
Randu masih berperang melawan otaknya. Berkali-kali ia menampik sebuah rasa penyesalan dalam hati. Kepergian Aya ternyata mengubah suasana rumah seratus persen. Suara yang cempreng itu kini tak dapat ia dengar, hanya tinggal kenangan yang tertinggal, setelah Mahesa Dan Sabrina pulang, Randu terus menyendiri, merenungi apa yang sedang terjadi.
Bosan di kamar, akhirnya Randu keluar dari kamarnya.
Baru beberapa jam Aya pergi dari rumah, Randu sudah kelimpungan mendengar kedua anaknya saling merengek, jika Raisya minta di temani main, David yang baru bangun dari tidur siangnya itu sudah heboh saat susunya tak kunjung tiba. Bi Nori, sang asisten rumah tangga mencoba membujuk Raisya, namun itu hanya sia-sia karena Raisya ingin bersama sang Ayah.
"Sebentar ya, Nak."
Randu tampak gugup saat suara tangis David semakin keras.
Bi Nori mengangkat tubuh David dari boks nya dan menenangkannya, itupun tak berhasil. David tak juga memelankan suaranya.
"Bi, ini susunya David." Randu menyodorkan sebotol susu untuk putra keduanya, setelah itu menghampiri Raisya yang sudah memanyunkan bibirnya.
"Main apa, Sayang?" tanya Randu dengan lembut.
Sangat sederhana, Raisya menunjuk beberapa bonekanya yang belum memakai baju dan meminta Randu untuk membantunya.
Dengan telaten Randu memenuhi permintaan Raisya meskipun sesekali salah, namun Randu tetap berusaha menjadi yang terbaik untuk putrinya.
Randu menatap Raisya yang dari tadi tak menampilkan senyum manisnya.
"Raisya kenapa sih?" tanya Randu.
"Mama Aya," jawab Raisya singkat.
Bak orang dewasa, Raisya hanya memendam rasa gelisah yang mengendap.
Randu menyingkirkan semua mainan Raisya dan mengangkat tubuh mungilnya membawa ke dalam pangkuannya.
"Apa Isya sayang sama mama Aya?" tanya Randu dengan suara lirih.
Bocah itu mengangguk tanpa suara.
"Isya mau bertemu Mama Aya lagi nggak?" tanya Randu untuk yang kedua kali.
Bi Nori yang berada tak jauh dari Randu hanya tersenyum saat mendengar ucapan Randu.
"Mau, Ayah." Saking senangnya Raisya berlonjak dan memeluk Randu dengan erat.
__ADS_1
"Kalau Aden memang cinta sama Non Aya, lebih baik Aden bicara jujur, daripada terlambat, entar Aden menyesal," seru Bi Nori.
"Bi, aku sudah punya dua anak. Apa aku masih pantas untuk Aya?" tanya Randu.
Bi Nori ikut duduk di depan Randu dengan David yang masih merintih. "Yang bisa menilai itu hanya Aden dan Non Aya. Bagaimana hati Aden saat Non Aya pergi?" Tanya Bi Nori menyelidik, meskipun hatinya sudah menebak jawabannya, namun Bi Nori ingin mendengarkan langsung jawaban dari Randu.
Aku harus jujur, mungkin dengan ini aku akan tahu apa yang harus aku lakukan.
"Sebenarnya aku nggak rela dia pergi dari sini, Bi. Tapi aku juga nggak berhak mencegahnya, dia punya masa depan sendiri, begitu juga denganku."
"Itu artinya Aden menyukai Non Aya. Hanya saja Aden terlalu naif untuk mengakuinya," cicit Bi Nori tanpa basa basi.
Randu mengelus tengkuk lehernya, ia tersipu malu dengan ucapan Bi Nori.
"Cepat! Sekarang Aden telepon non Aya,"pinta Bi Nori.
"Isya sama bibi dulu ya, nanti Ayah balik."
Randu beranjak dan berjalan menuju kamar Raisya, sepertinya tempat itu sangat nyaman untuk bercakap.
Randu membuka layar ponselnya dan menghubungi Aya seperti keinginan Bi Nori.
Tersambung, tapi tak ada jawaban, hingga Randu mengulanginya berkali-kali dan hasilnya sama, tak ada jawaban dari seberang sana. Akhirnya Randu mengirim sebuah pesan singkat.
"Apa kamu marah padaku, Ay. Kenapa kamu nggak mau angkat telponnya?" Randu semakin frustasi, otaknya sudah mulai keruh dengan berbagai tekanan. Rasa bersalah mulai menyeruak memenuhi dirinya.
