Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Baju dinas


__ADS_3

Bukan hanya Randu yang cerdas sebagai asisten. Mahesa lebih cerdas di setiap mengambil keputusan. Malam pengantin Randu dan Arum bertepatan dengan weekend, dan itu atas ulah dirinya, artinya bukan hanya Randu. Mahesa pun bisa menikmati harinya di rumah bersama keluarga. 


Setelah Subuh, Mahesa sengaja kembali ke ranjang sembari menatap Sabrina yang sedang memakai make up. 


"Mas…" panggil Sabrina tanpa menoleh.


Suara itu membuyarkan lamunan Mahesa yang terbang melayang. Jika panggilan itu meluncur Mahesa harus siap dengan permintaan sang istri yang sedikit melenceng.


Sabrina merapikan rambutnya lalu menghampiri Mahesa,  seperti biasa ia duduk di pangkuan suaminya. 


Mahesa menghirup dalam-dalam aroma parfum sang istri, harum hingga menusuk ke dalam jantung. Meletakkan kepalanya di dada Sabrina. Itu adalah tempat yang paling nyaman untuknya. 


"Hari ini aku ingin makan,___


Mahesa memutar bola matanya, dalam hatinya terus berdoa supaya Sabrina tidak meminta makanan yang aneh aneh. 


"Nggak jadi deh," lanjut nya. 


Alhamdulillah


Mahesa mengelus dadanya, seperti terlepas dari jeratan Sabrina yang menyesatkan, apalagi hari ini ia tak mungkin menyuruh Randu yang sedang menghabiskan hari pengantinnya. 


"Mas, aku lihat Devan sebentar ya."  


Sabrina beranjak dari duduknya lalu menyambar hijabnya dan memakainya asal sebelum keluar, begitu juga dengan Mahesa yang mengikutinya dari belakang, rasanya tak afdhol jika tak membuntuti istrinya. 


"Lho…"


Setelah membuka pintu, Sabrina nampak terkejut saat melihat mbak Inul dengan penampilannya yang rapi serta membawa tas. 


"Mbak inul mau ke mana?" tanya Sabrina antusias. 


Mbak Inul tersenyum,  ia lupa jika ada Mahesa dan Sabrina yang belum tahu tujuannya.


"Mau ke rumah Nyonya," jawab mbak Inul dengan ramah.


"Lalu Devan mana?" 


Mbak Inul menyungutkan kepalanya ke arah Bu Risma yang ada di belakang pintu depan. 


"Ibu…"


"Mama…" seru Sabrina dan Mahesa serempak. 

__ADS_1


Mahesa dan Sabrina terkejut dengan sosok wanita yang tersenyum. Mereka menghampiri bu Risma. 


"Kapan Ibu datang? Kenapa aku nggak tahu?"


Sabrina mencium punggung tangan mertuanya lalu memeluknya. 


"Dari tadi,  ibu sengaja nggak bangunin kalian,  ibu mau bawa Devan ke rumah, Ayah yang minta."


"Kenapa harus ke sini sendiri sih, Bu. Kan kita bisa anterin Devan ke rumah."


"Nggak papa, kalian di rumah saja biar mbak inul yang ikut."


Yuhuuu


Hati Mahesa menjerit sempurna, tak tahu lagi bagaimana cara berterima kasih pada sang mama yang  sudah membuka peluang emas untuknya supaya bisa berduaan bersama Sabrina.


Sabrina melambaikan tangannya ke arah Devan. Ini pertama kalinya ia harus berjauhan dari putra nya. 


Mahesa merangkul pundak Sabrina, jantungnya bergoyang goyang kala melirik wajah cemberut istrinya. Setelah mobil bu Risma keluar gerbang, Mahesa mencium pipi Sabrina. 


Apa ini cuma akal-akalan mas Mahesa. 


Aku tidak boleh suudzon, mungkin saja ayah memang kangen sama Devan. 


Mahesa mulai menjalankan misinya, ia  menggandeng tangan Sabrina dan mengajaknya masuk ke rumah.


Tak Ada yang bersuara, hanya dentuman sendok dan piring yang terdengar hening. 


Semenjak hamil, Sabrina  selalu makan yang teratur  dengan beberapa menu yang dianjurkan dokter Meta. 


"Setelah ini pakai baju dinas ya!" pinta Mahesa menyeringai. 


Bau bau pergulatan ranjang semakin tercium tajam. Sabrina menghentikan makannya, matanya beralih menatap Mahesa.


"Ini masih pagi, Mas. Kenapa harus pakai baju dinas?"  protes Sabrina. Permintaan yang menurutnya sangat konyol. Matahari baru saja mengintip dari balik awan, tapi Mahesa sudah manja saja. 


