
Ada pertemuan pasti ada perpisahan. Sepuluh hari tinggal di panti tak membuat Sabrina puas, faktanya matanya terus berkaca saat ia harus melepas keluarganya. Lambaian demi lambaian terus bergilir, teriakan dari mereka menghentikan kaki Sabrina untuk melangkah.
"Nanti kita kesini lagi," ucap Mahesa pelan, mengelus lengan Sabrina yang masih betah mematung di samping mobil. Kata kangen mungkin saja tak cukup untuk meluapkan perasaanya, Sabrina terus sesenggukan disaat ia dan Mahesa masuk ke dalam mobil.
Kebersamaan yang begitu singkat, namun sangat berarti. Mahesa dan Sabrina meninggalkan kenangan yang indah, dimana pria kaya itu memberikan apapun yang panti dan anak-anak butuhkan.
Beberapa menit membelah jalanan, tiba-tiba saja Sabrina merasakan sesuatu yang aneh. Perutnya terasa diaduk-aduk bagaikan adonan kue.
"Mas aku mau muntah," rengek sabrina dengan satu tangan memegang perutnya.
Mahesa panik saat Sabrina mulai membungkam mulutnya.
"Mungkin kau salah makan?" terka Mahesa, meraih beberapa tisu dan memasangkan di pangkuan Sabrina.
Sabrina menggeleng mengingat makanan yang dikonsumsi pagi itu seperti biasa.
"Rasanya dari semalam." Sekuat tenaga Sabrina membuka suara. Jalanan nampak sepi, baik dari pemukiman maupun kendaraan. Terpaksa Randu memarkirkan mobilnya di pinggir jalan lalu membukakan pintu untuk Sabrina.
Saking tak bisa menahan Sabrina turun dan berlari di semak-semak untuk menumpahkan isi perutnya. Sedangkan Mahesa hanya bisa memijat tengkuk lehernya, rasa khawatirnya semakin menggebu saat Sabrina mulai lemas.
Wajahnya tampak pucat, keringat dingin bercucuran menghiasi Wajahnya.
"Mas," ucap Sabrina mulai melemah.
Randu menyodorkan air minum untuk Sabrina berharap bisa membantu mengurangi rasa mualnya.
Setelah meneguk airnya, Dengan sigap Mahesa mengangkat tubuh istrinya dan kembali membawanya ke mobil.
"Mungkin non sabrina mengalami mabuk," ucap mbak Inul.
Masa sih, perasaan waktu berangkat baik baik saja.
Mahesa terus mengusap peluh di kening Sabrina lalu merogoh ponselnya.
"Kita ke rumah sakit sekarang!" Mahesa mulai mengoles pelipis dan perut Sabrina menggunakan minyak angin. Kepanikannya menjadi saat Sabrina menyandarkan kepalanya di dada mahesa.
"Aku hanya butuh istirahat."
Randu kembali melajukan mobilnya saat Sabrina membuka matanya.
"Bagaimana kalau kita ke apartemen dulu," kata Randu.
"Baiklah, cepat sedikit!"
Mahesa terus merengkuh tubuh Sabrina, dan sesekali Mahesa menatap bayi mungilnya yang terlelap.
Kurang lebih tiga puluh menit mobil yang ditumpanginya sudah tiba di depan apartemen milik Mahesa. Tempat yang pernah memberikan malam yang kelam bagi Sabrina, dan tempat di mana Devan diciptakan.
Sabrina bilang saat dia bangun sudah berada di gudang, itu artinya dia tidak tahu tempat ini.
__ADS_1
Mahesa mengangkat tubuh Sabrina masuk ke dalam. Sedangkan Randu mengikuti dari belakang seraya menelepon dokter.
"Mbak, jaga Devan, jangan sampai nangis!"
Mbak Inul mengangguk memegang amanah dari Mahesa.
Perlahan Mahesa membaringkan tubuh Sabrina lalu menyelimutinya.
"Mas, aku pingin makan dodol," ucap Sabrina dengan mata sedikit menyipit.
"Dodol? Apa itu?" tanya Mahesa.
Sabrina berdecak kesal saat melihat kebingungan Mahesa. Camilan lezat yang sudah melegenda dari tahun ke tahun saja tak tahu.
"Dodol, masa nggak tahu sih?"
Mahesa menggeleng tanpa suara.
Sabrina hanya menepuk jidatnya, ternyata suaminya tak se pintar yang ia kira.
Dalam imajinasi Mahesa dodol adalah makanan yang terbuat dari daging dicocol dengan saus asam manis.
Demi memenuhi keinginan istrinya, Mahesa keluar dari kamarnya menghampiri Randu yang ada di ruang tamu.
