
Tiga belas bulan menikah, ujaran dan kebencian, cacian, merendahkan dan olokan Sabrina terima dari suaminya. Dengan sabar wanita itu melewatinya, bahkan sempat berpikir jika Allah tidak adil padanya yang tak pernah mendapatkan kebahagiaan. Dan sejenak kebahagian itu datang namun harus kembali diterjang badai. Ingin rasa mengeluh, percuma, itulah takdir yang tak bisa dihindari.
Semenjak pulang dari restoran, Sabrina cenderung diam, sempat tak perduli dengan tangisan Devan yang terus menggema, ucapan Camelia masih terasa menusuk di hatinya, meracuni pikirannya, menghapus seutas kebaikan yang terselip.
"Sayang, aku pulang."
Suara berat dari balik pintu, ya suara yang sangat familiar yang akhir akhir ini memberinya kebahagiaan menebus deretan luka yang pernah ditorehkan.
"Aku bawa sesuatu untuk kamu."
Masih dengan nada renyah Mahesa meletakkan beberapa barang bawaannya diatas meja. Belum menyadari dengan wajah Sabrina yang mendung.
Randu mengikuti dari belakang, pria itu langsung menangkap keganjilan yang meliputi istri bosnya.
"Kamu kenapa?" Mahesa duduk di samping Sabrina. Merapikan hijabnya yang sedikit melenceng. Mungkin jengkel karena ditinggalkan seharian penuh tanpa pesan, pikirnya.
Tak ada jawaban, yang ada hanya air mata yang disuguhkan. Mahesa semakin tak mengerti dan terus mengusap pipi Sabrina.
"Katakan!" pinta Mahesa mulai serius, membuka dodol rasa susu yang baru dibelinya, berharap Sabrina menyukainya.
Perlahan Sabrina menoleh, wajahnya diam, mulutnya membisu namun menyimpan sejuta makna.
"Mas, aku pulang."
Mahesa hanya mengangguk saat Randu pamit. Hatinya makin suram kala Sabrina tak juga membuka suara.
Ini bukan istrinya, Sabrina selalu menyongsong kedatangannya bukan mengabaikan dirinya seperti ini.
"Mas, aku mau kamu jawab yang jujur."
Mahesa tercengang, namun masih bisa tersenyum tipis. Otaknya belum menyentil tentang kejadian malam itu.
"Aku akan jawab yang jujur."
Masih mencoba bercanda disaat Sabrina sudah meredakan emosinya yang berada puncak ubun-ubun.
"Siapa sebenarnya ayah Devan?"
Satu kotak dodol di tangannya berceceran di lantai, jantung Mahesa berdenyut dengan pertanyaan itu, takut, ragu, gelisah, semua perasaan itu meliputinya seketika, Mahesa sudah terperosok di satu arah yang mengharuskannya untuk membuka tabir yang terpendam.
"Sayang," Sabrina menepis tangan Mahesa yang hampir menyentuh tangannya. Ia merasa tertipu dengan suaminya. Pria yang dianggapnya baik, pria yang selalu hadir dalam lantunan doanya dan diam-diam menyimpan rahasia besar.
"Katakan Mas! Siapa ayah Devan?" ulang Sabrina penuh harap.
"Aku minta maaf."
"Itu bukan jawaban dari pertanyaan ku," teriak Sabrina di sela-sela tangisnya, rasanya tak sabar ingin tahu fakta yang sesungguhnya.
Bi Mimi ikut mendekat, terkejut dengan suara Sabrina, suara emas yang disembunyikan bahkan sedikitpun wanita itu tak pernah semarah itu. Kelembutan seolah bagian dari dirinya namun seketika ludes berganti dengan amarah.
Mahesa berlutut di depan Sabrina, wajahnya menunduk menatap kedua tangan Sabrina yang mengepal, demi apapun pria itu sangat menyesal dengan perbuatannya.
"Aku adalah ayah Devan."
__ADS_1
Tangis Sabrina pecah, pertahanan yang di bangun selama menikah hancur, luluh lantah dengan pengakuan Mahesa, tinggal puing puing yang menyisakan luka. Goresan tak berdarah mampu menghentikan kinerja organ tubuhnya seketika.
Sabrina semakin terisak, itu adalah mimpi buruk, ya Sabrina masih mengartikannya seperti itu saat menatap wajah Mahesa.
"Aku ingin bangun dari mimpi ini, Mas."
Mahesa tak sanggup lagi, matanya terus berkaca saat melihat air mata istrinya yang tumpah ruah. Hancur, kecewa, pasti itu yang mengendap, menumpuk dalam dada.
"Maafkan aku."
Mahesa menggenggam kedua tangan Sabrina dan menciumnya.
"Aku akan jelaskan semuanya," imbuhnya. Bibir Mahesa bergetar menahan gejolak di relung hatinya.
"Cukup! Kamu menyakitiku berbulan bulan aku terima, kamu menghinaku merendahkanku dan jijik padaku aku terima, tapi maaf," suara Sabrina mulai melemah, "Untuk saat ini aku tidak bisa, kesalahanmu sangat fatal."
Mahesa merasa tertusuk dengan ucapan sabrina, apapun yang terjadi semua adalah salahnya.
