
"Aya itu baik ya, Mas. Dia juga cantik, perhatian, jiwa ibu nya besar. Jarang lho, ada perempuan yang peduli dengan anak orang lain, apalagi Mas Randu pernah menolak cintanya. Kebanyakan juga sakit hati melihat sang mantan sudah memiliki anak dari perempuan lain. Tapi mbak Aya tidak, dia sangat menyayangi Raisya dan juga anak kita."
Mahesa dan Randu sudah membuktikannya semalam, tak hanya pada Raisya, Aya juga berhasil menarik perhatian Syakilla dan Devan.
Sabrina melirik ke arah Randu yang sibuk dengan makanannya. Semalam Aya harus berjuang untuk bisa bersabar menghadapi Raisya. Setelah tiba di rumah Mahesa, bocah itu tak langsung melupakannya begitu saja, Raisya meminta Aya untuk menamani nya tidur hingga Ia harus pulang jam sembilan malam.
Randu menjadi pendengar setia, ia diam meresapi setiap inci kalimat yang diucapkan Sabrina. Jika boleh memilih ia pun tak ingin melibatkan sahabatnya, namun bagaimana lagi Raisya terlanjur dekat dengan Aya.
"Sayang sekali, dia harus bercerai dengan suaminya," pungkas Mahesa.
Sabrina meletakkan sendok dan garpunya, kembali mengingat cerita dari Aya yang selalu dikhianati, Sabrina juga merasa kasihan dan ia hanya bisa membantu doa, semoga kedepannya Aya mendapatkan kebaikan yang berlipat ganda setelah berkorban dengan waktu yang terbuang hanya sia-sia selama satu tahun.
"Mas dan Mas Randu mau bantu Mbak Aya?" tanya Sabrina, menatap Randu dan Mahesa bergantian.
Randu mengangguk tanpa suara. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia iklas membantu Aya supaya segera lepas dari laki-laki brengsek seperti Robi.
"Iya, katanya lebih baik dia janda daripada setiap hari makan hati," jawab Sabrina.
Sabrina geram, ia mencengkeram lengan suaminya hingga meringis. "Kalau aku jadi Mbak Aya, aku akan potong burungnya, biar dia nggak bisa ngapa-ngapain. Enak saja menindas perempuan. Kita juga punya harga diri, lebih baik berbagi cinta secara sah dari pada berdosa." Sabrina mempraktikkan memotong dengan gunting di depan Mahesa.
Seketika Randu tersedak saat mendengar ucapan Sabrina, tenggorokannya tersumbat omelet yang baru saja ditelannya, sedangkan Mahesa menyemprotkan minuman yang baru saja di teguknya.
Mahesa meraba sesuatu yang ada di balik celana, membayangkan jika itu sampai disunat lagi, pasti Mahesa akan merana seumur hidupnya. Berbeda dengan Mahesa, Randu merapatkan kedua pahanya. Meskipun saat ini tak punya istri, ia tidak mau menjadi korban kemarahan Sabrina.
Hening, Mahesa dan Randu saling pandang, wajahnya pucat pasi, dalam hatinya ingin tertawa namun juga takut mendengar keganasan istrinya.
"Kalian kenapa?" tanya Sabrina menyelidik, menatap Randu dan Mahesa bergantian. Keduanya menggeleng tanpa suara lalu melanjutkan makannya.
__ADS_1
Hari ini jadwal Sabrina periksa, sebelum berangkat ke kantor, Mahesa sudah berencana untuk ke rumah sakit lebih dulu. Sepenting apapun pekerjaan, baginya keluarga tetap nomor satu.
"Mas, nanti setelah pulang dari rumah sakit aku mau mampir ke toko, mau ambil gelangku yang kemarin putus. Sekalian lihat gelang model terbaru."
Gelang sepertinya sudah menjadi bagian yang di favoritkan Sabrina, dari zaman ke zaman hanya benda itu yang ia minta dari Mahesa.
"Boleh saja, sekalian kenalan sama Aida, pasti kamu juga kaget."
"Aida?" ulang Sabrina.
"Yang kemarin aku bilang mirip kamu."
Sabrina manggut manggut, masih ingat dengan gambar yang memang persis dengan wajahnya.
