Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Bendera perang


__ADS_3

Kerja keras Randu dan Mahesa tak sia-sia, hari ini sidang perceraian Aya berjalan dengan mulus, dan sudah di pastikan bulan depan ia sudah resmi menjadi janda. Jika kebanyakan wanita sangat suram dengan status itu,  tidak dengan Aya yang merasa bangga bisa lepas dari jeratan manusia terkutuk macam Robi. 


Cih 


Robi berdecih, keduanya berpapasan di tempat parkir mobil. 


"Ternyata kamu sudah punya simpanan?  Pantas saja sekarang tidak tinggal di rumah," celetuk Robi.


Darimana dia tahu kalau sudah pindah, apa mungkin ia datang ke rumahku,  ucap Aya dalam hati. 


Hampir saja Randu melayangkan sebuah pukulan,  namun Aya lebih cepat meraihnya dan membuka kepalan tangan Randu. 


"Terima kasih karena kamu hadir hanya mengubah statusku." Aya menautkan jemarinya dengan jemari Randu lalu mengangkatnya.


"Apa salahnya kalau dia simpananku, seperti kamu yang selalu selingkuh di belakangku, kamu pikir hanya laki-laki yang bisa main serong, perempuan pun bisa," ucap Aya diiringi dengan senyum ejek. 


Mahesa yang ada di balik mobil hanya bisa tersenyum melihat tingkah Aya. Ia kagum dengan sikapnya yang tak mau terlihat lemah.


Aya merasa lega, akhirnya ia bisa membalas perbuatan Robi selama ini, meskipun hanya berbohong setidaknya ia puas dengan apa yang dilakukannya.


Setelah Robi pergi meninggalkan tempat itu dengan wajah yang berapi-api,  Aya melepaskan tangan Randu. "Aku minta maaf," ucap Aya lirih.


"Nggak apa-apa," jawab Randu seraya membukakan pintu mobil untuk Aya. 


Berkali-kali Mahesa mengangkat kedua jempolnya ke arah Aya yang duduk di depan, di samping Randu yang sedang menyetir. Dari lubuk hati yang terdalam, Mahesa salut dengan kepribadian Aya yang pemberani. Dengan begitu artinya Aya tak bisa melindungi dirinya sendiri,  namun juga orang-orang yang ada di dekatnya. 


Setelah mengantarkan Aya pulang ke rumah,  Randu dan Mahesa balik lagi ke kantor. 


Di rumah itu sangat ramai, hari ini Bu Yumna datang bersama beberapa anak Panti. Sayang sekali Mahesa tak bisa di rumah karena ada tamu yang sangat penting di kantor. 


"Mbak Aya sudah datang," sapa Sabrina saat Aya baru saja masuk. 


"Bagaimana sidangnya, Mbak?" 


"Alhamdulillah, semuanya sudah beres," jawab Aya dari jauh. 


Aya mengedarkan pandangannya, menatap beberapa anak panti dan juga Raisya yang sedang duduk menyendiri. Aya mendekatinya lalu mengangkat tubuhnya .


"Isya kenapa?" tanya Aya. 


Tak menjawab, Raisya menunjuk Devan yang sedang bercakap dengan Alissa, bocah panti yang waktu itu hampir Sabrina adopsi. 

__ADS_1


"Kenapa dengan kak Devan?" tanya Aya. 


"Aku nggak ditemenin," jawab Raisya sedikit merengek. 


Aya hanya mengulas senyum membawa Raisya ikut bersamanya.


"Bukan hanya orang dewasa, anak-anak pun bisa cemburu,'' gumamnya.


Suasana rumah sangat gemuruh,  anak-anak panti sibuk dengan mainannya, sedangkan Sabrina berada di ruang tamu bersama Aida dan Bu Yumna. Aya ikut di sana, seperti rencananya, saat ini ia memulai misinya sebagai mata mata. 


Aya duduk di samping Sabrina, tepat di depan Bu Yumna yang berjejer dengan Aida, sesekali mata mereka bertemu, dan saling bertukar pandangan.


"Ini yang namanya Aya?" sapa Bu Yumna. 


"Iya, Bu." Aya berjabat tangan dengan Bu Yumna sejenak lalu kembali duduk dengan memangku Raisya. 


Seperti yang di katakan lewat sambungan telepon, Sabrina ingin sebuah penjelasan dari Bu Yumna tentang dirinya dan juga orang tuanya. 


