
Semenjak kejadian di halaman, Mahesa cenderung diam, suasana panti yang sangat ramai dengan ocehan anak-anak tak bisa menggoyahkan mulutnya yang sudah terkunci. Randu datang menghampiri dan duduk di sampingnya.
"Apa mas yakin mulai besok mau berangkat kerja dari sini?"
Mahesa melirik Sabrina yang baru saja melintasinya.
"Iya," jawab Mahesa singkat.
Sabrina menghentikan langkahnya tepat di belakang Mahesa. Memasang kupingnya untuk bisa mendengar percakapan Mahesa lebih jelas.
"Tapi kan sangat jauh, Mas. memakan waktu yang lama."
Sabrina menundukkan kepalanya, merasa bersalah dengan keadaan yang membelit suaminya.
Mahesa meneguk kopi hitamnya yang hanya tinggal sedikit.
"Sejauh apapun akan aku tempuh demi dekat dengan Istri dan anakku."
Hati Sabrina merasa terenyuh, matanya berkaca, meskipun Mahesa belum bersemayam di hatinya, namun kebaikannya selama ia sadar tak diragukan lagi. Apalagi mendengar pernyataannya tadi, Mahesa rela melakukan apapun demi dirinya dan Devan.
Sabrina melanjutkan langkahnya menuju dapur lalu duduk di sana.
"Kenapa?" Bu Yumna mendekat dan mengelus pundak Sabrina.
"Bu, tolong ceritakan bagaimana aku bisa menikah dengan mas Mahesa. Sedangkan Mas Imran waktu itu melamarku."
Bu Yumna hanya menghela nafas, itu permintaan yang sangat sulit untuk dijabarkan. Apalagi secara detail pasti Sabrina tak akan menerimanya begitu saja.
"Mahesa itu putra tunggalnya Om Yudi," tutur Bu Yumna.
Sabrina mengerutkan alisnya, terkejut dengan ucapan Bu Yumna.
"Om Yudi? Donatur panti disini?" ulang Sabrina.
Bu Yumna menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Sabrina.
"Ibu dan Om Yudi yang menjodohkan kalian."
Sabrina membelalakkan matanya, semakin tak mengerti dengan jalan kehidupannya di masa lalu yang tak ia ingat.
"Itu artinya Om yudi dan Tante Risma mertuaku? Lalu bagaimana dengan mas Imran?"
"Sekarang kamu sudah punya suami, dan tugasmu adalah melayaninya dengan baik. Jaga perasaannya, jangan bicara dengan laki laki lain." Bu Yumna nampak kesal.
Raut wajah Sabrina semakin cemberut, apalagi kejadian tadi disaksikan langsung oleh Mahesa dan Randu, sang asisten.
"Aku harus minta maaf ya, Bu?"
"Hmm… meskipun kamu belum ingat semuanya, Ibu nggak mau kamu melanggar kodrat sebagai seorang istri."
__ADS_1
Lolos sudah air mata Sabrina membasahi pipinya. Sabrina beranjak dari duduknya lalu keluar.
Wanita itu menghampiri Randu yang sibuk bermain dengan anak-anak.
Sedangkan Mahesa tak ada di sana.
"Mas Randu, mas Mahesa mana?" tanya Sabrina.
Randu menunjuk kamar yang tertutup rapat, di mana itu adalah kamarnya.
Sabrina meremas kedua tangannya, kakinya terasa berat untuk melangkah, namun ia tak mau membuat kesalahan lagi dengan membuat Mahesa marah.
Setibanya di ruang tengah, Sabrina berpapasan dengan mbak Inul yang sedang menggendong Devan.
"Mbak, apa aku boleh bertanya?" ucap Sabrina pelan, takut Randu mendengar pembicaraannya.
"Silahkan, Non? Mau tanya apa?"
Sabrina menatap pintu kamarnya lalu menatap Devan yang terlelap.
"Mbak, bagaimana sih sikap Mas Mahesa padaku?"
Mbak Inul tersenyum. Meskipun terbilang baru bekerja di rumah Sabrina dan Mahesa, wanita itu tahu watak Mahesa, yang angkuh namun sangat mencintai istrinya.
"Den Mahesa sangat mencintai Non, sedikitpun dia tidak mau non terluka."
"Itu artinya rumah tangga kami sudah bahagia?"
Sabrina mengelus pipi Devan lalu menciumnya.
"Selamat malam, Dik. Mimpi yang indah ya."
