Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Terjebak


__ADS_3

Aya ikut pulang ke rumah Randu. Kini ia harus mengurus tiga bayi dengan usia yang berbeda. Dirumah itu ia bagaikan ibu rumah tangga yang harus siaga pada suami dan anak-anaknya, sedikitpun Randu tak membiarkannya menjauh, manjanya sudah melampaui batas. Mengalahkan David yang sudah mulai merangkak. 


Seperti biasa, Aya datang ke kamar Randu dengan membawa air hangat di tangannya dan obat dari dokter Harun.


"Ayo Mas, bangun!" Menyibak selimut Randu dengan lembut. Membuka tirai kamarnya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, setelah subuh Aya membiarkan Randu untuk istirahat seperti anjuran dokter untuk tidak banyak bergerak.


Randu membuka matanya dengan pelan, mengedarkan pandangannya ke arah Aya yang sudah memasang senyum manis. Masih dengan bantuan Aya juga Randu bisa duduk.  Namun sudah bisa berjalan meskipun masih menggunakan alat bantu. 


"Sekarang cuci kaki dulu, nanti setelah itu sarapan."


Aya berjongkok, mendekatkan baskom tepat di kaki Randu.


"Aku bisa sendiri." Randu mencengkal tangan Aya yang hampir menyentuh kakinya. Ia merasa sungkan dengan perhantian Aya yang berlebihan, sedangkan dirinya tak bisa membalas apapun selain terima kasih. 


"Nggak apa apa, Mas. Kalau kamu yang lakukan sendiri bisa-bisa nanti airnya dingin."


Dengan sigap Aya meraih kaki Randu dan mulai merendamnya.


"Gimana rasanya, Mas. Apa sudah mendingan?" tanya Aya tanpa mendongak,  matanya masih fokus dengan kaki Randu yang mulai mengempis. 


"Alhamdulillah, Insya Allah besok sudah lancar jalannya." 


Aya mengelap kaki Randu sampai kering dan menaikkan di atas kasur, tak lupa mengoles obat. Tanpa sengaja mata Aya menyapu ruangan kamar itu, ternyata masih banyak foto Arum yang terpanjang,  hati Aya kembali menciut, takut kalau Ia tak bisa menjadi apa yang diharapkan Randu. 


"Mas, aku keluar dulu ya." Menutup  obatnya dan meletakkannya di nakas.


Mungkin menghindar Aya akan merasa tenang dan bisa berpikir lebih jernih. 


"Kenapa dengan Aya? Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.''


Randu memilih mengikuti arah mata yang tadi Aya tuju.


"Apa mungkin dia melihat fotoku dan Arum?" 


Tak seperti kemarin, saat ini Randu harus lebih peka terhadap perasaan wanita  tersebut. 

__ADS_1


Randu kembali menurunkan kakinya dan meraih tongkat yang ada di sampingnya, dengan jalan yang tertatih tatih, Randu menyusuri setiap lantai hingga ke depan pintu. 


"Ay,  bantuin aku membersihkan kamar!" teriak Randu. 


"Sebentar, Mas."


Aya menghentikan aktivitasnya lalu menghampiri Randu. 


"Apa yang perlu dibersihkan, bukankah tadi sudah?"


Keduanya saling tatap, rona bahagia terus ditampilkan Randu,  rasanya ia sudah tak sabar menanti masa iddah Aya. 


"Rapikan semua barang milik Arum, termasuk fotonya." Randu mengucapkan dengan nada berat. Entah, jika mengingat Almarhumah, Randu masih tak rela melepas kepergiannya, namun sekarang sudah ada wanita cantik yang siap untuk mendampinginya, dan ia harus bangkit dari masa lalu. 


"Nggak usah, Mas." Aya mengucap sambil tersenyum renyah. Membantu Randu kembali ke ranjangnya. Randu duduk di tepi ranjang, sedangkan Aya bersimpuh di depannya, layaknya seseorang yang sungkem kepada kedua orang tua. 


"Aku mau menjadi istri kamu bukan berarti menyisihkan Arum yang lebih dulu hadir di sisimu,  tapi aku minta sedikit tempat di hati kamu untuk mencintaiku. Jangan salah paham dengan sikapku. Semua perempuan pasti sama, dia ingin dicintai."


