dengan bibirnya. 

__ADS_1


"Karena kamu berani membohongiku,  aku minta jatah lagi." 


Tanpa aba-aba Randu melanjutkan ke season dua dan berharap besok pagi Arum lemah diatas ranjang. 


__ADS_2