
Tak hanya Sabrina dan Mahesa yang tersirat bahagia dengan calon anaknya yang kembar. Semburat kebahagiaan juga dirasakan seluruh pembantu yang ada di rumah itu.
Tenggelam dalam sebuah lamunan, sampai Mahesa datang dan menyapa dengan ucapan salam saja Sabrina masih belum sadar. Beberapa bumbu di tangannya jatuh berguguran di atas lantai, bibirnya terus tersenyum dengan tatapannya ke arah jendela dapur.
"Sayang…"
Terpaksa Mahesa berteriak tepat di telinga Sabrina untuk membuyarkannya.
Semua pembantu menyingkir dari sana membiarkan Sabrina dan Mahesa berdua.
Sabrina tersentak kaget, mengelus dadanya, jantungnya hampir copot saat mendengar suara berat suaminya beriringan sesuatu yang kenyal itu menyentuh pipinya.
"Mas, kenapa nggak salam dulu sih?" pekik Sabrina sembari mendorong lengan Mahesa hingga terhempas di tembok.
Sabrina jengkel meninggalkan Mahesa yang malah cekikikan.
Mahesa menyusul Sabrina yang duduk di ruang makan.
"Siapa yang nggak salam, aku sudah ucapin tiga kali," menunjukkan jarinya di depan Sabrina. "Kalau nggak percaya tanya Bi Asih," lanjutnya.
Akhirnya Sabrina menjawabnya meskipun sudah terlambat.
"Kamu mikirin apa sih? Uang belanja nggak mungkin kurang, kan? Uang jajan juga baru aku transfer kemarin, buat beli baju, bedak semua sudah ada tapi kamu melamun saja," heran.
Hampir seharian penuh Sabrina bersama dengan Aida, banyak persamaan diantara keduanya. Dan itu membuat Sabrina semakin yakin jika di antara keduanya ada tali persaudaraan. Hingga ia lupa segalanya.
"Mas, gimana kalau aku dan Aida tes DNA, siapa tahu kami memang kembar yang terpisahkan?"
Mahesa hanya diam seraya membuka ponselnya yang sempat berdering, ternyata Randu yang mengirim pesan kalau ia akan pulang terlambat.
"Ayolah Mas, siapa tahu ada sesuatu yang membuat kami harus terpisah karena masalah ekonomi orang tua, dan mungkin saja saudara ibu atau ayah yang nggak punya anak yang meminta salah satu dari aku dan Aida, dan mereka nggak sempat ngasih tahu kami tentang semua ini."
Apa yang diucapkan Sabrina benar adanya, dan tidak masalah, jika memang benar mungkin itu akan menambah kebahagiaan Sabrina.
"Baiklah, aku akan atur jadwal kalian tes."
"Beneran?"
Mahesa mengangguk lalu berbisik.
__ADS_1
"Apa sih yang enggak buat kamu. Asalkan setiap malam kamu rajin pakai baju dinas, pasti semua permintaanmu akan terkabul." tersenyum nakal.
Sabrina memicingkan bibirnya, bisa-bisanya suaminya bicara seperti itu, padahal tanpa disuruh pun Sabrina sudah tahu tugas sucinya, apalagi malam ini adalah malam jumat, dipastikan ia akan menjalankan tugasnya dengan baik.
Tak hanya berbicara di bibir saja, Mahesa langsung menghubungi seseorang yang akan bersangkutan dengan permintaan Sabrina. Setelah berbicara panjang lebar lewat telepon, Mahesa kembali menatap lekat Sabrina.
"Apa kamu sudah bilang ini sama Aida?" tanya Mahesa.
Sabrina mengangguk, itu adalah rencana keduanya, dan Aida menyetujuinya.
"Kita akan lakukan besok." Sabrina berhamburan memeluk Mahesa.
Hampir saja Mahesa mendaratkan ciuman di bibir Sabrina, tiba-tiba saja suara cempreng menggema di balik ruang belajar. Terpaksa Mahesa mengurungkan niatnya dan akan melanjutkannya nanti saat di kamar.
Usai makan malam, Randu belum pulang juga, anak-anak masih bergelayut manja dengan Mahesa. Sesekali Mahesa membujuk Raisya dan Syakilla untuk tidur, namun mata kedua bocah itu masih bening dan meminta untuk membaca cerita.
Raisya berada di sisi kanan, sedangkan Syakilla di sisi kiri, Mahesa berada di tengah-tengah sembari membawa buku cerita hadiah dari Bu Risma.