Randu tak bisa berkata apa-apa, disaat Arum pergi, Allah sudah menyiapkan wanita yang juga begitu baik padanya. 


"Ini semua untuk kamu,  mulai sekarang kamu harus mengelola apa yang  aku punya."


Aya hanya memandang, sedikitpun tangannya tak ingin menyentuh benda itu. 


"Aku masih calon istri kamu, Mas. Belum berhak dengan itu semua,  lebih baik kamu simpan dulu, lagipula kenapa kamu sangat percaya padaku? Apa kamu nggak takut kalau aku akan membawa kabur harta kamu." 


Randu menarik rambut panjang Aya yang terurai, pelan-pelan ia mulai memberi kode dengan bahasa isyarat. Sulit dipahami untuk seorang Aya. Namun perlahan wanita itu pun mengubah penampilannya dan kini hanya tinggal memakai hijab saja. 


"Anggap saja itu hadiah karena kamu sudah mau mengasuh Raisya dan David. Bayaran itu tak seberapa dibandingkan dengan pengorbanan kamu yang sudah menghabiskan waktu dengan mereka." Hening sejenak. Aya meresapi setiap kata yang Randu ucapkan.


Aya merasa kalau Randu sudah berlebihan, padahal pria itu tahu kalau Aya tidak suka dengan kemewahan,  apalagi itu milik orang lain. 


"Nanti kita bicarakan lagi, sekarang Mas harus makan dulu."


Ruang makan sangat hening. Aya menyuapi Raisya. Randu menikmati makanan yang tadi Aya sajikan. Sesekali Randu melirik Aya yang bergulat dengan keseriusannya. 

__ADS_1


"Ayah, nanti Isya mau Ayah tidur sama mma Aya, kita berempat sama adik David juga."


Suara itu bagaikan wahyu dari langit yang menimpa ubun-ubun Randu, jiwa mesumnya naik level tertinggi dan tak bisa dijabarkan dengan kata-kata.


Randu tersedak, makanan yang sudah berada di kerongkongannya itu kembali disemburkan keluar. Bukan main, itu skill yang sangat hebat.


"Minum dulu, Mas!" menyodorkan segelas air putih ke arah Randu. Tak hanya Randu,  Aya pun tak kalah terkejutnya, entah dari mana Raisya punya pikiran semacam itu. 


Aya senyum kikuk mencari cara untuk menjelaskan ke Raisya yang masih sangat polos. 


"Sayang,  ranjang Ayah itu sempit, jadi nggak muat untuk berempat, nanti kalau mama jatuh gimana?" Aya menunjukkan jari-jarinya. 


Biar aku yang angkat kamu, Ay. sahut Randu dalam hati. 


Randu pura-pura mengunyah, padahal ia hanya menggigit lidahnya yang terlalu gatal. 


"Mama bohong," teriak Raisya,  kakinya menendang kursi yang ada di depannya. 


Aya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, anak dan bapak sama saja, hari-harinya hanya bikin Aya pusing, ia harus memutar otak yang lebih cerdas untuk membuat sebuah alasan yang di mengerti Raisya.


"Mas, bantuin!" bisik Aya. 


Randu mengangkat kedua bahunya. Ia nampak lepas tangan, apalagi selama ini Randu tak pernah ikut campur urusan Raisya, dan tak terlalu bisa untuk merayu bocah itu. 


"Ya sudah, nanti mama akan tidur di kamar, Ayah." Terpaksa Aya menyetujuinya, daripada harus mendengarkan rengekan Raisya yang menggelitik telinga.


Raisya berdiri di atas kursi dan mencium kedua pipi Aya bergantian. 


Randu mengulum senyum, entah itu pertanda apa, yang pastinya ia sangat  suka dengan keputusan Aya yang mau menuruti permintaan putrinya. 


"Mas, kamu nggak lagi berpikir mesum, kan?" tanya Aya menyelidik. 


"Astagfirullah, Ay. Aku masih tahu batasan, nanti kalau mereka sudah tidur, aku akan pindah, aku tidak mau mengotori pernikahan kita dengan sesuatu yang dilarang Allah, tenanglah! Nanti jika sudah saatnya, kamu juga akan menjadi milikku." 


Aya merasa terjebak dalam situasi yang sangat rumit dan berharap Randu akan tetap memegang ucapannya.

__ADS_1


__ADS_2