Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Sah


__ADS_3

Hari pernikahan Arum dan Randu tiba.


Didepan sebuah hotel yang sangat mewah dan berkelas itu,  banyak karangan bunga yang terpampang. Semua itu dari berbagai perusahaan yang sengaja berpartisipasi di hari bahagia Randu dan Arum yang beberapa menit lagi akan dilangsungkan. Beberapa rekan bisnis Mahesa pun sengaja membawa berapa hadiahnya lumayan fantastis hanya untuk Randu, sang asisten. 


Suasana kamar itu sangat gemuruh,  tak ada atas atau bawahan, yang ada hanya persahabatan yang sudah terjalin bertahun tahun lamanya. 


Mahesa sengaja mendampingi Randu setelah diusir Sabrina dari kamarnya. Dengan tega Sabrima mengatakan jika Mahesa bau menyan. 


Hahahaha


Suara tawa riuh kembali menembus gendang telinga Mahesa. Sepertinya ketiga sahabatnya memang sangat gembira dengan penderitaan yang dialaminya. Ia memilih membaringkan tubuhnya dan menggunakan kedua tangannya sebagai bantal,  sedangkan Agung Dan Pongki berada di sofa bersama Randu. 


"Kamu sudah hafal apa belum?" tanya Pongki. Pria itu yang paling kompeten, padahal ia sendiri belum menikah. 


"Sudah, semalam aku sudah latihan sama ustadz," tukas Randu seraya melirik ponselnya yang berdering. 


Agung yang ada di sampingnya menyambar benda pipih milik Randu. 


"Sabrina," seru Agung, Mahesa terbangun lalu berlarian menghampiri ketiga sahabatnya, rasa kesalnya lenyap sudah saat nama wanita yang ia cinta itu berkedip di layar. 


Randu, sang calon panganten memilih bergelut dengan otaknya, membuang jauh rasa gerogi yang mengendap. 


Mode loudspeaker


Sebelum bicara, Mahesa mendaratkan jarinya di bibir,  memberi kode semua untuk diam. 


"Halo sayang," sapa Mahesa.


"Kamu dimana si, Mas. Devan kangen sama kamu." 


Mahesa semakin geli mendengar alasan Sabrina yang tak masuk akal, bagaimana bayi yang belum bisa apa apa mengucapkan kata kangen. 


"Devan apa bundanya?" goda Mahesa. 


Terdengar suara decakan dari seberang sana. 


"Kalau nggak mau datang ya sudah, mendingan aku pulang." 


Seketika Mahesa melempar ponsel Randu lau berlari keluar kamar.


Untung Randu jago tangkap menangkap hingga ponselnya masih bisa diselamatkan, sedangkan Pongki dan dokter Agung hanya bisa mengelus dadanya melihat kelakuan Mahesa. 


"Kamu kok bisa punya bos kayak gitu, kalau aku yang jadi asistennya, sudah aku kasih racun tikus biar klenger," cetus Agung.


Seketika Pongki menoyor jidat Agung.


Randu tersenyum lalu memakai pecinya yang berwarna putih. 

__ADS_1


"Dari mas Mahesa aku juga banyak belajar tentang hidup,  setiap manusia pasti punya kekurangan dan juga kelebihan. Selama ini Mas Mahesa menjadi inspirasiku." 


"Kamu juga mau poligami seperti dia?" cecar Pongki. 


"Nggak lah," Menepuk paha Pongki yang bicara ngawur. 


"Mas Mahesa menikah lagi,  karena dulu dia tidak tahu kebenarannya, dan di sini bukan Mas Mahesa yang sepenuhnya bersalah, tapi Camelia." 


Di luar ruangan, Mahesa merapikan penampilannya. Memakai parfum nya kembali, Tak peduli dengan pelayan hotel yang berlalu lalang menatapnya aneh, yang pastinya ia harus tampil tampan dan wangi jika di depan istrinya, dan kejadian beberapa menit yang lalu tidak boleh terjadi lagi.


"Udah wangi," gumamnya, seraya mencium  beberapa bagian tubuh yang berbalut jas. 


Dengan percaya diri Mahesa mengetuk pintu kamar Sabrina. 


Dua kali ketukan, akhirnya pintu dibuka dari dalam.


Masih dengan wajah yang kusut,  Sabrina menyongsong kedatangan suaminya. 


Sabrina tak menyuruh Mahesa masuk malah melipat kedua tangannya. 


"Mas dari mana?" tanya Sabrina dengan nada ketus. 


"Dari kamar Randu," jawab Mahesa ragu. Kini wajah Sabrina sangat menakutkan baginya. Dan kesalahan sedikit saja bisa jadi fatal jika wanita itu  tak terima. 


