
Tak ada pembicaraan dalam perjalanan, namun hati Mahesa sudah tak bersahabat saat menatap wajah Camelia. Dia adalah wanita yang dicintai semenjak lulus kuliah, namun berjalannya waktu, menjadi wanita yang paling dibenci setelah tahu kebenarannya. Demi memenuhi permintaan istri tuanya, Mahesa rela mengantarkan Camelia untuk pulang meskipun berat.
Mobil Mahesa berhenti tepat di halaman rumahnya, sebenarnya pria itu tak ingin turun karena ada yang menunggunya di rumah. Akan tetapi demi sebuah penjelasan akhirnya Mahesa mengikuti istrinya untuk masuk.
Mahesa menghempaskan tubuhnya dan memijat pangkal hidungnya.
"Sekarang katakan! Kenapa kamu tidak bilang kalau malam itu yang aku setubuhi adalah Sabrina?" tanya Mahesa ke inti.
Ternyata benar, mas Mahesa sudah tahu semuanya.
"Karena aku mencintaimu, jika aku bilang kalau itu adalah Sabrina, pasti kamu akan memutus hubungan kita, dan kamu tidak akan menikahiku," jelas Camelia.
"Sekarang kamu sudah tahu semuanya, tapi kamu tidak bisa mundur dari kenyataan, aku hamil anak kamu, dan sampai kapanpun aku akan tetap menjadi istri kamu meskipun yang kedua," imbuhnya.
Mahesa Membuka matanya menatap perut buncit Camelia dengan lekat.
"Sekarang aku tidak yakin kalau anak itu adalah anakku," ucap Mahesa.
Camelia membulatkan matanya lalu beralih duduk di samping Mahesa.
"Kenapa kamu bicara seperti itu?" Nada marah, "Ini anak kamu, Mas, dia darah daging kamu," ucap Camelia, menekankan bahwa Mahesa tak bisa mengelak dari tanggung jawabnya. Wanita itu nampak emosi dengan ucapan Mahesa.
"Baiklah kita akan tes DNA, jika itu terbukti anakku, aku tidak akan menceraikanmu, tapi,__ Mahesa menjeda ucapannya dan lebih mendekat, "Jika itu bukan anakku, aku akan menceraikanmu setelah melahirkan."
Mahesa beranjak dari duduknya lalu beberapa langkah memunggungi Camelia.
"Tapi bagaimana jika Sabrina tahu kalau kamu, suami yang dicintai nya adalah laki-laki brengsek yang sudah menodainya?"
Skak
Mahesa mengepalkan tangannya dan mengeratkan gigi, dan inilah titik dimana ia masih rapuh untuk menerimanya.
"Apa kamu mengancamku?" Mahesa membalikkan tubuhnya, kembali berhadapan dengan Camelia.
"Tidak, aku hanya mengingatkan kalau kamu tak sebaik yang Sabrina kira. Jadi pikirkan semuanya sebelum kamu menceraikan aku," jelas Camelia.
Mahesa kembali melanjutkan langkahnya keluar dari rumah Camelia, tak menyangka wanita itu akan menjeratnya dengan satu masalah yang tak ia sengaja.
Mahesa masuk ke dalam mobil lalu memukul setir.
"Aku harus secepatnya jujur, apapun yang terjadi, Sabrina harus tahu, kalau akulah ayah kandung Devan."
Tekad Mahesa semakin bulat dan tak mau mundur, pria itu meninggalkan rumah Camelia dengan janji yang begitu kuat untuk mengungkapkan semua apa yang pernah terjadi.
Di rumah Pak Yudi, Sabrina terus menampilkan senyum saat mendengar ocehan Devan, bayi mungil itu tahu akan kebahagiaannya saat ini.
__ADS_1
"Berapa hari kamu di panti?"
"Kurang lebih seminggu, Bu, lagipula kasihan juga Devan, takut masuk angin.
Pak Yudi tersenyum.
"Mobil ayahnya nyaman, dan Ayah yakin Mahesa akan memberikan yang terbaik untuk kamu Dan Devan."
Sabrina jadi malu, yang ia ingat selama ini hanya mobil umum yang harus berdesak desakan, sedangkan untuk naik mobil berkelas masih jauh dari benaknya.
"Ayah pulang." Suara Mahesa membuyarkan semuanya.
Sabrina kembali merapikan hijabnya sebelum menghampiri Mahesa yang ada di belakang pintu.
"Mas kita berangkat sekarang, aku sudah kangen sama Ibu."
Aku tidak mungkin mengatakan semuanya di saat dirinya bahagia seperti ini.
"Baiklah, kita berangkat sekarang."
