Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Penasaran


__ADS_3

Dua kali  memutari rute jalan menuju taman. Tiga kali masuk ke sebuah kedai es krim, masih tak menyurutkan keinginan anak-anak untuk menikmati pemandangan luar. Randu memasang kesabaran hatinya. Kepalanya terasa mau pecah kala ketiga bocah yang duduk di jok belakang itu adu mulut. Apalagi putrinya yang kini makin pintar, bibirnya terus nyerocos mengingatkan pada sang istri saat sedang marah. 


Sesekali Randu menatap ketiganya lewat spion, jika diamati dengan serius sangat lucu,  apalagi Raisya dan Syakilla selalu memojokkan Devan yang merasa paling keren. 


Suasana itu mencairkan hati Randu yang sudah lama membeku, meskipun bayangan istrinya sekelebat mengganggu, Randu sudah lebih lepas dari biasanya. 


Randu menghentikan mobilnya di tepi jalan dekat taman kota, dan itu sudah yang keempat kalinya. 


"Jadinya gimana? Turun atau pulang?" Masih menatap ketiga anak itu dari pantulan spion.


Devan membuka kaca mobil, melihat suasana taman sangat ramai.


"Aku mau main," seru Devan. 


Akhirnya Randu mencari tempat parkir yang aman demi menuruti keinginan jagoan Mahesa. 


Randu menggiring ketiga bocah itu menuju tempat bermain. Berlalu lalang para pengunjung sedang mendampingi anak masing-masing, dan kebanyakan mereka adalah seorang ibu-ibu. Randu memilih duduk di bangku yang berada di bawah pohon sembari menikmati indahnya sore. 


Hampir seharian penuh Randu berada diluar, menghilangkan kejenuhan yang terus melanda nya, dan ia mulai melangkah maju menata hidupnya kembali. 


Randu merogoh ponselnya yang ada di saku celana, seperti biasa, yang menyambutnya adalah fhoto istrinya yang masih terpasang sebagai wallpaper. Namun tak seperti sebelumnya ia langsung meneteskan air mata,  Randu tersenyum saat mengelus gambar Almarhumah. Sedalam apapun ia mengingat, Arum tidak akan bisa kembali lagi disisinya. 


Sebuah pesan dari Mahesa masuk. Randu langsung membukanya dan membaca isi pesan teks dari atasannya. 


Setelah membalas dengan mengatakan keberadaannya, Randu membuka sosmed milik Mahesa. Kali ini ia tertawa melihat pertama kalinya Mahesa mengunggah kebersamaannya dengan Sabrina.


"Apa mas Mahesa mabuk?" 


Randu masih tak percaya, sekian lama Mahesa menutup akun dan kini muncul dengan kenarsisan nya bersama istrinya. 


Setelah puas menjahili Mahesa lewat komentar julid, Randu memasukkan ponsel nya kembali dan mengedarkan pandangannya ke arah gerombolan wanita yang sedang menatapnya dari jauh. 


"Apa ada yang aneh denganku?" bertanya pada diri sendiri. 


Randu menoleh ke arah kanan kiri, ternyata tak ada siapapun di sana,  dan dipastikan jika tebakannya benar, kalau dirinya lah yang menjadi tontonan saat ini. 


Randu beranjak dari duduknya menghampiri ketiga anaknya dan duduk di dekat mereka, mengalihkan perhatian kaum hawa yang mungkin tergila-gila dengan ketampanannya. 


"Devan, mainnya sudah apa belum? Kita pulang yuk!" 

__ADS_1


"Belum, Ayah. Sebentar lagi," jawab Devan seraya menggeser duduknya saat ada anak lain yang ikut duduk di ayunannya. 


"Alvino…" seru Raisya. 


Randu ikut menatap bocah yang baru datang itu dengan lekat. Bocah laki-laki yang duduk disamping Devan itu hanya tersenyum tanpa menjawab. 


Benar itu anak Aya, lalu di mana Ibunya?


Randu celingukan ke sana kemari, namun orang yang ia cari ternyata tak ada, bahkan Randu meneliti beberapa wanita yang berkerumun, namun nihil, Aya juga tak ada di sana. 


Randu mendekati bocah itu dan berjongkok di sampingnya. 


"Alvino, mama kamu ke mana?" tanya Randu dengan pelan. 


