
"Kamu siapa?"
Pertanyaan macam apa itu? Mahesa terus menggeleng meletakkan gelas itu di meja dengan pelan, ubun ubunnya terasa panas bak terbakar api unggun. Bagaimana bisa bisa Sabrina melupakan pria setampan dia. Seseorang yang menunggunya siang malam dan terus menjaganya di setiap detik.
Sedikit mendekat dan lebih mendekat, pria itu memegang kedua pipinya dan kemejanya.
"Aku suami kamu," katanya dengan lugas.
Sabrina mengalihkan pandangannya ke arah langit langit kamarnya, bola matanya nampak melirik ke arah kanan kiri dan sudah dipastikan wanita itu sedang memikirkan sesuatu.
Sabrina meringis sambil memegang kepalanya.
"Mana yang sakit?" Mahesa berusaha menyentuh tangan Sabrina, namun kini tak semudah membalikkan telapak tangan, dengan gemetar Sabrina menepis tangan Mahesa hingga tersentak.
"Jangan menyentuhku!" bentak Sabrina sedikit serak.
Mahesa kaget, kembali menggenggam tangannya yang masih mengambang, ucapan itu menusuk ulu hatinya, di mana ia pun pernah mengucapkan kata itu saat di pelaminan.
Sabrina membuka selang oksigen yang masih terpasang, wajahnya tampak ketakutan saat menatap Mahesa yang masih ada disampingnya.
"Ibu di mana?" tanya Sabrina dengan suara lemah.
"Ada di luar," jawab Mahesa kaku,
Pria itu membuka pintu ruangan dengan lebar, wajahnya lebih suram dari pada saat masuk.
"Kenapa, Hes?" tanya Bu Yumna antusias.
Mahesa hanya diam dan membawa bu Yumna masuk ke dalam. Hatinya masih ngilu mendengar istrinya membentaknya.
"Ibu," sapa Sabrina menjulurkan tangannya.
"Sayang, kamu sudah sadar."
Tubuh Mahesa sedikitpun tak bergeming dari belakang pintu, dadanya terasa sesak dan tak bergairah.
Ini karma untukku, itulah yang selalu melantun dalam hati.
Bu Yumna memeluk Sabrina yang masih berbaring, sekian lama tidur membuat tubuhnya tak berdaya.
"Memangnya aku kenapa, Bu? Kenapa aku ada disini?" tanya Sabrina bingung. Mulai sadar dengan ruangan yang ia tempati.
Bun Yumna menoleh, menatap Mahesa yang ada di belakangnya. Pria itu menggeleng kecil memberi kode Bu Yumna untuk tidak bercerita.
"Kamu nggak kenapa napa, Nak. Hanya sakit kepala."
Sabrina mencondongkan kepalanya kembali menatap Mahesa yang tersenyum kecil.
"Dia siapa? Kenapa ada disini bersamaku?" menunjuk ke arah Mahesa.
Bu Yumna mengerutkan alisnya masih tak percaya dengan penuturan Sabrina.
Seperti yang dikatakan Mahesa, Bu Yumna pun mengatakan jika pria itu adalah suaminya.
Sabrina menggeleng dan menutup kedua telinganya.
"Nggak, aku belum menikah," teriak Sabrina histeris.
__ADS_1
Mahesa panik lalu memencet tombol darurat.
Mahesa merasa terpukul. Ucapan Sabrina benar benar tak ada dalam daftar deretan ekspektasinya.
Semua yang ada di luar ikut masuk mendengar suara Sabrina yang menggema. Mereka terkejut dengan Sabrina yang terus mengatakan, tidak.
Beberapa dokter datang dan menghampiri Sabrina lalu memeriksanya.
"Kenapa dengan putri saya, Dok? Kenapa dia tidak mengenali suaminya?" Bu Yumna mendekap kepala Sabrina yang baru saja terbangun, wanita itu sesenggukan dan masih tak mau menatap siapapun.
"Sekarang Mbak Sabrina lihat keluarga mbak! Di antara mereka siapa yang mbak kenal?"
Dokter yang bernama Harun menunjuk keluarganya, mulai dari yang paling pinggir.
"Ini namanya siapa?" Sabrina mendongakkan kepalanya menatap pria yang berjas putih sembari cengengesan.
Sabrina menggeleng. Itu artinya ia tidak mengenal pria itu.
Dokter Agung kecewa lalu mendesah kesal.
"Kalau begitu ini siapa?" Dokter Harun menunjuk gadis yang ada di samping Agung.
"Sesil," jawab Sabrina. Gadis itu tersenyum renyah.
"Oke, kalau yang ini siapa?" tanya Dokter agung menuju pria tampan yang memakai kemeja putih seperti Mahesa.
Sabrina menggeleng lagi. .