"Bantuin aku!"


"Bantuin apa?" tanya Mahesa mengikuti langkah Sabrina yang beralih menuju lemari.


Sabrina mengambil baju yang sangat mewah,  namun desainnya tetap elegan.


"Seperti nya baju ini nggak terlalu muat, tapi aku ingin memakainya."


Mahesa mengambil baju yang menggantung di tangan Sabrina lalu menempelkan ke tubuh sang istri. Baju itu adalah hadiah dari Mahesa setelah Sabrina di nyatakan hamil yang kedua, tepatnya sebelum kecelakaan terjadi, dan Sabrina memang belum sempat memakainya. 


Sebelum membantu Sabrina, Mahesa menatap baju yang ada di atas ranjang, dan sebenarnya baju Sabrina untuk acara sudah dipersiapkan, hanya saja Mahesa harus menuruti permintaan istrinya untuk memakai baju lain,  takut ada perdebatan kembali. 


"Muat Sayang, nanti aku bantu pasang resleting."


Seperti kata Mahesa, ternyata baju itu masih muat saat dipakai Sabrina, hanya saja bagian perut sedikit menyempit. 


"Tu kan, kamu cantik sekali pakai baju ini."


Mahesa memegang kedua lengan Sabrina dan menatap penampilannya dari atas hingga kebawah yang cantik luar biasa. 


Mahesa melihat jam yang melingkar di tangannya, dan ternyata lima belas menit lagi akad nikah akan segera dimulai. 


Mahesa dan Sabrina keluar dari kamar, tak lupa Devan yang sudah berada di gendongan Mbak Inul. Disaat itu pula bertepatan dengan Randu dan Arum yang sama sama keluar dari kamar masing masing. 

__ADS_1


Randu menghentikan langkahnya saat menatap Arum. Gadis itu tampak cantik saat memakai kebaya berwarna putih.


Sebentar lagi kita akan menjadi suami istri, batin Randu. 


"Ayo jalan!" Terpaksa Dokter Agung menyenggol Randu yang masih bergeming di tempat.


Randu menggaruk alisnya yang tidak gatal untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Yang sabar ya  Ndu,  aku hanya bisa mendoakan nanti malam kamu bisa gol," bisik dokter Agung. 


"Nggak lucu," timpal Randu.


Agung dan Pongki hanya terkekeh melihat kekesalan Randu. 


Randu membelah kerumunan para tamu yang sudah hadir. Dengan gagahnya Randu duduk di depan penghulu yang sudah siap untuk membawanya menjadi seorang suami.


Sedangkan Agung dan Pongki duduk di belakangnya.


Mahesa tetap menemani Bumil yang semakin rewel. Mereka duduk di samping Pak Yudi dan Bu Risma serta Bu Yumna yang juga datang bersama anak panti. 


Sesil menggandeng Arum menuju tempatnya. Setelah itu ia mundur,  hanya tinggal satu kursi yang kosong, dan itu berada di samping dokter Agung,  terpaksa Sesil duduk di sana daripada harus mundur jauh. 


"Sebentar lagi kita ya, Ning," cicit Dokter Agung. 


Tak ada jawaban, Sesil fokus dengan lantunan khotbah nikah yang dibacakan penghulu. 


Ruangan itu dipenuhi dengan tamu undangan, namun hanya suara Penghulu yang memenuhi sudut ruangan. 


Suasana sangat tenang saat detik detik ijab qabul dilakukan. 


"Apa Mas Randu sudah siap?" tanya Pak Penghulu. 


Sebelum menerima uluran tangan Penghulu, Randu menoleh menatap Arum yang ada di sisinya. 


"Apa kamu siap menjadi istriku?" tanya Randu sekali lagi sebelum ia melanjutkan prosesi akadnya. 


Arum mengangguk tanpa suara, wajahnya bersemu malu. Meskipun ia tak ikut mengucap, namun jantungnya berdegup dengan kencang seperti merasakan di posisi Randu.


"Siap, Pak," jawab Randu dengan tegas.


Randu dan penghulu itu bersalaman. Lantunan ijab qabul dimulai. Semua mendengarkan dengan hikmah, meskipun sedikit gugup, nyatanya Randu bisa mengucap dengan satu tarikan nafas hingga kata sah menggema memenuhi ruangan tersebut.


"Alhamdulillah…"


Akhirnya Arum dan Randu sudah sah menjadi suami istri. 


Perkenalkan ini karya temenku jika berkenan mampir!

__ADS_1



__ADS_2