Bu Yumna membisu masih mengingat ingat kejadian puluhan tahun silam.


"Ibu nggak terlalu paham dengan keluarga kamu, Bi. Tapi ibu tahu yang membawa kamu ke panti ibu bibi kamu yang bernana Tijah. 


Sabrina menatap wajah saudara kembarnya lalu kembali menatap bu Yumna. 


"Sekarang aku yakin, kalau Ibu kandung kita adalah Bu Nurul," Ibu yang merawat Sabrina dari bayi. "nggak akan ada seorang ibu kandung tega membiarkan anaknya hidup di panti, sementara ia masih hidup."


Sabrina kembali menitihkan air mata, bukan karena kisah hidupnya yang tragis, akan tetapi teringat dengan almarhum ibunya yang sakit-sakitan dan akhirnya meninggalkannya untuk selama-lamanya. 


"Kamu yang sabar ya, Bi. Lupakan masa lalu, sekarang kamu sudah bahagia,  ada anak-anak dan suami yang sangat mencintai kamu," ujar Aya.


Sabrina menyeka air matanya, malu dengan Aya selalu menghadapi masalahnya dengan senyuman. 


"Aku permisi dulu, mau ke belakang." 


Berbeda dengan Sabrina dan Bu Yumna yang fokus dengan obrolannya, Aya menatap punggung Aida yang berhenti di ruang tengah. 


"Bi, aku permisi dulu, titip Raisya sebentar." 


Aya melewati anak anak yang sedang bermain,  matanya masih tertuju pada Aida yang mulai berjalan menuju kamar mandi belakang. Aya meraih pigura kosong yang berada di antara foto Sabrina dan mahesa. 


"Apa Aida mengambil foto yang ada di sini,  kalau benar, photo siapa yang dia ambil? Sabrina atau Mahesa."

__ADS_1


Saking penasarannya Aya mengikuti Aida dari belakang. 


Sepi,  tak ada satu orang pun di sana selain bi Asih yang ada di ruang makan. 


"Bibi lihat Aida?" tanya Aya. 


Bi Asih menunjuk kamar mandi yang tertutup rapat. 


Aya mematung di depan pintu kamar mandi. Tak ada suara gemericik air, namun ia Mendengar suara Aida yang sedang berbicara, entah itu sendiri atau dengan ponsel,  yang pastinya tak begitu jelas di telinganya. 


 "Kenapa harus ngumpet segala, kalau di depanku kan aku bisa jawab," getutu Aya dalam hati. 


Bolak balik Aya melihat jam yang melingkar di tangannya, hampir lima belas menit ia menunggu, masih belum ada tanda-tanda Aida keluar. Akhirnya Aya memainkan ponselnya dari pada jenuh. 


Baru saja membuka sosmed, Aya mendongak saat pintu kamar mandi terbuka. 


Aya beranjak mendekati Aida sembari memegang perutnya. Alih alih mules. 


"Aku masuk dulu ya, perut aku nggak enak. Mungkin salah makan?"


Aida tersenyum kecil dan mempersilahkan Aya masuk ke dalam. 


Ada ada saja. 


Setelah masuk,  Aya mengunci pintunya, tempat yang ia tuju pertama kali adalah tong sampah yang ternyata kosong, hanya ada bungkus sabun dan pasta gigi di tempat itu. 


"Apa mungkin aku yang selalu suudzon sama dia ya, mungkin saja pigura itu memang kosong."


Aya berdecak, meskipun ia mulai curiga, Aya tak mau berlebihan dan mencoba berpikir positif tentang Aida. 


Akhirnya Aya mencuci muka dan tangannya.


"Semoga dia tak seburuk yang Mahesa kira."


Baru saja selangkah mendekati pintu,  Aya melihat  beberapa kertas yang tercecer di bawah, tepat di samping toilet. 


"Apa ini?" Satu persatu Aya memungutnya dan membentuknya jadi satu. 


Meskipun tak lengkap,  Aya sudah bisa menebak jika yang ia temukan adalah robekan foto Sabrina.


"Kamu masih terlalu bodoh berhadapan denganku." Aya membersihkan sisa kertas itu dan membuangnya di toilet, menghilangkan jejak Aida yang sudah berani memasang bendera perang. 

__ADS_1


__ADS_2