
Suasana pesta itu sangat ramai, para tamu undangan memenuhi ballroom, silih berganti mereka memberi ucapan selamat pada Randu dan Aya yang berdiri di atas pelaminan. Kebahagiaan terpancar dari wajah kedua mempelai. Aya nampak cantik dengan balutan busana pengantin muslimah yang mewah dan elegan. Alunan musik mengiringi setiap acara. Malam itu seakan dunia milik berdua, namun hadirnya Mahesa yang berdiri tepat di samping Randu bagaikan wabah yang selalu menimbulkan rusuh.
"Gung, tadi aku lihat Randu ___"
Ucapan Mahesa terpotong saat Randu mendaratkan tangannya tepat di bibir Mahesa, membungkam.
"Gung, jangan dengarkan mas Mahesa! Dia itu kalau bicara selalu ngawur." Sudah berapa kali Randu peringatkan, tapi Mahesa masih saja suka menggodanya. Bahkan sudah beberapa orang menertawakannya gara-gara mendengar ucapan Mahesa. Beberapa sosmed pun sudah beredar dirinya dengan macam-macam caption.
Sabrina yang ada di sisi Aya beralih menghampiri Mahesa dan mencubit perutnya hingga sang empu memekik.
"Mas, bisa nggak sih, serius sebentar!"
Satu kalimat mampu dicerna otak cerdas Mahesa. Pria itu merapikan rambutnya dan menata jas nya, berdiri tegap menatap jauh ke depan.
Senjata paling ampuh.
Acara demi acara sudah hampir usai, kini tinggal sesi foto. Hampir setiap tamu ingin mengabadikan momen ini, seluruh keluarga dan sahabat antri untuk bisa berpose dengan mempelai. Berbagai gaya Randu lakukan demi memenuhi keinginan mereka. Ini sangat konyol, bahkan dulu saat menikah dengan Arum, ia tak seperti ini dan rasanya jiwanya kembali muda.
Dari jauh ada yang melambaikan tangan ke arah Aya. Wanita cantik itu terus mengulas senyum saat Aya melayani permintaan sahabat Randu. Dia adalah Camelia yang datang bersama teman laki-lakinya.
"Mas, ada Camelia," bisik Aya di telinga Randu, tapi matanya menatap Mahesa yang fokus dengan salah satu rekan kerjanya.
"Nggak apa apa, lagipula kemarin aku sudah bilang Mas Mahesa, dan dia bilang, tidak masalah. Dia sudah tidak ada perasaan apapun pada Camelia."
Randu menatap Aya yang terlihat bahagia.
"Tapi aku tidak ingin kamu dekat lagi dengannya seperti dulu," imbuhnya.
Aya paham, sebagai seorang yang pernah terjun di jalan yang sama, Aya sudah tahu jika itu tidak akan disukai Randu.
"Tenang Mas, sekarang Camelia tinggal di luar negeri, dia pulang untuk menjemput anaknya. Aku akan fokus mengurus kamu dan anak-anak, bagiku dunia luar sudah End, dan sekarang tinggal berjuang demi masa depan yang lebih baik.
Randu menarik pinggang Aya, melanjutkan pemotretan yang tertunda karena percakapan keduanya.
Camelia naik ke atas pelaminan, ditemani seorang laki-laki. Bukan Andre, bahkan Aya pun tak mengenal pria tersebut.
Demi menjaga hati Sabrina yang berstatus istrinya, Mahesa menyingkir dari samping Randu dan beralih di samping Aya, tepatnya di tengah tengah Sabrina dan Cici.
Tak ada yang berbeda dari Sabrina, ia tetap merasa tenang, baginya Camelia adalah sponsor yang melintas dalam pernikahannya dan kini hanya tinggal kenangan saja.
"Kamu apa kabar? Lama sekali kita tidak bertemu." Camelia memeluk Aya dengan erat. Semenjak kejadian malam itu keduanya bak tali yang terputus.
__ADS_1
"Aku baik, bahkan jauh lebih baik setelah berada di samping Mas Randu."
Camelia melirik ke arah Mahesa yang terus mengelus perut buncit Sabrina, memamerkan kemesraannya yang belum pernah Camelia saksikan.
