
Mahesa turun dari mobil lalu menatap rumah istrinya. Mengulang kembali masa lalu yang kelam, dimana ia tak pernah peduli dengan Sabrina saat keluar dari rumahnya dan harus tinggal di kontrakan yang sangat kecil bersama bayi yang dikandungnya. Disaat itu Mahesa masih menciptakan kebencian yang mendalam. Atas dasar apapun Mahesa tak bisa membayangkannya kembali.
Sabrina tidak boleh tahu masalah ini, sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberi tahunya.
Mahesa Memilih berdosa daripada harus kehilangan istri dan putranya, itulah kesimpulan dari rencananya. Pria itu ingin menutup rapat kejadian yang berakibat fatal bagi kehidupan Sabrina di masa mudanya.
Dengan langkah yang sedikit pelan Mahesa memasuki rumahnya, pria itu menghampiri bi Mimi dan mbak Inul, sang baby sitter Devan.
"Sabrina di mana, Bi?"
"Sudah tidur, Den, kayaknya seharian ini Non Sabrina ngambek."
Mahesa meletakkan kembali gelasnya lalu menatap Bi Mimi.
"Kenapa?" tanya Mahesa antusias.
"Den Devan rewel, tidak mau tidur, dan mungkin sekarang baru bobo."
Mahesa meninggalkan meja makan, melepas sepatunya dan membuka pintu dengan perlahan.
Ditatapnya Sabrina yang meringkuk dengan memeluk Devan di sampingnya.
Kamu begitu sabar merawatnya tanpa tahu siapa ayahnya, sedangkan aku hanya menampung kalian di hati saja tidak bisa. Aku memang tidak pantas berada disisimu, tapi aku juga tidak rela jika kamu minta perpisahan. Maafkan aku pernah membuatmu terluka.
Mahesa mendekati ranjang dan duduk di samping Devan, ternyata bayi itu belum tidur, tak seperti Sabrina yang sudah berada di alam mimpi.
Mahesa menyingkirkan tangan Sabrina yang ada di tubuh putranya, dengan perlahan Mahesa mengangkat tubuh mungil putranya setelah menyelimuti tubuh Sabrina.
"Mimpi yang indah," Mencium pelipis Sabrina dengan lembut. Takut mengusik akhirnya Mahesa membawa Devan keluar dari kamarnya.
Mahesa memilih kamar lain untuk meluapkan isi hatinya.
Perasaan Mahesa kembali bercampur aduk saat menatap wajah bayinya dari dekat, menyusuri setiap jengkal ciptaan Allah yang sangat sempurna. Dan itulah kenyataan bahwa bayi yang di gendongnya saat ini adalah putra kandungnya.
Tak terasa satu buliran bening menetes membasahi pipi Mahesa dan terjatuh mengenai tangan Devan.
Seandainya ayah bisa memutar waktu, ayah ingin menyambut kehadiranmu ke dunia ini. Ayah yang akan melantunkan adzan untukmu. Dan ayah ingin menjadi orang yang pertama kali menciummu setelah bunda. Ayah akan memenuhi apapun permintaan Bunda disaat ngidam.
Mahesa mendekap bayi itu, memberikan kehangatan sebagai sosok yang di dambakan setiap bayi mungil.
"Maafkan ayah, selama ini tidak mempedulikanmu dan Bunda," Mahesa mendaratkan sebuah ciuman di pipi Devan.
"Kenapa semua harus kebetulan seperti ini, aku nggak menyangka akan dijodohkan dengan perempuan yang aku renggut kehormatannya, Ya Allah, jika Engkau ingin menghukumku, hukumlah seberat mungkin, tapi jangan pisahkan aku dari anak dan istriku. Jangan pisahkan kami.
__ADS_1
Bak seorang perempuan, Mahesa pun terisak, pria itu merasa sedikit lega setelah meluapkan uneg unegnya yang terus menjanggal.
"Aku harus bicara sama mama dan papa, mereka harus tahu tentang ini semua."
Mahesa meletakkan Devan di atas ranjang lalu ke kamar mandi membersihkan mukanya menyamarkan matanya yang tampak sembab.
"Devan tidur sama Bunda ya, Ayah mau ke rumah nenek."
Mahesa membawa Devan kembali ke kamar Sabrina dan meletakkannya di tempat semula.
Namun disaat Mahesa hampir keluar, sebuah tangan melingkar di perutnya dari belakang.