Dokter Harun menghembuskan nafas kasar.
"Arum," jawab Sabrina singkat.
"Alhamdulillah," ucap semuanya serempak. Meskipun tak terlalu normal, setidaknya Sabrina masih mengingat salah satu dari mereka.
Dokter Harun beralih mematung di samping Mahesa dan memegang kedua tangannya.
"Apa mbak Sabrina tahu siapa ini?"
Jantung Mahesa berdegup dengan kencang, menanti jawaban dari mulut istrinya.
Mata keduanya saling bertemu, ada secuil harapan dari hati Mahesa akan posisi dirinya, ucapan doa terus bergilir mengiringi matanya yang menatap penuh makna.
"Aku tidak mengenalnya."
Hati Mahesa menjerit, itu ucapan yang sangat menggemaskan juga menyentil. Ingin rasanya ia berlari mendekati Sabrina dan memeluknya, menciumnya dan menjelaskan aku suamimu. Namun itu semua hanya bayangan semu yang tak mungkin ia lakukan.
Semua pun hanya menunduk diam tanpa kata
"Kenapa Om Yudi dan Tante Risma ada di sini juga?" Pandangan Sabrina mengarah pada kedua mertuanya.
"Kami berdua menjengukmu," jawab Pak Yudi singkat, baginya belum waktunya untuk memaksa Sabrina mengingat semuanya.
"Mas, ada yang perlu kita bicarakan," bisik dokter Harun.
Pria itu mendekati Sabrina.
"Cepat sembuh," ucapnya lalu meninggalkannya.
__ADS_1
Aku tidak mengenalnya, tapi kenapa dia sangat perhatian padaku, lalu di mana mas Imran?" lirih hati Sabrina.
Sabrina celingukan mencari seseorang yang menurutnya sangat penting. Namun ia tak mengungkapkannya di depan Bu Yumna.
Di ruangan lain, Mahesa menyelaraskan hatinya untuk tetap tenang. Menerima kenyataan yang lebih pahit dari Sabrina dinyatakan koma.
"Mas Mahesa," panggil Dokter Harun.
Mahesa menatap ke depan.
"Saya harap mas Mahesa bisa bersabar."
"Mbak Sabrina mengalami Amnesia."
Kabar itu bagaikan petir yang menyambar tulang rusuk Mahesa hingga remuk tak berbentuk.
"Tapi kenapa dia masih mengingat sahabat dan Ibu?" bantah Mahesa.
Pria itu tampak tak terima dengan ucapan dokter Harun.
"Ada banyak jenis amnesia. Diantaranya yang dialami Mbak Sabrina, kemungkinan ada peristiwa yang pernah mengguncangkan jiwanya, sehingga dia tidak ingin mengingatnya kembali."
Pasti ini gara gara malam itu.
Mahesa mengusap wajahnya dengan kasar. "Lalu apa yang harus saya lakukan?"
"Mas Mahesa harus sabar, jangan menekankan mbak Sabrina untuk mengingat sepenuhnya, semua butuh proses. Ajak saja Mbak Sabrina adaptasi lagi, itu pun perlahan."
"Itu artinya aku harus berkenalan dengannya, dan mulai dari awal?"
Dokter Harun menganggukkan kepalanya setuju.
Ya Allah, jika ini jalan yang terbaik untuknya, akan aku lakukan, tapi jangan siksa istriku dengan keadaan, dan semoga semua akan indah pada waktunya, lirih hati Mahesa.
Setelah mendapat rentetan penjelasan, Mahesa keluar dari ruangan dokter Harun dan kembali menuju ruangan Sabrina.
Setelah tiba di depan pintu ruangan, Mahesa berpapasan dengan Bi Mimi dan Mbak Inul yang baru saja datang.
Bukan kedua pembantunya yang menjadi pusat perhatian Mahesa, namun Devan yang ada di gendongan Mbak inul.
Mungkin dengan aku menunjukkan Devan Sabrina bisa ingat semuanya.
Dengan sigap Mahesa mengambil alih Devan dan membawanya masuk.
Suara ocehan bayi itu tiba-tiba saja membuat Sabrina terbelalak, seakan suara itu tak asing baginya. Sabrina menyingkirkan tubuh Arum dan menatap ke arah pintu.
"Bayi siapa itu, kenapa sepertinya aku mengenalnya?"
Sabrina terbangun dan menyandarkan punggungnya. Sedangkan Mahesa mendekati Sabrina dan tersenyum.
"Itu anak siapa?" tanya Sabrina ragu.
Mahesa menerbitkan senyum dan meletakkan Devan dipangkuan Sabrina.
"Ini Devan, dia putra kita."
Sabrina termangu tanpa ekspresi, wajahnya terus menatap wajah tampan Devan yang ada di pangkuannya.
__ADS_1