"Selamat ya Ay, semoga kamu dan Randu bahagia selalu. Kenalkan ini Erlan, calon suamiku."
Aya menangkupkan kedua tangannya.
"Aya, teman Camelia."
Suasana sedikit canggung, Camelia enggan untuk menyapa Mahesa, dari lubuk hati yang paling dalam, ia masih membenci Sabrina, perempuan yang menurutnya adalah penyebab kesengsaraan hidupnya.
Camelia meraih tangan Erlan melewati Sabrina dan Mahesa yang masih bercanda.
"Mas, kamu nggak nyapa sang mantan?" cecar Sabrina menatap punggung Camelia berlalu.
"Jangan bahas apapun selain keluarga kita?"
"Bercanda."
Aku tahu mas, pasti kamu masih sakit hati karena Camelia sudah mengkhianati kamu.
Akhirnya acara itu usai juga. Randu lega, semua tamu berhamburan untuk pulang termasuk kakek Randu dan keluarga jauh yang lain.
"Mas!" Aya meraih tangan Randu dari belakang.
"Nanti kalau Raisya nyariin aku gimana?"
Meskipun Raisya sudah dalam keadaan tidur, Aya masih saja mengkhawatirkan bocah itu.
Randu mengeluarkan ponselnya.
"Aku sudah pasang cctv di kamar Raisya yang langsung terhubung ke sini, jadi setiap saat kita bisa mengawasinya."
Pintar sekali pak Duda, bilang saja kalau kamu memang tidak mau diganggu.
Aya melangkahkan kakinya dengan berat, seluruh organ tubuhnya sudah tidak bekerja dengan baik, ia merasa berada dalam kandang macan yang sewaktu waktu bisa melahapnya.
Dalam perjalanan menuju kamar, satu tangan Aya terus memegang dadanya.
Deg deg deg
__ADS_1
Jantung Aya terus berdegup dengan kencang, tak seperti tadi sore sebelum pesta, kali ini ia tak bisa lagi menghindar dari pistol Randu yang siap meluncurkan pelurunya.
Aya tenanglah, kamu pasti bisa melewati malam ini.
Aya menyemangati dirinya sendiri, mengusir rasa takut yang terus menyeruak. Mengumpulkan keberaniannya yang entah kemana.
"Kamu sudah siap, kan?"
Kenapa Mas Randu harus bertanya di sini sih? Kita kan belum masuk kamar.
Keduanya masih mematung di depan pintu, satu tangan Randu memutar knop, sedang yang lainnya masih menggenggam erat tangan Aya.
"Siap," jawab Aya tegas, tak tahu apa yang dimaksud suaminya, yang pastinya semua keinginan Randu, Aya harus siap lahir batin.
Randu membuka pintu.
Satu langkah Aya menginjakkan kakinya di dalam, matanya terpana, kamar yang tadinya hanya dihiasi beberapa bunga itu, kini malih rupa jadi lebih mewah.
"Mas, kita ini janda dan duda bukan perjaka dan perawan, masa harus semewah ini sih?" protes Aya.
Randu melepas jas yang di pakainya lalu memeluk Aya dari belakang.
"Tapi ini yang pertama untuk kita." Randu membalikkan tubuh Aya hingga keduanya bersihadap.
"Mulai malam ini dan seterusnya, kamu adalah milikku. Kita akan mengarungi samudra bersama, melewati waktu yang ditentukan Allah."
Aya terharu dengan ucapan Randu, itu yang diinginkan dari orang yang dicintai, dan setiap doa akan kembali pada dirinya sendiri.
"Aku akan menjadi Aya yang baru. Aya yang bisa menjunjung tinggi martabat suaminya, Aya yang bisa mendidik anak anak dengan baik, dan Aya yang patuh dengan perintah suaminya di jalan yang baik."
"Tapi tetap jadi diri sendiri, karena aku suka kamu yang apa adanya," tukas Randu.
Aya mengangguk dan memeluk Randu.
Cup
Sebuah kecupan mendarat di pundak Aya.
Dengan terampilnya tangan Randu mulai merayap mencari sesuatu yang ia suka.
Membuka hijab yang menutupi mahkota Aya lalu mengecup keningnya.
__ADS_1
"Sekarang mandilah!" titah Randu.