"Baju dinas nggak ada waktu tertentu, Sayang,"  jelas Mahesa, "Pagi, siang, malam, sore, kapanpun boleh kalau aku yang memintanya." 


Skak


Sabrina merasa terpojok. Mahesa selalu menang dan nggak ada alasan baginya untuk menghindar dari kewajibannya. 


Mahesa menghabiskan makannya lalu beranjak dari duduknya menghampiri Bi Asih yang ada di dapur.

__ADS_1


"Bi,  hari ini aku nggak mau bertemu siapapun, nanti kalau ada yang datang, bilang aku tidak ada di rumah," titah Mahesa. 


Bi Asih manggut manggut sembari mengangkat kedua jempolnya. 


Mahesa kembali ke meja makan menatap piring Sabrina yang sudah kosong. 


Tak mau menunggu waktu lagi, Mahesa menggandeng tangan Sabrina menuju kamarnya.


"Mas,  kenapa kita nggak jalan saja, aku mau beli baju." 


Sabrina mencoba merayu Mahesa, berharap pria itu mengurungkan niatnya. Ia bergelayut manja memasang  mimik memelas,  namun itu tak membuat niat Mahesa surut, ia malah tertantang untuk melanjutkan misinya. 


Setelah mengunci pintu kamarnya, Mahesa menghampiri Sabrina yang sudah duduk di tepi ranjang. 


"Nyonya, saya menunggu itikad baik, Anda. Jadi silahkan anda memakai baju dinas, atau terpaksa saya yang akan memakaikannya."


Sabrina berlari ke arah lemari, takut kejadian yang lalu terulang lagi saat Mahesa melucuti bajunya karena tak mau nurut. 


"Mas suka warna apa?" tanya Sabrina basa-basi, mengambil dua lingerie dengan warna hitam dan maroon.


"Yang hitam saja, lebih pas dengan warna kulit kamu."


"Cih, aku sudah tebak," gerutu Sabrina


Sabrina mengembalikan lingerie yang berwarna maroon dan membawa yang berwarna hitam itu ke kamar mandi. Sebenarnya tanpa memakai baju dinas pun Mahesa sudah terhanyut dengan pesona Sabrina, tapi demi menggoda sang istri, Mahesa sengaja menyuruhnya untuk memakainya. 


Beberapa menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka,  Mahesa yang ada di atas ranjang itu menatap Sabrina yang mematung di ambang pintu. Dengan malu malu Sabrina terus menutup bagian dada yang nampak menonjol.


Penampilan yang sangat luar biasa. Kulit putih itu nampak terang menyilaukan mata, perpaduan dengan kain hitam tipis yang hanya sepaha, kedua pundak terekspos, leher jenjangnya nampak dengan jelas,  rambut terurai panjang dan sebuah senyum maanis di pamerkan di depan Mahesa.


Mahesa  terpana, seolah olah Sabrina menghipnotis dirinya. 


"Kenapa, Mas? Apa aku sangat aneh?"  tanya Sabrina menghampiri Mahesa yang masih diam di tempat. 


Mahesa menggeleng pelan lalu beranjak dari duduknya. Menatap manik mata Sabrina. Keduanya berbincang lewat bahasa kalbu, saling menyalurkan isi hati masing-masing dan hanya Tuhan dan mereka berdua yang tahu. 


Mahesa mencium ubun ubun Sabrina, lalu meraih ceruk lehernya, menyatukan bibirnya,  pagi  yang cerah itu menjadi saksi bukti cinta Mahesa untuk Sabrina. 


Perlakuan Mahesa tak perlu diragukan lagi, dalam hitungan sekian menit, mampu membawa Sabrina ke angkasa. Sabrina melingkarkan tangannya di leher Mahesa  menikmati ulah nakal suaminya. 


Baju dinas yang dibelikan Mahesa memang sangat mujarab untuk memancing birahi.


Perlahan Mahesa membawa Sabrina ke atas ranjang, dengan lembut Mahesa kembali mencium istrinya. Tanpa embel embel lagi, Mahesa menjalankan misinya dengan sempurna. 

__ADS_1


Di usia kehamilan yang masih sangat muda, Mahesa melakukannya sangat pelan dan lembut, karena ia tak ingin istri dan bayinya terluka karena ulahnya. 


Berbeda dengan Randu yang statusnya pengantin baru, Mahesa sudah sangat mahir dalam bidangnya. Hingga sering kali membuat Sabrina kelelahan. 


__ADS_2