
Sepuluh hari Aida tinggal di rumah Mahesa, hari ini sang pemilik rumah sudah tak bisa mentolerir perbuatan adik iparnya tersebut.
Dengan wajah yang tersulut emosi Mahesa terus menggigit ponselnya menanti sang sahabat yang ada dalam perjalanan.
"Kamu kenapa sih, Mas? Kok kelihatannya gelisah."
Sabrina memegang tangan Mahesa yang dari tadi mondar-mandir di area kamarnya.
Satu-satunya yang ia takutkan adalah terlukanya hati Sabrina saat mengetahui kelakuan adiknya, tapi bagaimanapun juga lambat laun semua harus dibongkar. Mahesa menarik tubuh Sabrina dan memeluknya dengan erat, mengelus pucuk kepalanya yang tertutup hijab.
"Sayang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, tapi kamu jangan marah."
"Apa ini masalah Aida lagi?" ucap Sabrina dengan nada ketus.
Mahesa mengangguk. Sebenarnya sudah berulang kali Mahesa menawarkan Sabrina supaya Aida tinggal di salah satu apartemennya, namun Sabrina terus menolaknya dengan berbagai alasan, akhirnya Mahesa mengalah demi kebahagiaannya, namun kali ini banyak yang dipertaruhkan hingga ia harus menanggapinya lebih serius.
Sabrina mendongak, menatap wajah kaku Mahesa, entah jika mengingat Aida, Mahesa seakan ingin memukul wanita itu dengan tangannya sendiri.
''Cukup, Mas! Aku nggak mau lagi mas menjelekkan dia." Sabrina mengendurkan pelukannya, memunggungi Mahesa.
"Tapi Aya sudah melihat semuanya," jelas Mahesa.
Lagi lagi mbak Aya, sebenarnya apa yang dilakukan Aida, ini masalah keluarga, kenapa harus melibatkan orang lain.
Suara ketukan pintu menggema, segera Mahesa membukanya dengan menggandeng tangan Sabrina.
"Non Aya dan Den Randu datang," ucap Bi Asih.
Masih dengan jemari saling terpaut, Mahesa dan Sabrina menemui Aya dan Randu yang sudah duduk ruang tamu.
"Bi, tolong panggil Aida!" titah Mahesa.
Panjang umur, baru saja Bi Asih menginjakkan kakinya di bawah tangga, sang empu sudah nampak dari ujung.
"Non Aida dipanggil Den Mahesa."
Senyum manis menghiasi sudut bibir Aida, ia kembali ke kamar, merapikan hijabnya dan make up nya seperti yang ia lakukan sebelumnya.
"Kira-kira ada apa Mas Mahesa mau bertemu denganku, apa dia mulai tertarik dengan penampilanku, atau jangan-jangan dia juga sudah mulai kagum dengan perhatianku selama ini?"
__ADS_1
Jantung Aida terus berpacu, hatinya berdebar debar dan berharap apa yang diinginkan itu terkabul.
Dengan santainya Aida menyusuri anak tangga, namun tiba tiba saja langkahnya berhenti saat melihat punggung Aya dan Randu yang duduk bersejajar, bukan hanya itu, wajah yang tadinya berseri seri berubah pias saat melihat Sabrina bergelayut manja di pundak Mahesa.
Ternyata bukan Mas Mahesa saja yang ingin bertemu denganku, tapi kakak juga, dan ngapain perempuan itu berada di sini.
Tak mau berlama lama, Aida melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu.
Rumah itu sepi, Mahesa sengaja menyuruh pak Udin membawa anak-anak ke rumah Bu Risma, karena mereka tidak boleh sampai tahu apa yang akan terjadi saat ini.
"Silahkan duduk!" titah Mahesa dengan nada datar.
Sabrina meringsuk duduknya tepat di sisi Mahesa
Wajah Aida mulai bimbang, meskipun ia belum tahu tujuan Mahesa memanggilnya, namun rasa resah itu tiba-tiba saja muncul menyelimuti hatinya.
"Ini ada apa ya? Kenapa Mas Mahesa memanggilku?" tanya Aida lembut.
"Maaf, mulai hari ini kamu tidak bisa tinggal di sini lagi."
Sabrina membulatkan matanya saat Mahesa tanpa basa basi mengusir saudaranya.
Mahesa menunduk, ia tak tahu mau mulai dari mana. Menjelaskan pada istrinya tak semudah membalikkan telapak tangan, apalagi Sabrina sangat menyayangi Aida.
"Bi, aku tahu kamu sangat menyayangi Aida. tapi apa dia juga menyayangimu," imbuh Aya.
