
Seperti yang diinginkan Raisya, tema ulang tahun yang diusung kali ini adalah Hello kitty, dan mewajibkan semua yang datang memakai baju pink termasuk anak laki-kaki yang diundang, dengan megahnya Sabrina dan Mahesa membuat acara untuk putri sang sahabat. Tak seperti tahun lalu yang masih ditemani bunda Arum. Kali ini hanya ada bunda Sabrina dan Bunda Sesil yang mendampingi.
Di Pojok salah satu ruangan, Devan hanya duduk dengan wajah yang cemberut mengamati setiap tamu yang datang dan beberapa orang yang berlalu lalang dengan tugasnya, menyendiri adalah pilihannya dan sesekali Devan menjewer kemeja yang di pakainya.
"Kenapa harus warna seperti sih, Mbak?" keluh Devan sambil menarik hijab Mbak Inul yang dari tadi menemaninya.
Sudah sepuluh kali Mbak Inul mengatakan alasannya, namun Devan masih saja ngambek dan tak mau menemui tamu yang lain.
Mbak Inul menatap Alfan yang baru saja tiba, dan kebetulan bocah itu juga memakai baju yang sama.
"Lihat! Den Alfan dia juga pakai baju kayak punya Aden."
"Malu lah, Mbak. Cowok gitu loh, nggak keren kalau pakai baju seperti ini." Lagi-lagi Devan mengejek baju yang melekat di tubuhnya.
Sabrina mendekati putra pertamanya dan berjongkok, mensejajarkan tinggi badannya dengan Devan yang duduk di sofa paling ujung.
"Ada apa? Kakak mau apa?" tanya Sabrina dengan lembut.
"Bunda, aku mau ganti baju, aku malu," rengek Devan.
Tak jauh beda dari sang ayah, dari umur tiga tahun putranya itu sudah mewarisi kenarsisan seperti sang ayah, dan dari wajahnya pun sepuluh sebelas.
"Kakak lihat deh, semuanya pakai baju pink, Ayah, Ayah Agung, Ayah Randu, Alfan, tu lihat! Nggak ada yang pakai baju hitam," bujuk Sabrina menunjuk satu persatu tamu laki laki yang hadir.
"Tapi aku malu," Devan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Terpaksa Sabrina memanggil Mahesa untuk membujuk putranya. Hanya kembarannya itu yang mungkin bisa membantunya.
"Ada apa, Bund? tanya Mahesa yang baru saja tiba.
"Ini, anak kamu nggak mau ke acara, katanya mau ganti baju."
"Anak kamu juga," bisik Mahesa seraya menurunkan putri kecilnya.
Sabrina duduk di samping Devan dan terus merengkuhnya. Sedangkan Mahesa berlutut di depan putranya.
"Devan sayang, lihat ini! Ayah tampan, jadi nggak apa apa, lagian ini cuma sebentar, nanti kalau sudah potong kue kakak boleh ganti baju lagi."
__ADS_1
Devan diam, meresapi setiap kata ayahnya.
Dengan bujuk rayu ayahnya akhirnya Devan luluh juga dan mau menemui Raisya.
Suasana semakin ramai. Tamu yang diundang sudah memenuhi ruangan yang tersedia, begitu juga anak anak panti yang tak ketinggalan dalam setiap acara yang diadakan Mahesa.
Beberapa kado dari teman temannya pun sudah semakin menumpuk, namun bukan itu yang membuat Randu resah, melainkan teringat sang istri yang tak bisa berada disampingnya lagi untuk selama-lamanya.
Randu melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata lima menit lagi acara akan dimulai. Ia pun memanggil seluruh keluarga untuk berkumpul.
Didepan kue yang sangat besar itu, ada Raisya dan Devan serta Syakilla dan Alfan, didampingi dengan orang tua masing masing. Bayi David berada di gendongan Sabrina, sedangkan Sesil sibuk menyapa tamu yang masih berdatangan.
Meskipun ada yang kurang, Sabrina mencoba untuk melengkapi kekosongan itu, ia terus menciptakan senyuman bagi Raisya supaya tidak menanyakan bundanya, dan itu berhasil, sampai acara dimulai Raisya sangat tenang.
Setelah melewati berapa acara, kini acara potong kue itu segera dimulai, seperti biasa, Sabrina menghampiri Raisya. Mewakili Arum untuk mendampingi putrinya.
