
Sial, mungkin itu kata yang pantas untuk Arum dan Sesil. Niat ingin menikmati hari liburnya bersama Sabrina kandas saat musibah yang tak terduga datang tiba-tiba. Motor yang ditumpangi mereka mogok. Dan yang lebih parah harus jauh dari pemukiman warga.
Dedaunan yang jatuh diterpa angin pun ikut tertawa melihat keduanya yang hanya bisa meratapi nasibnya di bawah pohon beringin di tepi jalan. Arum hanya bisa tersenyum getir.
"Nasib kalau jadi orang miskin begini amat," gerutu Arum.
Gadis itu terus melempari motor maticnya dengan batu kerikil.
Sesil hanya menahan tawa dan sesekali menatap layar ponselnya. Hari sudah semakin siang, dipastikan janjinya dengan Sabrina sudah batal, tamparan matahari sudah mulai menyengat menembus pori-pori. Namun Sesil dan Arum belum juga mendapat jalan keluar supaya terbebas.
"Gimana ini, Sil? Masih jauh lagi, rasanya kakiku sudah nggak kuat jalan."
Arum berdecak, memijit kakinya yang terasa kaku.
"Kalau aku tahu bakalan kayak gini, mendingan tidur di rumah," timpal Sesil yang tak kalah jengkelnya.
Arum terus mengibas ngibaskan tangannya, rasa panas semakin menyeruk, apalagi hijab yang dipakainya terlalu lebar membuat kepalanya terasa engap.
"Rum,"
Sesil menepuk punggungnya.
"Apa?"
Sesil terus mengedarkan pandangannya ke arah belakang.
"Ternyata di belakang tembok ini makam. Kenapa aku baru sadar?"
Sesil beranjak dari duduknya mendekati sebuah tulisan yang terpampang di samping pintu masuk.
Arum hanya mengernyitkan dahinya, ia tak peduli, yang mondar-mandir dalam otaknya saat ini bagaimana cara ia bisa membawa motornya ke bengkel dengan cepat.
"Kita pergi dari sini yuk!"
Sesil memegang kedua setir motor nya.
"Kamu kenapa? Takut?"
Sesil menghela napas panjang lalu menoleh.
"Bukan, pamali."
Terpaksa Arum ikut terhenyak dan kembali mendorong kuda besinya.
"Stop!" seru Arum kala melihat sebuah mobil mewah yang sangat familiar berhenti di depan pintu makam.
"Itu kayak mobil pak Randu."
Sesil dan Arum menghentikan langkahnya, matanya terus tertuju pada mobil yang berhenti beberapa meter darinya.
Benar dugaan Arum, Randu yang berpakaian sangat rapi dan serba putih itu keluar dari mobilnya. Pria itu membawa keranjang bunga dan menghampiri pria tua yang membawa sapu, nampak dengan jelas Randu memberikan beberapa uang sebelum masuk ke makam.
"Kira-kira Pak Randu mau mengunjungi makam siapa ya?"
__ADS_1
Arum hanya mengangkat kedua bahunya, karena ia pun tak tahu jati diri dari bosnya yang sangat tertutup di depan karyawannya.
"Kita lihat yuk!" Sesil merasa penasaran dan kembali menuntun motornya lalu memarkirkannya di belakang mobil Randu.
Sesil dan Arum mengintip di balik gerbang, di tatapnya punggung Randu yang terus melangkah ke arah tengah makam.
Hingga tiba pada sebuah makam yang ada di tengah, Randu berjongkok dan menaburkan bunga.
Sesil dan Arum saling tatap lalu kembali fokus pada Randu dari kejauhan.
"Mungkin makam orang tuanya."
"Hmmm," jawab Sesil.
Beberapa tahun sudah Randu hanya bisa meluapkan rasa rindunya lewat sebuah doa, berbagi keluh kesah di samping gundukan tanah tersebut, hingga ia selalu curhat dengan sang ibu saat dirinya sedang kacau.
"Sekarang aku belum bisa memenuhi keinginan Ibu, tapi aku berjanji tahun depan aku akan memberikan apa yang Ibu minta," ucap Randu dengan mata berkaca.
Setelah puas curhat, mengatakan isi hatinya, Randu nampak menengadahkan tangannya. Setelah selesai, Randu beralih ke makam yang ada di sampingnya, seperti yang di lakukan tadi, pria itu menabur bunga lalu berdoa.
