
Mahesa Duduk di depan dokter Agung. Begitu juga dengan Randu yang masih mengekorinya, matanya tertuju pada sebuah amplop putih yang berlogo rumah sakit di atas meja. Satu kata dalam otaknya yang terus diminta yaitu tulisan negatif, hingga tak ada celah untuk memikirkan yang lain.
Ruangan dokter Agung bagaikan pengadilan yang menunggu keputusan hakim. Senyap, Mahesa belum juga menyentuh kertas yang menjadi kunci rahasia Camelia.
"Percayalah, Mas! Apapun hasilnya pasti itu yang terbaik."
Randu mengambil kertas itu lalu merobeknya di bagian atas, merogoh lipatan kertas yang ada di dalamnya.
Dengan penuh Keyakinan akhirnya Mahesa meraihnya dan membukanya perlahan.
Matanya menatap dokter Agung dan Randu bergantian. Resah dan gelisah mulai melanda.
"Bacanya di situ, bukan disini," Agung menunjuk wajahnya yang terlewat tampan.
Mahesa menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar.
"Jangan gemetar, Hes," goda dokter Agung.
Mahesa melirik wajah dokter Agung yang terus mengoceh.
Perlahan Mahesa mulai membacanya dari larikan yang paling atas, tak meninggalkan satu kata pun tulisan yang tertera, wajahnya tampak tegang tak bertepi.
Mahesa memejamkan matanya sejenak dan kembali melanjutkannya lagi.
Randu dan Agung ikut diam seakan merasakan apa yang saat ini menyelimuti Mahesa.
Dan pada akhirnya Mahesa tersenyum lalu terhenyak dari duduknya melayangkan kedua tangannya ke udara dan melempar kertas yang ada di tangannya.
Randu mengambil kertas itu dari atas lantai dan membacanya, tak seperti Mahesa yang secara terperinci, Randu hanya membaca tulisan negatif saja.
Akhirnya aku bisa bernapas dengan lega, aku akan membagikan Sabrina dan Devan, lirih hatinya.
Randu menganggukkan kepalanya lalu merangkul Randu. Menepuk nepuk bahunya.
"Semoga ini adalah jalan menuju kebahagiaan."
Disaat Mahesa dan Randu saling mengungkapkan isi hatinya, Agung justru nampak suram, pria itu memilih menyandarkan punggungnya tanpa ingin memberi selamat pada sahabatnya.
"Kamu kenapa?" tanya Mahesa.
Randu hanya berdecak lalu membuka matanya pelan.
"Kamu bahagia, sedangkan aku? Apa kalian nggak mau bantuin aku supaya laku?" keluh Agung.
"Aku nggak mau jomblo," imbuhnya.
Mahesa menahan tawa, sedangkan Randu menggaruk alisnya yang tidak gatal.
Pasalnya keduanya sama sama jomblo. Lupa, ada Aya yang statusnya menjadi pacar Randu.
__ADS_1
Randu mengulurkan tangannya ke arah Agung.
"Untuk apa?" tanya Agung tanpa ingin menerimanya.
Randu meraih tangan Agung dengan paksa lalu menggenggamnya.
"Selamat menikmati kejombloan yang tiada akhir," ejek Randu langsung bergegas keluar. Takut kena timpukan Agung yang sudah nampak marah.
Dengan mengantongi sebuah bukti Mahesa dan Randu langsung keluar dari rumah sakit.
"Kita ke mana, Mas?" tanya Randu seraya memasang seat belt.
"Ke rumah Camelia, aku harus secepatnya mengambil keputusan, dia sudah membohongiku dan Sabrina. Sampai aku menelantarkan anakku sendiri demi dia.
Randu menatap Mahesa dari pantulan spion.
"Apa Mas akan menceraikannya?"
"Kita lihat saja nanti."
Mahesa masih belum mengatakan iya, perceraian tak semudah saat diucapkan, namun ada banyak hal yang harus di pertimbangakan, apa lagi Camelia baru saja melahirkan.
Sesampainya, Mahesa merapikan jasnya sebelum turun, tak lupa mengantongi amplop yang beberapa waktu lalu membuat hatinya berdebar.
Dengan langkah lebar Mahesa memasuki rumahnya. Banyak memori yang tertinggal terutama kenangan pahit yang disuguhkan untuk istri pertamanya. Dimana awal mula Mahesa menciptakan luka di rumah itu, dan bagaimana dengan rendahnya Mahesa memperlakukan Sabrina saat mengandung Devan, sampai tempat saat Sabrina terjatuh pun Mahesa masih mengingatnya.
