
Mahesa merapikan penampilannya, jika setiap pagi ia selalu memakai jas, dasi dan sepatu mengkilap, tidak untuk pagi itu yang hanya memakai baju casual dengan celana jeans berwarna hitam.
Mahesa duduk di tepi ranjang membuka laci dan mengambil ponsel milik sang istri, hatinya tersayat melihat barang dengan harga yang jauh di bawah standar, sebagai istri orang kaya itu sangatlah memalukan baginya.
"Apa saja yang kamu simpan di sini?"
Mahesa menggerakkan jarinya dan mengusap layarnya, pertama kali yang dibuka dalam galeri yang dipenuhi dengan poto putranya beserta foto pengantin mereka.
Mahesa terus merutuki dirinya saat menatap ekspresi senyum istrinya di pesta pernikahan. Sedangkan ia memilih untuk melengos ke arah lain tanpa memperdulikan wanita yang saat itu menjadi mempelainya. Sabrina sengaja menyimpan beberapa gambar yang menurutnya penting.
Masih teringat jelas bagaimana hatinya saat itu, hanya kebencian yang ia persembahkan pada wanita yang belum ia kenal.
Beralih pada sebuah gambar yang sangat mengharukan, di mana Sabrina mendekap bayinya yang baru saja lahir. Itu adalah salah satu momen yang sangat spesial di mana Sabrina menjadi seorang ibu.
"Harusnya aku ada disampingmu saat itu," cicitnya.
Mata Mahesa berkaca menahan air mata yang menumpuk di pelupuk.
Masih dengan rasa penasaran yang sangat tinggi, Mahesa kembali menggeser gambar selanjutnya.
Kali ini Mahesa tersenyum saat menatap penampilan Sabrina yang masih sangat lugu, gadis itu nampak tersenyum dari balik jendela. Dipastikan itu masih duduk di bangku SMA.
"Kamu lucu sekali, seandainya kita bertemu lebih awal. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini."
Lagi lagi hanya penyesalan yang kini meliputinya.
Memori pahit kembali terlintas saat Mahesa menggeser layarnya. Disaat itulah ia merasa tak berguna.
Sabrina memegang perut buncitnya dan tak lupa bibirnya tetap tersenyum renyah.
Dan kali ini ada sebuah tulisan yang sangat menyentuh hati.
Siapapun ayahnya Devan, putramu akan segera lahir.
Mahesa tak bisa lagi membendung air matanya, setetes demi tetes cairan bening membasahi pipinya.
"Apakah aku masih pantas dipanggil ayah, sedangkan saat dia lahir pun aku tidak menyambutnya.
Tangan Mahesa semakin gemetar dan tak sanggup menggeser layarnya. Pria itu memilih untuk menggenggam dengan erat. Berusaha meredakan gejolak di dadanya.
Sayang, cepatlah bangun, aku tidak bisa hidup tanpa kamu.
Tak sanggup namun hatinya berkata lain Mahesa ingin mengetahui semua apa yang selama ini tak diketahui.
Mahesa mengerutkan alisnya saat menangkap video yang berdurasi lima belas menit.
__ADS_1
Dengan sigap jarinya memutarnya.
"Ada pertemuan pasti ada perpisahan, ada baik ada buruk, begitulah seterusnya. Ibu ayah, semenjak kalian pergi, aku merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung di dunia ini, tapi dengan berjalannya waktu, aku bisa menerima dengan lapang takdir dari Allah. Jika yang melihat video ini mengatakan aku terlalu norak, nggak apa-apa, aku hanya ingin menumpahkan uneg-uneg saja."
Mahesa menjeda putarannya dan tersenyum sekilas lalu kembali melanjutkannya.
Sabrina nampak berada di balik meja kecil dengan sorotan lampu yang menerangi.
"Aku punya itikad, jika aku menikah nanti, aku hanya ingin setia pada suamiku. Aku ingin menjadi perempuan yang solehah bisa dicintai dan mencintainya, tapi kembali lagi. Itu hanya sebuah rencana dan Allah lah yang akan mengatur semuanya."
Sabrina nampak geleng geleng dan merapikan hijabnya.
"Jika aku boleh memilih aku pun ingin dilahirkan dari keluarga yang kaya."