Mungkin setelah dari panti aku akan mengatakan yang sejujurnya, dan aku berharap Sabrina memaafkanku.
Panti asuhan Kasih Bunda bukan hanya sembarang tempat, tapi di sana lah Sabrina dibesarkan dan menjadikan dirinya menjadi wanita yang kuat. Disana juga ia tahu akan kesulitan hidup yang mengintai, mengiringi perjalanan hidupnya, bukan keinginannya, namun takdir yang menuntunnya harus hidup tanpa kasih sayang ayah dan Ibu.
"Aku mengajakmu kesini untuk berlibur, jadi jangan bersedih," bisik Mahesa.
Sabrina mengusap air matanya lalu memeluk suaminya yang ada di sampingnya.
"Aku hanya terharu saja mas, akhirnya aku bisa kesini lagi, aku kangen dengan suasana disini, dulu aku tidak pernah mempunyai masalah tapi setelah kehadiran itu,__
Mahesa mendaratkan jarinya di bibir Sabrina, menghentikan ucapannya yang sedikit menusuk jiwanya.
"Sekarang kamu adalah istriku, lupakan masa lalu."
Randu ikut senang saat menatap keduanya dari pantulan cermin, tak menyangka di awal yang begitu menyakitkan, Mahesa mampu luluh dengan sebuah kesabaran Sabrina.
Mobil mewah Mahesa masih menjadi sorotan penghuni panti, bagaimana tidak, seisi mobil belum ada yang keluar termasuk mbak inul.
"Lihat! Mereka pasti terkejut dengan kedatangan kita."
Mahesa menunjuk beberapa anak panti yang sedang bermain di teras.
Benar saja, setelah Sabrina turun, anak-anak panti berhamburan memeluknya, seperti menemukan ibunya kembali, mencurahkan rasa rindunya yang sekian lama terbendung.
"Aku menghancurkan kebahagiaan Sabrina hanya dengan semalam,'' cicit Mahesa menatap wajah Randu dari pantulan spion.
__ADS_1
"Anggap saja itu kekhilafan, Mas. Tidak ada yang perlu disesali, aku yakin Sabrina bisa menerima Mas, meskipun ia tahu mas adalah ayah Devan."
Mahesa tersenyum menepuk pundak Randu.
"Setelah pulang dari sini aku akan mengatakan semuanya, semoga dia memaafkanku."
Dukungan dari Randu pun sangat berarti bagi Mahesa, bertahun tahun bersama Randu bagaikan saudara laki-laki yang ia temukan.
Tangis Sabrina pecah saat Bu Yumna ikut menyongsong kedatangannya, rasanya mustahil bisa melihat anak asuhnya itu berada di depannya.
"Anak Ibu, akhirnya kamu kesini juga."
Dengan tangis bahagia Sabrina memeluk Bu Yumna, wanita itu kembali terisak, mengingat perjuangan yang luar biasa demi dirinya dan anak yang lain.
"Mahesa," Bu Yumna melepas pelukannya.
"Apa dia merepotkanmu?" tanya Bu Yumna.
Mahesa menggaruk alisnya yang tidak gatal, ada senyum tipis yang terbit dari sudut bibirnya.
"Dia sangat merepotkanku, Bu," ucap Mahesa seraya tertawa.
"Mas," selak Sabrina tak terima. Wanita itu mencubit pinggang Mahesa hingga sang empu meringis.
"Dia sudah berani masuk ke dalam jantung hatiku, dan sepertinya aku tidak bisa mengeluarkannya lagi."
Mahesa memegang dadanya, semua anak panti ikut tertawa mendengar ucapan absurd Mahesa.
Alhamdulillah, akhirnya Sabrina mendapatkan kebahagiaannya, tidak ada ibu yang paling bahagia di dunia ini selain melihat putrinya bahagia bersama keluarga kecilnya.
"Sabrina…" teriak salah seorang yang melintas di balik gerbang.
Sabrina hanya menangkup kedua tangannya saat menatap. Begitu juga dengan pria itu yang mendekatinya.
Wajah Mahesa nampak datar sata pria itu terus tersenyum ke arah istrinya.
"Mas Imran, apa kabar?" sapa Sabrina pelan dan lembut.
"Aku sangat baik. Kamu sendiri bagaimana?"
Sabrina meraih tangan Mahesa dan tersenyum.
"Aku jauh lebih baik, karena ada orang baik yang mau menerimaku apa adanya," nada menyindir.
Sanjungan ini tidak pantas kamu berikan padaku, Sayang. Tapi aku akan berusaha menjadi yang terbaik seperti yang kau mau.
__ADS_1