"Ini ada apa sih, Mbak? Aku nggak ngerti," Sabrina nampak kebingungan. Ia menatap Aya dan Mahesa Bergantian.
"Mbak, aku setuju dengan mas Mahesa." Randu ikut buka suara.
Aida menunduk, ia sudah tak bisa berkutik, apalagi membantah. Wajahnya sudah mulai meredup bagaikan gumpalan awan hitam. Nyalinya menciut dan rasanya ingin lenyap dari situasi itu.
Sabrina menatap adiknya yang mulai berlinang air mata lalu beralih menatap Mahesa.
"Baiklah, aku paham. Ini adalah Rumah Mas Mahesa, jadi aku nggak berhak untuk memilih siapa yang boleh tinggal disini."
"Bukan begitu, Sayang. Aku akan jelaskan! Aida, ___
"Stop….!" potong Sabrina seraya mengangkat satu tangannya, sedangkan tangan yang lainnya menggenggam tangan Aida.
__ADS_1
"Dia adalah saudaraku satu-satunya, dan aku ingin menjaganya sampai dia menikah, itu saja, karena saat dia sudah mendapatkan jodoh, pasti kami akan berpisah, tapi dengan teganya Mas mengusirnya dari sini."
Mahesa menggeleng, ini bukanlah yang seperti Sabrina pikirkan, tapi Mahesa harus dengan cara lembut untuk menjelaskan alasannya.
"Bi, apa selama Aida tinggal disini kamu nggak merasa aneh dengan hal hal yang sering terjadi, padahal sebelumnya rumah ini sangat aman dan tentram."
Sabrina diam, ia meresapi setiap kata yang diucapkan Aya.
Beberapa kali memang ia merasa ada kejanggalan, namun sedikitpun Sabrina tak pernah menuduh Aida yang melakukannya.
"Mungkin itu hanya kebetulan saja, Mbak."
"Nggak ada yang kebetulan, Sayang," tegas Mahesa. "semua ini disengaja, dan kamu harus dengar penjelasanku!"
Hati Sabrina runtuh, di satu sisi ia kasihan pada Aida yang disudutkan suaminya, di sisi lain Mahesa nampak sangat serius dengan ucapannya.
"Kamu ingat dengan foto kamu yang hilang, itu adalah ulah dia." Mahesa menunjuk ke arah Aida yang masih menunduk dan meneteskan air mata palsu, "dan apa kamu ingat kenapa aku sampai memperingatkan para pembantu, itu karena aku melihat sendiri dia memasak untukku, bahkan dia pernah mencoba untuk mencuci bajuku. Lalu apa tujuan seorang perempuan lajang pada laki laki yang beristri? Apa itu hanya untuk membalas karena dia numpang tinggal? Tidak masuk akal, Sayang. Aku yakin dibalik semua itu ada sesuatu yang ia sembunyikan."
Tak hanya itu, Mahesa terus mengatakan beberapa hal yang ia lihat sendiri, dan itu membuatnya risih.
"Lalu mana buktinya, Mas?"
Mahesa tersenyum getir, dan menggenggam tangan Sabrina. Hampir saja Aya mengeluarkan beberapa bukti yang ia kantongi, namun Randu melarangnya dan membiarkan Mahesa menjelaskan dengan caranya sendiri.
"Aku memang sengaja tidak memasang cctv ataupun menunjukkan bukti, karena aku butuh sebuah kepercayaan darimu."
"Kak, kita ini saudara, tidak mungkin aku merebut mas Mahesa dan menyingkirkan kakak. Mereka hanya ingin memfitnahku, mereka hanya ingin mengadu domba kita."
Sabrina merasa dilema, ia terjepit dengan masalah yang rumit antara dua orang yang saling ia sayangi, terlebih Mahesa, cintanya untuk sang suami sangatlah besar, namun juga ada saudara yang harus ia pertimbangkan.
"Ingat, Bi! Jika mau, aku pun bisa menunjukkan semua buktinya, tapi Mahesa lebih percaya dengan hati nurani kamu," ujar Aya.
"Mbak, aku tahu saat ini mbak bingung, tapi mbak harus yakin dengan kata hati, Mbak," imbuh Randu.
"Nggak! Dimana pun Aida berada, aku harus di sampingnya, aku nggak mau dia pergi dari rumah ini, jika itu memang terjadi, aku akan ikut dengan dia."
"Ok fine….."
Suasana semakin mencengkam, Mahesa semakin tak bisa menahan emosinya saat Sabrina terus membantahnya dan membela saudaranya yang jelas berhati duri.
__ADS_1
"Sekarang kamu pilih! Aku atau dia?" ucap Mahesa dengan tangan yang kembali menunjuk ke arah Aida.