Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Pengakuan


__ADS_3

Aira mata Sabrina tak bisa dibendung lagi,  wanita itu menumpahkannya di dada Mahesa. Baginya malam itu adalah malam yang paling buruk yang pernah ia lewati seumur hidupnya. 


"Bagaimana kamu tahu kalau dia sudah,__ Mahesa menjeda ucapannya.


"Ketika aku bangun, aku sudah berada di sebuah gudang, kepalaku masih sangat terasa pusing, bahkan badanku saat itu terasa remuk. Aku tidak melihat siapapun disana, bajuku masih utuh, begitupun dengan hijabku. Aku pikir orang itu hanya mengambil uangku saja, tapi,__


Tangis Sabrina kembali pecah dan lebih histeris, wanita itu tak sanggup untuk melanjutkan ceritanya, namun demi suaminya, Sabrina berusaha untuk menahan kesedihannya. 


"Tapi saat aku mau berdiri, tiba tiba saja aku merasakan sakit yang luar biasa, disaat itulah aku tahu jika kehormatanku sudah direnggut dengan paksa, bahkan aku tidak tahu bagaimana laki-laki itu bisa melakukannya."


"Sssstttt… Kamu yang tenang, jangan cerita lagi, sekarang aku paham." Mahesa menepuk-nepuk bahu Sabrina, menenangkannya untuk lebih sabar.


Mahesa merasa tersentuh saat mendengar cerita Sabrina yang jauh dari ekspektasinya. Mata Mahesa ikut berkaca dan berkali-kali mencium pucuk kepala Sabrina yang berbalut hijab. 


"Maafkan aku, selama ini aku tidak pernah ingin tahu masalah kamu yang begitu menyakitkan. Aku hanya memikirkan egoku saja."


Sabrina menggeleng dan mendaratkan jarinya di bibir Mahesa. 


Mahesa menatap bayi mungil yang masih ada di pangkuannya lalu menatap Sabrina. 


"Seandainya kamu dipertemukan dengan ayah Devan, apa yang ingin kamu lakukan?"


Tatapan Sabrina berubah drastis, wanita itu nampak memendam amarah yang menggebu. 


"Aku tidak akan memaafkan dia," menatap wajah Devan. 


"Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan dia," ulang Sabrina untuk yang kedua kali. 


"Itu artinya kamu juga masih belum menerima kehadiran Devan?"  sahut Mahesa seketika.


Sabrina menggeleng.


"Beda Mas, Devan titipan Allah, tapi laki-laki itu,  manusia yang tak beradab, dia sudah tega menodaiku disaat aku tak sadarkan diri, coba mas yang ada di posisiku, apa mas masih terima," Seru Sabrina dengan lantang. 


Mahesa meraih tengkuk leher Sabrina dan mencium keningnya. 


"Jangan menangis lagi, lupakan masa lalu, dan anggap saja ini adalah awal hidup kita, ada Mahesa, Sabrina dan Devan. Keluarga kecil yang harus bahagia." 


Hampir satu jam menangis. Sabrina kembali menerbitkan senyumnya kala Mahesa terus menciumnya tanpa ampun. 


Akhirnya Mas Mahesa mau menerimaku dan Devan, semoga keluarga kami selalu diberi perlindungan,  meskipun aku harus berbagi cinta dengan orang lain, aku ikhlas asalkan Engkau meridhoi suamiku. 


Tak ada yang indah selain pagi itu,  Sabrina terus menyandarkan kepalanya di pundak Mahesa. 


"Non,  ini susunya," Bi Mimi menghampiri, selain membawa susu, wanita paruh baya itu pun sekalian membawakan sarapan untuk keduanya. 


Sabrina menopang dagunya dengan satu tangannya, jika biasanya ia selalu meneguk minuman putih itu hingga kandas, tidak untuk saat ini yang merasa enggan. 

__ADS_1


"Kenapa nggak diminum?" tanya Mahesa  


"Mas,  kayaknya mulai hari ini aku nggak usah minum susu."


Mahesa mengerutkan alisnya, heran.


"Kenapa? Apa kamu nggak suka rasanya? Nanti biar aku belikan yang berbagai varian."


Sabrina beranjak dari duduknya dan mematung tepat di depan suaminya. 


"Bajuku nggak ada yang muat."


Mahesa menatap penampilan Sabrina dari atas hingga kebawah lalu menatap kedua pipinya yang sangat gembul bak roti,  hidungnya sedikit tenggelam dan bibirnya yang merah itu nampak manyun. 


"Nanti bisa beli lagi."