Beberapa pesan yang pernah diucapkan sudah terpahat dalam hati, dan Sabrina tak mungkin lupa dengan janjinya untuk menyayangi Raisya dan David seperti anaknya sendiri.
"Sayang, sebelum potong kue Raisya berdoa dulu, katakan apa yang Raisya inginkan."
Suasana hening, banyak air mata yang luruh, apa lagi kebanyakan yang hadir mengantar anaknya adalah seorang ibu, pasti mereka tahu bagaimana rasanya jika menjadi Raisya saat ini.
"Semoga Bunda masuk surga."
"Aamiin…" semua menjawab dengan serempak.
Randu mengusap air matanya, ia mencoba menjadi yang terhebat saat ini dan tak mau meruntuhkan Raisya karena kerapuhannya.
Meskipun dadanya terasa sesak, Randu tetap menerbitkan senyum menahan rasa gemuruh hebat yang menampar jiwanya.
Masih sama, dan nampak merengut, Devan menundukkan kepalanya, andaikan bisa ia pun ingin berlari dan tidur di kamar daripada harus menghadiri pesta itu.
Dengan bantuan Sabrina, Raisya memotong kue yang ada di depannya, dan yang lebih mengharukan lagi saat Raisya mempersembahkan kue itu untuk ayah tercinta.
Setelah menerimanya, Randu memeluk Raisya dengan erat. Menyalurkan kebahagiaan yang digulung dengan kesedihan.
"Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga Raisya panjang umur dan semakin pintar. Dan semoga doa Raisya dikabulkan Allah."
__ADS_1
Sabrina memeluk Mahesa, masih tak sanggup menyaksikan momen bahagia tanpa sang sahabat. Namun itulah kenyataannya yang harus dihadapi.
Seperti tadi, kini potongan kue yang kedua diberikan untuk Sabrina dan Mahesa, setelah itu Sesil dan Agung, Bu Risma dan Pak Ydui serta Bu Yumna.
Suasana kembali meriah saat Sabrina dan mahesa serta keluarga lainnya berbondong-bondong memberikan kado yang spesial.
Raisya mendekati Randu yang sedang berbincang dengan Agung dan Mahesa, bocah itu menarik pucuk jas sang ayah.
"Ada apa, Sayang?" tanya Randu mengangkat tubuh mungil Raisya.
"Ayah, kok Alvino nggak datang ya,"
"Siapa Alvino?" sahut Mahesa.
Randu lupa bercerita jika kemarin yang punya kue adalah sahabat lama keduanya, karena saat Randu keluar dari toko, Mahesa tidur pulas dan tak mungkin Randu membangunkannya.
"Dia anak Aya, Mas. Ternyata kue kemarin itu punya Aya."
Mahesa mengerutkan alisnya. "Dia sudah menikah? "
Randu mengangguk, "Dia juga sudah punya anak, kemarin Raisya sempat undang sih ke acara ini, tapi dia nggak datang, mungkin dia sibuk."
Bi Mimi datang menghampiri Randu, wanita paruh baya itu mengatakan jika ada seorang kurir ingin bertemu dengannya.
"Maaf, bapak cari saya?" sapa Randu Menemui kurir yang katakan Bi Mimi.
"Ini ada paket, untuk Non Raisya."
Randu menatap sebuah kotak besar yang ada di depannya, lalu membaca tulisan yang tertera.
Benar, alamat yang dituliskan adalah alamat yang ia tempati saat ini. Namun tak ada tulisan si pengirim di sana.
Randu hanya menerima tanpa bertanya, namun ia langsung membuka kotak itu tanpa membawanya masuk.
Ternyata sebuah boneka Hello Kitty yang sangat besar, dan itu sangat disukai Raisya selama ini. Dan sepertinya yang mengirim hadiah itu sudah tahu kesukaan Raisya.
Randu mengambil selembar kertas yang ada di dalamnya lalu membacanya.
__ADS_1
*Selamat ulang tahun Raisya, semoga panjang umur dan sehat selalu, makin cantik dan pintar, maaf Onty tidak bisa datang karena sibuk, Onty hanya bisa memberikan ini untuk Raisya, semoga di lain waktu kita bisa bertemu lagi dengan bunda Arum juga.*
"Ini pasti dari Aya, ternyata dia belum tahu kalau Arum sudah meninggal."