Di balik layar yang entah dibuat kapan Sabrina tertawa lepas.
"Namun itu hanya mimpi yang sekilas membuatku bahagia. Tapi Sabrina Salsabila akan menjadi perempuan yang tangguh, bisa melewati ujian hidup meskipun berat. Miskin bukan jaminan hidup menderita tapi itu adalah awal kita bisa kaya. Dan aku ingin menjadi perempuan yang punya pintu maaf seluas samudra.
Nampak di akhir video itu Sabrina melambaikan tangannya sebelum mengakhirinya.
"Aku tak sebijak kamu, sekarang aku mengerti kenapa kamu masih bertahan di sampingku, itu karena kamu ingin setia, dan aku pun akan setia menunggumu sampai kembali."
Mahesa mengembalikan ponsel itu di tempat semula dan beranjak dari duduknya lalu keluar.
"Bi," panggil Mahesa dari depan pintu kamarnya.
Tak hanya Bi Mimi, semua menoleh menatap Mahesa dari jauh.
Bi Nimi menghampiri Mahesa dan membungkuk ramah.
"Iya Den, ada apa?" tanya Bi Mimi.
"Aku akan bawa Devan ke rumah sakit."
Bi Mimi tersenyum mengelus lengan Mahesa. Pria yang berumur 28 tahun itu bagaikan putranya sendiri.
"Yang sabar, dibalik semua ini pasti ada hikmah yang menanti."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Didepan pintu ruangan Sabrina dirawat, Bu Yumna menyongsong kedatangan Mahesa, tak seperti kemarin yang meluapkan amarah wanita paruh baya itu tampak ramah saat mendekati menantunya.
"Pagi, Bu," sapa Mahesa dengan sopan.
__ADS_1
"Pagi," jawab Bu Yumna singkat.
Bu Yumna menatap bayi mungil yang sedang terlelap di dekapan Mahesa.
"Bagaimana tidurnya semalam?"
Mahesa menggiring Bu Yumna duduk menceritakan tingkah lucu Devan yang mulai aktif.
Bu Yumna mengambil alih Devan dari tangan Mahesa.
"Devan yang pintar ya, sebentar lagi Bunda pasti kembali di sisi kita." Bu Yumna menepuk lengan Mahesa yang membuat sang empu menoleh seketika.
"Jaga Devan dengan baik, ibu sudah tahu semuanya, semua keputusan ada di tangan Sabrina, setelah dia sadar nanti, ibu hanya ingin melihat dia tersenyum dan bahagia, bukan tangisan seperti waktu kecil."
Mahesa hanya menganggukkan kepalanya, mengerti.
Setelah puas berbincang, Mahesa membawa Devan masuk ke ruangan Sabrina. Mendekatkan tubuh mungil itu tepat di samping tubuh Bundanya.
"Sayang, lihatlah Devan datang menjengukmu, sampai kapan kamu seperti ini, kami semua merindukanmu.
Sebuah kecupan mendarat di pipi dan kening Sabrina.
"Hes." Tiba tiba saja suara berat menyapa bersamaan dengan pintu yang terbuka. Dia adalah Agung, pria yang menyandang gelar SPOG.
Pria itu menghampiri Mahesa yang masih duduk di samping ranjang Sabrina.
"Maaf, aku baru pulang dari luar kota, aku turut berduka dengan kejadian yang menimpa Sabrina. Bagaimana keadaanya?"
"Seperti yang kamu lihat, dia masih betah tidur, bahkan dia tidak mau melihat anaknya." Nada jengkel.
Dokter Agung menghela napas panjang. Bukan saatnya untuk bercanda dan berharap semua akan kembali seperti sedia kala.
Mahesa membawa Devan menuju sofa diikuti Agung.
"Oh iya, aku butuh bantuanmu."
Mahesa meringsuk duduknya semakin mendekat.
"Apa?" tanya Agung antusias.
"Setelah bayi Camelia lahir, kamu lakukan tes DNA, aku hanya ingin tahu bayi siapa yang ia kandung."
"Kenapa nggak sekarang saja?"
Mahesa menggeleng, "Percuma, meskipun tahu saat ini aku tidak akan bisa menceraikannya."
__ADS_1
Mengingat pengkhianatan Camelia, Mahesa ingin segera mengakhiri semuanya.