"Bukan itu?"


"Lalu?" Mahesa pura-pura bodoh. 


"Kalau aku terlalu gendut. Apa mas masih mau sama aku?" ucapnya pelan seraya menundukkan kepalanya. 


Mahesa menepuk tempat yang kosong di sampingnya.


Setelah Sabrina duduk kembali, Mahesa mendekatkan bibirnya di telinga Sabrina. 


"Ada masanya kamu harus langsing, tapi untuk sekarang nggak bisa Sayang,  kamu harus pikirkan Devan, mau segede apapun badan kamu, aku sudah terlanjur mencintaimu, jadi jangan khawatir aku akan ke lain hati," ucap Mahesa berbisik.


"Ada apa, Bi?"  tanya Mahesa malas.


Sabrina terus mengelus pipi Mahesa untuk tetap sabar dalam keadaan apapun. 


"Ada tamu, Den," jawab Bi Mimi. 


"Siapa?" timpal Sabrina. 


"Dokter Agung."


Ngapain dia kesini? batin Mahesa jengkel. 


"Bagaimana ini, Mas?" Sabrina tampak panik dan mengambil Devan dari gendongan Mahesa. 


"Mas, kamu harus sembunyi!"


Sabrina menarik tangan Mahesa yang belum juga beranjak. 


"Kenapa harus sembunyi? Pernikahan kita sah di mata agama dan negara,  dan ini saatnya untuk menunjukkan kalau kamu adalah istriku."

__ADS_1


Sabrina termangu, dadanya tersiram bongkahan air dingin yang membuat sekujur tubuhnya terasa sejuk. 


"Kita temui Agung sama-sama." 


Keduanya berjalan bersejajar dan masuk ke dalam rumah. 


Ehemm 


Deheman Mahesa membuyarkan dokter Agung yang sibuk dengan ponselnya. Pria itu terkejut saat menatap Mahesa yang sedang  berada di samping Sabrina dengan tangan melingkar di pinggang sang istri. 


"Mahesa, Sabrina!" serunya dengan lantang. 


"Kenapa kamu kaget seperti itu?" tanya Mahesa.


Sabrina membawa Devan yang sudah terlelap itu ke kamar sebelum menemui Dokter Agung. 


"Kalian,__


Aaiiissh,  mulut dokter Agung tiba tiba saja terkunci saat Sabrina mendekati Mahesa dan duduk di sampingnya.


"Sabrina adalah istriku,  tepatnya istri pertamaku, kami menikah hampir setahun yang lalu," jelas Mahesa. 


"Gila, kenapa kamu nggak bilang?" ujar dokter Agung menyalahkan Mahesa yang terus menutupinya. 


"Kejutan, karena sekarang kamu sudah tahu,  jadi jangan  puji puji lagi,  aku cemburu," tegas Mahesa. 


Ucapan Mahesa bagaikan sebuah mimpi di pagi hari, ia tak percaya dengan kenyataan bahwa wanita yang di dambakannya adalah milik sahabatnya. 


"Assalamualaikum…." sapa seseorang dari balik pintu utama. 


Sabrina dan yang lain menjawab serempak, ternyata Sesil yang baru datang.


Sesil yang masih malu-malu itu langsung ke kamarnya setelah menyapa ketiganya.


Setidaknya masih ada sahabatnya. Melirik ke arah punggung Sesil yang berlalu. 


"Apa yang kamu bawa?" Mahesa menyungutkan kepalanya ke arah paper bag yang ada di bawah kaki dokter Agung. 


Dokter Agung ikut menilik ke bawah lalu menatap Sabrina yang hanya tersenyum simpul. 


"Ini untuk bundanya Devan. Kemarin pas keluar kota aku membelinya khusus untuk dia," Tanpa rasa sungkan Dokter Agung menyodorkan oleh-oleh yang dibawanya tepat di depan Sabrina. 


Wanita itu hanya diam lalu menatap Mahesa yang nampak merengut. 


"Ambil saja! Tidak apa apa."


"Terima kasih, Dok." 

__ADS_1


Sabrina hanya meletakkan di sampingnya tanpa ingin membuka, hatinya sedikit gelisah melihat wajah Mahesa yang tak bersahabat. 


Inikah rasanya cemburu,  kenapa hatiku sakit saat istriku diperhatikan orang lain,  padahal dulu ini yang aku harapkan, tapi sekarang aku tidak bisa menerimanya. Sabrina adalah milikku, dan tidak ada laki laki manapun yang boleh mendekatinya, apalagi memilikinya. 


__ADS_2