"Kalian belum ngantuk?" tanya Mahesa antusias. Keduanya menggelang bersamaan, semua tak sesuai ekspektasi Mahesa, dan harusnya di jam delapan ia dan Sabrina sudah memulai ritual, namun kini ia harus menjadi baby sitter kedua putrinya.
"Ayah, bantuin kerjain PR!" Suara dari ambang pintu ikut semrawut mengganggu Mahesa, sepertinya anak-anak memang tak ingin membiarkan Mahesa bebas malam ini.
"Iya kak, setelah adiknya tidur ya?"
Devan menyandarkan kepalanya di pintu dan menguap, beberapa minggu sekolah Devan sudah bilang bosan dan ingin keluar. Bahkan ia tak bisa tidur jika ada pekerjaan yang harus dikerjakan di rumah. Itu adalah jelmaan Mahesa kecil yang suka malas berangkat sekolah.
"Kakak, kerjain PR nya sama bunda ya, biar ayah sama adik-adik."
"Nggak mau, Bunda istirahat saja! Aku maunya sama ayah."
Sebagai seorang Ibu, hati Sabrina merasa tersentil, meskipun Devan mengatakannya dengan halus, Sabrina tak terima dengan penolakan Devan.
Mahesa mengangkat tangannya sebagai kode menyuruh Sabrina pergi.
"Kakak sini!" Melambaikan tangannya ke arah Devan yang mulai cemberut.
Bukan tak sayang, beberapa kali Mahesa memang mengatakan pada Devan untuk tidak mengganggu Bundanya.
"Kamu istirahat saja! Biar anak-anak aku yang urus. Kita main cantik, nanti gantian kamu yang urus aku," goda Mahesa sambil menaik turunkan alisnya.
__ADS_1
Akan tetapi ini bukan lelucon bagi Sabrina, ia tak terima dengan peraturan yang dibuat suaminya.
"Tapi Mas, kalau seperti ini keterlaluan, aku nggak bisa menyentuh anakku sendiri," keluh Sabrina. Ia sudah tak bisa menahan emosinya yang sudah berada di pucuk ubun-ubun.
"Sepertinya mereka lebih sayang sama kamu dari pada aku," imbuhnya.
Terkadang niat baik pun tidak diterima orang lain, itulah menurut Mahesa. Padahal ia hanya ingin mengurangi beban Sabrina.
"Kakak, ajak Adik adik peluk Bunda!" titah Mahesa dengan tegas.
Devan meraih tangan Raisya dan Syakilla, mereka bertiga menghampiri Sabrina yang ada di dekat pintu.
"Kakak sayang Bunda." Devan merengkuh kaki Sabrina begitu juga dengan Syakilla dan Raisya, keduanya ikut-ikutan seperti yang dilakukan Devan.
Sabrina berjongkok menatap ketiganya bergantian.
"Kalau begitu Kakak belajarnya sama bunda, ya?"
Devan menoleh menatap Mahesa yang masih berada di atas ranjang.
Mengikuti Mahesa, Devan mengangguk pelan.
Tak hanya Devan, kini kedua putrinya juga bersekutu dengan Sabrina dan ikut keluar dari kamar.
Setelah anak-anak pergi, Mahesa mengambil ponselnya menghubungi Randu.
"Kamu lupa kalau ini malam jum'at, Ndu. Kenapa belum pulang juga, kamu ada di mana?" gerutu Mahesa, bahkan ia lupa uluk salam saat Randu menerima teleponnya.
"Iya Mas, aku sudah di jalan. Ini macet banget, ada kecelakaan di depan, jadinya lambat," jawab Randu dari seberang sana.
"Ya sudah, cepat pulang! Hati-hati!"
Tanpa menunggu jawaban, Mahesa menutup teleponnya lalu turun dari ranjang.
Hampir satu jam Mahesa menunggu Randu yang katanya sudah berada di jalan, namun pria itu belum menampakkan batang hidungnya juga. Mahesa semakin resah, apalagi Mata Sabrina semakin menyipit, ini baginya adalah masalah besar, malam yang digadang-gadang dengan ridho sang Ilahi hampir pupus.
"Kamu sudah ngantuk, Ning?" Mahesa membelai pipi sang istri.
Sabrina mengangguk, matanya sudah terasa berat dan ingin terpejam, namun ia harus mendapat izin dari suaminya sebelum tidur.
__ADS_1
"Randu di mana sih, masa iya malam ini harus gagal?" gerutu Mahesa.
Terpaksa Mahesa menghampiri Sabrina dan membantunya membaringkan tubuhnya, "Tidurlah! biar aku yang jaga anak-anak.