Setelah Randu memalingkan tubuhnya dari makam, Sesil dan Arum menggeser tubuhnya hingga tak nampak.
"Kita sembunyi di mana nih?"
Keduanya bingung dan celingukan mencari tempat yang mana.
Gila, Arum bagaikan maling yang hampir tertangkap basah, menakutkan.
"Di situ saja."
"Semoga pak Randu nggak lihat kita, bisa kacau," ucap Arum berbisik.
Arum memilih membenamkan wajahnya di punggung Sesil saat Randu menghampiri mobilnya, keduanya tampak aman. Buktinya Randu langsung masuk ke dalam mobil dan melaju.
"Alhamdulillah…"
Sesil menepuk nepuk dadanya, rasanya sangat lega saat mobil Randu sudah sampai di ujung jalan.
Sesil dan Arum kembali menghampiri motornya.
"Pak," sapa Arum dengan ramah.
Pria yang sudah rentan itu menghentikan aktivitasnya san menatap Arum dengan lekat.
"Bapak kenal dengan orang yang tadi datang ke sini?" tanya Arum.
"Kenal, namanya mas Randu, seminggu sekali dia ke sini untuk menyambangi makam Ibu dan ayahnya."
Arum hanya manggut manggut mengerti. Ada rasa kagum saat mendengarkan ucapan bapak yang ada di hadapannya. Tak menyangka kalau Randu adalah laki-laki sholeh.
"Dia juga sering kasih uang ke bapak."
Bahkan pria itu menunjukkan beberapa lembar uang yang diberikan Randu.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" tanya bapak itu lagi.
Arum hanya tersenyum tipis sambil menggaruk tengkuk lehernya, sedangkan Sesil tetap menunggu di dekat motornya.
"Maaf ya pak, ganggu. Apa aku boleh tahu mana makam orang tua pak Randu?"
Mata Arum berkeliling menyusuri setiap makam yang berjejer rapi.
Dengan sigap bapak itu mengantarkan Arum ke makam orang tua Randu.
"Ini makamnya, Ning. Maaf bapak masih banyak pekerjaan, jadi nggak bisa menemani, Ning."
Arum menangkupkan kedua tangannya lalu mengucapkan terima kasih.
Arum menatap kedua batu nisan yang berjejer secara bergantian.
Lasmi, Handoko.
Tiba tiba saja Arum menitihkan air mata, ternyata di balik sikap yang angkuh Randu pun seperti dirinya yang sudah tak memiliki kedua orang tua.
Sesil yang merasa jenuh terpaksa menyusul Arum dan ikut mendoakan jasad yang ada di balik gundukan tanah.
Baru saja keduanya selesai melantunkan doa, tiba tiba suara deheman menembus gendang telinga, dan sumber suara itu tepat di belakangnya.
Arum dan Sesil hanya bisa menerka dan saling pandang.
Kayaknya suara laki laki, apa bapak tadi yang datang ke sini? batin Sesil.
Mata keduanya saling tatap dan tak ingin mengalihkan pandangannya.
Kayaknya ini pak Randu, bagaimana bisa dia ada disini? bukankah tadi dia sudah pergi?
Bismillah
Arum dan Sesil berdiri secara bersamaan, jika Sesil membulatkan matanya saat menatap pria yang mematung di belakangnya, tidak untuk Arum. Gadis itu menundukkan kepalanya.
"Ngapain kalian di sini?" tanya Randu menyelidik, "Kalian ngikutin aku?" imbuhnya.
Sesil dan Arum menggeleng pelan.
Emangnya situ president, gerutu Sesil dalam hati.
"Lalu?"
"Motor kami mogok, Pak." jawab Arum singkat.
"Kalau sudah selesai, lebih baik kalian pergi."
Arum dan Sesil meninggalkan Randu yang masih mematung di samping makam ibunya.
"Terima kasih," teriak Randu tanpa menoleh.
Arum dan Sesil menghentikan langkahnya. Ucapan itu bagaikan siraman air dingin saat berada di bawah terik matahari, begitu sejuk saat di dengarkan.
__ADS_1
"Aku pikir dia batu yang tak bisa mengucapkan terima kasih," cicit Sesil jengkel. Namun masih bisa di dengar Randu dengan jelas.