
Diruangannya, Randu nampak lesu, semua usahanya tak ada hasil. Randu sudah menghubungi beberapa sahabatnya, namun nihil mereka mengatakan tak melihat atau mendengar kabar Aya yang bagaikan hilang ditelan bumi. Entah gadis itu kemana Randu merasa penyebab menghilangnya Aya. Menyesal sudah pasti namun bagaimana lagi, Randu tak bisa terus lari dalam masalah tersebut.
Pintu ruangan sedikit terbuka, Arum yang melintas menangkap sosok Randu yang nampak melamun.
"Pak Randu kenapa? Apa dia ada masalah?" gumamnya.
Arum sengaja mengetuk pintu yang sedikit terbuka dan itu sukses membuat Randu gelagapan.
"Ada apa?" tanya Randu dengan nada datar. Menatap Arum dengan tatapan tajam.
Melihat reaksi Randu, nyali Arum tiba tiba saja menciut, namun semua sudah terlanjur. Terpaksa Arum harus menghadapinya.
Arum membungkuk ramah, lalu tersenyum kecil.
"Maaf pak, apa aku boleh masuk?"
"Silahkan!"
Arum membuka pintu dengan lebar lalu menghampiri Randu dan duduk di hadapannya.
"Maaf pak, kalau aku lancang, aku lihat beberapa hari ini bapak diam, apa bapak ada masalah?"
Randu menatap wajah Arum sekilas lalu mengendurkan dasi yang mencekik lehernya.
"Apa kamu kesini hanya ingin menanyakan itu?"
Arum mengangguk tanpa suara.
"Disini urusan kerja, jadi bukan waktunya untuk curhat," jawab Randu ketus.
Arum beranjak dari duduknya ternyata niat baiknya disalah mengerti oleh Randu.
"Kalau begitu aku permisi, sekali lagi aku minta maaf."
Setelah membungkuk sopan, Arum membalikkan tubuhnya, namun saat tiba di belakang pintu, arum terpaksa harus menghentikan langkahnya saat Randu dengan jelas memanggilnya.
"Nanti siang tunggu aku di parkiran!" seru Randu.
"Baik pak," jawab Arum tanpa menoleh dan kembali keluar menutup pintunya dengan rapat.
Waktu begitu cepat, baru juga beberapa menit Arum keluar dari ruangan Randu, jam makan siang tiba. Seperti yang diucapkan Randu, Arum mengganti pakaiannya dan menunggu Randu di parkiran, ia mematung tepat di samping mobil Randu.
Hampir lima belas menit di parkiran akhirnya Randu keluar juga. Dari wajahnya pria itu nampak serius saat menghampiri Arum.
"Masuk!" titah Randu.
"Pasang seat beltnya dengan benar," imbuhnya.
Randu melirik ke arah Arum yang masih sangat polos, apalagi gadis itu seperti Sabrina yang hanya memakai make up tipis, dan tak mengundang birahi pria mata keranjang.
__ADS_1
"Kita mau ke mana, Pak?" tanya Arum.
Tak ada jawaban, Randu memilih fokus untuk membelah jalanan yang sangat ramai.
Dasar bisu, gerutu Arum dalam hati.
Merasa diabaikan Arum memilih menatap luar daripada harus menatap Randu yang sangat menyebalkan.
Sesampainya di depan restoran yang sangat terkenal, Randu memarkirkan mobilnya.
"Kita ngapain kesini, Pak?"
Lagi lagi tak ada jawaban, Randu sibuk berbicara dengan seseorang yang ada di seberang ponselnya.
Kalau bukan bos, aku nggak sudi mau ikut.
Arum turun lebih dulu, meninggalkan Randu yang masih sibuk dengan ponselnya.
Setelah selesai, Randu pun langsung turun menghampiri Arum yang ada di samping mobil. Tak seperti tadi, Arum memilih untuk diam daripada harus dicuekin terus menerus.
"Kita masuk!" ajak Randu.
Arum mengikuti langkah bosnya dari belakang tanpa ingin mengatakan sepatah kata pun.
"Silahkan Pak! Meja yang bapak pesan sudah kami kosongkan," Salah satu waitress mengantarkan Randu dan Arum di sebuah ruangan khusus.