"Aku bisa jelaskan!"
Mahesa terus memohon.
Sabrina mengusap air matanya dan mengangkat tangannya, menyingkirkan tangan Mahesa dan beranjak dari duduknya.
"Aku ingin sendiri."
Melewati Mahesa yang masih posisi berlutut.
Mahesa yang berada di ruang keluarga menoleh saat melihat punggung istrinya berlalu. Kakinya bergerak mengejar sang istri.
"Jangan pergi!"
Mahesa melingkarkan kedua tangannya di perut Sabrina, hatinya ikut nyeri saat melihat kesedihan Sabrina. Dihalaman yang luas itu senja menyorot dengan sinar jingganya ke arah kedua insan yang bergelut dengan hati masing-masing.
Sedikitpun Sabrina tak berkutik membiarkan tangan Mahesa mendekapnya meskipun hatinya hancur lebur, apa yang ia lakukan, pintu maafnya sedikit tertutup seperti ucapannya waktu itu.
"Lepaskan aku, Mas!" suaranya begitu lembut namun tajam.
"Nggak!"
Mahesa semakin mengeratkan pelukannya, sedikitpun tak ingin Sabrina terlepas darinya.
Sabrina mencoba untuk menerima, namun hatinya sudah terlanjur memar.
"Biarkan aku sendiri. Aku butuh waktu untuk menerima semua ini."
"Tapi janji, jangan tinggalkan aku."
Perlahan Mahesa melepaskan tubuh mungil istrinya membiarkan melangkah melewati gerbang rumahnya.
"Den, kejar Non sabrina, kasihan, bibi takut terjadi sesuatu pikirannya lagi kacau."
Bi Mimi menggoyang goyangkan lengan Mahesa.
__ADS_1
Bi Mimi Menaikkan sarungnya berlari menuju gerbang menatap punggung Sabrina yang mulai menjauh, panik yang luar biasa, Mahesa tersadar dari lamunannya dan ikut berlari.
"Sabrina Salsabila," teriak Mahesa dari arah gerbang.
Wanita yang memakai baju gamis berwarna hijau botol dengan hijab yang senada itu tak menghentikan langkahnya bahkan seakan berjalan tanpa arah.
Beberapa meter keduanya dipisahkan jarak, Mahesa kembali melanjutkan langkahnya mengejar Sabrina yang mulai menginjakkan kakinya di tengah jalan.
Tanpa sadar ada sebuah motor melaju dari arah berlawanan, bel motor berkali kali berbunyi namun telinga Sabrina seakan tuli, ia terus melangkah hingga sampai berada di pertengahan jalan.
Braaakkk
Sebuah hantaman tak bisa dihindari, motor yang menabrak tubuh Sabrina terperosok ke arah ruas jalan bersamaan dengan tubuh Sabrina yang terpental.
"Sabrina…"
Teriak Mahesa, tubuhnya kaku saat menyaksikan tubuh istrinya tergeletak tanpa hijab.
Mahesa berlari sekencang mungkin menghampiri istrinya. Begitupun dengan warga yang melintas, mereka ikut panik melihat keadaan Sabrina.
"Sabrina, sayang, aku minta maaf."
Mahesa mengangkat kepala Sabrina dan membawa ke pangkuannya. Rambutnya terurai tak karuan, cairan merah mengalir dengan derasnya.
Tangan Mahesa bergetar hebat antara takut dan panik.
"Mas, jilbabku." Ucap Sabrina tersendat.
Mahesa menatap kain tipis yang terbang melayang, dan tak mungkin ia menggapainya meninggalkan istrinya yang tak berdaya, lalu menatap sekelilingnya, namun di antara mereka tak ada yang membawa kain untuk gantinya, akhirnya pria itu melepas kemejanya dan memakaikan di kepala Sabrina menutup auratnya dengan rapat.
"Sayang, aku akan bawa kamu ke rumah sakit."
"Pakai mobil saya."
Salah seorang menawarkan bantuan.
Tak peduli dengan dirinya yang bertelanjang dada Mahesa terus mendekap kepala Sabrina yang dipenuhi dengan darah. Mengangkat tubuh istrinya dan membawanya masuk kedalam mobil terdekat.
Sabrina mengangkat tangannya mengelus rahang kokoh suaminya. Begitu juga dengan Mahesa yang menciumi wajah Sabrina. Sedikitpun tak memberi celah wanita itu untuk tenang.
"Ja---ga De---van untukku."
"Jangan banyak bicara! Tanpa kamu minta aku akan tetap menjaga anak kita. Aku Mencintaimu," ungkapnya dari hari yang paling dalam.
Sabrina tersenyum menahan napas yang mulai terasa lemah. Bibirnya sudah keluh dan tak sanggup menimpali ucapan suaminya.
Perlahan Sabrina melepas genggaman tangan Mahesa dan menutup matanya. Seakan wanita itu terhanyut dan ingin tertidur.
"Sayang…"
Mahesa mengelus pipi Sabrina, "Buka mata kamu!" Mulai panik saat mata Sabrina terpejam sempurna.
"Sayang bangun!" Tangis Mahesa pecah kala Sabrina tak merespon ucapannya lagi.
__ADS_1