Bocah itu menunjuk salah satu wanita yang mematung beberapa meter darinya seraya berbicara dengan benda pipihnya. 


Itu bukan Aya.


"Yang pakai  baju warna coklat?" tanya Randu lagi. Bocah itu hanya diam. Mungkin di usianya yang terlalu dini belum terlalu paham dengan pertanyaan Randu. 


Randu mengernyitkan dahinya dan terus menatap wanita itu yang masih tertawa dengan ponselnya. 


Randu memotong terkaannya, ia tak mau menembak lebih jauh.


"Alvino,  kita pulang!" ucap wanita yang tadi di tunjuk Alvino. 


Bocah itu menggeleng. Raisya, Devan dan Syakilla hanya melihat bibir Alvino yang sedikit bergetar menahan tangis. 


Akhirnya wanita itu menghampiri Alvino yang masih betah duduk di samping Devan dengan kepala menunduk. 


"Kita pulang, sudah sore."


"Maaf Mbak,"  tukas Randu. 


"Iya Mas, ada apa? Apa anak saya berbuat salah?"


Randu menggeleng, "Tidak,  saya hanya ingin bertanya,  apa Alvino ini anak Mbak?" tanya Randu menyelidik. 


"Iya, dia anak saya. Memangnya kenapa?" 

__ADS_1


"Nggak ada apa apa," jawab Randu dengan cepat. 


"Kalau boleh tahu siapa nama, Mbak?"


Wanita itu menangkupkan kedua tangannya. "Nama saya Cici."


Randu menganggukkan kepalanya mengerti. 


'Kalau dia bukan anak Aya, lalu apa maksudnya,  kenapa dia membohongiku dengan mengaku Alvino adalah anaknya, batin Randu.


Randu kembali menatap wajah bocah itu sejenak. 


Tiga tahun berpisah, sedikit pun Randu tak tahu kabar Aya,  persahabatan mereka seperti terputus dengan perginya wanita itu,  dan kini ia dipertemukan dengan banyak perubahan dan sesuatu yang masih tersembunyi. Jika anak yang diakui Aya itu adalah anak orang di depannya, otomatis  wanita itu juga pasti mengenal Aya. 


Alvino merengek saat Cici menarik tangannya untuk turun. 


"Biarkan saja, Mbak. Sepertinya Alvino masih ingin bermain di sini. Lagipula belum terlalu sore."


Terpaksa Cici membiarkan putranya bermain daripada berakhir tangis seperti biasanya.


Banyak hal yang ingin Randu tanyakan tentang sahabat lamanya,  namun Randu mengurungkan niatnya takut kalau itu akan mengusik kehidupan Aya, dan Randu tak ingin mengulangi kesalahan yang kedua kali untuk menyakiti hati Aya yang dengan jelas kala itu diputuskannya. 


"Ini anak Mas semua?" tanya wanita  yang bernama Cici itu membuyarkan lamunan Randu. 


"Yang ini anak kakak saya," Randu menunjuk Syakilla dan Devan bergantian. "Dan yang ini putri pertama saya, lanjutnya. 


"Wah, Mas sangat baik seperti sahabat saya, dia juga sering membantu mengurus Alvino saat saya sedang sibuk. Bahkan dia sudah menganggap Alvino seperti anaknya sendiri,  di jaman seperti ini jarang lho, orang yang mau ikhlas membantu,  yang ada mereka juga butuh imbalan."


"Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, aku yakin sahabat Mbak akan mendapatkan ganjaran dari apa yang sudah diperbuatnya." 


Wajah Cici berubah suram, wanita itu memejamkan matanya dan tersenyum getir. Menatap Randu yang duduk di samping Devan. 


"Tapi sampai sekarang ia belum mendapatkan kebahagiaan juga. 


Randu berpindah tempat mendekati Cici. Penasaran dengan kata yang diucapkan wanita itu. 


"Aku jadi kasihan sama dia. Terkadang aku berpikir kalau semua ini tak adil. Tapi inilah takdir yang harus kita terima, seandainya aku yang ada di posisi dia, mungkin aku sudah lelah dan bunuh diri,  tapi tidak dengannya, ia selalu sabar menjalaninya, meskipun hari harinya tanpa kasih sayang dari seorang suami."


Apa yang dia maksud adalah aya?

__ADS_1


__ADS_2