Saat Randu meletakkan ponselnya di nakas, ia melihat sesuatu yang tak asing di matanya. Sebuah kartu debit milik Aya yang ia berikan beberapa hari yang lalu.
"Ini kan milik Aya. Kenapa bisa ada di sini? Apa mungkin dia sudah ambil uangnya?"
Randu kembali meraih ponselnya dan mengecek kartu milik Aya, ternyata tak seperti terkaannya, bahkan uang yang ia transfer masih utuh, itu artinya Aya tidak mengambil sepeserpun uang darinya.
Sekarang Randu baru sadar, bahwa pemicu perginya Aya bukan karena gaji atau anaknya, tapi seperti apa yang dikatakan Mahesa, kalau Aya juga butuh perhatian darinya, bukan sekedar sahabat atau pengasuh, namun lebih.
Randu bergegas keluar dari kamarnya menghampiri Bi Nori yang ada di kamar David.
"Bi, jaga Raisya dan David! Aku keluar sebentar."
Sebelum berlalu Randu memeluk Raisya yang berbaring di samping adiknya.
__ADS_1
"Semoga berhasil."
Randu segera masuk mobil, kini tekadnya sudah bulat untuk menemui Aya dan membawanya kembali.
"Aku harus jemput Aya. Dia nggak boleh pergi meninggalkan aku dan anak-anak."
Randu melajukan mobilnya, dadanya mulai bergemuruh hebat, ingin meluapkan semuanya, ucapan Bi Nori terus melintas di otaknya, dan mungkin benar, yang saat ini ia rasakan adalah cinta yang tak disadari bersemayam begitu saja.
Dalam perjalanan tak ada yang ia pikirkan selain Aya, wanita yang sudah hadir begitu lama dalam hidupnya, namun selalu diabaikan.
Ay, kali ini aku tidak akan membiarkan kamu pergi lagi. Maafkan aku yang sudah menyakitimu.
Randu memarkirkan mobilnya di halaman rumah Aya, dari jauh Randu menatap pintu rumah yang tertutup rapat. Ia merapikan penampilannya dan turun dari mobilnya, meskipun ia tak mengantongi apapun, Randu sudah siap untuk mengungkapan isi hatinya.
Randu mengetuk pintu rumah Aya yang nampak sepi, tak ada satu orangpun yang melintas di sana, melihat keadaan lantai yang sangat kotor dan berdebu, Randu merasa jika rumah itu tak ditempati lama.
"Apa jangan jangan Aya tidak pulang ke sini, lalu kemana?"
Ketakutan kembali melanda, masih teringat dengan jelas saat Aya menghilang bagaikan ditelan bumi, Randu menatap layar ponselnya dengan tatapan nanar.
Aya, jangan bilang kalau kamu akan pergi dariku seperti dulu.
Randu mencoba berpikir jernih, membuang jauh rasa resah.
Randu kembali menghubungi Aya, dan kali ini ia membelalakkan matanya saat suara operator yang menyapa, itu artinya nomor Aya memang tak bisa dihubungi lagi. Randu memeriksa pesan yang dikirim, Dan ternyata Aya pun belum membacanya, dan itu semakin membuat Randu gelisah.
Kini ia merasa pupus, harapan satu-satunya sudah punah, hanya ada penyesalan yang mungkin tiada ujungnya.
Randu mendaratkan tubuhnya di kursi kayu yang ada di teras. Pandangannya kosong, seolah olah ia adalah penyebab penderitaan aya.
Saat dia sudah putus asa, tiba tiba saja nama Cici melintas di otaknya.
"Aku harus telpon Cici, pasti dia tahu keberadaan Aya," gumamnya.
Tanpa menunggu waktu, Randu menghubungi sahabat Aya yang bernama Cici, ibu dari Alvino.
Dada Randu merasa lega, dalam hitungan detik Cici mengangkat teleponnya, dari seberang sana terdengar suara berisik, di pastikan Cici berada di tempat umum.
"Halo Ci, ini aku ayahnya Raisya. Apa kamu tahu di mana Aya sekarang?" tanya Randu tanpa basa basi. Bahkan ia lupa untuk mengucap salam.
__ADS_1
"Maaf mas, aku nggak tahu. Bukankah Aya bekerja di rumah kamu. Dia juga nggak pernah menghubungiku," jawab Cici dari seberang sana.
Seketika ponsel yang ada di tangan Randu jatuh.