Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama

Berbagi Cinta: Kisah Pilu Istri Pertama
Selanjutnya


__ADS_3

Aya tak bisa menyembunyikan wajahnya yang merah merona. Perutnya yang tak berakhlak itu benar-benar membuatnya terjatuh di hadapan Randu, kini ia hanya bisa menerima nasib karena kalah telak. 


Randu masuk ke kamar dengan membawa sukiyaki di tangannya, diikuti Bi Nori yang masuk membawa segelas susu untuknya. 


Bi Nori tersenyum lebar sembari mengangkat jempol saat melihat penampilan Aya yang masih dengan baju milik Randu. Seksi dan siap berperang.


"Ada apa, Bi?" tanya Randu dengan tiba-tiba. Bi Nori terkejut mendengar suara berat itu. 


"Nggak ada apa, Den. Bibi akan jaga anak-anak dengan baik." 


Bi Nori meletakkan gelas itu di atas meja lalu keluar.


Randu mengerutkan alisnya,  ia masih belum bisa mencerna ucapan Bi Nori yang menurutnya aneh. 


Setelah Bi Nori menghilang di balik pintu,  Randu menghampiri Aya yang masih duduk di tepi ranjang.


"Makan dulu, kamu itu punya asam lambung. Kenapa makannya terus telat, nggak baik."


Aya menaikkan kakinya dan berdiri di atas ranjang, sedangkan Randu masih berada dengan posisi mematung di sampingnya. 


"Ini semua gara gara, Kamu. Coba saja tapi kamu nggak marah, aku nggak bakalan mogok makan."


Bisa-bisanya Aya menyalahkan suaminya, padahal Randu sudah minta maaf, tapi sekeras apapun juga Randu membela diri, tetap perempuan yang harus menang jika ingin berdamai. Itu faktanya.


Aya melingkarkan kedua tangannya di leher Randu,  sedangkan pria itu mengangkat kedua paha Aya dan menggendongnya. 


Kecupan demi kecupan mendarat di wajah Aya mengiringi langkah kaki Randu menuju sofa. 


"Kalau nanti kita melakukannya seperti ini kayaknya lebih seru," goda Randu menaik turunkan alisnya dengan cepat. 


Aya menepuk dada Randu, kejadian di kamar mandi yang tadi saja belum terlupakan, kenapa Randu sudah mulai merencanakan agenda yang menurutnya sangat langka. Dan itu belum mereka lakukan sekalipun, karena selama ini Randu hanya melakukannya dengan gaya yang wajar-wajar saja yang penting membuat pasangannya merasa nyaman. 


"Aku nggak mau," tolak Aya seketika. Menurutnya itu sangat memalukan.


Randu hanya terkekeh dan mendudukan Aya di sofa, lalu ia duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Iya aku tahu,  nanti kita melakukan seperti yang biasa saja," imbuhnya tanpa canggung sedikitpun, bahkan olahraga ranjang itu kini menjadi topik utama Randu menggoda Aya saat ngambek.


Hati Aya terus menggerutu mendengar ucapan Randu yang sangat konyol. Melihat penampilannya yang angkuh, tak dinyana kalau Randu adalah orang yang penuh dengan lawak.


Aya terus menundukan kepalanya, mengalihkan pandangannya ke arah lantai. Suap demi suap ia terima dari tangan Randu. Entah ada angin apa, malam ini Aya memang ingin di manja oleh Randu. Dan akhirnya si gunung es itu mencair. 


"Aku bukan laki laki yang romantis," Randu melepaskan supit setelah irisan daging itu masuk ke dalam mulut Aya. "Aku tak punya banyak kata untuk mengungkapkan rasa cintaku padamu." Randu meraih pinggang Aya, sedangkan satu tangannya meletakkan kepala Aya di pundaknya. Matanya terus mengarah pada paha Aya yang terpampang dengan jelas. Putih dan mulus hingga ada sesuatu yang sudah tak sabar ingin melahapnya. 


Randu merapikan rambut Aya yang menutupi pipinya menyelipkan di belakang telinganya, ia menyapu setiap jengkal bagian wajah Aya dengan teliti. 


"Tapi kamu jangan meragukan cintaku untuk kamu."