"Apa ini semua pesanan, Bapak?" tanya Arum dengan polosnya. Matanya menatap beberapa makanan yang terus di tata rapi di depannya.
"Hmm...memangnya kenapa, apa masih kurang?"
Arum menggeleng, "Memangnya selain kita, siapa lagi yang akan datang ke sini?"
"Tidak ada."
Randu sedikit menarik kursinya hingga keduanya bersejajar, menatap ke arah luar jendela. Randu mengambil sepiring nasi beserta lauknya dan menyodorkan ke arah Arum.
"Ini semua untuk dimakan, bukan hanya dilihat," celetuknya.
Arum hanya tersenyum simpul sembari menerima piring dari Randu. Jantungnya berdetak dengan kencang saat wajah Randu begitu dekat, bahkan hanya berjarak beberapa senti saja.
Ya Allah perasaan apa ini, kenapa aku jadi seperti ini saat berada di dekat pak Randu, Arum, ingat! Dia adalah kekasih Aya, jangan pernah berharap padanya, batin Arum, ia menahan hatinya yang terus bergejolak.
Arum menunduk menikmati makanannya mencoba membuang jauh perasaan aneh yang menyelimutinya, entah itu apa, yang pastinya ia merasa berdebar-debar saat Randu memperhatikannya lebih dari sekedar karyawan.
"Enak nggak?" tanya Randu.
Sontak Arum menjatuhkan garpunya, ia terkejut saat mendengar suara Randu.
"E….enak, Pak," jawab Arum gugup.
__ADS_1
Suasana sangat hening hanya terdengar dentuman sendok dan piring yang terdengar, Arum merasa sangat canggung. Apalagi ini pertama kalinya ia berduaan di dalam satu ruangan.
"Rum," sapa Randu.
Arum segera menoleh dengan mulut yang masih dipenuhi makanan, menurutnya Randu sangat teka teki yang bisa membuatnya jantungan.
Randu mengeluarkan sebuah kotak dari saku celana lalu meletakkannya di depan Arum.
"Ini untuk kamu," ucapnya.
Arum menelan makanannya lalu meneguk minuman hingga kandas. Ia mengelap bibirnya dan merapikan hijabnya. Ingin fokus dengan benda yang ada di depannya.
"Apa ini?" Arum menunjuk kotak tersebut.
Gimana aku ngomongnya?
Randu meraih kotak itu dan membukanya, mengambil sebuah cincin berlian mewah yang ada di dalamnya.
"Apa kamu mau menikah dengan ku?"
Arum membulatkan matanya, masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. Tak menyangka jika tujuan Randu mengajaknya ke restoran adalah untuk melamarnya.
"Maksud bapak?" tanya Arum, ia juga ingin sebuah kepastian yang meyakinkan.
"Aku ingin kamu menjadi istriku, dan aku ingin kamu menjadi ibu dari anak anakku nanti."
Seketika Arum menggeleng dan melengos.
"Aku nggak mau menjadi perusak hubungan Bapak dengan Aya. Aku nggak mau dibilang wanita murahan yang merebut kekasih orang. Jadi maaf, aku tidak bisa menerima permintaan Bapak."
"Aku dan Aya sudah putus, dan tidak akan ada yang bilang seperti itu. Tapi jika kamu menolak, tidak apa apa, aku hargai keputusan kamu."
Randu kembali memasukkan cincin itu ke dalam kotaknya, dan kembali menyendok makanannya.
"Habiskan makanan kamu, setelah ini kita pulang."
"Apa Bapak menikahiku hanya untuk pelarian karena hubungan bapak dan Aya kandas?"
"Tidak, Aya adalah pacar pertamaku, meskipun aku tidak mencintainya, tapi aku sangat menghargai hubungan kami, hanya saja kami tidak se arah. Dan aku pikir putus memang lebih baik."
Arum jadi bingung, di satu sisi, ia pun memendam perasaan untuk Randu, namun disisi lain, ia harus meminta pendapat Sabrina dan Sesil, selaku orang terdekatnya.
"Kalau memang bapak serius ingin menikahiku, aku akan pikirkan lagi."
Randu menghentikan makananya lalu menatap lekat wajah Arum.
"Kamu yakin ingin memikirkannya lagi?"
Arum mengangguk pelan.
__ADS_1