Hari ini Sabrina memutuskan untuk keluar sendiri meninggalkan anak-anak di rumah bersama pengasuh dan pembantunya, selain kerepotan, ia juga tak mau mengajak salah satu dari mereka, takut yang lain iri.
Setelah dipikirkan semalaman suntuk, Randu sudah yakin akan memulai lembaran baru di rumahnya sendiri bersama anak-anak, ia ingin mandiri dan mencoba menghadapi kenyataan yang terjadi.
"Kamu yakin?" tanya Mahesa serius Meskipun ia tak pernah ragu dengan ucapan Randu, setidaknya Mahesa memastikan dengan pilihan Asistennya.
"Yakin Mas, dan aku siap mengasuh anak anak."
Sabrina menghela nafas, ia tak bisa melarang Randu, namun juga tak mungkin membiarkannya begitu saja. Amanah dari Arum tetap ia jaga, dan Sabrina selalu siap membantu Randu merawat putra putrinya.
"Aku hanya bisa mendukung mas Randu, kapanpun mas Randu mau kesini, pintu rumah ini selalu terbuka."
Hari ini Sabrina dan Mahesa datang ke rumah sakit lebih awal, banyak jadwal penting di kantor, dan Mahesa harus segera datang memenuhi tugasnya.
__ADS_1
Seperti sebelumnya saat hamil, kali ini kandungan Sabrina sudah menginjak bulan ketiga, ia lebih waspada saat melakukan sesuatu yang sedikit berat, takut membahayakan janinnya yang masih bersemayam di dalam perut.
Dokter Meta menyongsong kedatangan Sabrina dengan antusias. Rasanya sangat sejuk jika berada di dekat Sabrina yang menurutnya patut menyandang gelar top diantara istri yang lain, tak pernah mengeluh dengan sikap Mahesa yang selalu menginginkan anak, menurut sang suami jika di jalan yang benar. Selalu berpegang teguh dengan akhlak yang luhur dan tak pernah pilih kasih dalam bergaul.
"Rencana berapa lagi, Mas?" tanya Dokter Meta mulai mengoleskan gel di perut Sabrina.
"Mengandung sembilan bulan itu sangat berat, belum lagi saat trimester, perempuan itu sangat tersiksa, saat melahirkan taruhannya nyawa, dia harus berjuang antara hidup dan mati."
Darah Mahesa berdesir, selama ini bukan itu yang ia pikirkan, yang ia tahu anak banyak akan membuat keluarganya bahagia. Bukan penderitaan Ibu hamil.
Ya Allah, apakah selama ini aku sangat kejam sudah menuntut istriku mempunyai banyak anak, jika benar ini adalah yang terakhir, lirih hati Mahesa.
Wajah Mahesa berubah suram, ia terus mencium kening Sabrina tanpa henti.
"Jangan dengarkan dokter Meta, Itu adalah kewajiban seorang istri, aku sudah siap mengandung anak Mas berapapun itu," jelas Sabrina dengan gamblang.
Melihat perubahan wajah Mahesa, dokter Mata tersenyum menghentikan pencarian letak janinnya lalu menepuk punggung Mahesa yang sedikit membungkuk. Setelah itu kembali fokus dengan alat medisnya.
"Nikmat mana yang kamu dustakan, kehidupan Mas Mahesa sudah dipenuhi dengan kebahagiaan, jika kamu hanya tinggal bersyukur saja. Lihat!"
Dokter Meta menunjuk ke arah monitor, jika kemarin ia masih mamang untuk menunjukkannya, kali ini Dokter Meta sangat yakin dengan apa yang dilihatnya.
"Anak kalian kembar," lanjutnya.
Mahesa melepaskan genggaman tangannya, maju satu langkah untuk melihat dengan seksama. Ia merasa ada di puncak kebahagiaan, Anugerah besar kembali hadir di tengah tengah keluarganya.
Mahesa menitihkan air matanya dan kembali mundur memeluk Sabrina dari samping, ia tak tahu lagi cara berterima kasih pada istrinya yang selalu memberikannya hadiah terindah di sepanjang hidupnya.
__ADS_1
"Itulah hebatnya seorang istri, ia akan mencoba kuat meskipun hatinya rapuh. Jadi muliakan dia, jangan membuatnya menangis, karena setiap tetesan air mata yang jatuh itu tidak akan bisa kamu balas dengan seribu penyesalan," tutur dokter Meta dengan bijak.