Aya menegakkan kembali kepalanya lalu melengos ke arah lain,  menghindari tatapan Randu yang sangat menusuk jantungnya. 


Aya sempat merasa dirinya itu bodoh sudah menyatakan cintanya pada Randu, tapi sebagai seorang perempuan, ia tak mau munafik seperti halnya perempuan di luar sana, yang malu-malu tapi mau.


"Tinggal satu lagi, harus dihabiskan." Randu kembali mengambil sumpitnya,  namun Aya menghalanginya. 


"Aku sudah kenyang," ucap Aya dengan manja. 


Aya meminum separo dari isi gelas itu, karena ia pun memang sudah merasa kekenyangan dengan seporsi sukiyaki. 


Hening sejenak, Randu membuka ponselnya yang beberapa kali berdering. 


"Besok acara penyambutan Daffa dan Daffi, mas Mahesa menyuruh kita datang ke sana, katanya Mbak Sabrina kangen sama kamu."


Tak ada alasan bagi Aya untuk menolak,  baginya itu sangat penting untuk suaminya dan juga anak anak yang butuh suasana baru, bisa berkumpul dengan keluarga yang lain. 


Cup 


Sebuah kecupan mendarat di pipi Aya, meskipun sudah berlalu beberapa menit,  Randu tak lupa dengan kejadian di kamar mandi yang sempat tertunda. 


"Aku mau melanjutkan yang tadi."


Mata Randu sudah memendam sesuatu, ia tak mau melewatkan peluang yang jarang-jarang terjadi,  karena beberapa kali ia sempat gagal karena kedua anaknya, dan tadi harus gagal karena cacing di perut Aya memberontak, dan saat ini baginya harus berhasil.

__ADS_1


Aya hanya menjawabnya dengan anggukan kecil. 


"Aku ambilkan pil, Kamu." 


Baru saja Randu beranjak, Aya meraih tangannya dan ikut berdiri. 


"Nggak usah, tadi aku sudah meminumnya."


Randu memeluk Aya dengan erat, menyatukan bibirnya dengan lembut sambil membuka satu persatu kancing kemeja istrinya.


Setelah kemeja Aya terlepas dari tubuhnya, Randu mengangkat tubuh Aya dan membawanya ke ranjang. Wajah Aya tampak merona saat Randu terus menatapnya dengan tatapan aneh.


Randu membaringkan tubuh Aya dengan pelan, setelah itu melepas satu persatu baju yang membalut tubuhnya hingga keduanya kini polos tanpa sehelai benang pun, hanya selimut yang menutupi mereka, lampu remang kembali menjadi saksi bisu bukti cinta Randu yang tersalurkan lewat pergulatan panas malam itu. 


Dalam urusan kata kata romantis, Randu memang  tak jago untuk mengurainya, tapi urusan ranjang ia tak perlu diragukan lagi. Sebagai pria yang sudah dewasa dan pernah menikah, Randu sangat berpengalaman memberikan sensasi yang membuat pasangannya itu terbang ke angkasa.


Hampir tiga puluh menit keduanya bekerja keras dan beradu peluh, Randu ambruk tepat di atas tubuh Aya. Kecupan mendarat di kening Aya diiringi dengan ucapan terima kasih. 


Keduanya mengatur nafas yang masih menderu, Aya merapikan rambut yang menutupi kening Randu dan tersenyum. Ia tak mau dusta jika saat ini hatinya hanya diliputi dengan kebahagiaan bisa bersama satu satunya orang yang berhasil membedah hatinya dan bersemayam di sana. 


"Aku mencintaimu," bisik Randu,  meraih kepala Aya dan meletakkan di lengannya. 


Aya memiringkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya di dada Randu. Ia tak mau membalas ucapan itu karena hari ini sangat melelahkan hingga mata dan bibirnya sudah terasa berat. 


"Jangan tidur! kira mandi dulu, nggak baik kan tidur dalam keadaan kotor."


Aya mengangguk pelan. 


Aku bukan wanita sholehah, tapi aku bersyukur karena mas Randu mampu menuntunku ke jalan yang lebih baik. Semoga Allah selalu meridhoi rumah tangga kami sampai waktu yang menentukan.


Hai.... aku punya rekomendasi yang sangat bagus, silahkan mampir punya Authpr Gupita



 

__ADS_1


__ADS_2