Sabrina membuka kamarnya, pemandangan yang belum pernah ia lihat. Sabrina tersenyum kecil saat menatap Mahesa yang sedang tengkurap di atas ranjang. Terdengar nafasnya yang teratur, itu artinya Mahesa sudah terlelap.
Sabrina melepas sandal yang dipakainya dan menghampiri ranjang.
"Kasihan mas Mahesa, apa selama aku sakit dia yang menemaniku?"
Rasa ragu itu semakin menyeruak saat Sabrina mengingat tingkah konyol Mahesa di mobil.
Apa yang harus aku lakukan?
Sabrina menggigit bibir bawahnya mondar mandir di samping ranjang dan sesekali melirik punggung Mahesa yang tenang.
Apa aku harus tidur di sampingnya? Lagi lagi hanya hatinya yang bicara.
Sabrina memutari ranjang dan melirik wajah Mahesa, ternyata benar orang itu sudah memejamkan matanya.
Sabrina mengambil bantal dan membawanya. Tak lupa menyelimuti tubuh Mahesa sebelum meninggalkan kamar itu.
__ADS_1
Seperti saat masuk, Sabrina menutup pintunya dengan pelan, bahkan nyaris tak bersuara.
"Loh, kamu kok bawa bantal, memangnya mau tidur dimana?" tanya Bu Yumna curiga.
Dari ruang tengah tampak Randu yang mengamati.
Sabrina bingung mau jawab apa, wanita itu menggaruk kepalanya yang masih di balut hijab dengan rapi.
"Dikamar Devan Bu. Kasihan dia," ucap Sabrina seraya cengengesan.
Bu Yumna mendesah lalu menepuk lengan Sabrina. "Devan sudah ada mbak Inul, sedangkan Mahesa, dia sendirian."
Tapi dia kan sudah dewasa. Nyatanya Sabrina hanya bisa mengucap dalam hati.
"Apa kamu tahu, apa yang terjadi saat kamu pingsan selama satu bulan?"
Sabrina menggeleng.
"Dia yang menemami kamu. Sedetik pun dia tidak mau ninggalin kamu, siang malam, Mahesa selalu ada disisimu, dan dia satu-satunya orang yang paling percaya kamu masih hidup disaat Dokter mengatakan kamu sudah meninggal. Dia juga yang paling terluka di antara kami semua, matanya sembab, air matanya sampai mengering berharap kamu cepat bangun. "
Relung hati Sabrina merasa tertusuk, bagaimana bisa ia mengabaikan orang yang berjuang untuknya, meskipun lupa ingatan setidaknya ia tetap setia sebagai istri Mahesa.
"Sekarang masuklah! Temani suamimu."
Sabrina menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku harus lupakan mas Imran, mas Mahesa adalah suamiku, aku tidak mau menyakitinya."
Sabrina membalikkan badannya dan membuka pintu kamarnya.
Dengan perlahan Sabrina meletakkan bantalnya tepat disamping Mahesa.
Aneh, Sabrina merasa itu adalah pertama kalinya ia harus tidur seorang laki laki, apalagi Mahesa tampak sangat asing di matanya.
Sabrina membaringkan tubuhnya, menatap langit-langit kamarnya, kemudian menoleh memandang wajah Mahesa yang nampak sendu. Setiap jengkal wajahnya begitu mirip dengan Devan, dan tak diragukan lagi jika pria yang ada di sampingnya adalah ayah dari bayi mungil yang katanya adalah putranya. Jantungnya loncat loncat tanpa arah, antara gelisah dan gugup, takut jika sesuatu yang tak diinginkan itu terjadi, layaknya suami istri, Sabrina masih enggan kalau Mahesa bangun dan menuntut haknya.
Tidak, Sabrina ingin menjerit dengan kondisinya, namun apa yang dikatakan Bu Yumna harus dipatuhi. Akhirnya Sabrina memantapkan dirinya untuk lebih menerima kenyataan daripada mementingkan egonya.
Mas, maafkan aku, aku butuh waktu untuk mengingat semuanya, aku harap kamu bersabar, lirih hati Sabrina sembari menutup mata.
Tanpa Sabrina sadari tiba-tiba saja ada tangan kekar yang memeluknya dari samping.
Sabrina tersentak kaget, bulu kuduknya kembali merinding kala napas Mahesa menerpa telinganya.
"Mas, kamu belum tidur?" tanya Sabrina gugup.
Ada senyum yang terbit dari sudut bibir pria itu, namun mata Mahesa masih terpejam.
"Sudah, tapi kedatanganmu sangat menggangguku."
__ADS_1
Sebuah ciuman mendarat di kening Sabrina.