"Kamu belikan dodol, jangan terlalu pedas," titahnya.
Randu hanya mengernyitkan dahinya saat menatap Mahesa yang ada di sampingnya.
Mahesa mengangkat kedua bahunya, pemahamannya yang minim tentang makanan membuatnya seperti orang yang sangat bodoh saat di depan asistennya.
Mbak Inul yang sedang membersihkan botol susu Devan tersenyum geli, apalagi Mahesa nampak linglung dengan pertanyaan Randu.
"Dimana-mana yang namanya dodol itu rasanya manis, Mas," celetuk Randu sebelum meninggalkan tempat itu, di saat Randu membuka pintu utama seorang dokter cantik datang.
Randu mempersilakan wanita itu masuk.
"Siapa yang sakit, Pak?" tanya Dokter Anin, salah satu dokter keluarga Pak Yudi.
"Istri saya, dia ada di kamar," sahut Mahesa dari ruang tengah. Pria itu mengantarkan dokter Anin masuk ke dalam kamarnya mendekati Sabrina yang masih terkapar di atas ranjang.
"Keluhannya apa, Mbak?" tanya Dokter Anin, mengeluarkan stetoskop dari tasnya lalu memasangkan di telinganya.
Sabrina menatap Mahesa.
"Dari kemarin perut saya mual, Dok. Kepala sedikit pusing, rasanya nggak selera makan."
Dokter itu mulai memeriksa Sabrina dengan teliti. Tak ada tanda tanda penyakit yang serius, namun kejanggalan dirasakan dokter Anin saat mendengar keluhan wanita itu.
"Kayaknya mbak Sabrina hamil."
__ADS_1
"Apa?!" seru Sabrina dan Mahesa serempak.
"Saya tidak melihat ada penyakit apapun, jadi kemungkinan mbak Sabrina hamil," jelas dokter Anin sekali lagi.
Wanita yang sudah berumur tiga puluh tahun itu tersenyum saat melihat Mahesa memeluk Sabrina.
Sabrina meneteskan air mata. doanya diijabah yang maha kuasa, seakan ucapan dokter Anin adalah mimpi baginya.
Dokter Anin keluar dari kamar Mahesa, meninggalkan peralatan medisnya.
"Kamu hamil, itu artinya sebentar lagi Devan akan menjadi abang."
Keduanya saling pandang lalu saling peluk. Kebahagian yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Terima kasih Ya Allah. Engkau sudah mengabulkan doaku, semoga dengan hadirnya anak ini aku dan mas Mahesa tak bisa terpisahkan.
Selang beberapa menit Dokter Anin kembali dengan membawa tespack di tangan.
"Silahkan, Mbak periksa terlebih dahulu! Setelah itu nanti baru ke rumah sakit."
Mahesa menuntun Sabrina menuju kamar mandi. Harapannya hanya satu, yaitu positif.
"Tapi nanti kalau hasilnya negatif bagaimana?" tanya Sabrina, wajahnya sedikit ragu saat Mahesa membukakan pintu kamar mandi.
Mahesa tersenyum tipis, "Tidak apa apa, itu artinya memang belum waktunya kamu hamil," tuturnya.
Sabrina memantapkan hatinya, apapun hasilnya ia tak ingin berkecil hati.
Menunggu adalah hal yang paling menjenuhkan, Mahesa mengabsen lantai kamarnya, sedangkan Dokter Anin masih duduk manis di sofa serta memainkan ponselnya.
Sesekali pria itu berhenti di depan pintu kamar mandi dan menatapnya.
Ceklek
Seketika Mahesa menghampiri Sabrina yang ada di ambang pintu, menatap manik mata istrinya yang sudah meneteskan air mata.
"Kenapa nangis? Nggak papa."
Mahesa mengusap air mata Sabrina yang terus luruh.
Sabrina menunjukkan benda kecil itu di depan Mahesa.
"Aku hamil," ucapnya di sela sela tangis.
Kebahagiaan Mahesa tak bisa di bendung lagi, pria itu mengangkat tubuh Sabrina, saking bahagianya hingga lupa jika di sana masih ada dokter Anin. Berulang kali Mahesa menciumi wajah Sabrina, bahkan saat Camelia hamil pun Mahesa tak merasa sebahagia saat itu.
"Dan ini adalah anak kandung, Mas." ucap Sabrina lagi.
Devan juga putra kandungku.
__ADS_1
Nyatanya Mahesa hanya mengatakannya dalam hati, entah jika mengungkit malam itu, nyalinya semakin menciut, semua keberaniannya menghilang seketika. Apalagi Sabrina sangat bahagia dengan kehamilannya, dan tak mungkin ia menghancurkan begitu saja.