"Mas mau kemana lagi?" Suara serak mengiringi.
Sabrina, apa dia sudah bangun dari tadi atau baru saja?
Mahesa membalikkan tubuhnya merengkuh tubuh Sabrina dengan erat.
"Apa aku mengganggumu?"
Sabrina menggeleng dan membenamkan wajahnya di dada Mahesa.
"Rencananya aku mau ke rumah mama, tapi karena kamu bangun nggak jadi."
"Besok saja, aku ikut, aku juga kangen Ibu dan ayah, dan setelah itu kita ke panti ya, Mas!" pintanya dengan merengek.
"Kemanapun kamu mau, pasti akan aku antar."
Mahesa membuka pintu kamarnya lalu memanggil Mbak Inul yang masih berada di ruang makan bersama Bi Mimi.
"Mbak, tolong bawa Devan!" titahnya.
Bau bau pergulatan ranjang mulai tercium di hidung Sabrina saat suaminya terus memeluknya, meskipun Mbak Inul masuk sedikitpun Mahesa tak mau melepasnya.
"Apa kamu tadi sholat Isya'?"
Sabrina mengangguk tanpa suara matanya terus tertuju di bibir Mahesa yang tersenyum nakal.
Mahesa mengangkat tubuh Sabrina dan membaringkannya di atas ranjang, jika sudah seperti itu, Sabrina tak bisa berkutik lagi, apalagi napas Mahesa sudah nampak menderung menahan hasrat yang menggebu.
Mahesa tersenyum renyah saat Sabrina nampak siap dengan apa yang akan terjadi, pria itu kembali memainkan rambut panjang Sabrina lalu memeluknya.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan aku, apapun yang terjadi tetaplah disisiku," bisik Mahesa dengan nada memohon.
Sabrina tersenyum lalu menoleh.
"Kenapa Mas bicara seperti itu? Sedikitpun aku tak ada niat untuk pergi kecuali kamu yang meminta."
Tapi bagaimana jika kamu tahu yang sesungguhnya, apa kamu juga masih bisa bertahan di dekatku, atau memilih pergi meninggalkanku.
Rasa takut Mahesa semakin menggebu disaat Sabrina mendaratkan sebuah ciuman mesra di pipinya.
"Aku siap untuk mengandung anak kamu mas, jadi jangan pernah berpikir aku akan pergi."
Sebenarnya kamu sudah pernah mengandung anakku, hanya aku saja yang bodoh sudah menyia-nyiakan kalian.
Baru saja ingin melanjutkan aksinya, ponsel yang ada di nakas berdering, terpaksa Mahesa menjedanya dan meraih benda pipihnya.
"Siapa?" tanya Sabrina.
Mahesa menggeser ponselnya di depan Sabrina, wanita itu meraih hijabnya saat menatap nama yang berkelip di sana.
"Assalamualaikum…." sapa dari seberang sana.
Sabrina dan Mahesa menjawab dengan serempak.
"Panjang umur, baru saja kita omongin papa dan mama, kalian telepon."
Mahesa memperlihatkan kepala keduanya yang saling menempel
Bu Risma tampak tersenyum melihat Mahesa yang terus mencium pelipis Sabrina, memamerkan kemesraannya di hadapan kedua orang tuanya.
"Devan mana?" sahut Pak Yudi.
Mahesa berdecak, bisa-bisanya kini melupakannya setelah cucunya lahir.
"Devan di luar, Yah. Dia lagi main sama anak Inul."
"Besok kalian kesini, mama dan papa kangen sama Devan," ucap Bu Risma memelas.
Mahesa dan Sabrina saling tatap.
"Besok kami akan kesana, setelah itu kami akan ke panti."
Setelah puas dengan canda tawanya lewat video, Bu Risma mematikan sambungannya, hatinya kini lega melihat Mahesa dan Sabrina bersatu. Tak hanya itu, Pak Yudi sudah bisa membalas budi pada ayah Sabrina yang dulu pernah membantu keluarganya disaat terjepit masalah.
__ADS_1
Aku akan membuatmu lupa akan malam itu, bagaimanapun caranya kamu akan tetap menjadi milikku selamanya.
Mahesa melanjutkan aksinya yang sempat tertunda, seperti malam sebelumnya Mahesa memberikan sebuah hujaman yang nikmat untuk istri tercinta di malam yang indah.