Bi Asih mendekat dengan senyuman.
"Aden pulang," sapanya.
"Bibi masih kerja di sini?" tanya Mahesa malu. Pria itu menundukkan kepalanya, masih terngiang bagaimana Camelia memperlakukan Bi Asih dengan tidak hormat. Dan itu atas dukungan darinya.
"Bibi hanya akan keluar jika Aden yang memecat bibi."
Mahesa memeluk Bi Asih, menepuk punggungnya berkali kali.
"Hari ini juga aku memecat Bibi."
Entah harus bagaimana, di satu sisi Bi Asih terlepas dari belenggu Camelia, di sisi lain Bi Asih bingung mau kerja dimana lagi.
"Dan bibi tenang saja, aku sudah menyiapkan pekerjaan untuk bibi," imbuhnya
"Bersama non Sabrina?" celetuk Bi Asih.
Mahesa hanya mengangguk. "Apa yang lain boleh ikut?" cetus Bu Asih.
"Silakan."
"Mas Mahesa," seru suara yang sangat familiar, wanita yang pernah mengisi hatinya hampir lima tahun dan wanita yang pertama kali menelusup dan bersemayam di hatinya, namun perlahan menusuknya.
__ADS_1
Mahesa masuk ke dalam melewati tubuh tua Bi Asih bersama Randu mengikuti bi Asih menuju belakang.
"Mas, akhirnya kamu datang juga," ucap Camelia, mencoba memeluk Mahesa, namun dengan sigap pria itu mencengkal tubuh Camelia sebelum saling bersentuhan.
"Kamu kenapa sih, Mas?"
Dengan tubuhnya yang sedikit lemah pasca operasi, Camelia memilih duduk di ruang tamu. Sedangkan Mahesa tetap mematung di sampingnya.
Mahesa mengepalkan kedua tangannya dan mengeratkan giginya, ingin rasanya meluapkan amarahnya sekencang mungkin, namun semua itu diurungkannya mengingat dirinya harus menjaga emosi.
"Baca ini!" Mengambil amplop dari saku jasnya dan melempar tepat di wajah Camelia.
"Baca dengan teliti!" lanjutnya lagi.
Seperti yang dikatakan Mahesa, Camelia pun membacanya.
Entah sampai pada tulisan apa, akhirnya air mata Camelia luruh membasahi pipinya.
"Jangan bersandiwara lagi," celetuk Mahesa.
Camelia meremas kertas itu hingga tak berbentuk.
"Ini salah, Mas." Masih tak percaya, padahal di dalam kertas itu sudah jelas jika putrinya bukan anak kandung Mahesa.
Mahesa membungkuk menyelaraskan wajahnya dengan wajah Camelia hingga keduanya saling tatap.
"Jangan bersandiwara lagi, selama ini aku tulus mencintai kamu, tapi apa yang kamu lakukan! Kamu sudah menghianatiku," ucap Mahesa pelan namun tegas.
Mahesa kembali berdiri tegap dan memasukkan tangannya ke kantong celana.
"Sekarang aku sudah tahu semuanya, dan sepertinya hubungan kita tidak bisa diteruskan lagi," lanjutnya.
Camelia merosot dan bersimpuh di kaki Mahesa.
"Mas, jangan ceraikan aku, aku tahu aku salah, itu semua karena aku mencintai kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu."
Camelia terisak sembari merangkul kaki Mahesa. Seolah olah itulah gambaran Sabrina dulu, hanya saja berbeda, Sabrina melakukannya dengan perhatian lebih dan patuh, bukan merendahkan dirinya di kaki Mahesa. Namun roda itu berputar, kini Mahesa lah yang mengharapkan cinta dari istrinya.
"Tapi kesalahanmu sudah terlalu fatal. Kamu dalang dari penderitaan Sabrina, dan kamu satu-satunya orang yang membuat keadaan semakin rumit."
"Mas, aku minta maaf, jika perlu aku akan minta maaf pada Sabrina, tapi aku mohon jangan ceraikan aku!" ucap Camelia mengiba.
Mahesa memejamkan matanya, saat ini ia sedang dilema dan tak bisa berpikir jernih. Dari lubuk hatinya yang paling dalam Mahesa ingin mengakhiri hubungannya, namun ia masih dibalut dengan rasa kasihan yang sekelebat melintas.
"Aku akan pikirkan lagi, dan mulai sekarang jangan ganggu Sabrina, dia korban dari keegoisan kita."
Camelia mengangguk mengerti.
"Aku akan lakukan apapun, asalkan kita tidak berpisah."
__ADS_1